
Menyadari tertinggal jauh, Elang Super Team berusaha bermain lebih semangat lagi. Beberapa kali mereka mencoba menghadang anggota White Team dan langsung melakukan tembakan tiga angka yang masuk dengan lancarnya. Para anak-anak basket mengeluarkan kemampuan mereka semaksimal mungkin hingga pada akhirnya, kuarter pertama diakhiri dengan keunggulan White Team dengan skor 12-6.
PRIIIT...!!!
Pak Ridwan meniupkan peluit yang tergantung di lehernya dan memberi instruksi untuk istirahat sepuluh menit sebelum kuarter dua di mulai. Mereka langsung berlari menuju pinggir lapangan untuk menyegarkan badan sejenak. Yang tak disangka-sangka, ternyata tim basket putri tampak sudah menunggu mereka di pinggir lapangan dengan seplastik besar berisi beberapa botol air mineral.
"Minumlah, kalian sudah berusaha keras!" kata Rosa sambil menyodorkan satu per satu botol air mineral kepada mereka. Mereka tentu saja menerimanya dengan senang hati dan langsung meneguknya. Apalagi Nugroho dan Jhon. Mereka yang paling semangat hingga tak sadar air yang ada di dalamnya hampir habis.
"Terima kasih, Cha." kata Ilham sambil tersenyum setelah selesai minum.
Rosa mengangguk dan tersenyum balik.
"Jorok! Nug, jangan membagi-bagi keringat sembarangan!" kata Nelly sambil melindungi wajahnya melihat tingkah adik kelasnya Nugroho yang hanya menyisakan seperempat botol air dan langsung mengeringkan rambutnya sejenak sehingga keringat-keringatnya mental kemana-mana. Namun, Nugroho hanya nyengir mendengarnya.
"Sudah, sudah! Cepat, waktu istirahat kalian tidak banyak!" kata Rina.
"Hei, Cha, apa ada sisa air untuk nanti?" tanya Jhon.
"Masih ada dua, tenang saja. Yang penting elo harus lakukan yang terbaik! Kalau tidak, gue tidak akan memberikannya kepada elo." canda Rosa sambil tertawa. Ia menoleh ke arah Ilham. "Ilham! Keluarkan semua kemampuanmu di kuarter dua!"
Ilham mengacungkan jempol...!!!
PRIIT...!!!
Lagi-lagi terdengar suara peluit dari Pak Ridwan yang menandakan bahwa jam istirahat mereka sudah selesai. Ilham, Nugroho, Jhon, Made, Toni dan Sam memberikan high five kepada semua tim inti anggota basket putri dan langsung berlari kembali ke lapangan. Setelah Elang Super Team juga sudah berkumpul semua, mereka langsung memulai kuarter terakhir sebelum akhirnya mereka mengakhiri latihan mereka.
***
__ADS_1
"Ilham, sudah siap? Kita jadi ke lapangan, bukan?" tanya Made sambil tersenyum menghampiri sahabatnya yang baru saja selesai membereskan barang-barangnya. Made sudah tampak siap pulang dengan tasnya yang tergantung di sebelah pundaknya.
Ilham tersenyum. "Elo duluan saja. Gue akan ke ruang guru sebentar." Balas Ilham.
"Oh baiklah, gue akan bermain sendiri sambil menunggu elo. Kabari gue kalau elo tak sempat datang, oke? Gue takut elo terlalu lelah. Kemenangan di latihan hari ini sepertinya menguras banyak tenaga." kata Made menepuk pundaknya pelan.
Ilham mengangguk.
"Hei, kalian ingin ke lapangan? Kenapa tidak mengajak kami?" tiba-tiba Toni, Nugroho, Sam dan Jhon muncul di antara mereka dengan tatapan menyelidik. "Kami juga ingin main, tahu!"
"Ayolah kalau kalian ingin menemaniku!" kata Made sambil tertawa. "Ilham, kami pulang duluan ya! Kami tunggu di lapangan!" Mereka berlima berjalan meninggalkan lapangan basket sekolah. Sementara Ilham langsung pergi ke ruang guru setelah pamit kepada Rosa karena Ilham tak ingin kekasihnya terlalu lama menunggu.
"Duduklah." kata Pak Ridwan mempersilahkan ketika ia sudah sampai di ruang guru. Tanpa banyak bicara Ilham langsung duduk di hadapan gurunya. "Ada masalah apa, Ilham? Apa ada nilai mu yang ingin kau protes atau justru ada yang kurang?" Ucap Pak Ridwan.
Ilham menggeleng kembali. "Ini tentang White Team, Pak...!" Ucapnya.
"Sebenarnya..." Dengan lancarnya Ilham bercerita dari awal. Tentang maksudnya masuk ke dalam ekskul basket, impiannya, kebahagiaannya masuk ke dalam tim basket sekolah hingga pada akhirnya Ayah tidak memperbolehkannya untuk bergaul dengan Made dan teman-temannya. Ia juga bercerita tentang bagaimana nilainya bisa menurun karena masalah tersebut. Diakhiri perihal pertandingan di Sekolah Menengah Atas Dwi Warga dan permintaannya untuk merahasiakan hal ini dari semua anak-anak basket karena dia tidak ingin memperpanjang masalah.
Pak Ridwan yang mendengar cerita Ilham sangat terkejut. Sesekali ia menganggukkan kepalanya mengerti di sela-sela ceritanya, kemudian akhirnya mengatupkan kedua tangannya ketika Ilham selesai bercerita kepadanya. Ia menghela nafasnya sejenak, kemudian menatap anak muridnya tersebut dengan tatapan campur aduk.
"Kau... yakin ingin keluar dari White Team?" Tanya Pak Ridwan.
***
Sabtu sore itu, Ilham sudah siap dengan baju seragam basketnya yang berwarna merah. Angka satu telah tertulis di balik punggungnya besar-besar di baju itu dengan nama Ilham di atasnya. Perlengkapan yang ia butuhkan untuk pertandingan hari ini sudah ia siapkan sejak kemarin, namun rasanya masih ada yang kurang. Ia belum bisa berangkat ke tempat pertandingan tanpa... Dukungan orang tua, batinnya pelan. Ya, benar. Sejak dulu hal itu saja yang selalu membebani hatinya.
Begitu Ilham sampai di Sekolah Menengah Atas Dwi Warga, area lapangan basket indoor tampak sudah sangat ramai. Selain anggota tim basket Sekolah Menengah Atas Dwi Warga dan para pendukung mereka, pendukung tim sekolahnya juga sudah banyak yang hadir. Belum lagi para cheerleader dari Sekolah Menengah Atas Dwi Warga yang siap mendukung sekolah mereka juga. Dan banyak dari mereka yang sudah berteriak-teriak karena sangat menanti-nantikan pertandingan dimulai.
__ADS_1
"Ah sudahlah, ayo kita masuk! Kita sudah terlambat! Pertandingan sebentar lagi akan dimulai!" kata Rosa menarik lengan kekasihnya masuk ke dalam sekolah tersebut. Ilham diam saja, membiarkan Rosa menarik tangannya sampai ke area lapangan, tepatnya tempat dimana White Team beristirahat.
Saat itu, Jhon, Nugroho, Sam dan Toni sudah datang. Mereka sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan dengan handuk mereka masing-masing tergantung di sekitar leher mereka. Begitu melihat kehadiran sang kapten, wajah mereka langsung sumringah. Dengan bahagianya mereka menyambut Ilham dengan high five dari masing-masing dari mereka. Kemudian, Jhon langsung meninggalkan mereka karena ditarik oleh Rosa untuk menjauh sebentar.
"Dimana Made?" tanya Ilham pada Sam karena tidak melihatnya dan tidak tampak batang hidungnya di sana.
"Ia terlambat mandi sejak pagi tadi antrian airnya di asrama terlalu panjang nanti setelah mandi, katanya dia ingin langsung ke sini. Tapi, sampai sekarang belum datang juga. Pada hal, dia sudah susah-susah membawa baju basketnya ke sana agar bisa langsung mengganti baju dan datang ke sini dengan keadaan siap bertanding." kata Sam. "Tapi, ya sudahlah, yang penting dia datang. Kita hanya akan repot jika dia benar-benar tidak muncul. Masalahnya, dia yang paling hebat berurusan dengan adu fisik. Kalau Fauzi Rizal dan teman-temannya sampai melakukan cara fisik, habislah sudah tanpa dia." kata Sam lagi.
"Sebenarnya siapa Fauzi Rizal itu? Rasanya kalian begitu takut dengannya. Kenapa hanya aku saja yang tidak tahu tentang dia?” tanya Toni. Rasa penasaran lamanya kembali muncul mendengar nama itu kembali disebut-sebut.
"Ah, elo kepo sekali, Ton." kata Sam mencibir. Toni manyun mendengarnya.
Ilham dan Sam tertawa mendengarnya.
Sementara itu, Jhon dan Rosa masih sibuk mengobrol di tempat lain. Ternyata, Rosa masih penasaran dengan apa yang terjadi selama ini. Dan Rosa tampak yakin Jhon tahu jawabannya.
"Elo tidak tahu kita akan melawan sekolah Fauzi Rizal? Dan elo ingin tahu darimana Ilham bisa mengenal Fauzi Rizal?” tanya Jhon, membuat Rosa mengangguk cepat. Jhon menghela nafasnya keras, kemudian melanjutkan ucapannya. "Elo masih ingat anak basket dari komplek luar yang pernah menantang Ilham dulu?" Tanya Jhon.
"Ya, kenapa?" tanya Rosa.
"Anak basket yang dimaksud Ilham waktu itu ternyata Fauzi Rizal." kata Jhon. "Dari sana ia mengenal dan tahu kalau Fauzi Rizal yang menantang White Team. Tapi, aku tak tahu bagaimana proses tantangannya. Ilham tak pernah bercerita lagi semenjak dia bilang dia menunda tantangan itu." Jelas Jhon.
"Lalu, apa dia tahu bagaimana sifat Fauzi Rizal? Kau, Made dan Sam bercerita kepada Ilham soal itu?" Tanya Rosa lagi.
Jhon menggeleng. "Kita bertiga sama sekali tidak bercerita apapun soal yang terjadi dahulu secara detail pada Ilham. Ilham itu anak basket yang berambisi dan gue yakin dia pantang menyerah dalam hal apa pun. Gue sangat yakin dia bisa mengalahkan Fauzi Rizal. Walaupun dia tidak tahu bagaimana caranya Fauzi Rizal bermain dalam setiap pertandingan basket." Jelas Jhon.
"Bagaimana jika dia cedera?" Khawatir Rosa terlihat jelas sekali.
__ADS_1