ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 27 : KISAH RINA GUMELA 2


__ADS_3

"Okey anak-anak sekalian sekarang sudah waktunya kalian belajar mendrible bola basket di mulai dari sini sampai ke ujung sana dan terus langsung balik lagi kesini, okey...! Mulai dari kamu dulu, yuk di mulai!" Disela-sela mengajar cara bendrible bola basket pada anak-anak muridnya, Ridwan masih sempat memperhatikan Rina sambil tersenyum penuh misteri.


Rina yang sangat-sangat mengalami penderitaan batin dan kesal bercampur aduk seperti adonan kue yang di puter-puter sampai mekar hanya banyak diam aja nggak terlihat banyak bicara seperti biasa.


"Okey! Sekarang giliran kamu Rina! Kamu coba drible bola dari sini ke ujung sana dan setelahnya coba shoot langsung ke ring ya! Menegerti!" Ucap Ridwan menjelaskan.


"Iya...iya, saya ngerti pak guru!" Jawab Rina bernada lemas dan melakukan apa yang baru saja dintugaskan oleh Ridwan kepadanya dengan malas-malasan.


"Rina, bagaimana bisa drible bola lemes seperti itu coba yang benar mengerjakannya!" Ucap Ridwan tegas.


"Ya ampun pak, perasaan saya udah bener ngelakuinnya masa iya masih salah aja di mata bapak!?" Jawab Rina.


"Ya iyalah, kamu memang salah yang bener itu seperti ini!" Sambil memberikan contoh cara mendrible bola sebentar! "Ayo coba ulangi lagi seperti contoh yang sudah di ajarkan!" Ucap Ridwan.


"Iya pak, saya ulang lagi ini. Kayak ginikan?!" Balas Rina. Dia mendrible bola sembari berlari memasukkan bolanya ke ring basket akan tetapi karena terlalu kencang melempar bola basketnya sehingga malah terkena guru BP bu Sulastri.


***


Bu Sulastri yang sedang lewat dari kantin melalui jalan koridor sekolah nggak sengaja kepalanya terkena lemparan bola basket yang terlepas dari tangan meluncur tidak mengenal arah tujuan dari arah lapangan.


"BUUUG...!"


"WAUUUWWW...!"


Bu Sulastri berteriak histeris dengan rasa kesakitan yang mengguncang jiwa dan raganya. "Aduuuh! Siapa yang melempar bola ini arah gue!" Dengan menengok ke kanan dan ke kiri, dia melihat murid-murid yang berwajah tanpa dosa berseragam olahraga di lapangan, dan menghampiri mereka semua.


"Ibu nggak apa-apa kan? Maaf ya bu tadi anak murid saya nggak sengaja melepaskan bola dari tangannya, bola jadi liar dan menuju ke arah ibu berada!" Ucap Ridwan menjelaskan.


"Hmmm...! Nggak apa-apa gimana pak, nih kepala saya sakit gara-gara bola ini. Siapa tadi yang melemparkan bolanya, ngaku! Kalau kalian nggak ada yang mengakuinya juga, saya akan menghukum kalian semua!" Bentak bu Sulastri marah besar.


"Kan nggak sengaja lo bu!" Jawab semua makhluk asrama yang mengikuti pelajaran olahraga itu.


"Oleh karena itu makanya cepet ngaku, siapa yang ngelempar bola tadi?" Balas bu Sulastri sewot.


"Maaf saya bu! Tapi nggak di sengaja kok!" Ucap Rina mengajukan diri.


"Ooo...! Jadi ini anaknya, kamu lagi biang keroknya ya! Ayo ikut keruangan saya sekarang titik!?" Tegas bu Sulastri.


"Ehhh... Tunggu dulu dong bu!" Ucap Rina.


"Bu Sulastri, tunggulah sebentar bu!" Ucap Ridwan menimpali.


"Duduk kamu! Malah bengong, cepat duduk!" Teriak bu Sulastri setelah membawa Rina sampai di ruangannya.


"Iya bu, saya duduk!" Jawab Rina.


"Sekarang dengarkan baik-baik yang mau saya katakan. Sebagai hikuman kesalahan kamu terhadap diri saya pribadi, maka oleh karena itu kamu harus...!!!" Ucap bu Sulastri, akan tetapi belum selesai kalimatnya Ridwan sudah berada di ruangan itu juga.


"Bu tunggu dulu biar saya jelaskan apa dan seperti apa yang terjadi sebenarnya. Ini bukan salah Rina sepenuhnya jadi saya harap ibu mempertimbangkan hukuman buat Rina, biar saya saja yang menghukumnya!" Jelas Ridwan.


"Kebetulan pak Ridwan juga ada di sini, saya mau melanjutkab perkataan saya yang sempat terpotong tadi mengenai hukuman buat Rina. Selama satu bulan ini kamu harus jadi asisten pak Ridwan. Setiap pelajaran olahraga harus membantu pak Ridwan dalam mempersiapkan semua keperluan sebelum pelajaran di mulai, paham sampai di sini Rina?" Tanya bu Sulastri kemudian.


"Apa bu!? Saya harus jadi asistennya pak Ridwan? Ya ampun bu, nggak ada hukuman lain apa bu? Kan biasanya ibu selalu menghukum saya membersihkan toilet, itu aja ya bu!" Ucap Rina keberatan.


"Eiistss! Nggak ada bantahan, perintah saya mutlak. Lagian bukannya kamu pernah bilang sendiri ke saya kalau kamu udah bosen di hukum bersihin toilet asrama, nah sekarang saya ganti hukuman yang lebih teramat ringan kan!" Jawab bu Sulastri tanpa terbantahkan. "Laksanakan hukuman kalau tidak kamu saya skorsing panggil orang tua ke sekolah!" Lanjut bu Sulastri mengancam.


"Ya udah bu, saya terima!" Jawab Rina dengan muka terlihat sekali kekesalannya.


***


Di kelas teman-teman seperjuangan Rina bertanya ke Rina mengenai keputusan apa yang di berikan bu Sulastri kepadanya.


"Rin, gimana dapat hukuman apaan tadi dari bu Sulastri?" Tanya Ika penasaran.

__ADS_1


"Iya Rin, nggak parahkan hukumannya!" Lanjut Ririn.


"Masa gue harus jadi asisten pak Ridwan selama satu bulan, gila nggak tuh! Mendingan gue di suruh bersihin toilet asrama sampe lulus sekolah juga nggak apa-apa dari pada harus jadi asistennya, males banget ketemu ma dia tiap hari! Adeeh!!!" Jelas Rina.


"Lah bukannya malah bagus tuh hukuman Rin, nilai olahraga elo bisa seratus terus tuh!" Ucap Ika.


"Iya Rin, jadikan nanti elo nggak usah ngikutin pelajaran olahraga karena sudah jadi asisten guru olahraga, kapan coba seorang Rina bisa jadi guru olahraga!" Canda Ririn.


"Bodo aaah! Pusing gue mikirinya, mendingan gue ke kantin aja, makan! Pada mau ikut nggak?" Tawar Rina.


"Ikut lah!" Jawab Ika dan Ririn bersamaan.


Di kantin lagi-lagi Rina ngelihat Ilham dan seperti biasa karena kesal kebanyakan fansnya Ilham jadi buat Rina males keramaian.


"Aduuuh! Kenapa mesti ada Ilham lagi, kalau ada dia pasti neh cewe'-cewe' satu RT plus RW pada heboh banget. Buat gue ngerasa mual aja, dan selera makan jadi hilang!" Ucap Rina membatin, berbalik badan dan akan meninggalkan kantin tersebut. Akan tetapi malah tanpa sengaja bertabrakan dengan Ridwan.


"BRUUUG...!!!"


"Sorry gue nggak sengaja, elo lagi! Kecil banget ya dunia ini perasaan harus ketemu elo melulu, bksen tau gue jadinya!" Ucap Rina cuek.


"Bilang aja elo sengaja nabrak gue, kangen kan lihat gue semakin ganteng, iya kan!" Ucap Ridwan senyum bercanda.


"Idiiiiih amit-amit cabang bayi deh! Kangen ama elo yang ada malah mual! Udah minggir sana gue mau lewat!" Balas Rina langsung pergi meninggalkan Ridwan.


"Tuh anak makin lama makin nyebelin banget, tapi lucu juga!" Batin Ridwan tersenyum manis.


***


Hari pertama Rina jadi asisten Ridwan, Ridwan mempunyai rencana untuk mengerjai Rina di hari pertamanya ini.


"Yuk ikut gue sekarang!" Ajak Ridwan mengajak Rina menuju gudang peralatan olahraga.


"Mau kemana sih, kan pelajaran sebentar lagi di mulai?!" Tanya Rina.


"Kejutan apaan? Gue nggak percaya ma elo, awas aja kalau sampai elo ngerjain gue!" Jelas Rina.


"Tenang aja, gue nggak lagi ngerjain elo kok." Ucap Ridwan.


Mereka berdua masuk ke dalam gudang peralatan olahraga dan hal ini membuat Rina sedikit bingung dengan rencana apa yang ada di kepala Ridwan perasaannya menyatakan ada sesuatu yang mencurigakan dan ketidak beresan.


"Gudang? Katanya mau kasih kejutan? Kok malah ke gudang peralatan olahraga!?" Tanya Rina heran.


"Iya ini kejutannya, tinggu sebentar ya!" Ucap Ridwan.


"Ngapain dia ngajak gue kesini, apa jangan-jangan dia mau ngerjain gue? Awas aja kalau bener! Bakal gue buay perhitungan detail sama dia!" Batin Rina dalam hati yang penuh tanda tanya.


"Nih kejutan buat elo!" Ucap Ridwan sembari mengumpulkan bola-bola basket yang sudah pada kempes.


"Kejutan apaan!? Itukan bola kempes!?" Tanya Rina bingung.


"Iya, kita ada masalah! Sekarang elo cari cara bagaimana beresin nih bola-bola basket yang kempes biar bisa kembali normal, kalau udah selesai elo bawa nih bola ke lapangan. Okey! Sampai di sini pahamkan. Selamat memulai pekerjaan baru ya!" Lanjut Ridwan menjelaskan dan langsung meninggalkan Rina sendirian dengan masalah yang sudah ada di depan mata.


"Woi tunggu dulu, masa gue harus ngerjain ini semua?" Teriak Rina. "Ini mah bukan kejutan dasar aja sengaja bener dia mau ngerjain gue... Cowo' edan!" Batin Rina yang kesel.


"Emang enak gue kerjain, selamat bersenang-senang sama bola-bola basket yang kempes!" Batin Ridwan dalam hati juga, walau pun dari dalam hati kecilnya merasa kasihan juga ma tuh cewe' tapi biarlah buat sebuah pembelajaran saja.


Rina yang masih berada di gudang mengerjakan tugas yang di berikan oleh Ridwan merasa sangat kelelahan.


"Hadeeeh! Kapan selesainya ini mah! Badan gue dah pada pegal-pegal semua, mentang-mentang dia guru main seenaknya aja ngerjain anak muridnya ntar ada waktunya gue bakal bales!" Batin Rina.


Beberapa menit kemudian, Rina membawa bola-bola basket ke lapangan, Made salah satu teman seangkatan Rina, yang berada deket dengan lapangan, melihat tersebut berniat membantunya.


"Sini Rin, gue bantu bawainnya!" Tawar Made.

__ADS_1


"Terima Kasih De, udah nggak usah gue masih bisa sendiri bawanya!" Jawab Rina.


"Ya nggak apa-apa Rin, sekalian gue bantuin. Udah sini bolanya!" Kata Made sembari mengambil bola-bola dari pelukan tangan Rina.


"Ya udah kalau elo mau bantuin gue De!" Ucap Rina sambil setengah bawaannya di berikan ke Made.


Rina dan Made berjalan kembali menuju lapangan dan meletakkan bola-bola basket itu di hadapan Ridwan dan melihat Made yang menbantu Rina membuat Ridwan merasa tidak senang.


"Diletakkan di sini kan Rin?" Tanya Made.


"Iya De, terima kasih ya udah bantuin gue!" Balas Rina.


"Okey! Sama-sama deh Rin!" Balas Made.


"Kamu ngapain ada disini Made?" Tanya Ridwan nadanya terlihat kurang senang.


"Oooh, saya tadi habis bantuin Rina pak bawain ini semua, saya nggak tega ngelihat Rina dah terlihat cape'!" Jelas Made.


"Wah mau jadi pelindung bumi? Udah sana kamu kembali ke kelasmu!" Sahut Ridwan rada mengejek.


"Iya pak saya mau kembali ke kelas, gue balik ke kelas ya Rin!" Ucap Made sembari tersenyum ke Rina, Ridwan yang melihat Made seperti itu membuatnya jengkel.


***


Sudah beberapa hari Rina menjadi asisten pribadinya Ridwan di sekolah khusunya pelajaran olahraga. Selama menjadi asistennya Ridwan, Rina selalu di berikan tugas-tugas yang sangat lumayan berat. Banyak kejadian-kejadian yang membuat Rina kesal terhadap Ridwan. Tapi tidak begitu bagi Ridwan, justru dia malah senang mengerjai Rina habis-habisan. Rina yang tidak terima selama beberapa hari kemaren sudah terjadi pelanggaran HAM, dia di kerjai terus-terusan sama Ridwan, berencana untuk memberikan pelajaran buat Ridwan balik di hari terakhir dia menjadi Asistennya Ridwan.


Pagi hari di sekolah tampak Rina sedang berjalan di koridor sekolah antara asrama putri A dengan Laboratorium dengan sangat terlihat lesu karena mungkin badannya masih merasakan lelah dan semua teras masih pada pegel-pegal.


Made yang melihat Rina lewat di depan kelas pun langsung menghampirinya.


"Pagi Rin, tumben elo pagi-pagi udah datang ke kelas biasanya telat mulu!" Ucap Made.


"Emang ada yang aneh kalau gue datang pagi? Udah ya gue mau ke kelas!" Ucap Rina lalu pergi meninggalkan Made dengan berjalan gontai dan terlihat sempoyongan, Made yang melihat situasi tidak baik itu langsung mendekati Rina.


"Rin... Rina...! Kenapa kelihatan lemes gitu? Elo sakit ya?" Tanya Made.


"Apaan sih De, gue nggak apa-apa!" Jawab Rina lemah.


"Kalau elo sakit ngapain juga maksain masuk sekolah, ya udah gue anter ke UKS ja ya!" Jelas Made.


"Orang gue tuh nggak pernah sakit tau, gue sehat-sehat aja kok, udah awas!" Lanjut Rina, baru jalan sebentar saja Rina sudah mau terjatuh akan tetapi Made langsung dapat mencegahnya.


"Tuh kan apa gue bilang kalau elo memang lagi kurang sehat tuh badan, muka elo aja pucet banget Rin, ya udah nggak usah bawel gue anter ke ruang UKS!" Sambil memapah tubuh Rina yang tidak mampu berjalan sendiri.


"Aduuuh Made, usah biarin aja gue bisa sendiri kok!" Rina mencoba melepaskan diri dari Made dan mulai mencoba berjalan sendiri. Baru setengah langkah maju Rina sudah jatuh pingsan dan Made menangkap tubuh yang sudah lemah itu.


Ridwan yang baru datang sibuk mencari-cari Rina, karena seperti biasa dia harus memberikan tugas lagi ke Rina di hari terakhirnya.


"Tuh anak kemana dari tadi gue nggak lihat batang hidungnya. Biasanya kalau udah jam segini suka nongkrong di kantin tapi sampai saat ini malah nggak ada? Apa jangan-jangan emang dia menjauh dan sengaja nggak mau bertemu ma gue, karena dia nggak mau melaksanain tugasnya yang mau gue kasih.!" Ridwan membatin dalam hati mencari keberadaan Rina yang sedari tadi belum terlihat olehnya.


Rina yang berada di UKS, sudah mulai siuman dari pingsannya!


"Gue sda dimana?" Suara lemas Rina.


"Kamu lagi ada di ruang UKS, tadi kamu pingsan di koridor Asrama sekolah!" Jawab bu Anna, guru yang piket di ruang UKS.


"Pingsan? Terus yang bawa saya kesini siapa bu?" Tanya Rina.


"Ma... Made, dia yang membawa kamu kesini, dia sampai khawatir banget lo sama kamu!" Jelas Bu Anna.


"Terus sekarang Made kemana bu?" Tanya Rina lagi.


"Dia sudah kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi dan dia juga bilang ntar Rina nggak ada yang izinin. Ya sudah kamu istirahat saja dulu di sini kalau nanti sudah mendingan kamu boleh kembali ke kelas atau asram. Ibu tinggal dulu ya Rin!" Jelas Bu Anna.

__ADS_1


Rina yang masih sedikit merasa pusing di kepalanya mencoba berbaring lagi di tempat tidur.


__ADS_2