ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 50 : PELATIH TAEKWONDO


__ADS_3

Suatu pagi di kelas, seperti biasanya Didik sedang mengerjai teman-temannya dengan menyuruh mereka membersihkan kelas, kebetulan hari itu hari jadwal piketnya Didik. Tapi karena dia malas untuk piket, jadi dia menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugasnya itu.


Oh iya, perkenalan dulu ya...!!!


Didik adalah siswa semester empat Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi, di antara siswa lain nya, dia adalah siswa yang paling bandel. Dia dan dua teman lelakinya Roni dan Junaidi, kerjaan mereka adalah membully dan mengerjai siswa lain tapi mereka tak pernah memalak, karena bagi mereka uang bukanlah segalanya, yang mereka cari adalah kesenangan dengan menyuruh siswa lain menurutinya.


Hari Senin di Kelas...!!!


"Aduh gua lupa ngerjain PR lagi" dumel Didik.


"Hi, Dik...!" sapa Roni sambil menepuk bahu Didik.


"Apaan sih lu! Lu udah ngerjain PR Anatomi dan Fisiologi belum?" tanya Didik.


"Astaga, gua lupa! Gara-gara maen-maen mulu jadi lupa ngerjain PR kan!" Roni menyalahkan dirinya.


"Biasanya si Junaidi yang paling rajin, ntar kita nyontek si Junaidi aja deh" ucap Didik.


Sudah pukul 6.55 Waktu Indonesia Barat Junaidi belum sampai juga.


"Duh si Junaidi mana sih? Kok belom nyampe juga? Mana sepuluh menit bel lagi" ucap Didik dengan nada kesal.


"Eh Ririn! Sini deh lu!" Teriak Roni pada teman satu kelasnya.


"Lu udah ngerjain PR Anatomi dan Fisiologi? Liat dong gua!" rayu Roni pada Ririn.


Ya Roni memang terkenal raja gombal, hampir setiap cewe' dia godain. Ririn pun luluh dengan gombalannya dan memperlihatkan hasil kerjanya pada Roni. Roni pun tanpa basa basi lagi segera menyalinnya ke buku.


"Eh lu Ron, nggak bagi-bagi elu ya sama gua? Udah lupa elu sama temen sendiri?" ucap Didik kesal sambil memukul kepala Roni.


"Iya, ini Didik...! Sabar kenapa!" ucap Roni, mereka pun mengerjakan PR Anatomi dan Fisiologi dari hasil nyontek dengan hasil Ririn.


Pukul 6.58 Waktu Indonesia Barat nyaris pukul 7, Junaidi baru sampai di kelas.


"Hi Dik, Ron!" sapa Junaidi.


"Ah elu sengaja ya ke kelas jam segini? Karena elu takut kita belom ngerjain tugas dan nyontek sama lo?" tanya Didik tanpa melihat pada Junaidi.


"Apa sih Dik, gua emang kesiangan, tadi Alarm gua nggak nyala!" elak Junaidi.


Pada hal memang benar, Junaidi sengaja berangkat siang karena Junaiid sudah tahu bahwa Didik dan Roni pasti lupa mengerjakan tugas dan akan melihat padanya.


Bel masuk pun terdengar...!!!


Pak Sono guru Anatomi dan Fisiologi pun masuk ke kelas.

__ADS_1


"Oke anak-anak karena minggu kemarin saya baru menjelaskan, jadi minggu sekarang kita mencatat dulu" ucap pak Sono.


"Iya pak" jawab anak-anak serempak.


"Duh gua nggak bawa pulpen lagi" dumel Didik.


"Jun, lu bawa pulpen dua nggak?" bisik Didik pada Junaidi yang ada di depannya.


"Nggak Dik, gua cuman bawa satu!" jawab Junaidi.


"Ya udah itu buat gua aja!" ucap Didik sambil berusaha merebut pulpen itu dari tangan Junaidi.


"Jangan dong, ntar gua nulis pake apa?" Junaidi berusaha mempertahankan pulpennya.


"Dasar anak rajin!" ucap Didik sambil mengacak ngacak rambut Junaidi.


Didik masih belum mendapatkan pulpen, lalu dia menengok ke belakang ke bangku Roni. Roni baru saja mengeluarkan pulpen dari tasnya dan langsung saja Didik mengambilnya.


Roni menyadari jika pulpenya di bawa oleh Didik. Dia pun memegang tangan Didik. Mereka pun berebut pulpen.


"Apaan sih lo Dik, ini pulpen gua!" kata Roni.


"Gua pinjem!" kata Didik.


"Tapi gua cuma bawa satu!" ucap Roni kembali.


"Hey kalian!" bentak pak Sono. Mereka terkejut sehingga pulpen yang sedang mereka rebutkan terlempar.


"Kalau mencatat... mencatat saja, tidak pake ribut, paham!" ucap pak Sono.


"Mau nulis gimana? pulpen juga nggak ada!" batin Didik.


"Gara-gara elu sih Dik, pake ngambil pulpen gua! Sekarang pulpennya nggak ada!" Roni menyalahkan Didik.


"Apaan sih kok elu nyalahin gua! Lu sih jadi orang pelit banget" ucap Didik.


Didik sibuk mencari pulpen yang terlempar tadi.


"Ririn... pinjemin gua pulpen dong, buat nulis nama lo di hati gua" Bisik Roni pada Ririn yang ada di pinggirnya.


Ririn pun luluh dengan rayuan nya dan meminjami Roni pulpen.


Ternyata pulpen tadi terlempar ke arah Ika, Ika pun mengambilnya dan memberikan pulpen itu pada Didik.


"Ini...!" kata Ika sambil memberikan pulpen. Didik menatap Ika.

__ADS_1


"Makasih" kata Didik sambil cepat-cepet mengambil pulpen itu dari tangan Ika.


***


"Gimana Dik? Lu udah pikirin pelajaran apa yang mau kita kasih sama Ilham itu? Sok banget mentang-mentang jadi ketua Osis apa?" tanya Roni.


"Belum, gini aja nanti sore kita diskusiin, terus bikin rencana" jawab Didik.


"Sore? Kenapa nggak sekarang aja?" tanya Junaidi.


"Udah lah ntar sore aja, biar sambil hangout! Udah lama juga kita nggak hangout bareng" jawab Didik.


"Oke juga Dik, sambil refreshing biar dapet ide bagus" ucap Roni.


"Ntar sore ketemuan di mana?" tanya Junaidi.


Tiba-tiba Ilham datang di barengi dengan bel dan masuknya Guru.


"Stttt....!" kata Didik sambil segera duduk di bangkunya.


"Ntar sore di taman belakang asrama...!" bisik Didik pada kedua temannya.


Mereka akan bertemu di taman pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat, akan tetapi Didik sudah sampai di taman pukul 15.30 Waktu Indonesia Barat. Ya maklum lah, karena nggak ada kerjaan di asrama jadi sekalian ke taman belakang asrama duluan agar bisa jahilin anak-anak yang lewat di taman itu.


Saat Didik sedang berjalan-jalan santai di taman sambil menunggu teman-temanya, Didik melihat ada yang sedang latihan beladiri di lokasi taman belakang asrama tersebut. Didik pun melihatnya. Saat Didik melihat lebih dekat, ternyata salah satu dari pelatih beladiri itu adalah Ilham bersama sahabat-sahabatnya mengajari siswa dan siswi baru beladiri sebagai salah satu pelajaran extra di asrama Sekolah Perawat Kesehatan.


"Kak Teguh" sapa Didik pada salah satu pelatih beladiri.


"Eh Didik, udah lama nggak liat elo jalan-jalan di taman ini" jawab pelatih itu dengan ramah.


"Iya kak, lagian males kak kalo jalan-jalan nya cuman sendiri" ucap Didik sopan.


"Ya udah besok-besok kalo jalan ke taman ini lagi, mampir aja kesini biar sekalian liat kak Teguh" ucap Teguh.


"Hahaha kakak bisa aja, ooooh ya kak itu Ilham pelatih beladiri baru?" tanya Didik.


"Iya! Kenapa?" Teguh bertanya.


"Nggak apa-apa kak! Bukannya dia orang sibuk dan emang selama ini dia bisa beladiri ya, gue nggak pernah lihat dia latihan gitu?" tanya Didik.


"Iya, dia emang baru ikut menjadi pelatih beladiri Dik, maklum karena kesibukannya. Tapi katanya saat dulu di Sekolah Menengah Pertama dia sudah menjadi pelatih beladiri Taekwondo, jadi sayang kalau keahliannya nggak di salurkan di tengah kesibukannya" jawab Teguh.


"Trus kakak percaya gitu aja sama dia?" tanya Didik kembali.


"Ya kakak percaya lah!" jawab Teguh.

__ADS_1


"Ohh.." ucap Didik sambil terus melihat ke arah Ilham yang sedang melatih.


__ADS_2