ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 46 : SEBATAS INGIN TAHU


__ADS_3

Begitu tirai-tirai ruang kelas asrama diturunkan, Ilham langsung menarik tangan Martina untuk pindah ke deretan bangku yang paling belakang di sudut yang paling gelap.


"Di depan saja yuk, Ham," protes Martina kewalahan. Berkali-kali dia membenarkan letak kaca matanya dan memanjang-manjangkan lehernya.


"Enak di sini," bujuk Ilham lega. "Kalau proyektornya tiba-tiba meledak, kan kita yang paling dulu sampai di pintu." Ucap Ikham meyakinkan Martina.


"Tapi di sini nggak kelihatan apa-apa, Ham!" Balas Martina lagi.


"Ah, masa. Barangkali mata elo yang tidak beres, eh," Ilham buru-buru meralat ketika dilihatnya Martina mulai merengut. "Maksudku, slidenya yang sudah tua. Buram. Lagi pula...!" Ilham menepuk tangan Martina sambil tersenyum lembut.


"Buat apa sih nonton cacing-cacing? Nanti kalau elo mau, gue bawakan cacing besar-besar dari rumah. Mau berapa, sebut saja." Balas Ilham.


"Jangan main-main, Ham. Ke depan, yuk." Ajak Martina lagi.


"Mau ke mana lagi? Paling depan? Nanti kita dapat giliran terus. Tin. Gue nggak belajar, nih!" Jawab Ilham alibi yang masuk akal.


"Tidak usah paling depan, Ham. Di situ saja tuh, di tempat Ika." Ucap Martina.


"Ika...? Dia sendiri lagi ribut tidak kelihatan!" Balas Ilham.


Memang benar, Ika dengan logat Solo nya yang khas, sama repotnya dengan Martina.


"Aduh, Ali Mat Hasan, tolong toh simpan dulu kepala... Kebesaran tahu!" Sindir Ilham.


"Iya, tidak tahu diri nih, Ham! Badan sebesar gerobak duduk paling depan! Sadar dong, Li! Sadar!" dumal Jhon tidak kalah cerewetnya.


Dengan sabar Ali Mat Hasan memutar kepalanya ke belakang.


"Di situ yang tidak tahu diri," katanya sambil memamerkan senyum iklannya, senyum yang digandrungi came'-came' waktu dulu. "Badan sebesar bayi semut duduk di belakang." Balas Ali Mat Hasan mengejek Jhon.


"Saudara yang baju biru!" Ucap Bu Lisa Sundari lantang.


Hampir rontok jantung Ilham. Ia pakai kemeja biru.


Tapi Ali Mat Hasan juga. Dan mata bu Lisa Sundari tertuju pada Ali Mat Hasan.


"Jadi bukan gue!", sorak Ilham dalam hati.


Selamat...!!!


"Coba Saudara sebutkan species cacing ini," ujar bu Lisa Sundari itu sambil mengangkat kayu penunjuk dan menunjuk seekor cacing yang terlukis di atas layar.


Serentak kelas jadi sepi. Anak-anak perempuan menundukkan kepala. Pura-pura menulis sesuatu di buku atau menggambar. Pada hal cuma mengagumi keindahan model sepatu teman wanita di sebelahnya.


Anak laki-laki membenamkan tubuh mereka lebih dalam di kursi, mencoba berlindung di balik tubuh teman yang di mukanya.


"Tidak tahu?" Bu Lisa Sundari itu mengerutkan dahi. "Coba perhatikan mulutnya. Apa yang harus saudara perhatikan pada mulut ini untuk membedakan species Ancylostoma?" Ucap bu Lisa Sundari kembali menjelaskan.


Persetan, geram Ilham dalam hati. Kenapa harus memperhatikan mulut cacing? Lebih enak memperhatikan mulut cewek. Yang secantik Martina terutama sekali.


Diliriknya gadis itu sekilas. Hhhaaa, pakai kaca mata malah tambah cakep. Biar pun bingkai CD nya terlalu besar untuk mukanya. Ketika Ilham mengeluh sekali lagi, Martina menoleh. Dan mata mereka bertemu. Ada rona merah menjalari pipi Martina.


"Jangan pandangi aku seperti itu, Ham," bisiknya kemalu-maluan. "Nanti dilihat orang." Lanjut Martina.

__ADS_1


"Ah, tidak ada orang," balas Ilham berbisik pula.


Untung memang, asisten-asisten parasitologi tak pernah ikut kuliah. Karena asisten biasanya duduk di belakang.


***


"Nanti malam nonton, yuk," usul Ilham ketika ia sedang mengantarkan gadis itu pulang menuju asrama putri A.


"Hm? Film apa?" Tanya Martina.


"The Man with The Golden Gun." Balas Ilham.


"Oh, kalau James Bond pasti tidak kulewatkan. Mmm pukul berapa? Kau jemput gue di asrama?" Balas Martina.


"Iya. Masih tanya lagi. Siap-siap aja Tin ntar tak jemput kita nonton bersama di televisi ruang makan aja ya!" Jelas Ilham.


"Vita tidak marah?" Balas Martina.


Ada kata-kata yang memotong jalan di depannya dengan tiba-tiba. Tetapi bukan itu yang membuat Ilham tersentak.


"Pasti Made ini yang mengatakannya padanya", geram Ilham dingin.


"Busuk!"


"Made? Kenapa Made? Semua orang tahu Vita pacar elo." Martina menggigit bibir. "Anak Kepala Sekolah itu kan? Kemarin kulihat dia di kantin. Keren." Balas Martina.


"Aku hanya pergi beberapa kali dengan dia". Jawab Ilham.


"Berdua?" Tanya Martina lagi.


"Oh, tentu saja tidak!" potong Martina sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Tidak berani melihat mata Ilham yang begitu tajam mengguncang hati yang di pandangnya.


"Jangan cepat-cepat jalannya Ham. Santai aja ngapa?." Ucap Martina.


Tetapi Ilham tidak perduli. Tak ada yang dapat menurunkan kemarahannya kecuali berjalan secepatnya. Tukang bakso yang sedang mangkal di depan asrama A sempat bingung melihat jalan Ilham yang seperti berlari bersama Martina yang berusaha mengejar dan menyamakan langkahnya yang lumayan cepat tersebut.


Martina baru berani berjalan santai tanpa mengikuti langkah Ilham lagi setelah sampai di depan pintu asrama A dan ia menghela napas lega, bersyukur masih dapat menginjakkan lagi kedua kakinya ke bumi. Rasanya, seluruh isi perutnya sudah terkocok rata. Dan Ilham sudah lenyap sebelum Martina sempat mengucapkan selamat tinggal.


***


"Ilham Alfarizi." Mulut Dini berkomat kamit membaca tulisan-tulisan di atas setumpuk surat yang baru diterimanya dari pengantar surat. Matanya menyipit.


"Siapa lagi kalau bukan gue?" Ilham mengulurkan tangannya. "Berikan padaku. Coba lihat wesel dari papah dan mamah sudah akan pulang belum?." Dina menyerahkan surat-surat itu ke tangan Ilham.


Dina belum sempat memunguti surat-surat yang bertebaran di lantai ketika tiba-tiba tilpon berdering.


"Teruskanlah membaca. Biar aku yang terima." Balas Ilham.


Lekas-lekas Dina berlari ke pesawat telpon di sudut ruangan. Sudah dipelajarinya bagaimana cara Ilham melayani telpon itu. Dia harus bisa. Masa kalah sama Bi minah? Tetapi Ilham cepat? cepat mendahuluinya meraih pesawat telpon itu.


"Biar aku saja," katanya sambil tertawa. "Bisa berantakan semua kalau kau yang terima ya, halo?" Ucap Ilham.


Dengan lemas Dini kembali ke tengah ruangan.

__ADS_1


Ilham memang kurang ajar. Selalu menganggap remeh padanya.


Sambil berlutut mengumpulkan surat-surat yang bertebaran di lantai, Dina menikmati tawa Ilham yang pecah berderai di belakang tubuhnya.


"Kenapa kalian bisa tinggal satu rumah Ham?" Tanya Dina setelah selesai menerima telpon tadi.


"Maksudnya, gue ma Vina?" Tanya Ilham.


"Iya siapa lagi?" Tanya Dina lagi.


"Gue disuruh jagain dia selagi orang tuanya dan orang tua gue pergi ke luar kota urusan bisnis!" Jawab Ilham dengan penjelasan singkat.


"Apa kalian berdua sudah di jodohkan!?" Tanya Dina ingin tahu.


"Siapa bilang? Hanya sebatas menemani saja!" Lanjut Ilham.


"Artinya benar kata bi Minah dan mang Ucup!" Kata Dina.


"Oooo... Buat apa tanya lagi kalau sudah tahu!?" Lanjut Ilham.


"Ya hanya sebatas ingin tahu kebenarannya saja!" Jawab Dina.


"Lupakanlah" katanya sambil menghela napas.


"Dan jangan tanya apa-apa lagi tentang kami." Balas Ilham.


Tetapi Dina memang keras kepala.


"Kau pasti sangat mencintai Vina kan?". Tidak ada jawaban.


"Antara kami tidak ada apa-apa!" Balas Ilham.


"Tapi Vina berbeda pendapatnya!" Ucap Dina.


"Pendapat apanya!?" Tanya Ilham.


"Kalau melihat kenyataannya, Dina ssngat mencintaimu!" Lanjut Dina.


"Aku tidak bilang apa-apa. Kau yang bilang begitu!" Balas Ilham.


"jadi kau tidak mencintainya?" Tanya Dina.


"Sekarang tidak." Balas Ilham.


"Bohong!" Ucap Dina.


"Apa katamu?" Ilham membeliak marah.


"Kau bohong! Laki-laki memang tukang bohong." Ucap Dina.


"Kataku jangan bicara lagi tentang dia." Balas Ilham.


"Kalau aku jadi kau, akan kutempuh jalan apapun untuk mendapatkannya orang yang kita cintai." Balas Dina.

__ADS_1


"Terserah kau saja!" Balas Ilham.


__ADS_2