ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 21 : BINTANG NYATA


__ADS_3

Aku masih ingat pada malam di mana kau menghampiri diriku yang duduk termenung seorang diri di halaman sekolah dengan di temani angin malam dan pohon cemara yang bergoyang lembut membelai hati dengan kedamaiannya, menatap indahnya langit malam yang ditaburi oleh bintang yang sangat berkilau terang di setiap sisi langit.


Kau datang kemudian duduk tersenyum mendekati diriku, lalu kau memandangku dan melihat ke atas langit, kemudian kau berkata padaku "Langitnya indah ya!, ditaburi oleh sang bintang?", aku pun tersenyum melihat wajahmu sambil menjawab "Iya indah sekali, karena begitu indahnya aku tak bosan-bosannya untuk keluar setiap malam hanya untuk memandangi bintang yang sangat indah itu!".


"Benarkah aku juga sangat suka memandangi bintang, apalagi kalau bintangnya begitu nyata di depan mataku, jadi aku tidak perlu susah payah untuk melihat ke atas untuk melihati bintang itu satu persatu!" dia berbicara sambil tersenyum melihat ke arah wajahku, aku begitu sangat terkejut karena kata-katanya barusan yang tertuju sangat jelas kepadaku, aku hanya bisa tersenyum melihatnya.


Aku tak menyangka bahwa dia mempunyai hobby yang sama denganku yaitu bernyanyi, aku langsung terbuay terpana terbawa lagu yang ia dendangkan.


Ketika aku melihatnya bermain gitar dan bernyanyi, suaranya begitu indah sekali membuat diriku begitu terpesona olehnya, wajahnya yang begitu sangat menarik dan tampan serta memiliki intelegent yang tinggi, pantas saja semua cewe' menginginkan jatuh ke dalam pelukannya.


Karena begitu asyiknya mendengar suara indahnya itu, aku pun tanpa sadar ikut bernyanyi dengannya. Aku sangat merasa nyaman dengannya, dia dapat membuat diriku tersenyum ceria di setiap detik-detik kebersamaan dengannya.


Setelah cukup lama dan di karenakan lelah, kami berhenti dari nyanyian kebersamaan dan dia kembali menatapku sambil bertanya "Apakah kau sangat suka dalam bernyanyi?", kemudian aku menjawab dengan senyumku yang begitu lebar "Iya, aku sangat-sangat suka banget nyanyi apalagi kalau lagu pop atau pun band santai, bahkan setiap waktu kosong aku selalu isi dengan bernyanyi, walaupun suaraku tak enak didengar orang lain aku tak peduli, yang terpenting bagiku adalah terus bernyanyi".


Dia tertawa mendengar perkataanku, dia berkata "Kamu lucu banget ya, kamu pantas jadi seorang penyanyi yang terkenal!", aku langsung tersipu malu atas pujiannya, kemudian aku berkata "Aku tidak pernah sedikit pun bermimpi menjadi seorang penyanyi, karena menyanyi adalah hobiku bukan cita-citaku".


Dia tersenyum dan kembali melihat sekumpulan bintang-bintang yang berada di atas langit, dia kemudian berkata kepadaku "Kalau kamu disuruh memilih di antara bintang-bintang itu, kamu mau memilih yang mana? yang seorang diri atau berkelompok? yang bersinar terang atau yang tidak memiliki cahaya?", kemudian aku melihat semua bintang-bintang itu, sambil berfikir bintang-bintang yang mana ingin kupilih, aku pun menjawab pertanyaannya "Kalau aku disuruh milih… hmmm aku lebih milih bintang yang berkelompok sih, tapi aku mau jadi yang paling terang. Kalau kamu tanya kenapa? aku akan jawab kalau aku lebih suka mempunyai teman dari pada hidup seorang diri, karena aku takut akan kesendirian dan aku memilih yang paling terang karena aku ingin menjadi seorang yang begitu disukai banyak orang", seketika dia terdiam memandangi wajahku, lalu aku pun membalas pandangannya, setelah beberapa lama dia berkata "Kamu tak perlu takut, kan ada aku di sini sekarang, jadi kamu tidak akan sendirian lagi", lagi-lagi aku terkejut dengan kata-katanya sambil membatin di dalam hati "Apa yang dimaksud olehnya, apa maksud kata-kata dan ucapannya padaku, apakah dia ingin mengatakan sesuatu hal kepadaku atau hanya bercanda saja!?", aku sangat bingung sekali dan perasaanku sangat tidak karuan jantungku berdegup kencang, tangan ku mulai menggigil dengan sendirinya, rasanya begitu sangat kacau.

__ADS_1


Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu, yang kutahu hanyalah menatap wajahnya.


Tatapan dan sorot matanya begitu sangat menghipnotisku, kemudian aku kaget karena aku merasa ada tangan yang tiba-tiba memegang tanganku, aku melihat ke bawah dan ternyata dia memegang kedua tanganku dan aku menatapnya dengan sejuta rasa yang tak dapat kukatakan saat itu.


Setelah lebih kurang lima menit kami bertatapan, kemudian dia berkata, "Jika matahari terang menyinari bumi, maka kau seperti matahari yang menyinari hatiku. Jika bintang begitu indah di malam hari, maka kau dapat mengalahkan indahnya bintang itu. Dan jikalau rembulan menyinari malam hari yang sepi, maka kau dapat mengalahkan rembulan di malam hari, kau dapat mengalahkan apapun di mataku", mendengar semua itu wajahku mulai merona memerah dan aku tak tahu rasa apa ini, dan apa yang sekarang ini aku rasakan, aku hanya bisa diam tertunduk tersipu malu.


Dia kemudian melihati wajah ku, "Kenapa kau sama sekali tak menanggapi kata-kataku barusan, apakah kau tahu isi hati ku padamu?".


Aku menjawab "Aku tak pernah tahu apa yang kau rasakan selama ini padaku, dan aku melihatmu tak pernah sedikit pun pun melirik bahkan melihatku".


"Apakah mencintai harus selalu mengikuti seseorang yang kita cintai, menurutku itu semua tak perlu, malah hal itu dapat membuat orang yang kita cintai terasa tidak ada kenyamanan melihat kita!, itu sebabnya aku selalu tampak santai ketika berhadapan denganmu, kau harus tahu kalau rasa ini hanya untukmu kau adalah seorang wanita yang pertama kali aku cintai, aku sangat mencintaimu, kuserahkan segala rasa ini hanya untukmu sekarang aku ingin bertanya apakah kau mencintaiku?".


Kemudian dia pun terdiam dan berkata "Ya sudah tidak masalah dan tidak mengapa aku sangat mengerti dan sangat menghargai apa yang menjadi alasan dirimu dan aku tidak akan memaksakan suatu hal yang mungkin akhirnya akan berkesudahan dengan keburukan. Tetaplah dengan apa yang kamu rasakan selama ini!", pada saat itu aku hanya bisa tersenyum lega mendengar jawaban darinya.


Karena sudah waktunya apel malam dan anak-anak asrama sudah bertaburan dari kelas pembelajaran malam untuk segera mengikuti kegiatan apel malam, dia pun berkata padaku "Yuk kita apel, sudah waktunya. Nanti di lihat anak-anak asrama lainnya di kira mereka ada apaan antara kita, gosib bakal luas beredar dan mungkin bisa membuat rasa nyaman itu semakin sirna di hati karena omongan mereka!"


Aku tersenyum padanya dan berkata "Iya, makasih atas waktunya malam ini", akhirnya kami pun berjalan bersama menuju tempat di mana apel malam diadakan.

__ADS_1


Aku hanya begitu sangat bimbang dan penuh keraguan dengan kejadian malam ini, yang membuatku begitu sangat senang, walaupun aku tidak tahu mengapa aku amat sangat senang. Tapi aku juga bingung kenapa aku belum bisa untuk sementara memberikan jawaban akan kebenaran hati ini pada dirinya.


***


"Waaaaw, keren banget Des! Emang nggak salah kalau kak Ilham menjadi populer di seluruh asrama khususnya kaum cewe', kalau gue yang jadi elo Des, terus terang bisa langsung pingsan tanpa bisa berkata-kata lagi!" Ucap Rita mendengarkan kisah Dessy saat Ilham mengutarakan niat dari hatinya.


"Gue juga saat itu bener-bener gugup kok Ta, gimana nggak dengan untaian kata-katanya yang menyentuh hati, memandang dia sebagai senior gue dan bukan itu saja, dia ketua osis kita lo! Gimana coba kalau elo di posisi seperti gue waktu itu!" Jelas Dessy.


"Pokoknya keren Des, selamat ya! Sekarang elo ma kak Ilham intinya sudah jadian kan. Semua cewe' satu asrama termasuk kakak kelas, se angkatan dan adik kelas banyak yang ingin berada di posisi menjadi elo!" Ucap Rita lagi.


"Terima kasih ya Ta, karena elo juga semua bisa berjalan dengan lancar, terang seterang terangnya. Awalnya gue bimbang di tambah dengan kehadiran Herisman, tapi untuk sekarang hati gue Alhamdulillah sudah mantap kok!" Jelas Dessy.


"Syukurlah Des, gue sebagai sahabat elo juga sangat merasa senang dengan adanya kak Ilham sudah utuh di hati elo!" Balas Rita. "Untung elo cepat memberikan keputusan, telat-telat sedikit, kak Ilham gue yang ambil!" Canda Rita kemudian.


"Ahahahhaaaa...! Ada-ada aja lo Ta!" Dessy tertawa lepas penuh dengan rasa bahagia yang tidak ada yang bisa melarangnya untuk melakukan itu.


***

__ADS_1


"Tapi entahlah, bagiku membalas senyum hanya sebuah kewajiban karena sebuah nasehat yang bijak mengatakan bahwa sombong adalah selendang Tuhan, Yang Maha Kaya dan Maha Segala Nya, hanya Dia yang layak untuk sombong. Namun jika Tuhan yang layak sombong pun tetap jadi penyayang yang halus nan lembut, menjadi pengasih tanpa pilih kasih.


Apalah aku ini, apa yang bisa ku banggakan saat ini...?".


__ADS_2