
Keesokan harinya seluruh siswa siswi heboh dengan kegiatan camping yang akan di adakan oleh Sekolah Perawat Kesehatan yang sengaja di adakan pengurus OSIS untuk kegiatan refresing sekolah. Berbagai komentar di lontarkan oleh seluruh siswa. Ada yang happy ada juga yang nggak seneng. Karena acara camping hanya di tujukan untuk kelas satu dan dua. Sedangkan kelas tiga mengikuti study tour ke Bali.
“Nel, loe ikut camping nggak?.” Tanya Jhon saat mereka berada di ruang OSIS bersama dengan anggota OSIS lainnya. Tetapi Jhon sedang berada di depan ruangan itu bersama dengan Ilham, Rosa, dan Nelly.
“Pertanyaan loe aneh banget Jhon. Bukanya camping itu di tunjukkan wajib buat kelas dua yah. Pertanyaanya yang baku dikit dong. Nggak erotis banget sih loe.” Komentar Ilham.
“Sialan loe, gue kan lagi basa-basi. Cha, urusin cowo' loe nie. Repot banget ngurusin urusan orang lain.” Sungut Jhon yang tidak terima.
“Yaelah, biasa aja kali Jhon. Lagian bener kok kata Ilham, pertanyaan loe aneh banget.” Ujar Nelly nyambung.
“Kok loe belain si Ilham sih Nel, ntar ada yang jealous tuh, ada pacarnya juga. Ngapain loe belain si Ilham.” Sungut Jhon yang tidak terima Nelly membela Ilham.
“Gue biasa aja kok, ada juga loe kali yang jealous karena Nelly itu lebih milih belain Ilham dari pada loe.” Sambung Rosa memojokkan Jhon.
“Apaan sih loe Cha.” Ujar Nelly salting.
“Gue gak jealous kok, biasa ajah.” Ucap Jhon gugup plus salting.
“Sama-sama salting aja belagu loe berdua. Jangan di terusin, ntar dunia sepi. Udah yah, gue sama Rosa mau masuk dulu, Bye.” Pamit Ilham seraya menggenggam tangan Rosa dan masuk ke ruang OSIS.
“Udah Nel, nggak usah di dengerin omongan mereka berdua. Aneh banget emang.” Ujar Jhon.
“Iyah, nggak apa-apa kok, masuk yuk, anak-anak udah pada kumpul di dalem tuh.” Ajak Nelly.
“Yaudah. Yuk.” balas Jhon.
***
Vina Maharani sedang berada di kelasnya bersama dengan sahabatnya yang merupakan teman sebangkunya. Duduk di bangku deretan ketiga dan baris paling belakang.
“Ngapain ada acara camping segala sih, rese banget. Mana nggak ada yang ngasih tahu gue lagi.” Sungut Vina sebal seraya menyandarkan kepalanya di meja.
“Mungkin emang dadakan kali Vin, lagian kan masih ada waktu tiga bulan lagi. Masih lama kan ???” ucap Agnes sahabat Vina.
“Iya Agnes, gue ngerti itu masih lama, tapi di madding ada tulisan WAJIB, apaan tuh. Pemaksaan tuh namanya. Gue nggak mau ikut pokoknya, di sana pasti tidurnya di tanah. Ihhh, kan dingin Ag, udah gitu pasti kotor, banyak kotorannya, Ihhh, gue nggak bayangin deh.” Ucap Vina sombong.
“Iya Vina, loe nggak usah ikut kan bisa, loe tinggal bilang sama guru. Gampang kan ???” balas Agnes.
“Pastinya. Gue pasti bakalan bilang. Mana mau gue ikut kegiatan menjijikan kaya gitu. adanya juga gue yang rugi, orang-orang kumuh doang yang ikut acara begituan. Loe mau ikut Nes???” lanjut Vina.
“Pastinya. Gue itu paling suka sama acara begituan. Kita jadi lebih deket sama alam. Lagian pemandanagnnya pasti keren banget disana. Ada yayang gue juga. Katanya dia ikut.” Jawab Agnes santai.
“Heh, loe enak. Ada Copot Agus Subroto.” canda Vina.
“Viiiinaaa!, berapa kali gue bilang kalau nama cowo' gue itu Cipto Agus Subroto.” Sungut Agnes sebal.
“Iyah iyah. Up to you said. Whatever, ok. Lagian loe ngapain ikutan acara begituan, kotor, menjijikan, dan pastinya dingin banget disana. Doble Iuuuuhhhhh.” Keluh Vina sombong.
“Please deh Vin. Kaya gitu tuh menyenangkan banget. Apalagi ada jalan malem. Waahh pasti seru banget. Gue bakalan ikut pokoknya.” Agnes terlihat kegirangan.
“Serah loe deh.” Ucap Vina kesal.
***
Sore ini di perumahan Kepala Sekolah Perawat Kesehatan, Vina sudah berkumpul seluruh anggota keluargannya. Kepala Sekolah yang juga orang tua Vina dan seluruh pembantunya sudah berkumpul di ruang tengah.
“Papah sama mamah ngapain sih ngumpulin semuannya. Ada acara apa lagi.” Ujar Vina.
“Begini sayang, Bi Minah, Bi Iyem serta Pak Ucup mau pulang kampung, mereka semua papah izinkan untuk berkumpul kembali bersama keluarganya yang ada di kampung selama sebulan ke depan, dan besok sore mereka akan berangkat.” Terang papah Vina.
“Terus yang ngurusin Vina siapa pah???” Tanya Vina.
“Ya sendiri lah, lagian papah juga akan menitipkan kamu pada anak dari temen papah, nanti mereka akan tinggal di sini untuk menemani Vina, papah juga mau pergi ke luar kota sama mamah dan temen papa itu, ada urusan mendadak selama sebulan ke depan.” Terang papah Vina.
“Ihhhh, Vina kan nggak kenal sama dia. papah juga pake nitipin aku segala, emang aku itu barang apa di titipin.” Sungut Vina sebal.
“Makanya Vin, malam ini kamu akan bertemu dengannya. Keluarga dia mengundang kita untuk makan malam. kamu harus ikut.” Ujar mamah Vina.
__ADS_1
“Kok harus sih mah, maksa banget kesannya. Lagian kalau Vina nggak mau kenapa ???” ucap Vina.
“Papa akan motong 50% uang jajan kamu. Mau ???” balas papahnya.
“Yah pah, jangan dong, iya deh Vina ikut. Ngancemnya gitu mulu, gak ada yang lain apa ??? Udah akh, Vina mau ke kamar, mau tidur.” Ucap Vina seraya meninggalkan ruang tengah.
“Ya udah Bi, Pak. Kalian boleh kembali kerja. Maafkan Vina sekali lagi.” Ujar mama Vina.
“Nggak apa-apa nyonya, non Vina nggak salah apa-apa sama kita.” Ujar Bi Minah.
“Vina selama ini sering berlaku seenaknya sama kalian, jadi maafkan Vina sekali lagi.” ucap papahnya Vina.
“Iya Tuan, kami sudah memaafkan non Vina. Permisi tuan nyonya, saya mau ke dapur dulu.” ucap Bi Minah.
“Iyah Tuan Nyonya, permisi saya juga mau ke belakang dulu.” Ujar Pak Ucup beranjak dari duduknya diikuti oleh yang lain, sedangkan Papah dan Mamah Vina duduk menonton TV.
***
Malam hari telah tiba, seorang Vina keluar dari kamarnya dengan memakai gaun yang sangat indah. Memakai gaun selutut berwarna hijau muda yang dilengkapi dengan Belt di pinggang yang ada bunga mawar. Rambut tetap di gerai hanya dipasang dengan jepitan kupu-kupu berwarna putih dan menggunakan wedges berwarna putih.
Penampilannya sangat memukau dan sangat anggun bak seorang putri dari kerajaan ternama. Tetapi sayang, wajahnya memasang mimik tidak bersahabat dan murung. Dengan langkah gontai gadis ini menuruni tangga rumahnya menuju ke bawah dimana orang tuanya berkumpul.
“Mukannya jangan BeTe gitu dong, senyum dong. Masa cantik gini wajahnya kaya gini ???” Ujar Mamah Vina yang sudah siap bersama dengan papah Vina.
“Aku gak mood buat ikutan acara kaya gini, gara-gara ancaman papah terpaksa deh ikut.” balas Vina.
“Vina kalau di depan mereka harus senyum yah, pasang wajah cantik, awas aja kalau papah lihat kamu masih BeTe gitu, papah akan benar-benar memotong uang jajan lo.” ucap papah kemudian.
“Ihhh papah, ngancem mulu deh bisanya.” balas Vina.
“Hahaha!. Ya udah masuk mobil sayang, Kita berangkat sekarang yah.” lanjut papah kemudian.
Hari minggu, semua siswa siswi Sekolah Perawat Kesehatan mendapatkan liburan, walau hanya satu malam dari sabtu pagi yang tidak mendapatkan jadwal dinas di Rumah Sakit boleh pulang terlebih dahulu akan tetapi untuk yang dinas pagi harus menyelesaikan jadwal dinasnya baru siangnya boleh pulang menginap di rumah masing-masing, untuk dinas sore dan malam di liburkan. Bisa di bilang libur minap sangat sedikit sekali di berikan ke siswa siswi Sekolah Perawat Kesehatan ini, tiga bulan hanya satu kali saja.
Di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah tersedia berbagai makanan di ruang tengah. Berbagai makanan dan minuman telah di sajikan oleh sang pemilik rumah untuk menyambut kedatangan tamu special. Sedangkan sang pemilik rumah masih berada di ruang keluarga.
“Eh Bu Santi sama Pak Khotob. Silahkan masuk Bu Pak, kami sudah menunggu kalian sedari tadi.” Ujar pemilik rumah.
“Iya, Halo Pak Fendi, Bu Amanda. Maaf kami terlambat datang.” Ucap Pak Khotob.
“Tidak, sama sekali tidak terlambat. Silahkan masuk. Ini anak kalian ???” Tanya Pak Fendi.
“Iyah, perkenalkan ini Vina Maharani, putri tunggal kami, Vina ini Om Fendi dan ini tante Amanda. Kamu salam gih.” Suruh Bu Santi mamahnya Vina.
Vina om menyalami Pak Fendi dan Bu Amanda!
“Cantik yah, mirip mamahnya.” Puji Bu Amanda.
“Bisa aja kamu Bu. Anak kalian mana ???” Tanya Bu Santi.
“Oh, dia masih di dalam, silahkan masuk dulu Pak Bu, Silahkan.” Suruh Pak Fendi halus.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam menuju ke ruang tengah dimana putra tunggalnya berada. Sedangkan Vina sedari tadi hanya melipat tangannya di dada dan menatap rumah itu dengan pandangan tidak suka. Setelah bertemu satu sama lain.
“Ilham / Vina.” Ucap kedua anak remaja itu bebarengan.
“Kalian udah saling kenal ???” Tanya Pak Khotob bingung.
“Jadi yang papah maksud itu dia ???” Tanya Vina tanpa menjawab pertanyaan papahnya.
“Iyah sayang, ini yang papah sama mamah maksud. Kamu sepertinya sudah kenal, jadi kami tidak perlu mengenalkan kalian satu sama lain.” Ujar Mamah Shilla, Bu Santi.
“Apa ??? Nggak, Vina gak mau kalau harus tinggal satu rumah bareng dia.” Tolak Vina gak terima.
“Maksudnya apa sih pah mah ???” Tanya Ilham yang memang tidak mengerti dengan apa yang di omongin oleh tamu special menurut orang tuanya itu.
“Nggak usah sok nggak ngerti deh, pake acara gak ngerti segala, pasti loe sekarang lagi girang kan gara-gara mau satu rumah sama gue ???” Ucap Vina nyolot.
__ADS_1
“Apa ??? Gue satu rumah sama loe ??? Emangnya ada apa sih pah mah, kok tinggal satu rumah, maksudnya apa ??? Jadi yang papah sama mamah maksud tamu special itu mereka ???” Tanya Ilham heran.
“Gini Ilham, biar papah jelasin tapi setelah kita selesai makan malam yah, sekarang kita dinner dulu bareng-bareng. Kasihan Om Khotob sama tante Santi nya yang udah dateng ke sini.” Ucap Pak Fendi.
“Iyah Ilham, kita makan malam dulu yah. Yuk Bu, Pak.” Ujar Mamah Ilham, Ibu Amanda seraya beranjak menuju ke meja makan diikuti oleh orang tua Vina dan suaminya.
“Dasar cowo' gila, pura-pura nggak tahu, pada hal loe seneng kan bisa tinggal satu rumah sama gue. Loe seneng gue enek.” Geram Vina seraya beranjak menuju ke meja makan.
“Maksudnya apa sih ???” Gumam Ilham seraya mengikuti langkah Vina.
Makan malam telah selesai. Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga.
“Ilham, papah mau menjelaskan sama kamu.” ucap pak Fendi.
“Iya pah jelasin aja.” balas Ilham.
“Papah sama Mamah mau pergi ke luar kota besok malam. Om sama tante juga ikut Ilham, acara ini sangat dadakan sekali, ada urusan yang harus kami selesaikan disana selama sebulan ke depan dan karena pembantu di rumah Vina itu pada pulang kampung semua, kami memutuskan untuk kalian berdua tinggal bersama di perumahan asrama.” Terang pak Khotob.
“Tinggal bareng ??? satu rumah ???” Tanya Ilham kaget.
“Iyah Ham, tante sama Om mau menitipkan Vina sama kamu, bagaimana ??? Kamu keberatan Ilham kalau tinggal di perumahan dengan Vina???” ucap papahnya Vina pada Ilham.
“Ah Eh, nggak kok tante, sama sekali nggak keberatan. Ilham seneng bisa bantu tante.” Ujar Ilham gugup.
“Apa ??? Kenapa loe mau sih ???” Protes Vina.
“Vina, kamu yang sopan dong, nggak sopan kaya gitu Vina.” ucap mamahnya.
“Tapi mah, Vina nggak mau tinggal di rumah ma Ilham!" Jelas Vina.
“Vina, kalau kamu tinggal di rumah sendirian papah dan mamah khawatir, lagiankan nanti Ilham tinggal juga bersama bibi dan mamang, kalau ada apa-apa sama Vina bagaimana, nggak ada yang nolongin Vina.” balas Pak Khotob papahnya Vina.
“Huh, Terserah papah deh.” Ucap Vina pasrah.
“Vina, kalau Vina tidak mau Ilham, bibi dan mamang tinggal bersama Vina juga tidak apa-apa, om tidak akan memaksa, tapi alangkah lebih baik Vina tinggal di rumahnya bersama Ilham jadi bisa jagain Vina juga, lagian kalau kalian bersama om, tante, papah dan mamah Vina tenang meninggalkan kalian berdua!.” Terang Pak Fendi.
“Iyah Om, Vina mau kok tinggal bareng Ilham!.” jawab Vina akhirnya.
“Ya udah, Pak, Bu, kami permisi dulu, besok pagi Ilham, bibi dan mamang ikut saja ke perumahan Asrama ya jadi dari sana kita bisa langsung berangkat sekalian.” Pamit Pak Khotob.
“Baiklah, terimakasih yah sudah mau datang kesini untuk makan bersama kami.” jawab pak Fendi tersenyum.
Vina langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang kesayangan dia. Kemudian menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru.
“Huh, kenapa sih papah sama mamah selalu maksa gue buat nurutin semua kemauan mereka, gue kan udah bilang tadi, kalau gue itu nggak mau tinggal bareng sama cowo' nyebelin itu, rese banget deh. Tuh cowo' juga, bego banget, kenapa tadi nggak nolak coba. Coba aja papah nggak ngancem gue dengan motong uang jajan gue, pasti gue nggak akan pernah mau tinggal bareng cowo' rese itu, gue nggak pengin tuh cowo' tinggal di rumah ini.” Cerocos Vina sebal.
Karena terlalu lelah mengikuti acara orang tuanya tadi, akhirnya ia pun tertidur dengan pulas masih dengan menggunakan gaun yang sebelumnya di pake buat datang ke rumah Ilham.
Keesokan harinya, Vina terbangun dari tidurnya karena ada seseorang yang memanggil namanya dengan mengetuk pintu kamarnya. Mau gak mau Vina bangkit dan membuka pintu.
“Mamah, ngapain sih, Vina masih ngantuk nie.” Keluh Vina seraya mengucek matanya.
“Kamu itu gimana sih Vin, hari ini Ilham bakal datang ke rumah ini bersama bibi dan mamang yang akan nemenin Vina. Dan papah mamah sekalian langsung berangkat dengan orang tuanya Ilham ke luar kota, jadi mandi dan siap-siap kita menunggu mereka!" Jelas mamah.
“Iyah mah, Vina beres-beres sekarang.” Ucap Vina malas.
***
“Ilham, Vina. Jaga diri kalian baik-baik yah.” Pesan Mamahnya Vina.
“Iyah mah, mamah juga hati-hati yah di sana, kalau udah sampai hubungin Vina.” Sahut Vina.
“Iyah sayang, ingat! jangan bandel yah. Dengerin kata-kata Ilham, jangan seenaknya sendiri.” balas mamahnya Vina lagi.
“Iyah mamah. papah juga hati-hati yah pah.” balas Vina.
“Iyah Vina, baik-baik yah kamu disini. Ilham, om sama tante titip Vina yah, jagain Vina. Jangan biarin dia melakukan hal yang diluar kewajaran. Om sama tante udah percaya sama Ilham.” Ucap papa Vina.
__ADS_1
“Iya om, Ilham akan berusaha buat jagain Vina.” jawab Ilham.