
Jam sudah menunjukkan angka enam sore. Ilham masih betah duduk di tempat tidurnya sambil melamun. Kedua kaki yang ia tekuk masih ia ikat dengan kedua tangannya semenjak ia pulang sekolah tadi. Tatapannya belum bergerak sesenti pun dari jendela kamar asramanya. Perasaannya masih bercampur aduk, rasa sedih, kaget, marah, kecewa bergejolak tak menentu. Kejadian kemarin masih menari-nari di pikirannya, membuat kepalanya masih terasa pusing.
Pertandingan tinggal dua minggu lagi. Itu yang ada di pikirannya sekarang. Tidak lebih dari empat belas hari lagi ia akan bertanding di sekolah Sekolah Menengah Atas Dwi Warga melawan Fauzi Rizal, kapten tim basket sekolahnya sebelum dia masuk. Entahlah, Ilham bahkan tak yakin semuanya akan baik-baik saja dengan keadaan seperti ini.
***
"Ilham...!"
Ilham segera menyingkir dari tempat duduknya dan melangkah maju untuk mengambil hasil pekan ulangan semesteran Patofisiologinya. Begitu sampai di depan, guru Patofisiologinya tampak menggelengkan kepalanya sambil menyodorkan kertas ulangan miliknya. "Belajarlah lebih rajin."
Ilham terdiam mendengarnya. Ia menatap sejenak tinta merah yang tertulis tebal di sana, kemudian segera kembali ke tempat duduknya. Ia diam saja selama gurunya lanjut memanggil murid-murid yang lain. Ini sudah nilai ulangan ketiga yang menurun drastis. Kemarin, hasil ulangan Perkesmas dan Gerontiknya juga tidak bisa dibilang memuaskan.
"Ham, kau kenapa? Nilai elo tidak di bawah standar, kan?” bisik Rosa tiba-tiba.
Ilham menoleh kearahnya. Ia menggeleng, kemudian menyodorkan kertas ulangannya untuk dilihat sahabatnya itu dan kembali melamun sendiri.
"Tujuh lima. Nilai ini sudah cukup bagus, Ham. Walaupun tidak setinggi biasanya, bukankah kau sudah berusaha?" kata Rosa meletakkan kembali kertas ulangan itu di meja Ilham, kemudian menatap Ilham yang masih asyik melamun. Ia menggelengkan kepalanya. "Ham, elo tak perlu cemas. Gue pasti mengerti perasaan elo, beban elo dan kegiatan elo yang padat, InsyaAllah gue akan bantu." Ucap Rosa.
Ilham tersenyum. Tidak, bukan itu yang membuat hatinya gelisah. Ilham justru lebih mencemaskan teman-temannya. Bukankah selama ini mereka telah berbaik hati meluangkan waktu mereka untuk belajar bersama agar dapat meningkatkan nilai pekan ulangan semesteran? Dan angka tujuh lima yang ada di kertas ulangannya itu jelas jauh dari harapan. Ilham merasa telah menyia-nyiakan niat baik keempat temannya selama ini. Seharusnya dia bisa lebih baik dari pada tujuh lima.
Ini bukan salah siapa-siapa. Ini bukan salah Teman-temannya, basketnya, OSIS nya bahkan Rosa kekasihnya yang telah selalu mengingatkan padanya. Ini justru salahnya sendiri. Ia bukan tipe orang pemalas. Ia selalu belajar pada malam hari untuk menyicil pelajaran. Dia juga sudah belajar bersama dengan teman-temannya hingga langit gelap. Namun, di samping semua hal itu, ia juga membiarkan kejadian mengerikan itu mengontrol pikirannya hingga materi yang telah ia kuasai hilang semua dari otaknya ketika hari ulangan tiba. Ini bukan ilham. Ini bukan seperti seorang Ilham yang selalu bisa membagi waktu dalam semua banyaknya kegiatan.
Rosa menghela nafas melihat sahabatnya bergeming selama pelajaran Patofisiologi. Sama persis ketika pelajaran Ilmu Bedah kemarin. Ia menepuk pundak kekasihnya tersebut dengan pelan.
__ADS_1
"Tampaknya elo butuh pencerahan. Bagaimana kalau sehabis ekskul basket nanti kita pergi ke taman belakang asrama?" Ucap Rosa tersenyum manis menenangkan kekasihnya itu.
Ilham tersenyum, kemudian mengangguk pelan.
***
Pak Ridwan sedang duduk santai di kursinya ketika Ilham menghampirinya di ruang guru. Untungnya saat itu ruang guru sedang sepi, hanya ada beberapa guru yang ada di sana karena tidak ada jam mengajar. Itupun duduknya jauh dari Pak Ridwan. Dengan begitu, Ilham bisa leluasa menjelaskan maksudnya datang menghampiri pelatih basketnya tersebut.
"Ilham? Kau tidak bermain dengan teman-temanmu?" tanya Pak Ridwan kaget ketika melihat salah satu muridnya muncul di hadapannya saat jam istirahat seperti ini.
Ilham menggeleng. "Apa Bapak ada waktu setelah ekskul basket?" Ilham lanjut bertanya.
Pak Ridwan mengangguk. "Tentu saja. Bapak tidak melakukan apa-apa. Memangnya kenapa, Ilham?"
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak." Lanjut Ilham.
***
"Ingat, Ilham sebagai Small Forward, selain itu, kau juga harus membimbing teman-temanmu. Toni sebagai Shooting Guard karena kau hebat dalam tembakan tiga angka. Bapak mengandalkanmu untuk mencetak angka tambahan dalam keadaan tertentu. Made sebagai Center karena kau pasti bisa beradu fisik dengan yang lainnya. Tapi ingat, jangan sampai membuat pelanggaran. Sam bergantian dengan Nugroho, kalian sebagai Power Forward, kalian harus menjaga bola agar tak direbut tangan musuh. Dan otomatis Jhon sebagai Point Guard. Ada pertanyaan?" Jelas pak Ridwan.
"Tidak, Pak!" seru seluruh anggota White Team kompak.
"Baik, kalau begitu kita akan bertanding melawan tim Wisnu, seperti biasa. Dan kalian jangan menganggap remeh karena ini masih latihan. Anggaplah tim Elang Supernya team Wisnu sebagai tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga untuk memberi semangat kepada diri kalian. Siap?" Lanjut pak Ridwan.
__ADS_1
"Siap, Pak!" seru White Team, Elang Super Team dengan kaptennya Wisnu beserta teman-temannya.
Semuanya langsung berlari menuju lapangan dan menempati posisi masing-masing. Sementara teman-teman yang lain termasuk tim basket putri hanya duduk di pinggir lapangan dan menonton mereka. Setelah Pak Ridwan melemparkan bola basketnya ke atas, Ilham dan Wisnu, perwakilan tim masing-masing segera melompat untuk berusaha mengambil bola tersebut. Dan akhirnya Ilham yang berhasil mengambilnya.
Latihan pertandingan dimulai...!!!
Ilham langsung mendribel bola dengan cepat. Rencana awalnya adalah membuat Toni mencetak angka dari jarak dekat. Ia melempar bolanya ke arah Toni ketika ring sudah dekat. Namun, rencananya terhalang karena Toni dihadang banyak lawan sehingga ia tak bisa sembarangan melakukan tembakan. Toni berhenti di tempatnya sambil tetap mendribel bola. Matanya melirik kanan dan kiri sambil mencoba melangkah ke arah kanan dan kiri untuk melarikan diri, namun tak ada yang berhasil.
"Ton!" tiba-tiba Made melambaikan kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menarik perhatian Toni. Tanpa banyak berpikir lagi, Toni langsung melompat tinggi dan melempar bolanya menuju Made. Beberapa lawan langsung mencoba menghadang langkah Made.
Para anggota ekskulbasket langsung bersorak heboh...!!!
Berkali-kali Made berkelit dibantu dengan Nugroho dan Jhon yang ikut menjaga posisinya sampai akhirnya ia terbebas dari hadangan lawan dan langsung menembak ke arah ring dari area tembakan dua angka. Dan... masuk! Dua angka untuk White Team.
Para anggota ekskul basket langsung bersorak heboh...!!!
"Tembakan bagus, De!" kata Jhon memberikan high five kepada Made.
"Fokus!" seru Ilham dari kejauhan.
"Siap, kapten!" Jhon dan Made segera kembali ke tempatnya masing-masing.
Sekarang bola ada pada tim Elang Supernya Wisnu. Salah satu anggotanya tengah mendribel bola dengan teman-temannya yang juga menjaga area mereka agar tidak bisa dihadang oleh White Team. Ilham dan Toni sudah menunggu di bawah ring untuk pertahanan. Sementara Nugroho, Jhon dan Made sibuk menghadang lawan untuk mendekati ringnya, apalagi sampai mencetak angka.
__ADS_1
"Ayo, semangat!!" terdengar teriakan para penonton nyaring menyemangati yang sedang beraksi di lapangan. Mereka tak perduli bagaimana lelahnya mereka berteriak, yang penting mereka bersemangat. "Semangat Elang Super Team!! Semangat White Team!!”
Sekarang bola berada di tangan Ilham. Dengan gesitnya ia berlari hingga lawannya tidak bisa mengejarnya sehingga area di depannya bebas. Ia mendribel bolanya sampai ke ring milik timnya dan melakukan lay-up dengan lancar. Dua angka lagi untuk White Team!