ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 72 : MIMPI YANG INDAH


__ADS_3

"Kau tak perlu keluar dari tim inti." Ucap Ayah Ilham tiba-tiba.


Ilham membesarkan matanya mendengar ucapannya. Ia benar-benar tak percaya apa yang didengarnya barusan dari mulut Ayah sendiri.


"Kenapa?"


"Perjuanganmu sudah cukup panjang, Ham. Sejak dulu, kau selalu mempertahankan hobimu, walaupun itu akan mengecewakan Ayah. Pembuktian yang kau tunjukkan hari ini sudah cukup. Cedera di kakimu, kegigihanmu di pertandinganmu hari ini membuat Ayah sadar bahwa kau dan basket sudah menjadi satu jiwa. Tak terpisahkan lagi.” kata Ayahnya sambil tersenyum. Ia memegang kedua pundak anaknya. "Kau boleh bermain basket bersama teman-temanmu, Ham!"


"Tapi, selama ini..."


"Ya, Ayah tahu. Ayah selalu memaksa kau untuk menjauhi basket. Itu semua karena Ayah tak ingin kalian kecewa di kemudian hari. Dulu Ayah memiliki teman yang jago basket sepertimu, Ham. Dia bahkan sampai bisa ikut Basket Tingkal Nasional. Tapi, sayangnya dia bertemu dengan lawan yang curang, kakinya cedera di pertandingan. Dan sampai sekarang... dia tak bisa bermain basket lagi karena cedera parah di kakinya itu." jelas Ayahnya sambil melepaskan tangannya dari bahu Ilham.


Semuanya terdiam mendengar pengakuan dari Ayahnya Ilham, terlebih Ilham tentunya. Kini Ilham mengerti...! Mengapa selama ini Ayahnya begitu memaksa mereka untuk menjauhi basket. Itu semua hanyalah bentuk rasa kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Ia hanya tak ingin Ilham celaka karena basket. Selama ini mereka salah telah menganggap Ayah tak mendukung mereka tanpa alasan.


Ilham menundukkan kepalanya, merasa bersalah kepada Ayahnya.


"Ilham..." kata Ayahnya kemudian. "Kau bisa memaafkan Ayah, bukan?"


Ilham diam saja mendengarnya. Namun, beberapa detik kemudian, badannya tampak bergetar. Terdengar suara isakan di balik wajahnya yang tertunduk. Semua yang ada di sana terkejut mendengar suara tersebut.


Ilham menangis!


Ayahnya menghela nafasnya. Ia tarik tubuh Ilham mendekat ke arahnya. Ia peluk erat anak bungsunya tersebut dan mengelus punggungnya agar ia tidak menangis. Semua yang ada di sana tersenyum melihat adegan tersebut. Bahkan Rosa sampai meneteskan air matanya karena terharu. Ini yang selama ini dia harapkan terjadi. Ilham dan Ayah akhirnya berbaikan.


"Terima kasih, Yah...!" kata Ilham di sela-sela tangisnya. "Maafkan Ilham."


Ayahnya mengangguk-angguk. "Tidak apa-apa, Ilham. Seharusnya Ayah yang meminta maaf kepadamu karena sudah kasar kepadamu. Harusnya Ayah tidak begitu ngotot melarang melakukan apa yang kau suka." Ucap Ayahnya Ilham bijaksana.


Semuanya tetap diam di tempat melihat adegan mengharukan tersebut, membiarkan keduanya larut dalam kebahagiaan. Setelah beberapa lama, Nugroho, Jhon, Made, Toni, Sam dan Wisnu baru berjalan mendekati Ilham dan Ayah untuk memberi semangat kepada teman mereka. Mereka tepuk pundak Ilham dan mengacak-acak rambutnya sambil tertawa. Bukan hanya Ilham saja yang gembira bisa berbaikan dengan ayahnya, mereka juga bahagia karena itu artinya Ilham tidak akan keluar dari White Team. Ia tetap menjadi kapten tim basket sekaligus sahabat mereka.


"Sudah, jangan menangis, Ham. Apa kau tidak malu dengan kami? Masa kapten basket putra yang selama ini kuat dan sabar justru menangis seperti anak kecil?" tanya Jhon sambil tertawa. Ia menjitak kepala Ilham pelan.


"Benar itu!" kata Made setuju.


Ilham tersenyum. Pipinya sedikit memerah mendengarnya. Ia segera menghapus air matanya dengan tangannya dan merangkul teman-temannya. Ia menatap Ayahnya sambil tersenyum, kemudian berkata kepadanya, "Apa mereka boleh menginap di rumah hari ini, kita dikasih diapensasi dari pihak sekolah boleh istirahat di rumah satu hari?" Ayahnya tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya mantap.


Semuanya bersorak gembira sambil mengangkat tangan mereka bersamaan. Hari pertandingan itu diakhiri dengan perasaan lega dan bahagia. Jhon, Made, Nugroho, Sam, Toni dan Wisnu ikut dalam mobil Ayahnya Ilham, bersama-sama ke rumah untuk bersenang-senang. Pada hari itu, bahkan sampai tengah malam pun tak ada yang rela menutup matanya. Tak ingin melewatkan sedetik pun keceriaan yang ada di sekitar mereka. 


***

__ADS_1


Fauzi Rizal diam saja melihat Ayahnya dari tadi mondar-mandir di hadapannya. Sejak mereka pulang dari sekolah tadi, Ayahnya sama sekali tidak membuka mulutnya. Ia tidak menggubris apa pun yang keluar dari mulut anaknya. Dan sikap tersebut membuat Fauzi Rizal semakin kesal kepada Ayahnya itu. Bahkan sekarang ia tak boleh naik ke kamarnya. Ruang tamu rumahnya yang biasanya kosong, sekarang di isi sekeluarga. Fauzi Rizal tampak berdiri di sebelah sofa, sementara Mamanya duduk di dekatnya. 


"Zi...!" kata Ayahnya akhirnya membuka mulut. "Papah benar-benar kecewa padamu."


Fauzi Rizal diam saja. Dengan wajah datar ia membuang mukanya.


Ayahnya menatap wajah anaknya tersebut dengan sabar. "Papah tahu, kau sangat ingin menang dalam pertandingan itu. Tapi, bukan berarti kau boleh memakai cara buruk seperti itu. Untung hanya lecet dan keseleo, bagaimana kalau lukanya lebih parah?" Jelas ayahnya Fauzi Rizal.


Fauzi Rizal tetap mengunci mulutnya.


"Sebenarnya, ada apa antara kau dengan Ilham? Rasanya kau dendam sekali kepada Ilham dan teman-temannya?" tanya Ayahnya lagi. Ia pandang anaknya dengan wajah menyelidik. "Atau kau tidak terima dengan perlakuan mereka saat mereka masih satu sekolah denganmu?" Lanjut Ayahnya.


"Papah tahu sendiri bagaimana mereka memperlakukan aku dulu saat aku masih menjadi kapten mereka!" kata Fauzi Rizal sebal. "Mereka bahkan tega-teganya memecatku dari jabatan kapten!" Lanjutnya.


"Ya, Papa tahu itu. Kau bermain sendiri di lapangan. Kemudian, teman-temanmu marah dan akhirnya diam-diam mengajukan pemilihan kapten basket ulang. Dan akhirnya, pelatih menggantikan posisimu dengan orang lain. Itu yang membuatmu marah, bukan?" tanya Ayahnya. 


"Aku benar-benar membenci mereka, Pah! Mereka itu sama sekali tidak menghargaiku!" Lanjut Fauzi Rizal lagi.


"Ya. Kau membenci teman-teman lamamu. Tapi, Ilham tidak termasuk dari mereka, Zi. Jadi, kau benar-benar tak punya alasan untuk mencelakai dia. Tak seharusnya kau melakukan itu!" kata Ayahnya kembali. "Memangnya kesalahan apa yang telah Ilham perbuat kepadamu?" Tanya Ayahnya.


"Dia memang tidak termasuk! Tapi aku akan selalu benci siapapun yang berpihak pada tim basket lamaku itu! Apalagi bocah seperti Ilham!" kata Fauzi Rizal. "Dia itu tak pantas jadi kapten. Kemampuannya bahkan jauh lebih rendah dari pada aku. Apa yang bisa mereka harapkan dari seorang junior untuk tim inti basket mereka?" Lanjut Fauzi Rizal.


"Kenapa Papah membela mereka sih?!" seru Fauzi Rizal nyaring. Mamahnya sampai berdiri dan memegang kedua pundak anaknya agar emosinya tidak meledak. Fauzi Rizal tampak benar-benar kesal dan belum menyadari kesalahannya.


"Fauzi. Lupakanlah apa yang telah mereka perbuat kepadamu. Namun, ambil pelajaran dari sana. Lihatlah ke dalam dirimu sendiri, periksa hidupmu. Apa yang telah kau lakukan hingga mereka bisa berbuat seperti itu? Mengapa orang lain tak pernah bisa menghargaimu? Jika kau melakukan itu, kau akan mengerti mengapa Papah tak senang kau yang memenangkan pertandingan hari ini." kata Ayahnya tegas. Kemudian, ia masuk ke dalam, meninggalkan Fauzi Rizal bersama Mamahnya. 


***


"Bagus!" teriak Pak Ridwan ketika Ilham berhasil melakukan lay-up kiri dengan baik saat ekskul basket. Ia mengacungkan jempol kepadanya. "Oke, giliranmu Made!"


Made maju dari pinggir lapangan, sementara Ilham kembali ke barisan. Ya, sekarang mereka sedang bergantian melakukan lay-up untuk melatih teknik kaki agar mereka semua tambah mahir. Bukan hanya tim inti saja, teman-teman mereka di ekskul basket putra juga ikut serta dalam latihan tersebut. Dan dari sekian banyak anak basket yang sudah maju, hampir semuanya sudah tahu bagaimana caranya melakukan lay-up. Bagaimana kakinya, tangannya dan lain-lain. Hanya saja mereka masih perlu banyak latihan untuk benar-benar mahir dalam teknik tersebut.


Latihan itu berlangsung selama setengah jam. Setelah berlatih berkali-kali, Pak Ridwan langsung mengumpulkan mereka di tengah lapangan untuk latihan menembak. Masing-masing dari mereka harus bisa melakukan tembakan dua angka sampai tiga angka. Dan kesempatan mereka hanya lima kali. Dua kali untuk jarak dekat, tiga kali untuk jarak jauh. Sementara satu orang sedang latihan, yang lainnya duduk di pinggir lapangan menyemangati sambil menunggu giliran.


"Silahkan, Jhon." kata Pak Ridwan mempersilahkan Jhon mulai.


Jhon mengangguk. Ia segera mendribel bola yang sudah ada di tangannya kemudian melempar bola menuju ring. Dengan lima kali kesempatan, ia bisa memasukkan dua kali jarak dekat dan satu kali jarak jauh. Setelah itu, ada Ilham yang dapat memasukkan empat kali berturut-turut. Sayang tembakan terakhir hanya mengenai bibir ring. Kemudian, Nugroho, Toni, Sam anak-anak yang lain, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul setengah empat.


"Baiklah! Sebelum latihan hari ini ditutup, Bapak ingin mengumumkan sesuatu yang menarik untuk kalian semua." kata Pak Ridwan sambil tersenyum. "Kalian pasti bingung bukan, mengapa latihan hari ini berbeda dari biasanya? Bapak sengaja tidak memberitahu dulu, supaya kalian bersemangat latihan." Lanjut Pak Ridwan.

__ADS_1


"Memangnya ada apa, Pak?" tanya Toni penasaran.


Pak Ridwan tersenyum mendengar pertanyaan Toni. Ia melihat satu per satu anak-anak basket yang juga memasang wajah penasaran. Ia menghela nafasnya sejenak, kemudian langsung berkata, "Jadi, sebenarnya Bapak ingin melihat kemampuan kalian masing-masing. Dari kalian semua, Bapak akan memilih tiga puluh orang anak untuk ikut serta dalam turnamen beberapa bulan ke depan. Turnamen Basket antar Sekolah Menengah Atas dan Sederajatnya Se-Lampung!" Jelasnya.


"Huaa!" seru semua anak basket. Wajah lelah mereka seketika berubah cerah.


"Benarkah?!" kata Nugroho dengan wajah gembira. "Wah, turnamen besar seperti itu kan biasanya dipantau pelatih nasional!" Lanjutnya.


"Astaga! Keren sekali!" kata anak yang lain.


"Tenang, tenang! Tenang semua!" kata Pak Ridwan sambil tertawa melihat rasa antusias anak-anaknya. "Perhatian, ini berkat kerja keras kalian semua, kalian membuktikan kepada kami semua dewan guru dengan menjaga nilai kalian tidak turun walau pun sibuk dengan basket dan kegiatan lainnya, Ilham pun sudah membuat perencanaan yang baik untuk OSIS dan usaha-usaha kawan-kawan cewe' yang benar-benar di luar dugaan. Kalian juga sepertinya wajib berterima kasih kepada Rosa, Rina dan Vina yang bisa meyakinkan Bapak Kepala Sekolah sehingga beliau mengizinkan kita untuk ikut Turnamen Basket antar Sekolah Menengah Atas dan Sederajatnya Se-Lampung. Dan ingat! kalau kalian ingin menjadi salah satu dari tiga puluh anak itu, kalian harus berlatih keras untuk Senin depan. Karena Senin depan, Bapak akan mengadakan pertandingan saat ekskul. Dan dari sana Bapak akan memilih tiga puluh anak tersebut. Mengerti?" Jelas Pak Ridwan.


"Mengerti, Pak!" seru semua anak basket ceria.


'Oke, kalian boleh pulang sekarang! Semua bubar! Teriak Pak Ridwan lagi.


Semua anak-anak basket langsung bubar dan segera membereskan barang-barang mereka. Kali ini sama sekali tak ada yang mengeluh lelah. Bahkan Nugroho juga masih sangat semangat. Kabar yang dibawa oleh Pak Ridwan benar-benar memberikan sebongkah energi ke dalam tubuh mereka. Bukan hanya tim basket putra saja, tim basket putri juga ternyata dilatih untuk ikut dalam turnamen itu. Ilham dan teman-temannya terus menebarkan senyuman sampai mereka berpisah. Bahkan Rosa, Rina dan Vina yang menjemput Ilham dan kawan-kawan di lapangan juga ikut tersenyum dengan keberhasilan mereka untuk mendapatkan izin ikut Turnamen Basket tersebut.


***


"Turnamen Basket antar Sekolah Menengah Atas dan Sederajatnya Se-Lampung." kata Made sambil menatap langit-langit.


"Ya. Akhirnya kita berhasil meyakinkan semua orang untuk bisa mengikuti Turnamen Besar itu. Sangat menyenangkan, bukan?" kata Ilham.


"Tentu saja. Turnamen itu berbeda daripada pertandingan dengan sekolah Fauzi Rizal kemarin. Satu Lampung akan bertanding. Dan kita harus berusaha mengalahkan mereka semua." kata Made. Ia menghela nafas lagi dan menoleh ke arah sahabatnya itu. "Petualangan kita akan dimulai lagi, Ham."


Ilham menatap balik. Ia ikut tersenyum. "Ya. Petualangan yang akan sangat seru, tentunya yang menguras banyak energi dan konsentrasi!" Jelas Ilham.


"Mungkin saja harapan Toni untuk bisa sampai ke Tingkat Nasional bisa terkabul." Ucap Made.


"Semoga saja. Kalau bisa, gue juga ingin bersama-sama kalian semua hingga ke tingkat nasional. Bahkan sampai ke luar negeri juga." kata Ilham lagi. 


"Apa maksud elo kalau bisa? Kita pasti bisa. Bukankah kita selalu bersama? Asal kita tetap satu tim, kita bisa melakukan apa pun. Semuanya pasti akan baik-baik saja, Ham." kata Made.


Ilham tertawa kecil. "Ya, kau benar, De."


"Sudahlah, ayo kita tidur. Ini sudah malam. Kita harus apel pagi besok." Ucap Made senang.


"Ayo. Selamat malam, De." Ucap Ilham akhirnya.

__ADS_1


"Ya, selamat malam, Ham." Ilham dan Made membalikkan badan mereka ke arah yang berbeda dan segera memeluk guling. Tak lama kemudian, keduanya langsung terlelap dengan mimpi-mimpi yang indah seharusnya.


__ADS_2