ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 48 : GAGAL


__ADS_3

"Kalau ada anak-anak asrama yang cari aku, kau layani sampai aku pulang, Upik," kata Ilham sambil lewat. "Kalau Made mengembalikan buku, kau simpan saja. Awas, dia agak iseng." Ucap Ilham.


Dina mengangkat mukanya. Dan tidak sengaja pandangannya menangkap bagian atas tubuh Ilham yang terbuka. Laki-laki itu baru keluar dari kamar mandi. Hanya selembar handuk meliliti pinggang sampai ke paha. Jantung Dina menggelepar keras.


Aneh...!!!


Hampir tiap hari ia melihat lelaki tanpa baju di sawah, di pancuran, di sungai. Tetapi, ah, kapan jantungnya terasa menggelepar begini?


"Pergi lagi?" tanyanya asal saja. Sambil menundukkan kepala, Dina berpikir-pikir mengapa tiba-tiba ia tidak berani mengangkat mukanya.


"Nonton di asrama C Ruang Makan, rame-rame jadi seru!" sahut Ilham singkat. Ia sedang menyisir rambutnya di muka cermin wastafel.


"Nonton lagi?" cetus Dina heran. "Rasanya baru kemarin."


"Kemarin bareng dengan Martina," sahut Ilham sambil tersenyum.


Tangan kanan Boy yang sedang menggenggam sisir mengejang di udara. Tidak biasanya anak kecil ini begini rewel. Ditatapnya gadis itu melalui cermin. Dan Ilham melihat sesuatu yang tadi tidak dilihatnya.


Dini sedang menjahit, memendekkan sedikit roknya yang baru dengan paduan warnanya bukan main noraknya di mata Ilham.


"Upik..." Ilham memutar tubuh dan menatap lebih cermat. "Kau mau ke mana?" Sekilas Ilham melihat perubahan air muka gadis itu.


Tetapi Dina tetap tidak mau mengangkat matanya.


"Kak Jhon mengajakku ke Pasar Terminal...."


Ilham ternganga heran. "Jhon...? Sahabatnya bisa mengajak Dina jalan-jalan? ke Pasar Terminal lagi?"


Sekarang Dina mengangkat wajahnya. Mereka bertemu pandang dan Ilham melihat sesuatu, sesuatu yang lain di dalam mata yang bening itu.


"Sekarang kan hari Minggu. Kami akan kembali sebelum pukul dua belas. Jangan kuatir tentang makan siang. Bi Minah sedang membuat gulai..."


"Persetan dengan makan siang! Kau jangan pergi dengan anak tenguk itu, Upik ...." Ucap Ilham.


"Tapi kau sendiri sama saja!" Balas Dina.


"Aku sangat kenal dengan teman-temanku! Jhon terkadang tidak sopan!" Balas Ilham.


"Apa bedanya denganmu? Pukul dua belas malam masih sibuk nonton di asrama cewek...!" Lanjut Dina.


"Upik ..... " kata Ilham kewalahan. "Dengar, kalau kau bisa menukar pakaian dalam tiga menit, tetapi demi Allah, jangan pakai rok yang sedang kau pegang itu, lalu mendahului aku mencapai pintu depan, akan kubawa kau jalan-jalan ke kota kita bisa nonton di sinema I atau II dan filmnya bagus-bagus di sana!" Ucap Ilham.


Dina menatap dengan tidak percaya. "Kau tidak main-main?" Balas Dina.


Ilham memonyongkan bibirnya. "Harus sumpah?"


Belum habis Ilham berkata, Dina telah terbang ke kamarnya!


"Wah, tunggu dulu! Curang!" teriak Ilham sambil bergegas-gegas lari ke atas. Untung ia belum lupa memegangi handuknya. Kalau tidak, bisa pingsan Bi Minah yang sedang tergesa-gesa masuk.


"Ilham...!" teriaknya dari bawah. "Ada...!"


Belum habis kata-katanya, Ilham sudah melompat turun dari kamarnya dan hampir menabrak Bi Minah yang sedang terbengong-bengong.


"Astagalirulah!" Bi Minah mundur cepat-cepat sambil mengurut dada. Dan membentur Dina yang sedang berlari cepat melewati belakang tubuhnya!


"Masya Allah! Kenapa jadi begini?" jerit Bi Minah sementara tubuhnya tersungkur ke depan.


Dina hanya terhuyung sedikit, untuk kemudian dengan lebih bersemangat melompat lagi ke depan!


Tetapi tampaknya Ilham juga yang akan lebih dahulu mencapai pintu. Pada saat-saat terakhir itu, Dina nekad membuang dirinya, menyambar tungkai Ilham, dan mereka jatuh terguling-guling menabrak pintu.


Dina memekik antara geli dan sakit. Masih berusaha menggapai daun pintu dengan tangannya yang bebas. Tetapi Ilham segera meraih tangannya, dan menggulung tubuh Dina menjauhi pintu.

__ADS_1


"Kau curang!" maki Dina tanpa dapat menahan tawanya lagi. Ia berusaha melepaskan diri dari tindihan Ilham tetapi sia-sia.


"Siapa dulu?" balas Ilham sambil memakukan kedua lengan gadis itu di sisi kepalanya.


Dina masih meronta beberapa kali sebelum Ilham berhasil mematahkan sama sekali perlawanannya, dan terkulai pasrah di lantai dingin. Mereka saling tatap. Begitu dekat. Sebelum Ilham menundukkan kepalanya lebih dalam, siap menyentuhkan bibirnya dan Dina menggelinjang ke samping bagai disengat kala!


Di mukanya tegak cewe' itu dengan berkacak pinggang dan pandangan yang astaga dinginnya!


"Maaf." Dina tergesa-gesa berdiri. Mencoba menerka sudah berapa lama Vina itu tegak di sana menyaksikan adegan gila ini!


Ilham memutar kepalanya. Dan ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Vina itu, ia menyeringai masam.


"Vina...!," katanya sambil merayap bangun.


Menggeliat dan mengurut pinggang seenaknya.


"Yang Mulia Vina Maharani...!"


Vina Maharani menatap Dina yang sedang tegak kemalu-maluan dengan tatapan menghina. Kemudian pandangannya beralih kepada Ilham.


"Pantas saja...!," gerutu Vina dingin. "Huh!" Acuh tak acuh Vina melewati Dina yang masih tegak mematung.


Dina menatap mereka bergantian dengan bingung. Tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan lebih celaka lagi, tidak tahu mesti berbuat apa. Serba salah. Duduk salah. Berdiri pun salah.


"Gadismu yang keberapa ya Ham?" Tanya Vina.


Dina tidak kuasa lagi menahan perasaannya. Dia harus menyingkir atau dia akan keburu jatuh pingsan di sana. Tetapi Vina Maharani membentak, hampir merontokkan jantungnya, "Diam saja di situ Din...!"


Dina berpaling. Dan pandangan Vina menghanguskan mukanya. Tatapan itu! Astaga. Terpaksa Dina buru-buru menunduk lagi dan mematung di sana seperti seorang pesakitan.


Ilham melangkah menghampiri dan membimbingnya masuk.


"Mau ke mana?!" Mengguntur lagi amarah Vina melihat kejadian di depan matanya tadi.


"Nah, elo bohong lagi Ham." Senyum Vina terasa tajam menyakitkan. "Ketika gue datang tadi, elo sedang *******-***** dia! Atau gue salah lihat Ham?" Balas Vina.


Ilham kewalahan juga, tentu saja ia berbohong karena Ilham sering menyentuh Dina, memeluknya bahkan menciumnya sekali. Tetapi tidak pernah lebih dari itu. Sumpah!


"Gue sudah mendengar apa yang selama ini elo lakukan terhadap Dina, Ham!." Balas Vina. Dina tersentak dan membatalkan langkahnya. "Bi Minah dan Mang Ucup banyak cerita tentang kau." Jelas Vina lagi.


Dina harus mengatur napasnya dulu sebelum perlahan-lahan membalik. Matanya yang dilumuri sejuta ketakutan beradu dengan mata Vina.


Vina Maharani menatap seenaknya pada gadis yang tegak di mukanya dengan rikuh itu.


"Sa. saya saya tidak berbuat apa-apa untuknya ...." katanya gugup. Diremas-remasnya jari-jemarinya tanpa berani balas menatap. "Ilham telah berbuat banyak untuk menolong saya. Dia sangat baik. Seandainya saya tidak bertemu dengan dia...." Ucap Dina mengulangi penjelasan saat malam ketika mereka bertemu dan Vina tahu akan hal itu.


"Kau menyukai Ilham?" Tanya Vina.


Ditanya sedemikian rupa, Dina jadi gelagapan. "Sa... saya saya menyukai semua orang yang baik....!"


"Oooo, ya?" Vina tertawa santai. "Rupanya kau memang punya bakat untuk jadi bintang film." Ucap Vina mengejek.


Lagi-lagi Dina tersentak.


Kali ini ia sampai lupa pada kengeriannya membalas tatapan Vina.


"Kenapa?" Vina berucap menantang. "Kau ingin memiliki Ilham kan!?" Ucap Vina memojokkan.


***


Untuk kesebelas kalinya Dina mengintai melalui kaca pintu depan. Di luar sepi. Hanya satu dua siswa siswi asrama yang melintas cepat-cepat di muka rumah, menembus hujan lebat yang turun sejak pukul delapan tadi.


"Ilham ke mana ya, Bi?" Dina tak dapat lagi menyimpan kegelisahannya. "Tidak biasanya belum pulang dari sekolah asramanya sampai setengah delapan malam."

__ADS_1


"Barangkali terus nonton," hibur Bi Minah dengan alasan yang itu-itu juga. "Dulu Ilham memang sering pulang malam. Boleh dikatakan hampir tiap malam. Sekarang sudah lumayan, sejak Nak Dina dan Neng Vita ada di rumah ini. Barangkali Ilham kasihan melihat Nak Dina menunggu terus sampai mengantuk-ngantuk." Bi Minah menguap lagi. Lebih lebar dari tadi. "Kalau Bibi sih sudah tidak kuat begadang. Apalagi hawa dingin begini, wah, bisa kumat encoknya!"


"Kalau begitu Bibi tidur saja. Biar saya yang tunggu Ilham di sini." Ucap Dina. "Vita sudah pulang apa Bi?" Tanya Dina lagi.


"Udah, dia habis selesai dinas sore seperti biasanya pasti kecapean dan langsung tidur!" Jawab Bi Minah. "Nggak takut sendirian?" Ucap Bi Minah lagi.


Dini tersenyum. "Ah, takut apa Bi? Pergilah tidur. Nanti kalau takut, saya teriak-teriak." Balas Dina.


Masih satu jam lagi Dina harus duduk terkulai di kursi antara terlelap dan tidak, sebelum terdengar tapak kaki langkah seseorang di halaman menyadarkannya. Bergegas ia melompat bangun dan membuka pintu. Ilham tegak di sana. Basah kuyup. Dan mulut Dina yang telah separuh membuka, siap untuk menyemburkan sejuta pertanyaan, membeku.


Ilham tidak menyapa. Tidak tersenyum. Bahkan matanya mata yang selalu tersenyum itu, sekarang tidak tersenyum lagi! Mata itu begitu suramnya. Redup dan putus asa. Tanpa menatap sekilas pun, tanpa berkata sepatah pun, ilham melewatinya dan langsung masuk ke kamar.


Dina menunggu sampai setengah jam di meja makan, ketika Ilham tidak keluar lagi dari kamarnya, Dina memberanikan diri naik ke atas. Melalui celah-celah pintu yang tak tertutup rapat, Dina mengintai ke dalam dan tertegun. Ilham berbaring tertelungkup di atas tempat tidur, masih mengenakan sepatu dan kemejanya yang basah kuyup!


"Tukarlah dulu baju Ham!," kata Dina tanpa dapat menahan diri lagi. "Nanti masuk angin."


Tidak ada jawaban. Ilham bahkan tidak bergerak sama sekali. Sambil menghela napas, Dina melebarkan daun pintu lalu melangkah masuk. Dan berlutut di sisi pembaringan. Hati-hati dilepaskannya sepatu ilham satu persatu dan kemudian kaus kakinya juga.


"Akan kuambilkan air hangat untuk mandi..." Ucap Dina.


"Tidak usah!" Balas Ilham.


Dina tersentak. Suara itu, alangkah kasarnya!


Tetapi ia cepat dapat menguasai diri lagi. "Kalau begitu tukar saja bajumu," katanya sabar. "Jangan tidur dengan baju basah begini."


Tidak ada jawaban. Dia tetap tak bergerak. Sekali lagi Dina menghela napas. Lalu ia keluar. Membuat segelas susu panas dan naik kembali ke kamar.


Ilham sudah bertukar pakaian. Pakaian-pakaian basahnya bertebaran di lantai. Dia sedang duduk termenung di tepi pembaringan, ketika Dina datang mengulurkan segelas susu hangat.


"Bawa keluar!" bentaknya sambil mengibaskan tangannya. Tidak sengaja memang. Tidak sengaja menampar gelas itu. Tetapi susu itu tumpah menyiram tangan Dina. Gelasnya jatuh ke lantai. Pecah berderai.


"Keluar!" perintah Ilham setengah berteriak. "Keluar! Aku tidak haus! Tidak mau minum! Tidak mau apa-apa!"


Sekejap Dina tampak terpaku mengawasi pecahan gelas yang berserakan. Tetapi hanya sedetik di detik lain ia sudah berlutut untuk mengumpulkan kepingan-kepingan gelas itu.


Ilham merasa terpukul, ada rasa berdosa menyesak di dadanya.


"Maafkan aku, Upik," erangnya sambil menjatuhkan diri, berlutut di muka Dina yang masih tunduk mengumpulkan pecahan gelas.


"Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa!" Ucap Ilham.


Dina memandangnya sekilas. Wajah Ilham demikian kusut. Ia benar-benar harus dikasihani.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Dina ketika mereka bertemu pandang.


Ilham terduduk lemas di atas lantai. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali kuat-kuat: "Aku gagal lagi."


Dina terhenyak: "EBTADA?"


Ilham mengangguk lemah. "Hanya ada tiga kesempatan. Aku telah dua kali gagal." Disembunyikannya wajahnya di balik kedua belah telapak tangannya. "Kalau aku gagal lagi tahun depan, habislah semuanya. Sia-sia semua jerih payahku selama empat tahun. Aku tak mungkin lagi jadi perawat!"


Dini menyorongkan pecahan-pecahan gelas itu ke tepi sebelum merangkak menghampiri ilham. Dan entah bagaimana tahu-tahu ia telah berada dalam pelukan laki-laki itu.


"Kenapa aku gagal, Upik?" Ilham membiarkan kepalanya bersandar ke bahu Dina. "Aku telah berusaha mati-matian ...."


"Ketika Nenek meninggal," bisik Dina sementara tangannya membelai rambut Ilham. "Aku juga tidak mengerti mengapa Tuhan masih sampai hati mengambil satu-satunya milikku di dunia ...."


Ilham merasakan jari-jemari Dina menyentuh mukanya. Tangan yang kasar itu, tangan seorang gadis petani, memberi kesejukan baru di hatinya.


"Jika Tuhan tidak mengambil nenekmu, Upik," kata Ilham sambil mendekapkan wajah gadis itu ke dadanya. "Dia pasti mengirimkan penghibur yang lebih baik dari pada engkau bersamaku."


Dini menghela napas lega. Jika cowo' ini sudah dapat bergurau lagi, artinya dia sudah cukup aman untuk ditinggal sendiri.

__ADS_1


"Kau perlu istirahat," katanya sambil melepaskan diri. "Besok kau akan merasa lebih sehat. Jangan pikir apa-apa lagi malam ini. janji?"


__ADS_2