
"Untung gue membawa balsem untuk berjaga-jaga. Luruskan kakimu di kursi, Ham." kata Rosa ketika mereka semua sudah sampai di barisan bangku pemain cadangan. Ia merogoh cepat tasnya untuk mengambil sebotol balsem. Setelah kaki Ilham diluruskan, ia langsung mengoleskan balsem itu ke lutut Ilham yang sakit. Pada saat itu, Pak Ridwan juga menghampiri mereka untuk melihat keadaan.
"Sebaiknya elo istirahat dulu di sini, Ham. Biar Sam atau Wisnu yang masuk dan kami akan membereskan kuarter tiga dan empat." saran Made. "Kaki elo akan bertambah parah jika elo terus bermain." Lanjutnya.
"Ya, Made benar, Ham. Tampaknya tim lawan kita tidak main-main ingin mengalahkan kita." kata Toni.
"Biar Sam dan Wisnu yang menggantikan elo di lapangan." kata Pak Ridwan.
Ilham menggeleng. "Aku tidak apa-apa...!" Ucap Ilham.
"Ini bukan masalah kau tidak apa-apa atau terluka parah, tapi strategi mereka sudah tampak jelas. Mereka sengaja melemah dari awal sampai kuarter kedua selesai. Begitu kuarter ketiga mereka ingin mengagetkan kita dengan kekuatan mereka." kata Pak Ridwan.
"Benar itu. Kalau elo terus bermain, mereka pasti akan berusaha menyingkirkan elo Ham dengan cara yang lebih keras!" kata Jhon.
Ilham diam saja mendengar ucapan Jhon dan pelatihnya, pak Ridwan tersebut.
"Jhon, kurasa kita harus mengubah strategi." kata Made.
"Ya, gue sudah memikirkannya dari tadi, De. Nanti ikuti saja instruksi gue. Gue harap kalian bertiga dan Wisnu yang masuk menggantikan Ilham, Sam berbeda posisi dengan posisi yang di mainkan Ilham, akan tetapi kalau Wisnu sudah biasa dengan posisi seperti Ilham dan kalian harus bisa menjaga satu sama lain agar kejadian ini tidak terulang lagi." kata Jhon. "Gue akan memberi tanda kepada kalian di lapangan, Oke?" Jelas Jhon melanjutkan.
Made, Toni, Wisnu dan Nugroho mengangguk.
"Sudah, kita tidak bisa berbincang-bincang terlalu lama. Biar gue yang menggantikan elo Ham untuk sementara. Kalau kuarter terakhir nanti elo sudah membaik, elo boleh masuk lagi. Bagaimana?" tanya Wisnu tiba-tiba menyahut.
Ilham tersenyum...!!!
***
Sesuai dengan perintah Jhon, White Team berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga posisi masing-masing dan waspada terhadap gerakan-gerakan lawan agar tidak ada lagi yang harus diganti selain Ilham. Dengan formasi Jhon dan Made di tengah, Wisnu di dekat ring mereka, serta Toni dan Nugroho di dekat ring tim lawan, mereka berusaha mengepung semua area yang memungkinkan tim lawan untuk mencetak angka.
"De!," teriak Jhon sambil mengoper bola ke Made. Kemudian, ia bersiap di posisi samping Made. Dengan cepat, Made menangkap dan langsung mendribel bola mereka menuju ring. Mengetahui banyak lawan yang menghadangnya, Jhon langsung memberi kode kepada Toni untuk datang membantu. Berkali-kali Made berusaha berkelit untuk meloloskan diri, tapi tetap ada saja lawan yang tersisa.
"Hei!" teriak Toni meminta bola.
Made tersenyum, kemudian melempar bolanya menuju ke arah Toni dengan teknik bounce pass untuk mengecoh lawan. Ia memantulkan bolanya sekali melewati bawah dan membiarkan Toni menangkapnya.
"Shoot!!" teriak Jhon.
HUP...!!!
Toni langsung melempar bola basket tersebut dengan kuat dan.. masuk! Lagi-lagi White Team mencetak angka, menjadikan skor menjadi 50-42 untuk keunggulan mereka.
__ADS_1
Ilham hanya tersenyum di pinggir lapangan melihat kerja sama antara teman-temannya di lapangan. Mereka benar-benar hebat. Sudah berkali-kali Fauzi Rizal terlihat seperti memberi kode agar segera bermain fisik, tapi mereka selalu mempunyai akal untuk menghindarinya. Mungkin selama ini dia salah, mereka semua bisa melakukannya dengan maupun tanpa dirinya di lapangan. Jhon juga sangat mahir menyusun strategi.
"Kau pasti ingin bermain di sana, bukan?" tiba-tiba Ayah Ilham sudah duduk di sampingnya. Wajahnya sama sekali tak melihat ke arah anaknya dan masih menunjukkan ekspresi datar seperti tadi.
Ilham sempat kaget mendengar suara ayahnya itu. Namun, ia hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut. Dengan suara canggung, ia bertanya kepadanya. "Apakah Ayah sengaja pulang untuk menontonku?"
Ayah diam saja mendengarnya. Ilham yang juga tetap fokus menatap lapangan tidak mengeluarkan suara apa-apa. Di antara keramaian yang ada, mereka tampak seperti dua orang yang sedang mengalami perselisihan. Sama sekali tak saling berbicara.
"Sekarang, kau rasakanlah bagaimana rasanya ada di pertandingan basket seperti ini. Kau kehilangan banyak tenaga, rambutmu berantakan, bahkan kakimu terluka." kata Ayah. "Itu karma yang kau dapatkan karena tidak mendengarkan Ayah." Lanjutnya.
Ilham tetap diam.
"Kau itu keras kepala. Ayah tidak akan bertanggung jawab jika terjadi apapun yang lebih parah kepadamu." Ucap Ayahnya Ilham kembali.
"Eh?" kata Ilham langsung menoleh dan menatap Ayah yang langsung beranjak dari tempat duduknya untuk melangkah pergi. Meninggalkan Ilham sendiri di sana. Ilham segera menunduk kembali. Kemudian, langsung menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa dia sudah membulatkan keputusannya. Setelah pertandingan selesai nanti, ia harus berbicara dengan Pak Ridwan lagi.
Tak lama kemudian, Rosa datang untuk menemani kekasihnya itu.
"Tadi Ayah elo tadi mengatakan apa pada Ham?" tanya Rosa penasaran.
Ilham hanya tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya kemudian kembali fokus kepada teman-temannya yang ada di lapangan. Kuarter ketiga sudah hampir selesai. Dan skor tim basket sekolahnya sudah mulai terkejar.
***
"Kerja bagus semuanya. Setidaknya kalian bisa mempertahankan keunggulan kalian sampai skor seri 50-50. Kuarter terakhir nanti, kalian harus benar-benar total. Jangan sampai lengah!" kata Pak Ridwan menasehati anak-anak didiknya yang sedang sibuk minum, mengelap keringat dan memijit bahu mereka yang sudah pegal-pegal.
"Siap, Pak!" kata Jhon, Made, Toni, Nugroho dan Wisnu sambil tetap sibuk.
"Bagaimana keadaanmu, Ham?" tanya Pak Ridwan berbalik menatap Ilham.
Ilham tersenyum. "Aku ingin bermain lagi."
"Elo yakin sudah tak apa-apa?" tanya Jhon memastikan.
Ilham mengangguk. "Hanya pegal-pegal saja."
"Baiklah, kalau begitu gue serahkan kembali pada elo, kapten." kata Wisnu sambil menyalami tangan Ilham ala laki-laki. "Gue akan kembali menjadi pendukung kalian di bangku cadangan." Lanjut Wisnu tersenyum.
"Terima kasih untuk lima menitnya, Nu." kata Made tersenyum.
Wisnu mengacungkan jempol sambil memamerkan gigi putihnya.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kalian harus berjuang dengan formasi lama. Ilham, kau sudah mengerti strategi kami, bukan? Bapak harap sepuluh menit terakhir tadi cukup untuk mempelajarinya." kata Pak Ridwan.
Ilham mengangguk, kemudian tersenyum.
"Berjuang, Ilham! Elo harus buktikan bahwa elo itu adalah pebasket yang hebat. Apalagi di hadapan Ayah elo. Gue yakin elo pasti bisa!" kata Rosa dengan semangat yang mengerti akan perseteruan Ilham dan Ayahnya masalah permainan basket ini. "Jangan kecewakan teman-teman yang sudah mendukungmu, oke?"
Ilham lagi-lagi hanya tersenyum...!!!
Ilham, Jhon, Toni, Made dan Sam yang masuk pula bertukar dengan Nugroho segera menumpukkan tangan mereka menjadi satu dan berseru nyaring, "White Team, Friends Till The End!"
Mereka berlima langsung kembali ke lapangan untuk kembali beraksi. Sam dan Toni sudah berjalan di depan. Sementara Jhon dan Made dengan baik hatinya mendampingi Ilham di kanan dan kirinya. Sambil sesekali bercanda tawa dan diakhiri dengan Jhon mengangkat tangannya tinggi-tinggi tanda semangat yang membara untuk mengakhiri pertandingan ini dengan baik.
Ayah yang sejak tadi diam-diam melihat kekompakkan Ilham dan teman-temannya hanya bisa diam di tempat. Ilham, anak itu benar-benar keras kepala terhadap apa yang ia inginkan. Sejak kecil sifat itu sudah melekat di dalam dirinya. Kelakuannya dan persahabatan yang tampak telah terjalin dengan teman-temannya hari ini banyak mengingatkannya terhadap seseorang yang pernah dikenalnya zaman dulu. Seseorang yang sangat dekat dengannya, yang memiliki sifat yang persis seperti Ilham.
"Om...!" tiba-tiba suara Rosa membuyarkan lamunannya.
"Kenapa, Ocha?" tanya Ayahnya Ilham spontan menoleh.
Rosa tersenyum. "Om kenapa? Dari tadi sepertinya melamun saja."
"Oh, tidak. Om tidak apa-apa." kata Ayahnya Ilham tersenyum. "Tadi Om dengar, Ilham masuk untuk bermain lagi ya, Cha?" Tanya Ayahnya Ilham.
"Ya. Om bukannya tidak tahu seberapa pekerja kerasnya dia terhadap basket. Padahal, sudah berkali-kali Om melarangnya, bukan?" kata Rosa sambil tersenyum. "Maafkan Rosa ya Om, Ocha bukannya melarang Ilham akan tetapi malahan mendukung dan membantunya agar tetap teguh memegang impiannya. Ocha harap Om tidak marah kepadanya." Ucap Rosa.
Ayahnya Ilham diam saja mendengarnya.
"Tapi, Ocha masih penasaran, mengapa Om bisa ada di sini? Apa Tante yang meminta Om pulang untuk menghadiri pertandingan?" tanya Risa ingin tahu.
Ayahnya Ilham diam sejenak, kemudian mengangguk pelan. "Beberapa hari yang lalu tante mengatakan bahwa Ilham sempat mengurungkan dirinya di kamar karena omelan Om. Tante memaksa Om untuk datang ke sini, untuk melihat sendiri bagaimana potensinya di basket." Jelas Ayahnya Ilham.
"Lalu, bagaimana menurut Om? Bukankah Ilham sangat berbakat?" Tanya Rosa lagi.
Ayahnya Ilham kembali diam. Matanya tetap fokus menatap lapangan, entah tak ingin menjawab atau masih mengawasi anaknya yang sedang berjuang di sana. Yang pasti, ia merasakan sesuatu yang aneh setiap kali Ilham berhenti berlari di tengah lapangan untuk menghilangkan rasa lelahnya sejenak. Selain memperlihatkan konsentrasi, ia juga memperlihatkan kegigihannya dalam pertandingan tersebut.
***
Selama kuarter empat berlangsung, Fauzi Rizal tidak tampak berusaha untuk membuat Ilham kembali celaka. Tiba-tiba saja tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga bermain total tanpa menggunakan fisik. Mereka tampak mengubah formasi mereka untuk menjaga beberapa tempat yang penting bagi mereka untuk mencetak angka dan juga selalu merebut bola dari White Team. Ilham dan teman-temannya yang menyadari mereka juga mengubah strategi tentu saja menjadi kaget. Angka mereka menjadi agak tertinggal karena tim lawan benar-benar menghalang-halangi hampir seluruh kesempatan mereka untuk mencetak angka.
"Ton!" teriak Made langsung melempar bola menuju adik kelasnya itu.
Dengan sigap, Toni langsung menangkapnya dan membawanya menuju ring dimana Ilham dan Jhon sudah menunggu di sisi kanan dan kiri ring tersebut. Namun, sebelum ia sempat mengoper ke arah Ilham maupun Jhon, lagi-lagi salah satu dari anggota tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga merebut bolanya dan kembali menjauhi bola tersebut dari ring milik White Team.
__ADS_1
Made mendengus sejenak, kemudian langsung mengejar kembali lawannya. Sambil berlari ia berteriak kepada Sam yang berjaga di dekat ring lawan. “Defense!!”
Untungnya sebelum Made berteriak pun, Sam sudah bersiap-siap untuk menghadang lawan. Dengan cepat, ia langsung berlari menuju si pemegang bola tersebut dan menghalang jalannya agar tidak bisa mencetak angka. Lawannya itu langsung dengan cepat mengoper kepada Fauzi Rizal sang kapten tim lawan yang ada di belakang Sam. Dan tanpa sempat Made halangi, Fauzi Rizal telah melempar bola tersebut ke ring dan masuk dengan mulus. Skor menjadi 54-60 untuk keunggulan tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga.