ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 61 : TETAP MENJADI SATU


__ADS_3

Made dan Nugroho sama-sama menghentikan langkah mereka begitu salah satu dari mereka melemparkan bola basket ke dalam ring. Mata mereka mengikuti bola basket yang masih enggan untuk masuk maupun menyingkir dari ring tersebut. Wajah mereka masing-masing memberikan harapan terhadap bola basket itu. Sudah satu setengah jam mereka melakukan pertandingan itu dan sekarang waktunya penentuan. Bola yang sekarang sedang berkeliling di atas ring tersebut akan menentukan siapa yang harus mengeluarkan uang lebih besok.


Beberapa saat kemudian…!!!


"MASUK!!!!" teriak salah seorang dari mereka dengan nyaring, membuat yang lainnya langsung menutup telinganya untuk melindungi gendang telinganya dari suara keras itu.


"MADE! In case you didn’t notice, gue masih ada di lapangan. Elo tak perlu berteriak begitu kencang!" protesnya sambil berjalan menuju si peneriak tersebut.


Made tertawa mendengar ucapan Nugroho. "Gue tidak perduli. Yang pasti bola basket elo itu sudah menunjukkan bahwa gue pemenang dari pertandingan itu! Dan elo, Nugroho, harus mengeluarkan seluruh isi dompet elo untuk kita berlima. Mungkin gue akan ajak cewe' juga untuk bergabung." Ucap Made lagi.


"Apa?! Hei, elo tahu isi dompet gue tidak berlebihan! Elo ingin memeras gue?" tanya Nugroho sambil menggembungkan pipinya cemberut. "Perjanjian kita hanya traktiran untuk lima orang. Tidak lebih, kurang kalau bisa." Lanjut Nugroho lagi menekankan.


"Bisa saja dikurangi kalau elo tak mengisi perut saat istirahat besok." kata Made sambil menepuk-nepuk pundak Nugroho. Kemudian, ia berjalan meninggalkan Nugroho untuk mengambil botol minumnya di pinggir jalan. Ia jelas bangga bisa mengejar angka Nugroho. Pada hal, tadinya ia tertinggal jauh. Tapi, bukan Made namanya kalau kehabisan taktik untuk menang.


Nugroho menggelengkan kepalanya melihat tingkah Made. Ia langsung menyusul kakak kelasnya tersebut ke pinggir lapangan dan melakukan hal yang sama. Tidak ada yang lebih baik dari pada menyegarkan stamina dengan air setelah pertandingan yang melelahkan. Botol minum mereka yang tadinya masih penuh langsung habis dengan cepat karena rasa lelah mereka.


"Hei, Made, sepertinya akan menyenangkan jika kapan-kapan kita mengajak Ilham dan yang lainnya untuk latihan basket di sini. Kita bisa bertanding bergantian. Mungkin dua lawan dua juga akan seru." kata Nugroho setelah selesai minum.


Made yang masih meneguk airnya hanya mengangguk cepat. Setelah selesai, ia baru menjawab. "Tentu saja. Dengan posisi kita sebagai anggota tim inti, pasti akan banyak pertandingan besar yang menanti. Kita harus menambah jam latihan jika diperlukan." Jelas Made.


"Akan lebih menyenangkan lagi jika kita bisa ikut pertandingan antar kota tersebut! Berdoa saja kita di izinkan oleh Bapak Kepala Sekolah!" Ucap Nugroho.


"Ah ya, benar. Suatu saat nanti, kita pasti bisa berada di sana. Menjadi salah satu tim basket yang berpatisipasi. Semoga saja Pak Ridwan juga berpikir hal yang sama." Ucap Nugroho.


***

__ADS_1


Besok adalah hari Kamis. Memang tidak ada latihan basket. Namun, Toni pasti pulang terlambat karena harus menemui anak basket yang tempo hari mengajaknya bermain bersama di lapangan. Anak laki-laki yang waktu itu menemuinya saat pulang sekolah. Kata-katanya waktu itu membuatnya penasaran.


"Kalau elo cukup berani untuk melawan gue, gue akan datang ke lapangan di basket esok hari. Jam tiga sore dan jangan terlambat...!"


***


Rosa mengatur nafasnya begitu dia sampai di sekolah. Namun, niatnya untuk segera tidur di kelas langsung buyar karena mendapati Ika sudah tertidur pulas di antara keramaian kelasnya. Ia menggelengkan kepalanya melihat pemandangan tidak asing itu.


"Sudah dihukum membersihkan toilet, masih belum kapok juga?" kata Rosa sambil berjalan menuju tempat duduknya. Ia menggantungkan tasnya di kursi dan segera duduk di samping Ika. Tanpa banyak bicara, ia langsung menggoyangkan bahu Ika dengan tangannya. "Ka!" Sapa Rosa.


Ika tidak menjawab.


"Ika!" kata Rosa dengan nada lebih keras.


"Bangun, Ka. Matahari sudah bersinar, kau masih saja tidur!" kata Rosa. "Pada hal kemarin elo yang mengeluh karena tidak boleh istirahat. Sekarang elo tidur lagi. Tidur berlebihan juga menyebabkan elo mengantuk, tahu! Elo mau dihukum lagi?" Lanjut Rosa menjelaskan.


"Hari ini tidak ada pelajaran Ilmu Syaraf Cha!" Balas Ika.


"Astaga, Ka, bukan Guru itu saja yang keki dengan elo, tahu! Memangnya elo pikir guru yang lain tidak akan menghukum elo jika memergoki elo sedang tidur?" kata Rosa. Ia terus menggucang tubuh Ika. "Sudah, lebih baik kau ke toilet, cuci muka!" Lanjut Rosa.


"Ya, ya, baiklah. Bawel elo." kata Ika dengan malasnya bangkit dari kursinya dan segera keluar kelas. Rosa menghela nafas melihatnya keluar. Lama-lama bosan juga menegur temannya yang tukang tidur itu.


***


Sementara itu, Toni sedang tersenyum-senyum mendengar cerita sebagian teman-teman basketnya. Nugroho, Made dan Ilham ternyata sudah sibuk berbicara soal pertandingan Made dan Nugroho kemarin di sekeliling mejanya. Nugroho yang masih merasa tidak puas hanya menggerutu dengan candaan teman-temannya tentang traktiran sepuasnya saat istirahat nanti.

__ADS_1


"Perjanjian kemarin bukan traktiran sepuasnya, kak Made! Masing-masing dari kalian, hanya memiliki jatah satu porsi makan dan minum," kata Nugroho sebal. "Kalau ingin tambah, bayarlah masing-masing. Elo pikir gue mesin ATM?" Omel Nugroho.


"Ah, elo tidak bisa diajak bercanda! Gue dan Ilham juga tidak mungkin makan sebanyak itu!" kata Made sambil tertawa. "Tapi, kalau soal kalah dalam pertandingan, perjalanan elo masih panjang, Nug. Jadi bersabar saja." Lanjut Made.


"Asem! Gue lebih jago daripada elo kak, tahu! Kemarin elo hanya sedang beruntung." kata Nugroho. Ia langsung menepuk pundak Made dan ikut tertawa bersama kedua kakak kelasnya itu.


"Setidaknya, kalian bersenang-senang, guys." kata Toni akhirnya bersuara.


Nugroho mengangguk. "Ya, andai elo dan Kak Ilham melihat pertandingan kami kemarin. Sekali-kali ayo kita bermain bersama di lapangan. Lumayan agar kita semakin mahir, kan?" Balas Nugroho melanjutkan.


"Kita juga bisa ajak kawan-kawan lainnya, kak Ilham. Mereka pasti lebih berpengalaman. Kita bisa belajar banyak dari pelatihan kita, bagaimana caranya menjadi pebasket yang baik. Siapa tahu dengan kesungguhan kita semua pak Ridwan langsung berubah pikiran akan pertandingan basket itu" Kata Made.


Ilham tersenyum. Kemudian, menepuk pundak teman-temannya satu per satu. "Yang terpenting dalam tim basket hanyalah kepercayaan. Walaupun kalian saling berkompetisi, sampai kapan pun kita tetap satu tim. Dan permasalahan untuk ikut atau tidaknya kita tunggu kabar selanjutnya, semoga saja merupakan kabar yang baik buat kita semua!" Lanjut Ilham.


Made, Toni dan Nugroho tersenyum mendengar ucapan lumayan panjang dari Ilham. Mereka bertiga mengangguk, kemudian menggabungkan tangan mereka masing-masing di satu tumpuk, disusul dengan tangan Ilham paling atas.


"White Team akan tetap jadi satu team apa pun yang terjadi." Made bersuara.


***


Seperti biasanya, jam istirahat jelas sangat ramai. Dan kali ini Toni dan teman-temannya tentu saja tidak akan mengalah jika kantin sudah penuh karena mereka akan makan bersama cewe'-cewe' juga. Kalau dijumlahkan, mereka bersepuluh. Makanya, mereka cepat-cepat pergi ke kantin sebelum kantin dihuni banyak orang, kemudian langsung menduduki dua meja kantin. Toni dan Nugroho menduduki satu meja, Ilham, Made, Sam dan Jhon menduduki meja di sebelahnya.


"Oke. Sekarang gue akan memesankan makanan dan minuman kalian. Es teh saja cukup bukan?" tanya Nugroho yang langsung diangguki oleh teman-temannya. Ia langsung pergi menuju tempat penjual mi ayam untuk memesan makanan.


"Ham, sebaiknya elo saja yang mengatakan kepada Rosa, Ika dan Vina untuk bergabung di sini," kata Made. "Elo belum mengatakan apa-apa, bukan? Biar gue yang menjaga meja elo." Lanjut Made.

__ADS_1


__ADS_2