
"Tidak akan, Cha. Gue, Made dan Sam sudah membicarakan hal ini kemarin. Dan kami sepakat untuk berjuang melawannya sampai kita mencapai kemenangan. Di samping hal itu, kita juga akan menjaga Ilham dari apa pun yang membahayakannya di lapangan. Toni dan Nugroho juga setuju tanpa harus tahu alasan kita merencanakan ini." kata Jhon.
Risa tersenyum. "Terima kasih, Jhon."
Jhon tersenyum. "Tak perlu. Justru gue yang harus berterima kasih kepada kekasih elo Cha. Dia itu kapten paling hebat yang pernah gue lihat. Tidak hanya skill yang dia punya, tapi juga sikap. Memenangkan pertandingan ini satu-satunya cara untuk membalas semua yang dia perbuat selama ini." Ucap Jhon.
Rosa tersenyum. "Ya, dia memang hebat."
"Hei, kalian! Cepat kembali, jangan berduaan saja di sana! Pertandingan sudah akan dimulai tahu!" tiba-tiba Sam berteriak dari kejauhan. Jhon dan Rosa yang melihatnya langsung tertawa, kemudian buru-buru kembali ke tempat anak-anak White Team berada. Made juga sudah terlihat batang hidungnya dan mereka sudah siap untuk bertanding.
"White Team, Friends Till The End!" teriak Ilham, Jhon, Nugroho, Made, Sam dan Toni sambil menumpukkan tangan mereka, lalu Sam kembali ke pinggir lapangan siap sedia menjadi cadangan yang kadang pula menjadi team inti White Team. Slogan itu yang akan menjadi salah satu semangat mereka nanti di lapangan. Apa pun yang akan terjadi nanti, mereka selalu menjadi teman. Teman yang akan selalu bahu membahu satu sama lain.
Kali ini Ilham dan Fauzi Rizal yang maju sebagai perwakilan masing-masing tim untuk memperebutkan bola pertama. Aura kompetisi seketika menguasai lapangan. Namun, Ilham tetap tersenyum dengan tenang menatap Fauzi Rizal yang justru menatapnya balik dengan pandangan meremehkan. Senyuman pede yang terpancar di wajahnya itu menunjukkan bahwa dia sangat yakin akan memenangkan pertandingan.
"Oke, sudah siap?" tanya sang wasit yang memegang bola di antara mereka.
Ilham mengangguk cepat kepada wasit.
"Siap, Pak." jawab Fauzi Rizal.
"Oke. Satu... Dua... Tiga!" Sang wasit melempar bola basket setinggi-tingginya. Ilham dan Fauzi Rizal langsung melompat, mencoba memperebutkan bola tersebut. Dan... akhirnya Ilham yang mendapatkan bola pertama tersebut! Semua anggota tim basket langsung bergerak cepat untuk membantu timnya masing-masing. Beberapa dari mereka berteriak-teriak memberi instruksi. Area lapangan basket seketika menjadi ramai setelah pertandingan dimulai.
"Nugroho!" teriak Ilham sembari melempar bola basketnya ke arah Nugroho yang tak dijaga oleh lawan. Dengan sigap Nugroho menangkap bola tersebut dan langsung mendribel bola hingga ia bisa mengopernya lagi ke arah Made. Dari jarak yang cukup jauh, masih di area tiga angka, Made langsung menembak bola ke arah ring basket timnya.
Dan... Masuk! Tiga angka untuk White Team. Papan skor yang dikendalikan oleh salah satu murid Sekolah Menengah Atas Dwi Warga langsung mengganti angka nol menjadi tiga di bawah tulisan tim Sekolah Perawat Kesehatan. Sementara itu, para penonton semakin lama semakin heboh, apalagi para pendukung White Team.
"Semangat, Ilham!! Semangat, Jhon, Nugroho, Made, Toni!!" teriak Rosa kencang-kencang di sebelah sahabat-sahabatnya yang lainnya. Ia benar-benar berpikir bahwa teriakannya tersebut akan memberikan energi kepada White Team, sahabat-sahabat lainnya sampai heran melihatnya.
Sekarang bola ada di tangan Fauzi Rizal. Dan bisa ditebak oleh Jhon, dia bermain sendiri. Tanpa mengoper pada siapa-siapa, ia terus mendribel bola tanpa memperdulikan teman-teman di sekitarnya yang siap membantu. Dan tanpa banyak basa-basi, ia langsung menembak bola dari jarak dekat. Masuk! Dua angka untuk Sekolah Menengah Atas Dwi Warga.
Jhon menggelengkan kepalanya melihat kejadian tersebut. Ia mendesah pelan, "Sifatnya sama sekali belum berubah."
"Jhon! Jangan pedulikan dia!" kata Toni menepuk pundak Jhon sejenak dan langsung meninggalkannya untuk kembali ke posisi. Jhon juga langsung kembali pada pertandingan. Untung saja Nugroho tidak mendengar percakapan mereka, atau dia pasti akan penasaran lagi.
__ADS_1
Rosa hanya merengut di pinggir lapangan ketika Fauzi Rizal berhasil mencetak angka. Walaupun White Team masih unggul, tapi ia benar-benar tak suka melihat caranya bermain. Sifat egoisnya terlihat sekali. Tim seperti itu menurutnya tak pantas untuk untuk menjadi pemenang. Tidak ingin itu terjadi, Rosa terus-terusan bersemangat menjadi propokator supporter setia White Team.
"Ilham!" Made yang memegang bola segera mengoper kepada kapten tim basket mereka yang berada di dekat ring. Dengan gerakan cepat, ia langsung melakukan lay up untuk mencetak angka. Namun, sayang bola tidak mendukung rencananya. Bola basket hanya menyentuh bibir ring dan memutuskan untuk mental kembali ke lapangan. Bola langsung direbut oleh salah satu anggota tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga.
Toni dan Nugroho yang tidak puas dengan tembakan tadi langsung dengan semangat berlari mengejar untuk mencoba merebut bola. Toni yang berlari agak lebih cepat daripada Nugroho langsung segera menghadang lawannya agar dapat mengulur waktu. Sementara dari arah lain Nugroho mencoba merebut bola. Tapi, belum sempat ia melaksanakan rencananya, tiba-tiba salah seorang pemain basket menubruknya hingga ia terdorong ke arah Toni. Dan kelengahan keduanya pun dipakai mereka untuk meloloskan diri.
HUP...!!!
Lagi-lagi mereka mencetak dua angka untuk Sekolah Menengah Atas Dwi Warga.
"Curang!" seru Rosa emosi melihat adegan tersebut. "Hi, cupu! Ingin menang dengan cara kasar!" kata Rosa yang lagi emosi dari pinggir lapangan.
"Toni! Nugroho! Kalian tidak apa-apa?" tanya Jhon segera menghampiri keduanya dengan Made dan Ilham. Mereka berdua menggelengkan kepalanya.
"Sudah, jangan pikirkan kami! Fokus! Kita sudah berlatih keras untuk pertandingan ini!" kata Nugroho sambil tersenyum. Ia segera meninggalkan mereka dan mengejar tim lawan kembali dan di ikuti oleh teman-temannya.
Kuarter pertama sudah berlangsung delapan menit dan skor masih menunjukkan bahwa White Team unggul dengan 12-10. Para pemain di lapangan mulai terlihat banyak yang menghapus peluh tenaga mulai banyak berkurang. Tapi, White Team tidak ingin bersantai. Walaupun mereka unggul, tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga dengan kapten tim basket Fauzi Rizal tidak bisa dianggap enteng. Justru mereka berlima harus diwaspadai.
"Jhon!" seru Nugroho meminta bola.
"Shoot...!!!"
Masuk! Tiga angka untuk Whitr Team. Pertandingan antara White Team dan tim basket Sekolah Menengah Atas Dwi Warga benar-benar berjalan seru. Skor saling kejar-mengejar, para pendukung juga semakin semangat berteriak-teriak. Tapi, ada yang aneh dalam pertandingan tersebut. Berturut-turut White Team bisa mencetak skor tanpa gangguan apapun dari tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Bahkan mereka terlihat tenang dengan skor yang sudah tertinggal jauh. Mereka tampak tidak melakukan apa-apa sampai kuarter pertama selesai dengan skor 25-12 untuk keunggulan White Team. Tapi, tak ada yang tahu sebenarnya dari tadi memperhatikan pertandingan dengan saksama.
"Hmm… kapten mereka Ilham dan Toni, anak baru itu boleh juga..." kata Fauzi Rizal sebelum ia berkumpul bersama teman-temannya untuk istirahat dua menit.
***
PRIIITT...!!!
Tembakan berkali-kali dari anggota White Team benar-benar berbuah hasil. Setelah lemparan Jhon tak berhasil, Nugroho kembali melemparnya ke ring, kemudian ke Made dan akhirnya Toni yang berhasil mencetak angka. Kuarter ketiga yang sudah berlangsung lima menit itu terasa jauh lebih menegangkan daripada kuarter pertama dan kedua.
Sekarang papan skor telah menunjukkan 40-29 untuk keunggulan White Team. Dugaan Jhon bahwa Fauzi Rizal masih tetap bermain sendiri seperti saat mereka masih satu sekolah agak memudar ketika melihat tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga mulai terlihat bekerja sama agar dapat mencetak angka sebanyak-banyaknya. Tapi, Made dan Jhon juga tidak yakin kalau Fauzi Rizal mau-mau saja bermain gotong royong seperti itu.
__ADS_1
Pasti ada sesuatu...!!!
Rosa yang sibuk menyemangati Ilham dan kawan-kawan juga terus heboh dengan pertandingan. Namun, tiba-tiba teriakan mereka berhenti ketika melihat seseorang masuk ke dalam lapangan dan menghampiri Rosa tanpa banyak bicara.
"Om...?" kata rosa heran sekaligus kaget. "Kenapa Ayahnya Ilham bisa ada di sini? Dari mana Ayahnya tahu kalau Ilham ada di sini? Apakah Ayahnya Ilham tahu kalau Ilham bertanding hari ini?" Pertanyaan Rosa pada Ayahnya Ilham.
Ayahnya Ilham hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Rosa yang dia tahu dekat dengan putranya Ilham. Ia langsung melotot ke arah Rosa dan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh Rosa agar diam. Rosa masih penasaran dengan kehadiran Ayahnya Ilham di tengah-tengah pertandingan. Tapi, akhirnya, dia kembali sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Ilham...!" Nugroho mengoper ke arah Ilham.
Ilham langsung menerima bola tersebut dan mendribel menuju ring dengan dibayang-bayangi anggota tim lawan. Setelah berkelit-kelit dengan susah payah melewati semuanya, ia langsung mengoper ke arah Made untuk melakukan tembakan tiga angka.
"Shoot, De!" teriak Ilham dengan kencang.
Made langsung melakukan tembakan dan… Gagal! Bola mental dari ring dan langsung diambil alih oleh Fauzi Rizal. Namun, lagi-lagi bola oranye tersebut direbut oleh Toni dan di oper lagi ke arah Made. Ia langsung mendribel bola menuju ring White Team.
Fauzi Rizal yang sedang berada di dekat dua temannya langsung menepuk pundak mereka dan mengedipkan sebelah matanya. Keduanya langsung mengangguk dan mengejar kemana Made membawa bola untuk menghadangnya. Made yang merasa terancam dengan dua lawan di belakangnya langsung mengoper ke arah Ilham yang sedang bebas dari hadangan. Namun, Made salah. Kedua anggota tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga itu tidak mengincar dirinya, mereka mengincar Ilham! Begitu Ilham mendapatkan bola, salah satu anggota tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga yang berbadan besar tersebut tiba-tiba menghadang Ilham dan menyandung kaki kiri Ilham dengan sengaja hingga bola terlepas dari tangannya. Ilham terjatuh dengan keras di lapangan.
Foul! Pelanggaran untuk tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga.
Teman-teman Ilham yang melihat kejadian tersebut jelas tidak terima. Namun, mereka tidak mungkin menceramahi Fauzi Rizal di tengah-tengah pertandingan. Akhirnya, Jhon meminta time-out.
"Ilham! Elo nggak apa-apa?" tanya Made panik melihat sahabatnya.
"Kaki elo lecet, bisa berdiri nggak?" tanya Jhon jongkok di sebelah Ilham. "Ayo, kita obati kaki elo dulu di pinggir. Kemudian, elo harus istirahat." Lanjut Jhon.
Ilham menggeleng dan mencoba untuk berdiri sendiri namun lututnya yang terluka menjadi sangat sakit akibat benturan keras yang di alaminya tadi.
Ilham terjatuh lagi ke lantai...!!!
"Sudah, elo jangan keras kepala, Ilham." kata Jhon sambil membantu Ilham untuk berdiri. Ia menggantung sebelah tangan Ilham di pundaknya. Made juga melakukan yang sama dari arah lain. Mereka langsung membawa Ilham ke bangku cadangan. Dan saat itu juga, Ilham baru menyadari Ayahnya ada di sana.
"Ham, elo nggak apa-apa?" tanya Rosa khawatir.
__ADS_1
Ilham tersenyum menanggapi pertanyaan Rosa. Kemudian, ia tatap wajah Ayah dengan raut wajah terkejut. Ia benar-benar tak tahu kalau tadi Ayah menontonnya bertanding. Entah sejak kapan dia sudah berdiri bersama Rosa. Senang sekali rasanya mengetahui hal itu, tapi sayang sekali dia harus melihat Ilham terluka seperti ini. Entah apa yang akan dikatakannya lagi setelah pertandingan ini selesai, dengan modal luka di lutut kiri Ilham.