ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 43 : RENCANA BERANTAKAN


__ADS_3

"Pinjam catatan Mikro lo, By," kata Ilham tanpa basa-basi lagi, begitu ia sampai di kantin dan bertemu dengan Debby Lia.


"Mikrobiologi maksudmu, Ham?" Tanya Debby Lia.


"Iya, Mikro apa lagi?" Jawab Ilham.


"Tapi buat apa, Ham? Kan ada diktat!" Balas Debby Lia bertanya-tanya.


"Pokoknya aku pinjam catatan elo, jangan banyak rewel!" potong Ilham habis sabar. Soalnya kalau urusan catatan, Debby Lia yang paling "Top" di kelas. Sudah tulisannya rapi, isinya lengkap lagi. Semua yang diucapkan dosen waktu memberi kuliah, dicatatnya selengkap-lengkapnya sampai ke titik komanya.


"Mau pinjam buku kok galak amat!" Ucap Debby Lia lagi.


"Pasti mau dipinjamkannya lagi pada Martina," sindir Made yang kebetulan sedang makan bakso di sana.


"Martina?" Jhon mengerutkan dahinya dengan heran.


"Kalau dia mau pinjam catatan, mengapa dia tidak langsung minta sendiri pada gue? Mengapa harus lewat kau, Ilham?" Tanya Debby Lia.


"Karena Ilham yang ingin menawarkan jasa baiknya pada Martina!" potong Made pula. Lalu sambil menoleh ke arah Ilhan, gerutunya jengkel "Kau mulai main mata lagi, Ilham! Lantas Vina mau kau kemanakan?" Lanjut Made menyindir Ilham.


"Ah, itu beda cerita. Jangan di samakan," sahut Ilham seenaknya.


"Jangan di samakan?" belalak Jhon kaget. "Apanya yang jangan di samakan? Dan elo tahu dari mana berbedanya Ham? Perasaan sama saja!" Lanjut Jhon.


Meledak tawa Made demikian hebatnya sampai beberapa tetes kuah bakso melompat ke dalam saluran pernapasannya. Dan ia terbatuk batuk sampai mengeluarkan air mata.


"Mengapa elo tertawa?" geram Jhon penasaran.


"Elo!" Made tertawa geli. "Elo lucu!" Lanjutnya.


"Apanya yang lucu? Gue bukan badut!" Balas Jhon.


"Elo tak dapat membedakan perbedaan dan kesamaan yang di maksud Ilham soalnya!" Jelas Made.


"Diam elo!" berungut Jhon tersinggung. "Gue tidak tanya ma elo tau!" Balas Jhon kesal.


Tetapi tawa Made bukannya mereda, malah makin menghebat.


"Mana bukunya, By?" sela Ilham ketika sudah dapat menghentikan tawanya.


"Tunggu kuambil dulu," sahut Debby masih uring-uringan. Ia berjalan masuk ke kamar asramanya dan keluar lagi dengan sebuah buku.


"Jangan lama-lama, Ham," katanya sambil memberikan buku itu kepada Ilham. "Dan ingat, jangan rusak!" Lanjut Debby.

__ADS_1


"Jangan kuatir," sahut Ilham tegas. "Martina pasti akan berhati-hati sekali dengan buku yang disampul serapi ini!" Jawab Ilham.


"Langsung ke medan laga, Ham?" teriak Made ketika Ilham sudah berbalik badan ingin berlalu.


"Langsung!" sahut Ilham sambil mengacungkan sebelah tangannya. "Tunggu apa lagi? Takut keduluan, To!" Lalu dengan menerbitkan suara yang aduhai berisiknya, Ilham berlari menuju tempat pertemuan yang di janjikannya pada Martina.


Hampir setengah lima, pikir Ilham sambil melirik arlojinya. Padahal aku janji ke Martina pukul lima. Perdekatan pertama harus memberi kesan baik. Tidak boleh "ngaref. Dan tidak boleh terlalu sore. Datang tepat pada waktunya. Serahkan buku. Ngobrol-ngobrol sedikit. Lalu pulang. Lebih dari itu tabu.


Dan Ilham terpaksa melambatkan kembali langkah kakinya. Ada serombongan gadis-gadis manis sedang menyeberang di muka koridor asramanya. Ilham tahu sekali siapa mereka, siswi-siswi Sekolah Perawat Kesehatan yang baru masuk dan baru pulang praktikum sore.


Sekolah Perawat Kesehatan memang terkenal surplus cewe' dan herannya semakin lama, semakin banyak saja gadis-gadis cantik yang ingin jadi perawat dan bidan. Sengaja Ilham menghentikan langkahnya dan membiarkan mereka lewat. Beberapa gadis menoleh kepadanya dan melempar senyum. Tentu saja mereka kenal Ilham. Siapa pula yang tidak kenal kepada ketua OSIS Sekolah Perawat Kesehatan itu?


"Pulang, Nes?" tegur Ilham kepada gadis yang paling dekat. Dan tentu saja yang paling cantik. Agnes mengangguk manja. Senyumnya begitu menggemaskan. Membuat Ilham hampir lupa pada janjinya dengan Martina.


"Kau mau ke mana, kak Ilham?" Yang punya suara selincah itu pasti Henny.


Heran...! Kalau menghapalkan nama gadis? gadis cantik, Ilham tidak pernah kewalahan. Lain kalau disuruh mengingat-ingat nama kuman atau vektornya. Hhhaaa...! Seandainya saja ia tidak punya janji dengan Martina! Mau rasanya ia mengantarkan mereka pulang.


Dan Ilham belum sempat menjawab ketika matanya bertemu dengan mata Vina Maharani. Celaka betul, Ilham benar-benar tidak ingin menjumpainya saat ini. Saat ia harus pergi ke menemui Martina! Tetapi terlambat untuk berpura-pura tidak melihat. Vina sudah melihatnya. Dan langsung menghampiri.


Memang percuma untuk mengharapkan yang sebaliknya. Gadis macam Vina Maharani tidak pernah malu-malu kucing. Kalau butuh, ia akan blak-blakan meminta. Tidak perduli orang yang dimintainya itu suka atau tidak. Seperti sekarang.


"Kebetulan, Ham," katanya sambil tersenyum madu. "Gue belum makan, kita sarapan di kantin yuk!" Ucap Vina.


Vina tak pernah puas kalau hanya di temani ke kantin saja, pasti dia akan meminta di antar pulang ke perumahan asrama dan bisa panjang ceritanya. Dan dugaan Ilham tidak meleset. Dia tidak perlu menunggu lama-lama untuk mendengar rayuan itu. Sambil menyender di bahu Ilham, Vina langsung minta di temani pulang ke perumahan asrama lalu kemudian minta di temani ke butik yang ada di seberang Sekolahan Perawat Kesehatan ini "Butik Kasih Bunda" namanya.


"Jangan sekarang, Vin." Ilham masih coba menawar. "Gue ada janji". Lanjutnya.


"Janji?" Vina merengut manja. Dipukulnya bahu Ilham dengan lembut. "Janji sama siapa? Sama cewe', ya?" Ucap Vina.


"Janji kembalikan buku." Balas Ilham.


"Gue boleh sekalian ikut?" Tanya Vina.


"Wah, jangan!" cetus Ilham kaget. Benar-benar celaka dua belas! Bagaimana mungkin ia membawa Vina menemui Martina? Bisa pingsan gadis itu nanti!


"Dia cakep, Boy?" Ucap Vina.


"Siapa?" geram Ilham gemas.


"Siapa lagi? Tentu saja gadismu yang baru itu! Kalau tidak cakep, masa kau sembunyikan?" Balas Vina lagi.


Aduh! pikir Ilham putus asa. Perempuan memang cerewet. Apalagi kalau sudah bicara mengenai sesamanya.

__ADS_1


"Aku cuma ingin mengembalikan buku ke tempat Debby Lia" sahut Ilham jengkel. "Sekarang begini saja, kuantar kau pulang dulu. Oke?" Lanjut Ilham.


"Di taman Ham!" teriak Vina di antara kebingungan akan segala pernyataan Vina yang meminta jawaban, tiba-tiba Vina melihat makhluk-makhluk sahabat Ilham pada masih asyik nongkrong di taman belakanag asrama. Apa boleh buat, geram Ilham dalam hati. Kali ini dia harus terpaksa mengalah. Mereka berdua lantas melanjutkan perjalanannya menuju ke taman belakang asrama dan di sana terlihat Debby Lia, Made dan Jhon sedang duduk santai sembari pandangan mereka tampak fokus ke keramaian anak-anak asrama sedang sibuk antri air di tempat tampungan air untuk keperluan mereka menunjang aktifitas kehidupan di sore itu.


Dan mereka sama-sama tercengang melihat kedatangan Ilham. Mulut Debby Lia yang sudah separuh terbuka hendak menegur, mengatup kembali ketika matanya bertemu dengan mata Vita Maharani. Dan ia belum sempat melakukan apa-apa. Ilham telah melemparkan bukunya begitu saja.


"Tuh, buku elo By, gue kembalikan!" Ucap Ilham.


"Lho, kok cepat betul, Ham?" belalak Debby Lia heran.


Tetapi Ilham telah kembali meninggalkan mereka mengantarkan Vina Maharani ke perumahan asramanya. Lalu...!!!


"Butik Kasih Bunda"


"Sudahlah, Vin!" kata Ilham jemu. "Kalau begini cara elo memilih, kapan kita selesainya?" Lanjut Ilham.


"Tunggu dong, Ham. Baju mahal-mahal begini kalau tidak bagus, kan sayang!" Ucap Vina.


Minta ampun! keluh Ilham dalam hati. Kalau tidak pakai akal, rasanya dua jam lagi mereka masih juga berkutetan di Butik Kasih Bunda ini.


"Yang ini bagus, Vin" kata Ilham sambil meraih gaun yang paling dekat dengan tempatnya berdiri. Asal saja, agar supaya cepat pulang. "Cocok dengan kulitmu." Lanjutnya.


"Maksudmu cocok dengan kulit anakku?" sahut Vina Maharani ketus tanpa menoleh. "Kira-kira dong, Ham. Itu kan baju anak-anak!" Jawab Vina melanjutkan.


Astaga! pikir Ilham jengah. Mataku benar-benar sudah harus dipensiunkan! Tetapi di depan seorang gadis, Ilham pantang dipermalukan. Maka sambil menyambar sebuah gaun lain, katanya cepat-cepat...! "Bukan yang itu, Vin! Maksudku yang ini!" Lanjut Ilham.


Vina mengambil gaun itu lalu mengamat-amatinya sebentar. Dan memantas-mantaskan baju yang di pilihkan Ilham itu pada tubuhnya. Kemudian sambil bersungut-sungut ditaruhnya kembali gaun itu di tempatnya.


"Heran? Ucap Vina sambil memandang Ilham dengan kesal. "Selera elo sekarang kampungan betul, Ham?." Lanjut Vina.


"Astaga" geram Ilahm gemas. "Baju tiga ratus ribu elo bilang kampungan?"


Tetapi memang percuma bertengkar dengan perempuan. Kesudahannya Vina Maharani juga yang menang.


Mereka baru selesai dari Butik Kasih Bunda pada pukul setengah tujuh malam. Dan seolah-olah ikut berduka bersamanya, hujan turun ketika mereka baru akan keluar dari Butik Kasih Bunda itu.


"Hujannya makin besar, Ham," keluh Vina cemas. "Aduh, bajuku basah semua!" Keluhnya.


"Kita meneduh sebentar di serambi butik Vin!, Tak ada pilihan lain," sahut Boy sambil menepi. "Daripada pulang basah kuyup."


Pikiran Ilham selintas sedang tertuju pada Martina, Dusta apa lagi yang harus dikatakannya pada gadis itu besok pagi? Ah, semua gara-gara Vina. Rencananya jadi berantakan semua.


Dasar sial...!!!

__ADS_1


Dan kekesalannya buyar ketika matanya berpapasan dengan gadis yang baru datang itu. Ia menjinjing sebuah tas ransel kecil di tangannya. Terseok-seok menerobos hujan lebat menuju teras Butik Kasih Bunda itu. Tentu saja maksudnya untuk berteduh. Gaun sederhana yang membungkus tubuhnya yang kecil mungil itu sudah basah kuyup. Beberapa kali Ilham melihatnya menggigil kedinginan.


__ADS_2