ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 6 : BINGKAI ASRAMA


__ADS_3

Berbagai kegiatan di asrama sebenarnya sebagai wadah pembelajaran yang sangat berharga untuk bermasyarakat dan pembentukan karakter kepribadian diri dalam menjalani proses kehidupan yang akan berkelanjutan.


Nilai-nilai yang ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat di tuangkan sepenuhnya dalam ruang lingkup kecil asrama antara lain kepedulian, disiplin dan rasa tanggung jawab yang meliputi komitmen akan sebuah perkataan dan tingkah laku.


Kegiatan dengan sifat wajib diturunkan dari nilai dasar pembinaan karakter Asrama yaitu disiplin, tanggung jawab dan peduli. Nilai-nilai tersebut diturunkan dari konsep pengembangan siswa secara umum.


Kegiatan-kegiatan wajib di asrama merupakan bagian dari representasi dari budaya asrama. Perbedaan antara kegiatan wajib dengan kegiatan yang tidak wajib ialah, terdapat sistem poin dalam pelaksanaannya. Ada poin minimum yang harus dicapai oleh setiap penghuni dengan mengikuti kegiatan wajib ini. JIka total poin minimum tidak tercapai oleh penghuni, maka penghuni tersebut akan mendapatkan surat peringatan, serta sanksi dengan tingkat yang berbeda-beda sesuai poin tersebut.


PPS (Pengenalan Program Study) merupakan program untuk mengenalkan asrama, lingkungan asrama kepada siswa baru di Asrama. Kegiatan serupa juga dilaksanakan untuk Asrama Perawat Kesehatan Kotabumi, Lampung Utara dan kegiatan ini wajib diikuti oleh penghuni baru di Asrama.


Kegiatan yang dilakukan ialah pengenalan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama satu tahun di asrama, sosialisasi budaya serta peraturan asrama. Waktu pelaksanaannya ialah satu kali di awal masuk periode siswa baru dalam jangka waktu 10 hari.


"Ham, di kelas mana kita masuk jam sekarang!?" Tanya Made.


"Kalau di jadwal sih di Aula De!" Jawab Ilham.


"Oookey, elo dah makan apa Ham?" Tanya Made lagi.


"Udah, walau buru-buru tadi biasalah di suruh gesit-gesit nanti telat... !" Jawab Ilham.


Mereka berdua melintasi koridor asrama sepanjang jalan menuju aula asrama Sekolah Perawat Kesehatan yang bentuk bangunannya satu tingkat, tapi karena menjulang tinggi kalau di lihat dari luar seperti bangunan yang beringkat. Baru saja mereka berdua sampai dan menduduki kursi yang memang sudah tersedia, pas dengan guru pembimbing materi Etika Perawatan masuk dan langsung memulai pelajarannya masih dalam bingkai Pengenalan Program Study (PPS).


"Perkenalkan nama saya Ridwan, saya di sini mengisi materi Etika Perawatan. Bagaimana, susah kan menjadi seorang Perawat?!" Setelah memperkenalkan diri Ridwan mulai bertanya untuk semua siswa baru tersebut.


"Iya pak, susah pake banget!" Jawab serempak semua siswa yang hadir di sana dengan tanpa di komando terlebih dahulu.


"Nah... Nah!, sudah tahu susah siapa suruh masuk ke sini?!" Balas Ridwan.


"Demi sebuah harapan pak!" Celetuk Made asal-asal bunyi saja dari arah deretan belakang kelas.


"Harapan apa itu?!" Tanya Ridwan minta penjelasan.


"Mungkin membuat bangga orang tua pak!" Jawab Made.


"Salah satunya diantara banyak alasan ya itulah, semua coba tanya pada diri kita sendiri, apakah yang menjadi alasan saya bertahan di Sekolah Perawat Kesehatan? Nah nantinya rata-rata akan timbul jawaban demi masa depan lah, tidak mau mengecewakan orang tua dan keluarga lah, atau karena alasan tersendiri yang menyetujuinya kalau si hati kita ini bisa mengemukakan pendapatnya.


Anak-anak mendengar penjelasan tersebut sembari berfikir keras, dalam hati bergejolak rasa yang setengahnya tidak atau belum bisa terjawab.


"Okey! kita lanjutkan lagi ke pelajaran sebenarnya ya...! sebelum arah pembicaraan semakin tidak jelas. Etika Perawatan, berasal dari kata "Etik" merupakan prinsip yang menyangkut benar atau salah dari sebab tindakan apa yang akan dilakukan. Etika Keperawatan merefleksikan bagaimana seharusnya perawat berperilaku, apa yang harus dilakukan perawat terhadap kliennya dalam memberikan pelayanan keperawatan semaksimal mungkin!" Jelas Ridwan lumayan panjang.


Semakin tambah Ridwan menjelaskan tentang Etika Perawatan secara detail, membuat para siswa baru ini bertambah bingung, Perawat saja punya etika dan dengan Etika Keperawatan yang mengatur cara duduk, cara jalan, cara beringkah laku dan banyak lagi aturan yang semakin membuat kebebasan itu di rantai dengan erat.

__ADS_1


***


Jam pembelajaran pun akhirnya usai, setelah Ridwan pamit untuk meninggalkan kelas.


Acara di lanjutkan Sosialisasi dengan kakak tingkat dengan cara mendapatkan tanda tangan sebanyak minimal seratus buah setiap siswa baru.


Tentunya untuk mendapatkan tanda tangan itu tidak semudah mengedipkan mata "criiiiing" atau "bim salabim abrakadabra" langsung dapat, semua siswa baru berlomba-lomba untuk mencari kakak tingkat demi mengisi satu per satu kolom dalam buku yang sudah di bagikan dan memang di persiapkan panitia untuk hal tersebut.


"Kak boleh minta tanda tangannya?" kata Ilham pada seorang kakak kelas cewe' yang cukup cantik dengan lesung pipit di pipinya semakin menambah daya tariknya yang duduk di tangga bagian kanan aula yang berbentuk panggung pentas.


"Hmmm... Boleh, udah tahu nama saya?!" balas tanya kakak kelas cewe' itu.


"Belum tahu kak!" Jawab Ilham.


"Wah... Wah... Gimana bisa nulis di buku panduannya kalau nggak tahu namanya ya!" Ucap kakak kelas cewe' itu lagi. "Coba kamu tanya sama kakak kelas cowo' yang di sana!" Ucapnya lagi sambil tangan kanannya menunjuk ke seseorang kakak kelas cowo' yang berdiri di bagian depan aula.


Ilham pun segera mendatangi kakak kelas cowo' yang di maksud... "Kak, boleh tanya?!" Lanjut Ilham bertanya.


"Mau tanya apa ya?!" Jawab kakak kelas cowo' itu sambil tidak menoleh ke Ilham karena dia pun lagi sibuk di kerubungi siswa baru yang ingin meminta tanda tangannya juga.


"Nama kakak cewe' yang duduk di tangga itu kak?!" Jelas Ilham.


"Lah yang perlu siapa? Tanya langsung sajalah ke orang yang bersangkutan!" Ucap kakak kelas cowo' itu nada sewot.


"Ya, sekarang saya yang suruh kamu untuk kenalan langsung dengan dia! Mau tanda tangan saya juga kan? Kalau mau cukup itu syaratnya!" Lanjutnya lagi.


"Iya kak!" Jawab Ilham rada bingung, seperti bola bekel di lempar sana dan sini demi sebuah tanda tangan.


Namum Ilham tidak putus asa dan sampai di situ saja keberaniannya, dia langsung kembali ke kakak kelas cewe' yang duduk di tangga bagian kanan aula tersebut.


"Kak, kenalkan nama saya Ilham, nama kakak siapa?!" Ucap Ilham sesampainya di depan kakak kelas cewe' itu.


"Ooooh Ilham itu nama jeleknya kan?! Nama bagusnya apa?!" Balik bertanya kakak kelas cewe' itu.


"Nama bagus saya Sonde Metal kak!" Jelas Ilham.


"Sonde Metal! Tau artinya nggak?" Balas tanya kakak cewe' itu.


"Ya tahu kak, alat untuk mengukur kedalaman luka!" Jawab Ilham.


"Hmmm... Okey, karena benar jawabannya karena itu saya mau berkenalan. Ilham perkenalkan nama saya Ranti!" Jelas Ranti.

__ADS_1


"Boleh minta tanda tangannya kak Ranti!" Pinta Ilham.


"Ya, tulis dulu nama saya di buku panduan ntar saya tanda tangani!" Jawab Ranti.


"Baik kak!" Ilham tanpa menunggu lama langsung menulis di buku nama Ranti tersebut lalu menyodorkan buku panduannya ke hadapan Ranti. Ranti pun tersenyum dan mengambil pena untuk menanda tangani buku itu.


"Sudah dapat tanda tangan kakak kelas berapa Ham!?" Tanya Ranti.


"Baru kak Ranti saja kak!" Jawab Ilham.


"Lah kakak cowo' yang tadi kakak suruh tanya nama kakak belum dapat ya?!" Tanya Ranti.


"Belum kak, tadi di suruh kenalan dulu baru boleh minta tanda tangan dia kak!" Jawab Ilham.


"Ya udah, langsung ke sana. Ntar dia lupa akhirnya Ilham ndak dapat tanda tangan dia!" Jelas Ranti.


"Ooh ya kak Ranti, kalau boleh tahu nama lengkapnya siapa ya? Ntar kalau Ilham di tanya bisa langsung jawab kak!" Jelas Ilham.


Kakak kelas cewe' itu pun menggangguk sembari tersenyum. "Ingat ya Ham, Ranti Ardianing dan ingat kak Ranti yang pertama mengisi tanda tangan buku panduan Ilham!" Jelas Ranti.


"Iya kak Ranti, Ilham pamit mau ke kakak cowo' itu lagi!" Ucap Ilham.


"Emang sudah tahu namanya?" Tanya Ranti.


"Ehhh... Belum kak!" Jawab Ilham cengengesan.


"Denny Ivano! Dia ketua Pengenalan Program Study (PPS) ini Ham, di ingat-ingat ya!" Jelas Ranti.


"Siap kak, pamit ya kak!" Ucap Ilham, langsung berjalan menemui kakak kelas cowo' yang namanya Denny Ivano tersebut.


"Kak boleh minta tanda tangannya?!" Ucap Ilham meminta.


"Eeh... Kamu yang tadikan! Udah tahu siapa nama kakak cewe' tadi?" Tanya Denny.


"Iya kak sudah, Ranti Ardianing!" Jawab Ilham.


"Okey, mana buku panduannya? siapa nama kamu?" Tanya Denny.


"Ilham kak!" Jawab Ilham singkat.


"Hmmm... Di buku panduannya sudah ada nama saya Ham!?" Tanya Denny.

__ADS_1


"Iya kak, kak Ranti yang kasih tahu!?" Jujur Ilham.


Denny pun menorehkan tanda tangannya di buku panduan milik Ilham sembari tersenyum sambil melirik ke cewe' yang bernama Ranti dan Ranti pun tertawa datar dari kejauhan.


__ADS_2