
Berhari-hari Ilham beserta Bunda bergantian menjaga Ayah di rumah sakit dan sesekali Rosa juga ikut menemani menunggu Ayahnya Ilham. Bahkan Ilham sampai bolos latihan demi menjaga Ayah. Tapi, apa yang ditangkap oleh teman-teman Ilham justru berbeda. Melihat Ilham yang kini semakin aneh, mereka menjadi sangat yakin bahwa Ilham memang bukan Ilham yang polos seperti dulu. Ilham bukan lagi Ilham yang mereka bangga-banggakan. Kapten? Bolos latihan? Benar-benar bukan contoh yang baik.
Dengan sibuknya Ilham dengan keluarganya, Jhon, Nugroho, Toni dan Made jelas lebih sering bergaul dengan Dilan dan yang lainnya, sehingga membuat mereka terbiasa bermain tanpa Ilham. Sedikit demi sedikit pola pikir mereka tentang Ilham menjadi berubah. Kalau dulu mereka lebih senang bermain dengannya, sekarang mungkin bermain tanpa Ilham pun tidak apa-apa. Toh Ilham juga tidak merasa kehilangan mereka. Pada hal, kalau dia peka kepada perasaan teman-temannya, Ilham seharusnya tahu kalau mereka berempat justru rindu dengan Ilham yang dulu. Ilham yang selalu ada untuk mereka.
"Hari ini dia tidak latihan lagi?" tanya Jhon sambil mendribel di tempat.
Nugroho menggeleng lemah. Mereka berempat menghela nafas putus asa.
"Pada hal, turnamen sudah semakin dekat." kata Made.
"Apa dia sudah tak menganggap turnamen itu penting?" tanya Toni.
Tak ada yang menyahut pertanyaan Toni. Mereka masuk ke dalam suasana hening, hingga tiba-tiba Dilan memanggil mereka dari kejauhan. "Hei! Kalian sedang apa di sana? Ayo latihan!" Teriak Dilan.
Tak ada yang berniat menyahut ajakan Dilan itu. Nugroho, Toni dan Made tampak lesu, tak bersemangat untuk latihan hari ini. Namun, Jhon juga tak tahu harus bagaimana agar dia semangat.
"Ayolah guys, kita latihan saja." kata Jhon lirih. Ia berjalan mendekati Dilan sambil mendribel. Teman-temannya mengikuti dari belakang dalam diam. Akan menambah masalah jika mereka juga bolos latihan. Pak Ridwan pasti marah kalau melihat mereka juga tak hadir.
***
Rosa mencondongkan kepalanya ke dalam kelas kemudian melihat sekelilingnya. Ilham tampak sudah tertidur di meja kelasnya. Rosa tersenyum adiknya yang duduk sambil menyandarkan kepalanya di meja saat jam kosong di detik-detik terakhir jam sekolah.
Rosa berjalan masuk ke dalam kelas dan mendekati kekasihnya. Ia menghela nafas, kemudian menggelengkan kepalanya melihat betapa pulasnya Ilham tidur di sana. Pasti ia kelelahan karena sudah sibuk menjaga Ayah sampai beliau dipulangkan tadi sore. Padahal, ia seharusnya latihan basket tadi di sekolah. Tapi, ia lebih memilih bolos untuk berbakti kepada orang tuanya.
Senyum Rosa memudar ketika melihat sebuah kertas yang ada di dekat kepala Ilham. Karena penasaran, ia ambil kertas itu dan membacanya perlahan-lahan. Sepertinya itu adalah curahan hatinya. Tertulis di sana dengan rapi apa yang sedang dipikirkannya, apa yang sedang dirasakannya. Ah, ternyata ini yang membuatnya kelelahan.
"Ng..." tiba-tiba Ilham bergerak. "Rosa?"
Rosa kaget sekilas. Ia langsung menaruh kertas itu kembali ke atas meja dan memegang kepala belakang Ilham. "Maaf Ham, gue mengganggu tidur elo ya?"
Ilham menggeleng. Ia mengucek-ngucek matanya sejenak dan menatap kekasihnya. "Lalu, kenapa elo ada di sini?"
__ADS_1
"Tadi gue tak sengaja melihat elo belum pulang dan malahan ketiduran di meja." kata Rosa membuat Ilham diam. Rosa menghela nafasnya. "Ham, kalau elo sedang sedih, butuh teman, seharusnya elo bercerita pada gue. Kenapa elo menyimpan masalahmu sendiri?"
Ilham diam saja.
Rosa menepuk-nepuk pundak Ilham. "Gue bukan ingin memaksa elo bercerita, Ham. Tapi, elo kan tahu, gue adalah kekasih elo. Setidaknya gue akan tahu apa pun yang elo rasakan. Termasuk kesedihan elo."
Ilham hanya tersenyum mendengarnya.
Rosa menghela nafasnya. "Oke. Karena gue tak ingin mengganggu elo terlalu lama, lebih baik elo pulang dan melanjutkan tidur saja di rumah. Elo harus beristirahat lebih banyak agar selanjutnya bisa ikut latihan basket lagi. Kurasa elo harus berbicara dengan Jhon dan teman-teman elo yang lain."
Ilham menundukkan kepalanya mendengar teman-temannya disebut. Ia mengangguk pelan. "Mungkin sekarang mereka sudah salah paham dengan gue Cha!" Ucap Ilham.
"Elo pasti tak bercerita kepada mereka tentang kesibukan elo selama ini, kan?" Balas Rosa.
Ilham mengangkat kepalanya. Rosa sudah tahu tanpa Ilham menjawabnya.
Rosa tersenyum. Ia sempatkan dirinya mengacak-acak rambut kekasihnya yang sebenarnya sudah tidak beraturan sambil tertawa kecil. "Sudahlah, tenang saja, gue akan membantu elo berbicara dengan Jhon. Oke?"
***
Jhon menyeruput kopinya sejenak setelah pesanannya itu datang. Di kafe dekat asrama Sekolah Perawat Kesehatan yang sepi itu, ia duduk berdua dengan Rosa untuk membicarakan sesuatu sesuai permintaannya tadi pagi. Sebenarnya Jhon ingin cepat pulang agar bisa belajar untuk ujian Gerontik besok, namun Rosa benar-benar memaksanya untuk tidak pulang dulu sampai ia selesai bicara. Entah apa yang mau dibicarakannya.
"Jhon," sahut Rosa akhirnya setelah lama. "Gue ingin elo bercerita kepada gue selengkap-lengkapnya. Gue mengajak elo ke sini karena gue ingin tak ada masalah di antara persahabatan kita." Ucap Rosa.
"Masalah?" tanya Jhon sambil mengerutkan dahinya heran. "Memangnya kita sedang ada masalah? Kita baik-baik saja, bukan? Kita tetap sering berkumpul bersama." Jelas Jhon heran.
Rosa menghela nafasnya. "Jhon. Ini bukan soal kita. Tapi soal elo. Jangan pikir selama ini gue nggak memperhatikan elo dan yang lain tak bermain bersama Ilham. Sekarang ceritakan kepada gue, sebenarnya ada apa dengan kalian?" Tanya Rosa.
"Bukankah gue sudah bilang kalau..." Jhon berhenti berkata karena terpotong oleh kata-kata Rosa kembali.
"Tidak. Gue tidak mau mendengar elo berkata kalau Ilham belakangan ini banyak urusan. Oke, dia memang sibuk, tapi gue tahu ada sesuatu yang terjadi, bukan?" tanya Rosa dengan wajah menyelidik.
__ADS_1
Jhon mendengus mendengar ucapan Rosa. "Cha, untuk informasi saja, kekasih elo sendiri yang membuat kita menjauh darinya. Kalau saja dia tak bertindak cuek pada kita semua, kita juga tidak akan seperti ini. Tanya saja pada kekasih elo itu, apa yang sudah ia lakukan pada kita." Jelas Jhon.
"Memangnya apa yang dia lakukan?" Tanya Rosa.
"Huh," dengus Jhon sambil tersenyum miring. "Elo berani menyalahkan gue tanpa tahu apa yang sudah terjadi? Cha, kekasih elo itu sekarang bermain sendiri di lapangan. Kemudian, dia selalu terburu-buru pulang tanpa pamit pada kita." Jelas Jhon.
"Apa? Hanya karena itu kalian berpikir Ilham sudah berubah cuek?" tanya Rosa tak percaya.
"Kalau elo harus tahu, Rosa Pratiwi. Dia bahkan tidak ikut bergembira ketika kita semua terpilih untuk ikut turnamen. Dia hanya tersenyum dan langsung meninggalkan kami begitu saja." kata Jhon. "Lagi pula, kapten macam apa yang bolos latihan ketika akan turnamen. Kami akan lebih senang jika Dilan menggantikan Ilham. Dia lebih bertanggung jawab." Lanjut Jhon.
"Oh, jadi begitu? Kalau begitu, untuk apa kalian membangga-banggakan Ilham dulu? Dasar munafik. Dulu ketika Ilham baru masuk sekolah, kalian bahkan begitu memujanya. Sekarang kalian justru membuangnya seperti barang bekas!" kata Rosa marah. Ia sampai berdiri dan melotot ke arah sahabatnya itu. Untung saja kafe itu sepi, sehingga suaranya tidak menarik perhatian orang banyak.
"Munafik? Ilham yang munafik! Dia yang sudah mengingkar janji persahabatan kita dan pergi begitu saja! Kalau memang dia masih menganggap kita sahabatnya, setidaknya dia akan berusaha untuk menarik kita kembali!" Jhon ikut berdiri dan marah.
"Oh ya? Kalau Ilham tidak menganggap elo dan yang lain sahabat-sahabatnya, dia tidak akan repot-repot memikirkan bagaimana caranya ia menjelaskan semuanya kepada kalian!" kata Rosa membuat Jhon bungkam. Rosa mengatur nafasnya sejenak sebelum ia melanjutkan ucapannya. Suaranya memelan. "Dia sudah cukup menderita, Jhon."
Jhon menghela nafas, kemudian membuang muka. Bibirnya tertutup rapat. Tak tahu lagi harus menjawab apa.
"Kalau elo harus tahu, belakangan ini Ayah Ilham masuk rumah sakit. Ilham hanya ingin menebus kesalahannya selama ini kepada Ayah. Makanya, ia vakum sementara dari latihan. Jumat besok ia juga akan mulai latihan lagi dengan kalian. Tapi, ia juga bingung melihat kalian yang begitu menjauhinya. Dia sering mengurung dirinya di kamar, Jhob, karena masalah ini." kata Rosa lagi.
"Tapi...," kata Jhon ragu. "Kenapa ia tak pernah bercerita?" Lanjutnya.
"Elo bukannya tak tahu bagaimana tabiat Ilham soal curhat, Jhon. Dia tak ingin membuat kalian khawatir. Kalau saja gue tak memergokinya ketiduran di meja belajar di kelas kemarin, gue juga tidak akan tahu," kata Rosa. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya.
"Lihat ini...!!!" Rosa menunjukkannya ke Jhon.
"Apa ini?" tanya Jhon sambil menerima kertas itu.
"Itu tulisan Ilham. Kurasa dia tak tahan menyimpannya sendiri, makanya kemarin dia sempat tertidur di meja belajar," kata Rosa sambil membiarkan Jhon membacanya sekilas. Ia menepuk pundak Jhon pelan agar ia menatap ke arahnya kembali. "Gue harap elo berbicara padanya, oke?"
Jhon diam. Ia hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Rosa tersenyum. Ia menepuk-nepuk pundak Jhon lagi sebelum akhirnya Rosa pamit untuk pulang ke asrama dan meninggalkan Jhon yang masih terdiam di sana. Niat Jhon untuk cepat-cepat pulang dan istirahat di kamar asrama putra akhirnya tertunda lagi karena ia justru duduk kembali dan memegang kepalanya. Pusing. Ia tak menyangka ia bisa salah presepsi dengan Ilham selama ini. Pada hal, selama ini dia yang menyakinkan teman-temannya agar berpikir positif jika ada masalah.