ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 73 : LUKMAN DILAN


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama ulangan semesteran bagi para siswa Sekolah Perawat Kesehatan. Ya, sejak pagi tadi mereka telah sibuk membolak-balikkan halaman buku paket untuk mengulang materi yang sudah mereka pelajari. Mereka benar-benar ingin mendapatkan nilai yang bagus di ulangan kali ini, terlebih anak-anak yang dari awal masuk sekolah belum mendapatkan nilai yang cukup tinggi untuk mendapatkan rapor dan ranking yang bagus di akhir semester.


"Hei, elo mengerti materi ini? Bisa ajari gue?"


"Elo jago dalam fisika, bukan? Tolong bantu kami!"


"Bagaimana kalau elo membantu gue dalam kimia, nanti gue akan membantu elo dalam geografi?"


"Ayo kita bahas soal ini, teman-teman!"


Begitulah kira-kira suara yang terdengar di koridor Sekolah Perawat Kesehatan ini di setiap lantai sekarang. Anak-anak Sekolah Perawat Kesehatan tampak sibuk bekerja kelompok untuk membahas soal bersama, sedangkan anak-anak Sekolah Perawat Kesehatan ada yang sibuk mencari bantuan untuk mengerti materi tertentu, ada juga yang belajar sendiri dengan tenang.


Ilham sendiri tidak termasuk dalam tiga kategori tersebut. Ia lebih memilih untuk belajar di kelas dengan tenang bersama Made. Sejak mereka datang ke sekolah tadi, Ilham langsung membuka buku paketnya dan ditaruh di antara mejanya dengan meja Made untuk membahas soal uji kompetensi. Mereka mencari jawabannya bersama-sama dan langsung mempelajarinya. Dan jika ada salah satu dari mereka ada yang tak mengerti, maka yang lainnya akan menjelaskan.


"Soal terakhir, Ham. Apa fungsi usus buntu dalam membantu proses pencernaan makanan?" kata Made membacakan soal nomor sepuluh. "Kalau begitu, elo cari cara kerja usus dalam tubuh manusia. Gue akan mencari proses pencernaan makanan." Ucap made.


Ilham mengangguk. Kemudian, keduanya langsung sibuk kembali. 


Kira-kira begitulah kegiatan mereka sampai dua minggu ke depan. Di kelas, di pinggir lapangan basket, bahkan di asrama putra, mereka terus membaca buku pelajaran, mengulang-ulang semua materi yang telah mereka pelajari bersama-sama. Yang sudah senior juga tak jera-jera mengajari senior mereka. Tak heran begitu ulangan selesai, rapor Ilham dan teman-temannya sangat berseri-seri. Nilai ulangan umum kali ini tak ada yang di bawah tujuh puluh.


Setelah ulangan semesteran selesai, mereka semua memiliki waktu satu bulan libur panjang. Ilham dan teman-temannya tentu tidak hanya bersantai-santai. Mereka rutin berkumpul di lapangan basket dua minggu sekali untuk latihan. Rencana Pak Ridwan memilih tiga puluh orang sebelum ulangan umum waktu itu akhirnya tertunda sampai semester depan karena Pak Ridwan takut akan mengganggu jam belajar. Ah, Pak Ridwan bisa saja membuat anak-anaknya semakin penasaran dengan turnamen besar itu. Apalagi Ilham dan teman-temannya. Ikut turnamen Se-Lampung? Benar-benar awal langkah impian mereka!


"Oke, sampai jumpa!" seru Toni dan teman-teman ketika Ilham dan Made berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Sore itu, mereka baru saja selesai melakukan 2 on 2. Keringat telah membasahi tubuh hingga pakaian mereka. Olahraga sore itu benar-benar menghabiskan banyak tenaga.


"Jangan lupa, dua minggu lagi!" kata Jhon sambil melambaikan tangannya.


***


"Gue datang!!"


Jhon, Made, Nugroho, Sam, Wisnu dan Ilham berteriak senang dari dalam kolam berenang ketika Toni tiba-tiba berlari dari pinggir dan menceburkan diri. Ya, selain latihan, tentu saja mereka juga bersenang-senang bersama. Bagaimanapun juga, mereka perlu hiburan di sela-sela kerja keras mereka mengejar impian, bukan? Makanya, hari ini mereka memutuskan untuk pergi ke Kolam Renang Garden Lampung untuk menjernihkan otak.


"Lompatan bagus, Ton!" seru Made begitu kepala Toni muncul dari air.


"Ya! Terlalu bagus hingga membuatku basah kuyup!' tambah Ilham.


Toni tertawa melihat rambut Ilham yang sudah menutup setengah wajahnya karena terkena banyak cipratan air yang ia ciptakan. "Ah, tidak ada orang yang pergi berenang untuk badan kering, kak Ilham!" Ucap Toni mencibir.


"Sudah, sudah! Bagaimana kalau kita lomba saja?" tanya Jhon. Ia menunjuk ke arah ujung kolam berenang yang nan jauh di sana. "Dari sini ke ujung sana! Yang sampai di sana duluan, akan kutraktir saat pulang nanti!" Ucap Jhon yakin.


"Siapa takut?" Jawab mereka bertujuh serempak.


Mereka bertujuh langsung bersiap-siap di tempatnya masing-masing. Dengan aba-aba yang diucapkan oleh Jhon, mereka langsung berenang secepat mungkin agar dapat sampai terlebih dahulu di ujung kolam yang berkedalaman satu setengah meter tersebut.


"Ah, elo cepat sekali, Ilham!" kata Made ketika ia sudah sampai. Tak disangka, ternyata Ilham sudah duduk di pinggir kolam sambil menunggu teman-teman yang lain. Pada akhirnya, diurutkan dari pemenang pertama adalah Ilham, Made, Jhon, Toni, Sam, Wisnu dan yang terakhir adalah Toni. Itu artinya, Ilham yang akan mendapatkan traktiran dari Jhon. Pupus sudah harapan Made dan yang lainnya untuk mendapatkan makanan gratis. Namun, mereka tidak sedih, justru tertawa karena tiba-tiba Toni mengakui satu hal tentang dirinya.


"Ah, gue kan susah berenang!" kata Toni sambil manyun.


"Kenapa elo nggak bilang dari awal, Ton?" tanya Ilham sambil tertawa.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana elo bisa sampai ke sini tadi?" tanya Made tersenyum-senyum.


"Makanya, jangan terlalu banyak makan! Berat kan badan elo tuh!” kata Jhon.


"Ah, jangan menertawakan gue! Gue menggunakan cara sendiri! Yang penting gue bisa sampai di sini, bukan?" kata Toni. Bibirnya masih betah maju lima senti karena jadi bahan tertawaan.


Ilham hanya tertawa geli melihat teman-temannya.


***


"Seseorang...?"


Ayah menganggukkan kepalanya ketika Ilham menunjukkan wajah bingungnya. Ia menepuk pundak Ilham pelan dan tersenyum. Anak bungsunya itu tampak penasaran dengan ucapannya.


"Siapa, Yah?" tanya Ilham ingin tahu.


"Nanti kau akan tahu. Kau pasti senang mengenalnya." kata Ayahnya sambil tersenyum. "Kau siap-siaplah setelah latihan basket. Setelah Ayah pulang dan makan malam, kita langsung pergi ke rumahnya. Oke?" Lanjut Ayahnya lagi.


Ilham manggut-manggut mengerti.


***


Ilham dan Made segera pergi ke kelas untuk menaruh tas mereka. Setelah selesai, mereka langsung meminjam bola basket sekolah untuk melakukan sparring. Itu adalah istilah yang digunakan para pebasket sebagai latihan bertanding. Tidak hanya White Team, anak-anak ekskul basket yang lain juga pasti sering melakukannya. Latihan ini sangat berguna untuk persiapan mental dan meningkatkan skill.


Latihan dimulai dengan lemparan bebas untuk Ilham dan Made masing-masing lima kali. Setelah itu, mereka juga bergantian mendribel bola mengitari lapangan dan diakhiri dengan lay-up. Setelah itu, barulah mereka memulai pertandingan satu lawan satu. Mereka menargetkan pertandingan berakhir hingga di antara mereka ada yang mencetak kurang lebih dua puluh satu angka. Pertandingan berlangsung seru walaupun hanya berdua. Beberapa kali Made melakukan steal, tapi tetap saja dia susah untuk unggul.


"HUPP...!"


MASUK...! 15-9 untuk keunggulan Ilham.


Made langsung bertepuk tangan sambil mengejar bola. "Kemampuan elo memang tak akan pernah diragukan, Ham. Bahkan elo selalu mulus mendapatkan tembakan three point." Ucap Made.


"Hei! Kami boleh ikut?" tiba-tiba Jhon dan Wisnu muncul dari pinggir lapangan.


"Hei, Jhon, Nu! Apa kabar, guys? Ternyata kalian sudah datang juga!" tanya Made sambil menyalami mereka. Ilham juga ikut melakukan hal yang sama.


"Ya, kami baru saja sampai dan tak sengaja melihat kalian sedang bertanding. Tentu saja kami tidak mau kalah dengan kalian." kata Wisnu sambil tertawa. "Lagipula, lumayan untuk pemanasan sebelum latihan di ekskul nanti." Lanjutnya.


"Ayolah kalau begitu!" kata Made memberikan bola basket kepada Wisnu.


"Omong-omong, kalian tak mengajak Sam, Toni dan Nugroho atau tim putri?" tanya Ilham sambil mendribel bola pelan-pelan dan melempar bola tersebut ke ring. Tidak masuk! Ia langsung mengejar bola yang mental dari ring tersebut.


"Guru-guru kelas mereka katanya memberikan soal-soal secara rutin mulai sekarang." Ucap Jhon.


"Ya sudah, ayo kita bermain. De, berikan bolanya pada gue. Ayo kita lemparan bebas dan dribel dulu sebelum latihan tanding!" Ucap Kapten Elang Super Team, Wisnu. Yang merupakan tim nomor dua putra Sekolah Perawat Kesehatan ini, setelah White Team. Karena terkadang setiap sekolah mempunyai Tim lapis dua untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi di saat turnamen besar misalnya.


"Hei, tunggu, kami juga mau!" kata Made segera menyusul Jhon dan meminta bola.


"Ah, kalian kan sudah!" Wisnu menjauhkan bola dari Made dan segera berlari sambil mendribel bola tersebut.

__ADS_1


"Ah, Nu! Gue juga mau! Hei, Ilham, bantu gue!" Ucap Made.


Ilham tertawa dan segera berlari menyusul teman-temannya ke tengah lapangan. 


***


KRIIIIIING...!!!


Semua para murid langsung duduk di tempat masing-masing begitu bel masuk berbunyi. Begitupun dengan Ilham dan Made. Perlu sekitar sepuluh menit untuk menunggu semua teman-temannya berkumpul, hingga akhirnya wali kelas mereka, bu Helmi Yeni, masuk ke dalam kelas. Guru mereka yang berkacamata tersebut menaruh buku-bukunya di atas meja guru dan memulai pelajaran.


"Selamat pagi, anak-anak." kata Ibu Helmi Yeni sambil mengatup kedua tangannya. "Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, Ibu ingin berkata kepada kalian bahwa kalian harus bekerja lebih keras karena sekarang sudah semester empat. Nilai-nilai yang akan kalian perjuangkan selama beberapa bulan ke depan, akan menentukan kalian naik kelas atau tidak. Jadi, belajarlah lebih rajin. Jangan terlalu banyak bermain. Mengerti?" Kicau bu Helmi Yeni tegas.


"Mengerti, Bu!" seru semua murid kompak.


"Nah, sekarang Ibu akan memperkenalkan seseorang yang akan bergabung di kelas kalian. Dia adalah murid pindahan dari Sekolah Perawat Kesehatan Bandar Lampung. Semoga kalian senang dengan kehadirannya ya." kata Ibu Helmi Yeni. Ia menoleh ke arah pintu kelas. "Kau boleh masuk sekarang, Nak!"


Setelah berkata begitu, perlahan-lahan seorang laki-laki berjalan masuk ke dalam kelas dalam diam. Rambut hitam kecokelatannya cepak seperti Jhon, poninya disisir ke atas. Kedua mata sayunya sipit, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Tas hitam dari kulit buaya tersampir di sebelah pundaknya. Namun, yang mencolok di dalam dirinya adalah bajunya yang berantakan dan wajahnya yang datar.


"Nah, anak-anak, ini adalah Lukman Dilan. Dia akan bergabung bersama kita mulai hari ini. Mohon kalian bantu dia agar dia betah sekolah di sini ya!" kata Ibu Helmi Yeni berdiri di samping anak baru tersebut. Ia menoleh ke arahnya. "Nak, ayo perkenalkan dirimu kepada teman-teman barumu."


"Baik, Bu." katanya dingin. Ia menoleh ke arah teman-temannya satu per satu. Hingga akhirnya ia berhenti di satu orang. Dengan cara bicaranya yang kasar, ia bersuara. "Namaku Lukman Dilan. Kalian bisa memanggilku Dilan. Pindahan dari Sekolah Perawat Kesehatan Bandar Lampung. Dan... just for information, aku anak jenius."


Semuanya terdiam mendengar ucapannya. Bahkan Ibu Helmi Yeni juga tidak menyangka Dilan akan berkata seperti itu. Untuk beberapa saat, hening menguasai kelas. Namun, Ibu Helmi Yeni segera mencairkan suasana hening tersebut dengan bersuara, "Baiklah, Dilan, kau boleh duduk di tempatmu. Ada tempat kosong di ujung sana."


"Baik, Bu...!" Ucap Dilan.


Dilan segera berjalan menuju tempat duduknya di belakang. Semua yang ada di sana menatapnya diam. Terutama Nugroho. Tak hanya saat perkenalan, sesekali ia melirik ke arah anak baru tersebut seiring berjalannya waktu. Ia memiliki firasat aneh terhadapnya. Bukan hanya karena perkenalan itu, tapi juga kedua matanya yang tampak tidak fokus pada papan tulis di depan. 


***


Istirahat sudah tiba. Seperti biasanya, Ilham bersama teman-temannya hendak pergi ke kantin. Namun, waktu itu Ilham masih belum selesai menulis catatan yang ada di depan papan tulis. Tak ingin membuat Made menunggu lama, ia meminta teman sebangkunya tersebut untuk pergi duluan ke kantin. Butuh sepuluh sampai lima belas menit untuk Ilham menyelesaikan catatannya. Setelah itu, barulah ia membereskan meja dan segera menyusul Made dan yang lainnya ke kantin. Ia bahkan tak sadar bahwa seseorang sejak tadi tengah menatapnya.


Ilham cepat-cepat menuruni tangga dari lantai dua hingga lantai dasar. Selain karena sudah lapar, ia juga tak ingin teman-temannya merasa tidak nyaman dengan keterlambatannya. Namun, sebelum sempat ia masuk ke dalam area kantin, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.


Ilham berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Tampak seorang laki-laki tengah menatapnya dengan datar. Anak baru itu. Dan bukannya berbicara, dia hanya diam saja menatap Ilham. Entah apa maksudnya.


Ilham tersenyum kepadanya. "Ada apa?"


Ia tetap bergeming di tempatnya. Namun, beberapa saat kemudian, ia bersuara dengan nada suara yang sama datarnya dengan yang tadi. "Temui gue di lantai dua. Besok. Pulang sekolah."


"Eh?" kata Ilham heran.


Namun, Dilan tampak tidak perduli. Ia berjalan pergi meninggalkan Ilham sendirian di depan pintu kantin. Ilham tidak mengerti apa yang dikatakannya barusan. Ucapannya begitu tidak jelas. 


"Ilham?" tiba-tiba Jhon dan Wisnu sudah ada di sampingnya.


"Elo kenapa?" tanya Jhon heran. "Elo nggak lapar? Kenapa tidak masuk ke dalam? Elo menghalangi jalan masuk ke kantin kalau elo berdiri di sini." Ucap Jhon.


"Cepat, istirahat tinggal sepuluh menit lagi. Yang lain juga sudah menunggu dari tadi. Mereka ingin menemani elo buat makan dulu sebelum kembali ke kelas. Dari pada elo makan sendirian."

__ADS_1


Ilham tersenyum melihat mereka. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian cepat-cepat mengajak mereka kembali masuk ke dalam kantin untuk makan siang. Sampai istirahat selesai, Ilham tidak menyinggung-nyinggung soal apa yang dikatakan Dilan kepadanya tadi. Untungnya mereka berdua juga tidak mengungkit-ungkit soal lamunannya di depan pintu kantin tadi. Biarlah cukup dia dan Tuhan saja yang tahu. Dari pada ini semua menjadi masalah lagi. 


__ADS_2