ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 29 : KISAH RINA GUMELA 4


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Rina dan Ridwan tidak bertegur sapa apa lagi bercanda tawa dan Rina terlihat sekali semakin cuek bebek kepada Ridwan karena masih mengandung amarah yang membara atas kejadian-kejadian sebelumnya yang tidak perlu di ceritakan kembali akan membuat cerita ini semakin bertambah panjang dan nggak jelas nantinya.


Saat pelajaran olahraga pun Rina hanya diam, membisu serta tanpa banyak bicara dan bersikap biasa-biasa saja seakan-akan tidka ada yang pernah terjadi di antara mereka, Rina hanya menganggap Ridwan sewajarnya dan selayaknya guru seperti teman-teman kelas anak-anak asrama lainnya. Ridwan yang merasa Rina sudah berubah dan seakan-akan sengaja menghindar mulai merasa galau tingkat dewa.


Malam harinya di sebuah kamar tidak terlalu besar juga tidak terlihat kecil, di temani cahaya lampu yang temaram menambah kekelaman yang menjadi nyata, Ridwan melamun memikirkan Rina dan mengingat-ngingat kembali saat di mana Rina masih menjadi asistennya, setiap hari walau di hiasai pertengkaran akan tetapi tidak di pungkirinya mereka tetap menghabiskan banyak waktu secara bersama di sekolah asrama. Pertengkaran dan keributan kecil menghiasi perjalanan kehidupan saat mereka bersama satu bulan yang lewat menjadikan sebuah moment yang tidak bisa di lupakan dan terlupakan begitu saja oleh keduanya, terutama Ridwan mungkin.


"Kenapa gue nggak bisa berhenti memikirkan Rina, setiap saat dia selalu muncul di otak gue. Jadi bingung ma perasaan ini, entah kenapa setiap gue di dekatnya ada perasaan yang aneh dan nggak paham kok bisa ada di pikiran gue.


Kadang gue berfikir berada di dekatnya ada rasa nyaman! Apa gue udah mulai jatuh cinta ya sama dia?" Dalam lamunan Ridwan yang datang secara tiba-tiba.


***


Di sekolah mau pun di asrama Rina semakin dekat dengan Made, mereka berdua sering ngobrol dan makan bareng baik di kantin atau pun ruang makan asrama. Semua anak-anak asrama pun melihat kedekatan mereka tersebut dan ada yang berfikiran negatif dan ada juga yang memberikan masukan yang positif. Ada juga yang bilang kalau mereka berdua sudah resmi pacaran, namanya gosip mengalir laksana air selalu dan terus mengalir dari setiap sudut ruang geraknya bahkan sampai di telinga para guru-guru asrama yang kadang ada KePo nya juga.


Ridwan pun nggak sengaja mendengar peri hal kabar tersebut.


"Apa-apaan ini, nggak di kelas, kantin, koridor, atau asrama sekolah pada gosipin Made dan Rina pacaran! Gue nggak boleh tinggal diam nih dan gue harus mastiin kalau mereka memang benar-benar ada hubungan atau tidak!" Batin Ridwan.


"Hai Ham, mau kemana?" Sapa Ridwan pada Ilham ketika melihat Ilham berjalan sendiri di koridor asrama dekat dengan kelas.


"Biasa pak, ngisi perut ke kantin!" Jawab Ilham singkat.


"Bisa minta waktunya sebentar nggak Ham?!" Tanya Ridwan.


"Boleh, di mana pak? Di kelas apa kita ke kantin aja?" Tanya Ilham santai.


"Ke kantin aja deh!" Jelas Ridwan.


Sesampainya di kantin...! Setelah menggunakan jurus basa dan basi terlebih dahulu, Ridwan sampai di point penting dari dia mengajak Ilham ngobrol berdua.


"Ham, gue denger banyak gosip antara Made dan Rina ya! Beneran nggak tuh!" Tanya Ridwan.


"Waduh, kalau gosipnya bener pak. Tapi kalau kebenarannya saya nggak paham juga!" Jelas Ilham.


"Kan Ilham teman akrabnya Made? Nggak pake acara ngobrol semacam curhatan hati gitu apa di kamar asrama?" Tanya Ridwan mulai fokus ke inti permasalahan dan hal ini membuat Ilham curiga.


"Gue dah seminggu ini dinas malam pak, jadi blass nggak sempat ngobrol-ngobrol ma Made atau yang lainnya! Cape dan ngantuk aja bawaan nih mata pak!" Jelas Ilham.


Ridwan terlihat rada sedikit kecewa karena jawaban Ilham yang sangat menggantung tanpa kejelasan. Namun mau di katakan bagaimana karena alasan Ilham pun beralibi sangat kuat, kalau terkena praktek lapangan dinas malam di Rumah Sakit atau Klinik bisa semalaman emang nggak tidur apa lagi kalau ketemu pasien dengan stroke atau apnoe tentu bisa di pastikan tidak akan tidur saat dinas.


"Ada apa Ham?" Tiba-tiba Martina bersama Ika sudah ada di hadapan Ilham saat masih di kantin sepeninggalan Ridwan.

__ADS_1


"Tahu itu pak Ridwan, tanya-tanya gosip Made dengan Rina ama gue. Mana gue ngertilah, yang ada mah kalau tahu juga nggak gue kasih tahu kali!" Jawab Ilham tersenyum.


"Aneh! Kenapa dia sampe nanya ke elo soal hubungan Made dengan Rina ya!" Martina sambil berpikir.


"Wah jangan-jangan dia suka ma Rina nih!?" Potong Ika menimpali kata-kata Martina.


"Kayaknya bakal ada gosib baru lagi! Berawal dari elo orang berdua!" Balas Ilham becanda.


"Ahahaha... Bisa jadi Ham!" Ucap Ika.


"Elo dah selesai dinas malamnya Ham?" Tanya Martina.


"Belum Tin, masih satu malam lagi! Kenapa emangnya?" Tanya Ilham.


"Pake nanya Ham, peka dikit kenapa!?" Balas Ika.


Martina jadi terdiam nggak enak hati mendengar perkataan Ika, Ilham hanya tersenyum tanpa komentar sedikit pun.


"Yuk geser Tin, ada yang udah janjian kayaknya nih!" Ucap Ika tiba-tiba.


"Hey, pada mau kemana? Janjian?" Ilham terlihat bingung, baru paham setelah dia melihat sosok Dessy berjalan dari asrama putri B menuju ke kantin tepat dimana mereka sedang ngobrol bersama. Martina dan Ika lanjut keluar kantin balik ke asrama meninggalkan Ilham sendiri karena tidak mau merasa ada yang terganggu dengan kehadiran mereka berdua.


"Des, apa kabar?" Tanya Ilham saat Dessy sudah sampai di dalam kantin.


"Ngisi perut Des! baru bangun dari tidur tadi kok kerasa laper nih perut!" Jawab Ilham santai.


"Kakak masih dinas malam ya!?" Tanya Dessy.


"Iya! Satu malam lagi Des! Ada apa ya?" Tanya Ilham.


"Nggak ada apa-apa kok kak! Bagaimana dinasnya sibuk nggak? Kak Ilham dapat di ruangan apa saat ini?" Tanya Dessy beruntun.


"Hmmm...! Duduk dulu Des biar enak ngobrolnya!" Ucap Ilham.


"Ehhh... Iya kak!" Balas Desi sembari menarik kursi kantin duduk di sebelah Ilham.


"Dinasnya sangat-sangat lumayan Hyper super sibuk Des, kakak dapat di Rumah Sakit, Ruang Penyakit Dalam kebetulan dua malam ini ada pasien yang stroke nggak sadar sampai di infus dua jalur dan tranfusi darah juga dan malam besoknya sebelahnya pasien Diabetes Malitus (DM atau lebih di kenal dengan Kencing Manis) mengalami apnoe karena gula darahnya sampai 537 dan nyaris nggak sadar.!" Jelas Ilham.


"Pantas saja kak Ilham, Dessy perhatiin seminggu ini jarang kelihatan!" Balas Dessy.


"Kangen apa!" Celetuk Ilham.

__ADS_1


"Eh..eh...! Kak Ilham dah makan belum?" Dessy mengalihkan pertanyaan Ilham dengan pertanyaan baru dari dirinya buat Ilham.


"Udah, Dessy dah makan?" Ilham tersenyum, balik bertanya.


"Udah cuma kok laper lagi makanya Dessy ke kantin lagi kak!" Jawab Desi.


"Wah... Hati-hati ntar tambah berat tuh badan Des!" Canda Ilham.


"Heee...! Iya kak nih kemarin Dessy timbang naik dua kilo!" Balas Dessy tersenyum.


Bibi kantin sambil memasak pesanan Dessy dan mendengar percakapan mereka hanya tersenyum-senyum sendiri, mungkin ingat memory masa mudanya dulu seperti mereka.


***


Rina dan Made sedang asyik ngobrol berdua di taman asrama belakang, tiba-tiba Ridwan menghampiri mereka.


"Rin, ada yang ingin gue bicarakan dengan elo!" Ucap Ridwan.


"Ngomong apaan?" Jawab Rina rada kesel.


"Tapi nggak di sini Rin, gue cuma mau ngobrol berdua sama elo!" Balas Ridwan.


"Udah di sininaja lah ngomongnya, gue lagi males mau kemana-mana ini!" Jawab Rina.


"Nggak bisa Rin, gue bener-bener pengen ngomong sama elo berdua aja!" Lanjut Ridwan menjelaskan, matanya melirik ke Made sebagai sinyal meminta pengertiannya.


"Ya sudah Rin, elo ngomong aja berdua sama pak Ridwan, gue balik ke asrama ya!" Jawab Made mengerti akan kemauan Ridwan.


"Eeeh De, tunggu mau kemana elo? Kok elo malah pergi!" Ucap Rina melihat Made pamit balik menuju asrama putra yang kebetulan tidak jauh dari tempat itu.


"Rin, gue mohon sama elo maafin gue ya Please!" Ucap Ridwan.


"Udahlah, gue udah lupain semuanya kok, jadi untuk itu nggak usah di ungkit-ungkit lagi masalah yang sudah lalu!" Jawab Rina.


"Jujur Rin, gue bener-bener nyesel ngelakuin semua ini, gue sampai nggak bisa tidur nyenyak memikirkan semuanya." Balas Ridwan lagi.


"Ya, elo itu sudah ya di bilangin, gue udah maafin elo kok!" Jawab Rina.


"Elo beneran seriuskan udah maafin gie, benerankan?" Tanya Ridwan menyakinkan dirinya sendiri.


Bel masuk kelas telah berbunyi, Ridwan menatap Rina dan Rina pun membalas tatapan itu.

__ADS_1


Mereka saling bertatapan dengan suara hati masing-masing tanpa suara maupun kata. Akhirnya Rina pamit kepada Ridwan untuk masuk ke kelas dan baru beberapa langkah berjalan Rina berhenti sebentar lalu menengok ke belakang melihat Ridwan, kembali melanjutkan langkahnya kembali.


Ridwan masih berdiri di posisinya semula, melihat dan tersenyum kepada Rina. "Terima Kasih ya Rin, sudah mau maafin gue. Kata maaf yang keluar dari mulut elo adalah kata-kata yang sangat berarti buat gue dan itu artinya elo udah nggak marah lagi sama gue!" Ridwan membatin lalu tersenyum bahagia.


__ADS_2