
Bintang-bintang penghias langit serta bulan sabit di tengahnya, Karya Sang Maha Pencipta. Dessy tak pernah bosan melihat benda langit favoritnya itu. Bulan dan bintang, Dessy menyaksikan itu semua dari balkon kamarnya. Baginya, Ilham itu bulan untuk penerang Dessy, sedangkan Herisman penghias hati, Jiwa dan Raganya.
Tiba-tiba Dessy teringat perkataan Rita beberapa saat lalu, lama ia merenungi setiap kata demi kata itu. Rita benar, Ilham akan lebih sakit jika dia menduakannya, dan Herisman tak ingin menjadi yang kedua. Besok pagi, Dessy akan memutuskan hubungannya dengan Ilham.
“Gue harus bisa percaya dan setia sama Herisman, dia udah mau berubah demi gue! Dan.. Kak Ilham, maafin Dessy... tapi ini semua juga demi kakak, lebih baik Dessy ngaku kalo selama ini Dessy ngeduain kakak. Semoga kak Ilham mendapatkan cewe' yang lebih baik dari Dessy, semoga!” Dessy bicara pada dirinya sendiri.
Setelah itu dia kembali memasuki kamarnya di asrama B, menutup pintu penghubung antara ruang kamar dan balkon luar asrama. Tak lama ia berbaring mencari posisi yang nyaman. Ia pun terlelap.
***
“Dessy kemana Za?” tanya Ilham saat di kantin pada Eliza salah satu teman Dessy sekamar.
“Lah? Bukannya dengan kak Ilham?” tanya Eliza balik.
“Tadi gue dari asrama, tapi dia nggak keluar-keluar, gue pikir dia udah berangkat. Hm...! Tapi bener loe nggak liat dia Za?” Ilham benar-benar panik, membuat sebagian orang yang berada di kantin pada menggumam.
“Apaan sih kak Ilham, kayak kehilangan apa aja!” ucap Eliza.
"Biasa lah Za!" Balas Ilham santai.
“Tapi nggak segitunya kale!” balas Eliza. “Huee.. Dessy, enak banget di peratiin cowoknya!” lanjut Eliza.
Ilham diam, menoleh sesaat ke arah Eliza, tapi tidak berkata apa-apa karena pikirannya tetap terfokus sama Dessy.
Dimana pacarnya itu sebenarnya?
Akhirnya Ilham menemukan Dessy sedang berada di halaman asrama bersama Rita dan Tina.
__ADS_1
“Des!” panggilnya, Dessy pun menoleh.
“Hey!” Dessy berbalik. “kak Ilham, kakak kenapa sih? Kok aneh banget gini?” sementara Rita dan Tina yang posisinya saat ini di belakang Dessy, bisa melihat Ilham memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Dessy erat.
“Kangen sama Dessy, selama ini Dessy kemana sih?” kata Ilham, membuat darah Dessy mengalir lebih cepat dari biasanya serta mukanya memerah merasakan sensasi hangat dalam tubuhnya. Semakin banyak siswa dan siswi yang menyaksikan adegan pasaran di film, namun langka di nyata ini.
“Dessy juga kengen sama kakak, selama beberapa hari ini Dessy sibuk mengerjakan tugas praktek lapangan kak!" Ilham melepaskan pegangan tangannya lalu memegang lembut wajah Dessy.
“Kalo bener sayang sama kakak, mestinya Dessy memberi kabar sebelumnya jadi kakak nggak khawatir sama Dessy.” Dessy membalas tatapan teduh itu dan tersenyum menyesal.
“Iya... Maaf!, lain kali Dessy akan ngasih kabar terlebih dulu ke kakak.” ucap Dessy.
***
Tak sanggup rasanya Dessy mengutarakan maksudnya mengajak Ilham ke taman belakang asrama, Ilham berkali-kali bertanya pada cewe' di sampingnya ini. Setelah kurang lebih sepuluh menit mereka duduk di sebuah kursi taman, Akhirnya Dessy berhasil mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.
“Hm, ya!” kata Ilham sambil mengangguk.
“Apa kak Ilham rela kalo Dessy bahagia bersama orang yang Dessy cinta,” Ilham mulai bisa menangkap sesuatu dari arah tujuan pembicaraan gadis sempurna di sampingnya ini.
“Dessy mencintai seseorang?” Tanya Ilham dan dengan berat Dessy mengangguk.
“Saat ini, status Dessy bukan hanya pacaran sama kak Ilham, melainkan dengan Herisman mantan Dessy waktu SMA yang sempat nghianatin Dessy, sebenarnya dia itu kuliah di Bandung sebelumnya, tapi dengan setulus hatinya dia kembali ke Lampung hanya karena buat nebus semua kesalahannya, dan jujur memang Dessy masih sayang sama dia kak, Dessy mencoba buka hati lagi untuk dia dan...dan... hati itu terbuka lebar...!” Dessy menggigit bibir sambil menunuduk, tak berani menatap ke arah Ilham. Hati Ilham hancur tiada terkira mendengar perkataan Dessy barusan, ia tidak menyangka bahwa seorang cewe' yang dibanggakannya itu tega menghianati ketulusannya.
Sakit... sakit hati Ilham saat ini...!!!
“Pertanyaan Dessy di awal tadi, cinta tak harus memiliki... berarti Dessy mau hubungan kita putus?” tanya Ilham lemah, ia menoleh kesamping, melihat lekukan wajah cewe' itu dari samping.
__ADS_1
“Bukannya Dessy nggak sayang lagi sama kakak, bukannya Dessy udah nggak mau jadi pacar kakak lagi, tapi....!” belum selesai Dessy menuntaskan omongannya, Ilham memotongnya sambil memegang jemari-jemari Dessy, yang mungkin nggak akan pernah di pegang lagi olehnya.
Dessy pun menoleh...!!!
“Nggak usah bilang sayang, kalo memang Dessy mau putusin kakak, karena itu akan tambah bikin kakak sakit Des, kakak bisa terima semua ini asal kamu bahagia sama cowo' pilihan Dessy.” Ilham tersenyum manis, Dessy membalas senyum Ilham itu dengan kikuk. Dia tahu, senyuman Ilham itu hanya senyum palsu, jauh di dalam lubuk hatinya, pasti cowo' itu menahan rasa perih di hatinya. “Kakak berharap cowo' itu jauh lebih baik dari kakak Des, semoga dia tulus sayang sama Dessy seperti kakak sayang sama Dessy, dan kakak minta satu hal sama Dessy, kakak harap Dessy nggak keberatan sama permintaan hati ini.” lanjut Ilham lagi.
“Apa itu kak?” tanya Dessy.
“Kalau Dessy nggak bisa bahagia sama dia, kakak harap Dessy jangan kembali lagi sama kakak, sekarang di antara kita nggak lebih dari sekedar teman Dessy bisa terima itu kan?” Semburat keraguan terpancar dari wajah cewe' itu, entah mengapa ia seperti tak rela menuruti permintaan Ilham barusan.
“Kakak anggap kediaman Dessy itu adalah ‘Iya’...!” Putus Ilham sambil berdiri dari duduknya.
Dessy mendongak ke arah Ilham, setuju tidak setuju, Ilham sudah mengambil keputusan sepihak! Tapi mau bagaimana lagi? Ilham mengulurkan tangannya, dia meminta Dessy untuk menyambutnya. Dessy pun menyambut dan berdiri di depan Ilham.
“Terima kasih buat semuanya... itu adalah kenangan paling indah buat kakak.
“Dessy bukan melihat cowo' cuma dari sekedar materi, Dessy melihat cowo' itu dari sifat dan sikapnya. Kakak Ilham baik, tapi Herisman...! dia ingin mencoba lebih baik, kak.” Ucap Dessy, Ilham hanya tersenyum.
***
“Loe putus sama kak Ilham ya?” respon Rita ketika Dessy menceritakan kejadian kemaren di taman. “Bagus deh, nggak kebayang kalo kak Herisman tau, loe udah mutusin kak Ilham. Gitu dong Des! Loe harus punya pilihan!”
“Tapi gue sedih Ta... Kak Ilham bilang kalo Herisman bisa lebih dari dia dan lebih baik untuk gue, dia bisa terima, tapi kalo gue nggak bisa bahagia sama Herisman, gue yang harus bisa terima karena dia nggak akan mau lagi terima gue jika suatu saat gue mau kembali sama dia.” Lirih Dessy.
“Halah...! loe kok pesimis banget sih? Gue yakin kak Herisman jauh lebih baik dari pada kak Ilham! Nggak bakal deh loe di khianatin untuk yang kedua kalinya! Percaya deh sama gue!” ucap Rita.
“Iya deh... gue percaya sama loe!” kata Dessy kemudian tetap dalam suasana hati dalam kebimbangan.
__ADS_1