
Nugroho benar-benar tidak menyangka ternyata segalanya berakar dari Fauzi Rizal. Musuh teman-temannya. Dan juga orang yang telah pernah membuat Ilham cedera waktu pertandingan lalu. Ia tak menyangka bahwa anak baru di kelasnya itu terjadi berhubungan darah dengan Fauzi Rizal. Pantas saja sifatnya mirip. Andai saja waktu itu dia bisa berpikir jernih tentang hal ini, persahabatannya dengan Ilham pasti tidak akan retak!
Nugroho segera bersembunyi begitu mendengar suara langkah kaki dari dalam. Ia mengunci mulutnya dan memastikan ia tak membuat suara sampai mereka berdua pergi. Setelah ia memastikan bahwa ia sudah aman untuk keluar barulah ia beranjak dari tempat persembunyiannya, cepat-cepat mengambil jam tangannya yang tertinggal dan segera meninggalkan Gelanggang Olahraga tersebut.
Sambil berjalan cepat, Nugroho langsung sampai di kamar asramanya lalu tanpa banyak komentar langsung mengajak sahabat-sahabatnya. "Ton! Elo dan Made cepat kita ke asrama Ilham! Sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban sahabat-sahabatnya itu, ia langsung berlari menuju rumah sahabatnya secepat mungkin di ikuti Toni dan Made dengan keadaan bingung dengan segala pertanyaan yang saat ini belum menemukan jawabanannya.
***
Nugroho mengatur nafasnya begitu ia sampai di depan asrama di mana Ilham berada. Untungnya Toni dan Made juga telah sampai tepat di belakang Nugroho. Nugroho langsung menghampiri Toni dan Made sembari menunggu pintu kamar asrama Ilham di buka dengan nafas yang masih ngos-ngosan, ia berkata kepada mereka berdua.
"Maaf kalau membuat kalian bertanya-tanya dengan perbuatan serba tiba-tiba tadi." Ucap Nugroho.
Toni dan Made sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nugroho.
"Elo itu kenapa? Menyuruh kami ikut elo menemui Ilham? Ada apa? Terjadi sesuatu saat kau kembali ke Gelanggang Olahraga?" tanya Toni penasaran.
"Maaf, Ton, De. Ada hal penting yang harus kita bicarakan bersama-sama. Dengan Jhon dan Ilham juga. Karena sepertinya gue sudah tahu bagaimana masalah persahabatan kita bisa menjadi seperti ini," kata Nugroho. "Tapi, sebelum gue benar-benar yakin, gue butuh bantuan dua sahabat kita itu. Oke?"
"Ah, terserah elo," kata Made sambil menjitak kepala Nugroho. Kemudian, ia langsung mengetuk pintu kamar Ilham. Sepertinya ini tidak akan cepat selesai kalau Nugroho yang menjelaskannya.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu Ilham membuka pintu kamarnya. Beberapa waktu setelah Made mengetuk pintu, batang hidungnya Ilham sudah muncul dari balik pintu kamar. Ia tampak kaget melihat Nugroho, Toni dan Made berada di depan pintu kamar asramanya. Saking kagetnya, mulutnya hampir tak bisa bergerak.
Nugroho tersenyum melihat reaksi Ilham. Ia tak heran jika Ilham menjadi canggung melihat ia dan kedua temannya itu. Sudah lama sekali mereka tak berkomunikasi. "Ham, apa elo sedang sibuk? Kami ingin bicara dengan elo. Kalau... Elo tak keberatan." Ucap Nugroho.
"Oh," kata Ilham seketika. "Boleh."
Ilham membiarkan Nugroho, Toni dan Made masuk ke dalam kamar dan mengikutinya. Bukan hanya Ilham saja yang kaget kedatangan tamu tak terduga, Toni, Nugroho dan Made juga mendapatkan kejutan ketika melihat Jhon yang memang ada di asrama kamar Ilham sedang duduk di tempat tidur Ilham. Begitu melihat mereka bertiga ada di depan kamar Ilham, Jhon langsung menatap mereka dengan wajah datar. Kekesalan masih terkandung dalam raut wajahnya.
"Masuk saja." kata Ilham berusaha mencairkan suasana. Ia menarik lengan Nugroho agar masuk ke dalam. Disusul dengan isyaratnya agar Toni dan Made juga ikut masuk.
Mereka berlima duduk melingkar di atas karpet. Ilham dan Jhon tampak diam saja menatap ketiga sahabat mereka yang tiba-tiba muncul. Yang ditatap juga tampak melakukan hal yang sama sehingga seolah-olah sedang terjadi kontes tatap-mentatap. Hanya Nugroho saja yang sibuk memainkan kedua tangannya, masih bersiap-siap untuk berbicara. Sesekali salah satu dari mereka juga menundukkan kepala karena tak tahu harus berbicara apa. Suasana di kamar Ilham saat ini benar-benar sunyi, suram tanpa suara.
Nugroho menghela nafasnya setelah lelah mengunci mulutnya. "Sebelumnya, gue minta maaf kalau kedatangan gue, Toni dan Made mengganggu kalian, Guys. Ini benar-benar di luar rencana. Ada yang harus gue sampaikan kepada kalian berdua, Ham, Jhon." Jelas Nugroho.
Ilham mengangkat alisnya sebelah, meminta penjelasan.
"Ham, elo belum tahu kan, semenjak Dilan masuk ke kelas kita dan ekskul basket, dia selalu memojokkan elo di depan kami. Bahkan tak jarang dia berkata kepada bahwa elo hanya ambisius untuk diri elo sendiri. Bukan untuk kita," kata Nugroho. "Dan sekarang gue sudah tahu sebabnya!"
Jhon yang tadinya tidak tertarik langsung membesarkan matanya mendengar ucapan Nugroho. Ia memajukan posisi duduknya. "Apa? Elo serius?"
Nugroho mengangguk. "Mungkin kalian belum ada yang tahu soal ini. Tapi untung saja tadi gue kembali ke Gelanggang Olahraga karena jam tangan gue pemberian mamah tinggal di sana. Tadi gue melihat Dilan sedang berbicara dengan seseorang. Kita ini tertipu, guys. Kita hanya dihasut oleh anak baru itu, supaya kita menjauhi Ilham!" Lanjut Nugroho menjelaskan.
"Apa?" kata Made mengerutkan dahinya. "Untuk apa dia melakukan itu?"
"Dia ingin membalas dendam kepada kita." Jawab Nugroho.
"Dendam?" kini Toni yang berbicara. "Sejak kapan dia dendam kepada kita? Kita salah apa kepada anak baru itu? Kenal saja baru berapa bulan!" Lanjut Toni.
Nugroho menggeleng. "Bukan Dilan, Ton. Bukan Dilan yang dendam."
"Lalu?" Lanjut Toni.
"Sepupu Dilan yang dendam kepada kita," kata Nugroho lagi. "Kalian pasti tak akan menyangka. Bahkan gue syok mengetahui hal ini. Dilan itu adalah sepupu Fauzi, guys. Fauzi Rizal."
__ADS_1
"APA?!" teriak Ilham, Jhon, Toni dan Made bersamaan. Nugroho spontan menutup telinganya karena volume suara mereka yang sedemikian nyaring hingga membuat telinganya hampir meledak.
"Berisik!" keluh Nugroho sambil menggembungkan pipinya sebal.
"Lagi pula, elo memberi kejutan tak mengira-ngira! Elo tidak bercanda, kan, Nug? Ini tidak lucu! Fauzi Rizal egois itu adalah sepupu Dilan?!" kata Nugroho yang duduk di sebelah laki-laki berambut cepak itu.
"Untuk apa gue bohong kepada elo, Ton? Makanya tadi gue buru-buru menyuruh kalian untuk ikut menuju kemari. Untuk membicarakan soal ini," kata Nugroho.
Toni manggut-manggut mengerti.
"Tapi, sepertinya Fauzi Rizal dan Dilan tak hanya bermasalah dengan kita. Tapi, dengan keluarga mereka sendiri juga. Tadi aku dengar kalau Fauzi Rizal dipandang buruk oleh Ayahnya. Dia pasti dimarahi karena waktu itu bermain kasar padamu, Ham." kata Nugroho lagi.
"Ah, siapa peduli soal itu? Fauzi Rizal memang pantas diberi pelajaran agar tidak bermain kasar. Gue justru merasa untung jika Ayahnya benar-benar memarahinya. Benar tidak?" kata Made. Semuanya mengangguk mantap. Mereka semua tentu setuju dengan pernyataan itu.
"Tapi gue masih penasaran, Ham. Sebenarnya Dilan itu pernah berkata apa-apa atau tidak kepada elo? Elo tak tahu soal ini?" tanya Nugroho menoleh ke arah Ilham.
Ilham menggigit bibirnya ke dalam sejenak. "Kalian ingat saat gue menolak berkumpul di rumah Jhon, kan? Saat itu, Dilan mengajak gue bertemu sepulang sekolah di lantai dua. Dan dia bilang pada gue kalau dia tak suka gue masuk turnamen karena gue telah membuat keluarganya hancur." Ucap Ilham.
"Hancur? Benar-benar omong kosong. Justru dia dan Fauzi Rizal sendiri yang membuat keluarganya seperti itu," kata Made menggelengkan kepalanya. "Lalu, apa lagi yang dia katakan?"
"Dia akan memastikan tak ada yang mau bekerja sama dengan gue dalam tim.” ucap Ilham.
Jhon langsung menatap Ilham dengan wajah protes. "Hei, Ilham Alfarizi, elo ini memang terlalu tertutup. Kenapa elo tak pernah bercerita kepada kami? Ah, andai saja waktu itu elo terbuka, kita tidak akan bertengkar." Ucap Jhon.
Ilham tertawa kecil mendengarnya.
"Tertawa lagi!" kata Jhon langsung menjitak pelipis Ilhan. Kemudian, menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu.
"Sudah, sudah. Semuanya sudah terjadi." kata Toni sambil tertawa.
"Ya, dan kapten kita ini juga bukan sengaja menghindari kita. Tapi, sangat sibuk menjaga Ayahnya. Kalian harus tahu kalau beberapa waktu yang lalu beliau sakit, makanya Ilham sampai bolos latihan," kata Jhon sambil merangkul Ilham. "Maaf juga waktu itu gue membentak kalian. Gue hanya terlalu emosi."
Made menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Jhon. Elo bukan emosi. Tapi, elo bijaksana. Elo hanya tak ingin kita bertengkar lebih dalam lagi. Sama seperti elo yang kami kenal." Jelas Made.
Jhon tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya. Made langsung membalasnya kuat. "Terima kasih, De."
"Jangan lupa, lain kali terbukalah kepada kami. Elo tahu begitu banyak tentang kesibukan Ilham tapi tidak bercerita pada kita. Elo membuat masalah menjadi rumit, tahu! Tenaga gue habis karena bertengkar dengan elo!" kata Made.
"Itu derita elo, Made." kata Jhon mencibir.
"Jahat elo, Jhon!" kata Made tertawa sambil mendorong bahu Jhon pelan. Tapi, Jhon hanya nyengir melihat tingkah sahabatnya itu.
"Elo juga, Ham. Gue tahu elo ingin menebus segala kesalahan elo terhadap Ayah elo, tapi elo juga harus fokus dengan kami. Elo yang bilang kalau kita akan berjuang bersama sampai kapan pun. Kapten kok bolos tanpa keterangan!" kata Nugroho sambil menggelengkan kepalanya.
Sama seperti Jhon, Ilham juga hanya nyengir.
Final Four tim putra berlangsung seru dengan pertandingan antara Sekolah Perawat Kesehatan dengan Sekolah Menengah Atas Candi Mas. White Team dari Sekolah Perawat Kesehatan yang kini telah bersatu kembali seperti sebelumnya jelas mengejutkan hampir semua orang. Terutama Dilan. Anak baru itu sangat kesal melihat kelima laki-laki itu kembali akrab satu sama lain. Lebih-lebih ketika ia melihat Ilham tersenyum kepadanya. Benar-benar membuatnya muak.
Tapi, White Team jelas tidak memperdulikan apa pun kecuali impian mereka yang sudah ada di depan mata. Seperti biasanya mereka berembuk dan melakukan yel-yel sebelum pertandingan dan mengeluarkan seluruh tenaga yang mereka punya untuk memenangkan pertandingan. Selain untuk impian, mereka juga ingin menang untuk tim putri yang ternyata terkena sial di Final Four karena bertemu dengan lawan yang kuat.
Strategi White Team kali ini telah berubah kembali menjadi strategi kebersamaan. Strategi Made untuk menyingkirkan Ilham resmi dimusnahkan dan kini giliran Dilan yang harus duduk di bangku cadangan. Ilham dan Jhon kembali menjadi kapten dan ahli strategi dalam White Team. Selain Pak Ridwan, para penonton terutama pendukung White Team juga heboh karena kembalinya aura semangat positif dari White Team. Dua kuarter pertama pertandingan menunjukkan banyak keunggulan dari tim Ilham dan teman-temannya.
"Ham!" seru Nugroho melempar bolanya menuju Ilham.
"HUP!" dengan sigap Ilham menangkap bola tersebut dan langsung mendribel sementara ia mencari teman-temannya yang bisa membantunya. Ia berkelit beberapa kali untuk melarikan diri dari hadangan lawan.
__ADS_1
"Ilham!" tiba-tiba dari arah kanan Jhon mengangkat kedua tangannya meminta bola. Tanpa banyak berpikir lagi, Ilham langsung melempar bola tersebut dengan chest pass. Ia memantulkan bola basketnya tepat dari dadanya dengan jarak yang cukup jauh untuk mengoper kepada Jhon.
Jhon yang notabene sudah tak jauh lagi dari ring basket langsung mendribel dengan cepat untuk bersiap-siap menembak. Sementara anggota White Team yang lain otomatis langsung defense untuk melindungi Jhon dari hadangan lawan, sekaligus mengikuti gerakan Jhon.
"Made!"
Made menangkap bola basket dari Jhon dan langsung mendribelnya sejenak sebelum akhirnya ia menembak dari jarak dekat. Masuk! Dua angka untuk White Team! Suara heboh dari para pendukung langsung meningkat. Papan skor berubah menjadi 35-15 untuk keunggulan White Team.
Lemparan ke dalam untuk Sekolah Menengah Atas Candi Mas! Salah satu pemain mereka melempar dari pinggir lapangan dan pertandingan mulai panas kembali. Ilham dan teman-temannya kembali berlari di tengah lapangan, berusaha merebut bola dari tangan lawan. Jhon dan Ilham berlari di sisi lapangan, sementara Made di tengah. Nugroho dan Toni menjaga ring basket.
"Semangat, semangat!" teriak Pak Ridwan dari pinggir lapangan.
Selama pertandingan melawan Sekolah Menengah Atas Candi Mas, Ilham, Jhon, Nugroho, Toni Adam dan Made non-stop berlari-lari di lapangan demi membanggakan semua orang yang telah mendukung mereka. Suara-suara pendukung yang ada di sekitar mereka juga ikut membantu membakar semangat mereka.
***
Angka terus bergerak cepat seiring berjalannya waktu. Suara-suara penonton juga semakin lama menjadikan Gelanggang Olahraga tersebut semakin panas. Keringat yang bercucuran di tubuh setiap pemain juga semakin banyak. Bahkan baju mereka juga sudah basah. Kini mereka sudah sampai di kuarter terakhir dengan skor yang cukup besar. Keunggulan sekarang berpindah ke Sekolah Menengah Atas Candi Mas. Selisih skor mereka cukup tipis. Dengan sisa menit yang bisa dibilang sedikit, White Team harus terus mengejar dan mencegah lawan untuk mencetak skor lagi agar selisih tak semakin besar.
Sebenarnya, kekuatan Sekolah Menengah Atas Candi Mas sudah kelihatan oleh White Team. Mereka cenderung menyerang setiap kali mereka memiliki kesempatan tanpa melihat apa resikonya. Setelah mendapatkan bola, mereka pasti langsung melakukan tembakan. Dan ketika bola ada pada White Team, mereka cenderung defense. Karena itu, mudah mendapatkan bola dari mereka, namun tak mudah juga untuk menyerang karena mereka memiliki pemain-pemain yang mahir dalam merebut bola.
"De!" teriak Nugroho segera mengoper jarak jauh.
Made langsung mendribel bola sejenak dan langsung mendribel ke Ilham yang ada di dekatnya.
"Shoot!!"
Tanpa banyak bicara, Ilham langsung melempar bola tersebut dengan cepat. Masuk! Tiga angka untuk White Team! Papan skor berubah menjadi 55-54 untuk keunggulan White Team kembali.
"Bagus! Pertahankan, White Team!" seru Pak Ridwan nyaring.
"Semangat, guys! Jangan mau kalah! Ingat, kita berjuang sampai akhir! Jangan biarkan keringat kita sia-sia!" seru Jhon ikut menyemangati teman-temannya yang sudah mulai kelelahan. Stamina mereka tampak mulai drop karena lari ke sana kemari untuk mencetak angka.
"White Team! White Team! White Team!" seru para pendukung semangat.
Tersisa tiga menit lagi untuk mempertahankan keunggulan. Dan selama itu pula kedua tim basket terus-terusan berusaha untuk kejar-kejaran angka, memperebutkan posisi untuk masuk babak final. Dengan nafas yang sudah terengah-engah mereka melanjutkan pertandingan sambil menyemangati diri mereka masing-masing dalam hati. Hingga pada akhirnya...!
PRIIIIIIIIIIIT....!!!!!!!
Peluit berbunyi keras tanda bahwa pertandingan telah berakhir. Penonton bersorak gembira karena salah satu dari mereka telah berhasil maju ke babak selanjutnya.
"Kita masuk final! Kita masuk final!" seru Nugroho langsung menghampiri teman-temannya dan memeluk mereka semua sambil meloncat-loncat girang. Ia benar-benar bangga terhadap dirinya sendiri dan juga kerja keras teman-temannya. Jhon, Toni, Made dan Ilham juga sama senangnya karena telah berhasil sampai di babak puncak. Tak lupa mereka berlima juga bersalaman dan high five dengan seluruh pemain Sekolah Menengah Atas Candi Mas yang juga telah berusaha keras. Mungkin hanya Dilan satu-satunya orang yang tidak senang atas kemenangan itu karena ia tak diturunkan untuk bermain. Sama sekali...!!!
"Selamat, guys," kata salah satu pemain Sekolah Menengah Atas Candi Mas menjabat tangan satu-satu tim basket Sekolah Perawat Kesehatan. "Semangat kalian luar biasa. Semoga kalian menang melawan Sekolah Menengah Atas Dwi Warga!".
"Terima kasih!"
Ilham, Jhon, Toni, Nugroho, Made berdiri melingkar setelah para pemain Sekolah Menengah Atas Candi Mas berpamitan kepada mereka. Mereka saling pandang satu sama lain dengan senyuman lebar. Setelah mereka mampu menetralisir perasaan bahagia mereka masing-masing, Ilham angkat bicara.
"Teman-teman, kita sudah masuk final. Dan lawan kita tinggal Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Gue ingin kalian berjanji, di pertandingan besok, kalian harus lebih semangat dari pada hari ini. Lupakan segala pikiran bahwa kalian harus menang atau harus masuk kompetisi tingkat nasional. Apapun yang terjadi besok, itu adalah hasil jerih payah kita," kata Ilham.
"Janji?"
Semuanya mengangguk, setuju dengan ucapan Ilham.
Kelima anggota White Team menumpukkan tangan mereka di tengah. Dan akhirnya dengan penuh semangat mereka mengangkat tangan mereka semua sambil berteriak senang, "White Team, Friends Till The End!"
__ADS_1