ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 51 : BELI 2 GRATIS 1


__ADS_3

Saat Didik sedang memandangi Ilham, tiba-tiba Ilham melihat ke arahnya. Sontak Didik mengalihkan pandangannya.


"Aduh kak, gue lupa ada janji, kalo gitu gue pamit ya, bye" ucap Didik tergesa gesa karena melihat Ilham yang mulai berjalan ke arah mereka.


"Iya, hati-hati ya" ucap Teguh.


"Itu Didik ya kak?" tanya Ilham.


"Iya Ham!" jawab Teguh sambil tersenyum dan terus memandangi Didik.


"Kakak kaya nya seneng banget ketemu sama dia" ucap Ilham.


"Ya, dulu gue sempat ribut ama dia dan kawan-kawannya! Tapi Alhamdulillah Ham sekarang dia mau melupakan keributan itu dan mulai mau bersahabat lagi" ucap Teguh.


Ilham sempat kaget sekaligus penasaran dengan apa yang membuat teguh bisa ribut dengan Didik dan kawan-kawannya.


"Hah? Masa sih kak? Aku heran,apa yg buat kakak bisa selisih dengan si Didik dan kawan-kawannya?" tanya Ilham.


"Saling ingin melatih Ham, dia dengan keahliannya dan gue juga dengan keahlian beladiri juga, terus sama-sama ribut yang akan melatih siswa siswi baru" jelas Teguh. "Dulu gue sempat mengusulkan agar bersama-sama melatih, tapi dia menolak alasannya teorinya berbeda dan tidak akan bisa bersama kalau perguruan beladirinya saja sudah beda, akhirnya untuk memecahkan persoalan itu, gue ma Didik sempat adu tanding!" Lanjut Teguh menjelaskan. "Duh kenapa gue jadi curhat" ucap Teguh sambil tersenyum.


"Hahaha nggak apa-apa kok kak, ya udah kalo gitu gue terusin lagi latihan nya ya" ucap Ilham.


"Iya" balas Teguh.


Dari kejauhan terlihat Roni dan Junaidi sudah duduk di kursi taman belakang asrama dan sedang menunggu Didik.


BRAKK...!!!!


Didik berusaha mengagetkan mereka dengan menggebrak meja yang ada di taman itu.


"Ampun deh Dik, kalo jantung gua copot gimana? Lu mau bayar pake hati lu sebagai gantinya?" ucap Roni.


"Dasar si Roni, di kasih jantung minta hati, eeh kebalik ya" gurau Junaidi.


"Lo kok telat sih Dik? Padahal kan asrama lo lebih deket!" tanya Roni.


"Gua kira kalian belum dateng, soalnya lu bareng sama si Junaidi si tukang ngaret" jawab Didik.


"Kalo urusan kek begini gua nggak bakal ngaret lah Dik" sambar Junaidi.


"Jadi sekarang gimana?" tanya Junaidi.


"Gimana apanya?" tanya balik Didik.


"Masa lu lupa sih tujuan awal kita kesini?" ucap Junaidi.


"Saran gua urungin aja deh niat kita!" kata Didik sambil ragu.


"Loh kenapa Dik? Padahal kan biasanya lo yang paling semangat kalo urusan beginian" ucap Roni.


"Apa jangan jangan....!" ucap Junaidi menebak nebak.


"Apaan sih lo Jun, pokoknya kalo gua bilang jangan ya jangan!" tegas Didik.


"Mungkin karna Ilham ketua Osis, jadi dia nggak enak" tebak Roni.


"Bukan gitu, tapi ada lah alasan nya...!" ucap Didik.


"Ya udah kalo elu nggak mau, biar gua sama Roni aja, iya kan Ron?!" ucap Junaidi.


"Hah? Iya iya" jawab Roni.


"Ya udah lah terserah kalian aja, tapi kalo terjadi apa-apa gua nggak ikutan ya!" ucap Didik.


"Iya, pokok nya lu tenang aja, besok pulang pelajaran gua sama Roni bakal kasih Ilham pelajaran" ucap Junaidi.


Keesokan harinya, saat selesai pelajaran di kelas!


"Eh Ron, Jun! Kalian beneran mau ngehajar si Ilham?" tanya Didik.


"Iya lah Dik, gua nggak pernah narik kata-kata gua" jawab Junaidi.


"Ya udah lah gua udah nggak bisa cegah kalian" ucap Didik pasrah.


"Kita duluan ya Dik" pamit Junaidi dan Roni.


"Iya" jawab Didik.


Sebenarnya Didik merasa kasihan dengan Ilham jika sampai dia di pukuli teman-temannya. Kebetulan Ilham belum keluar kelas, Didik ingin memperingatkannya tapi dia gengsi.


"Ham...!" teriak Didik saat Ilham hendak keluar kelas.

__ADS_1


"Iya" jawab Ilham sambil menoleh ke arah Didik.


"Em..e.. Kalo lu keluar tolong tutup pintunya ya!" ucap Didik dengan suara gugup.


"Iya, ntar gua tutup buat lo!" ucap Ilham santai.


Di kelas Didik hanya duduk dan berfikir.


"Apa gua ikutin aja si Ilham dari belakang?" benak Didik bicara.


Didik mengintip dari jendela, akan tetapi tidak terlihat apa-apa. Akhirnya Didik memutuskan untuk mengikuti Ilham.


Saat sampai di luar kelas, Didik melihat ke arah koridor asrama Ilham sudah tidak ada. Lalu Didik memutuskan untuk segera ke taman belakang asrama.


"Duh ni anak bener-bener cari mati, mereka mau lawan taekwondo sabuk hitam" dumel Didik sambil terus berjalan menuju taman belakang asrama.


"Eh Ham!" ucap Roni.


"Iya, kenapa?" ledek Ilham.


"Eeeh elu baru juga jadi Ketua Osis udah sok ya, udah berani ngusik kita elu yah?" ucap Junaidi dengan nada tinggi.


"Ngusik? Gua nggak pernah ngusik kalian! Lu nya aja yang sensi!?" ejek ilham kembali.


"Wah minta di hajar ni orang" ucap Junaidi sambil langsung menyerang Ilham.


Yah seperti prediksi Didik, walau pun mereka berdua, tapi mereka tetap kalah karena Ilham jago beladiri.


Dari kejauhan terdengar suara keributan, Didik pun langsung berlari menuju suara tersebut. Saat Didik sedang berlari kesana, dari jauh terlihat Ilham berjalan ke arah sebaliknya. Langkah Didik pun terhenti dan memandangi Ilham. Ilham pun berjalan melalui Didik tanpa melihatnya.


Didik meneruskan langkahnya dan menemukan Junaidi dan Roni dengan kondisi babak belur.


"Kalian nggak apa-apa?" Didik sangat hawatir dengan mereka.


"Nggak apa-apa gimana? Liat ni muka Gua!" ucap Junaidi.


"Ya udah, ayo kembali ke asrama" kata Didik.


Mereka pun kembali balik ke asrama. Didik menggandeng kedua temannya itu karena mereka merasa kesakitan.


"Kalian tunggu dulu di sini ya, gua mau ambil ambil obat dulu!" ucap Didik.


"Giliran gua dong Dik, Aduh ntar gua nggak ganteng lagi" rengek Roni.


"Gua udah peringatin lu berdua, nggak mau nurut sih, sekarang gua juga yang sibuk, ya udah gua balik ke asrama dulu ya" ucap Didik.


"Lo ko pulang sih Dik?" tanya Roni.


"Gua cuma mau mastiin aja kalian masih hidup atau nggak, ya udah karena kalian masih hidup jadi gua balik ke asrama yaa" ucap Didik.


"Trus luka kita gimana?" tanya Junaidi.


"Lu obatin aja sendiri" ledek Didik sambil melangkah pergi.


***


Sore itu tidak tahu kenapa rasanya Didik ingin sekali berjalan-jalan ke taman belakang asrama. Karena tidak ada tujuan, akhirnya Didik memutuskan untuk melihat kak Teguh melatih beladiri. Didik duduk dan melihat mereka latihan dari kejauhan.


Teguh melihat Didik yang sedang melihatnya dan tersenyum. Teguh pun mendekatinya dan duduk di sebelahnya.


"Tuh bener kan kata kakak, pasti elo mau liat kakak latihan" ucap Teguh.


"Ngga, kebetulan aja gue mau jalan-jalan di taman ini tapi nggak ada tujuan, ya udah gue mampir kesini aja" ucap Didik sambil tersenyum.


"Kamu kangen kan sama Beladiri, kalau tidak keberatan boleh elo gabung Dik? Kita masih memerlukan pelatih yang berbakat kok!" tanya Teguh berusaha menggoda Didik.


"Apaan sih kak, nggak kok... Lagi kepingin aja liat kakak latihan di taman ini" jawab Didik. "Oh ya, kakak haus nggak? Tunggu bentar ya!" tanya Didik karena kasihan melihat Teguh yang sedang mengipas-ngipasi dirinya dengan sabuk.


Didik pun pergi ke mini market untuk membeli air minum. Didik hendak membeli dua botol air mineral, tetapi Didik teringat dengan Ilham, mungkin dia juga kehausan karena cape latihan. Akhirnya Didik membeli tiga botol air.


"Nih kak!" sambil memberikan sebotol air.


"Makasih" ucap Teguh sambil tersenyum.


Dari kejauhan Ilham melihat kebersamaan mereka. Tapi Ilham tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Ilham tidak ingin terlibat dengan apa-apa yang berhubungan dengan Didik.


"Oh ya, itu satu lagi buat siapa?" tanya Teguh sambil menunjuk pada botol air minum yang masih ada dalam kantong plastik di bawa Didik dari mini market tadi.


"Ini? Em...tadi kebetulan di mini market sana lagi ada promosi beli 2 gratis 1" ucap Didik berbohong.


"Oh, trus itu mau kemanain?" tanya Teguh.

__ADS_1


"Buat dia aja!" sambil menunjuk pada Ilham.


Akhirnya Teguh memanggil Ilham dan memberikan minum itu untuk Ilham.


"Ya udah kak, gue pulang dulu ya, udah sore" pamit Didik pada Teguh. Sebenarnya Didik hanya ingin memastikan kondisi Ilham.


Latihan telah selesai.


"Gue pamit ya kak" Ilham berpamitan pada Teguh.


"Iya" jawab Teguh.


Saat Teguh hendak pulang, dia mampir ke mini market dimana Didik membeli air minum tadi. Teguh membeli beberapa makanan dan 3 botol air minum yang sama persis seperti yang tadi Didik belikan.


"Lah bukanya air minum ini sedang promo ya? Beli 2 gratis 1? Kok saya harus membayar dengan harga penuh?" tanya Teguh pada pelayan mini market itu.


"Kami nggak pernah mengadakan promo seperti itu!" jawab pelayan itu.


"Oh, saya kira" ucap Teguh sambil sedikit kebingungan. Teguh pun membayar belanjaannya itu dan segera pulang.


Di sepanjang jalan, Teguh berfikir "Kenapa Didik membeli 3 botol air dan berbohong jika sedang ada promo?" benaknya trus bertanya tanya. "Ada apa Didik dengan Ilham?" Teguh mencoba menebak-nebaknya.


"Ah sudahlah, biarlah masalahnya mereka di selesaikan sendiri!" Batin Teguh sambil melanjutkan perjalanan ke asrama kelas tiga di seberang Komplek asrama utama.


***


Hari ini adalah jadwal pelajaran Kesehatan Lingkungan dalam Ilmu Keperawatan, Didik dan teman-temannya belum selesai melengkapi catatannya. Karena ini sudah pukul 6.50 Waktu Indonesia Barat jadi tidak ada waktu untuk mereka menulis dan melengkapi buku mereka. Jadi mereka memutuskan untuk menukar buku mereka dengan buku siswa lain yang sudah lengkap catatannya.


"Ririn, lu pasti udah nyatet pelajaran Kesehatan Lingkungan dalam Ilmu Keperawatan kan?" tanya Roni pada Ririn.


"Udah, memang kenapa?" ucap Ririn.


"Duh Rin, gua lupa belum nyatet" rengek Roni pada Ririn.


"Trus kenapa? Lu mau nuker buku elu sama buku gua?" Ririn mencoba menebak maksud Roni.


"Nah elu tau, elu itu emang tau isi hati gua, elu itu emang pengertian banget sama gua" Roni mencoba merayu Ririn.


"Lo mau ngasih gua apa? Kalo buku elu di tuker sama buku gua?" Ririn mencoba bernegosiasi dengan Roni.


"Ok, ntar pulang sekolah gue traktir mie ayam Lek Parto deh, gimana? Berdua aja! Gua yang traktir! Serius!" ucap Roni meyakinkan Ririn.


"Eh dasar bego! Masa iya traktiran cuma mie ayam Lek Parto sih" ucap Ririn.


"Hahaha iya, kalo gitu ntar sore traktiran mie ayam Lek Parto plus jalan-jalan deh gimana?" tawar Roni.


"Iya deh! Demi traktiran mie ayam Lek Parto plus jalan-jalan sama lu ntar sore, gua rela nggak ikut pelajaran Kesehatan Lingkungan dalam Ilmu Keperawatan" seperti biasa Ririn luluh dengan janji Roni.


Di keadaan berbeda dalam waktu yang sama!


Didik sedang berjaga di depan pintu kelasnya.


"Mana buku pelajaran Kesehatan Lingkungan dalam Ilmu Keperawatan elu?" tanya Didik pada seorang siswi yang hendak masuk kelas.


Karena takut, siswi itu pun menyerahkan bukunya. Didik pun memeriksa bukunya apakah dia sudah mencatat atau belum


"Bagus, gua pinjem ya buku lo!" ucap Didik pada siswi itu.


"Tapi Dik...!" Balas cewe' itu.


"Ah bawel elu...!" Ucap Didik sambil memukul kepala cewe' itu dengan buku tidak terlalu keras karena niatnya hanya becanda dan menakut-nakuti saja. "Elu lebih takut hukuman dari guru apa dari gua?" tanya Didik pada cewe' itu.


Cewe' itu pun menyerah karena hukuman dari Didik lebih menyeramkan dari hukuman yang akan diberikan oleh guru.


Dari kejauhan Ilham melihat apa yang sedang Didik lakukan. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Dia pun memasuki kelas.


"Jun, elu udah lengkapin cacetan elu?" tanya Roni pada Junaidi yang baru tiba.


"Ya pasti udah lah, kan si Junaidi murid teladan" potong Didik.


"Sok tau elu Dik, mana sempet nulis, orang gara-gara kemaren tangan gua nggak bisa gerak, liat aja nih, masih sakit sampe sekarang" ucap Junaidi sambil menunjukan beberapa lukanya.


"Ya ampun gua lupa, trus tugas lu gimana?" tanya Didik.


"Udah dong" ucap Junaidi sambil menunjukan buku milik orang lain pula.


"Uh, kok elu nggak bilang! Hebat juga elu! Dapet dari mana?" tanya Didik sambil memukul Junaidi.


"Aduh Dik, gua masih sakit, gua bawa buku pelajaran Kesehatan Lingkungan dalam Ilmu Keperawatan si Ali Mat Hasan culun itu" ucap Junaidi.


Mereka pun tertawa bersama...!!!

__ADS_1


__ADS_2