ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 16 : MAIN BOLA BASKET


__ADS_3

Selesai Sholat subuh di mushola, seperti biasa kegiatan Ilham kalau tidak terkena praktek lapangan dinas pagi dia bermain bola basket sendiri. Lapangan bola basket itu sebenarnya tidak bertarap nasional atau pun internasional, cukup kecil dan terletak di sebelah mushola, depan kantin luar dan sebelah kantin tersebut asrama putri A khusus untuk anak cewe' tentunya, dengan keadaan bangunan Asrama putri A itu berlantai dua.


Sebenarnya Ilham tidak sendirian di sana, ada sahabatnya satu angkatan juga Irfan dan Teguh tapi mereka enggan untuk ikut apa yang di lakukan Ilham, "Dari pada bermain basket sendirian Ham, habis sholat subuh tidur lagi, dingin-dingin tarik selimut joss!" Ucap Irfan saat Ilham mengajaknya. Sedangkan Teguh jangan di tanya untuk kedua kalinya, dia sudah meringkuk di ruang tengah mushola dangan beralaskan hambal dan sarung sebagai selimutnya sudah mulai teratur tarikan nafasnya menuju ke alam mimpi.


"Serius Fan, elo nggak mau nemenin gue buat cari keringet nih!?" Tanya Ilham.


"Males banget gue Ham, elo aja main sendiri sana!" Ucap Irfan.


"Okey... Heeee, elo mau ngapain Fan!" Tanya Ilham melihat Irfan berjalan ke arah bak mushola.


"Mau isi air dulu takutnya pas balik ke asrama kaga kebagian lagi, ntar kalau gue ketiduran gimana!" Jawab Irfan.


"Alaaaa... Tumbennya mikirin mandi, biasanya elo kaga pernah mandi pagi aja... dah mulai belagu lu!" Ejek Ilham.


"Aahhahahah...! Di buat asyik-asyik aja kale Ham!" Irfan tertawa lepas.


Irfan merupakan sahabat gue yang lumayan akrab dan sering bersama, kelebihannya kalau soal makan, mau di kasih makanan apa aja bisa habis di santapnya dan terkadang gue heran ma Irfan soal perutnya itu, apa iya nggak kenyang-kenyang? ada aja yang di makannya.


Akhirnya gue asyik sendiri bermain basket di lapangan sebelah depan kanan mushola, suara pantulan antara bola dan bumi seakan terlihat akrab dengan suara yang khas di telinga membuat setidaknya ada sedikit suara di subuh menjelang pagi hari itu.


Banyak anak-anak siswa baru khususnya cewe' yang sudah selesai sholat subuh di asrama turut menyaksikan pertandingan basket terhadap diri sendiri itu. Dari asrama putri bagian atas sudah pada bangun dari pertapaannya semalam dengan mimpi indah atau sebaliknya.


Terlihat jelas selintas dari kejauhan, mereka membuka gorden jendelanya masing-masing dan beberapa pasang makhluk manis binti cantik ada pula yang asyik memperhatikan gue dengan seksama "Mungkin dalam batin mereka bilang ada juga makhluk yang kurang-kurang kerjaan, main basket sendirian! kali ya!"


Gue yakinkan! kalau soal seperti tanggapan begituan kurang gue perhatiin dan gue nggak peduli karena hidup di asrama yang penting, gue nggak ganggu orang lain dan gue nggak peduli orang-orang bilang begini lah, begitu lah... yang terpenting gue masih berjalan dan melakukan apa pun yang masih teranggap dan di anggap benar, udah cukup itu aja. Gue nggak bisa buat nyenengin semua orang di asrama, dan gue juga nggak peduli dengan hal itu. Yang membenci mau baiknya gue seperti apa pun tetap aja benci dan sebaliknya.


Setelah agak lama akhirnya permainan basket dengan diri sendiri pun usai menghasilkan peluh yang lumayan banyak, gue istirahat sebentar duduk manis di pinggir lapangan bawah ring basket sembari menghilangkan keringat yang membanjiri seluruh tubuh dan setelahnya gue berdiri dan akan balik ke asrama untuk mandi, lalu melakukan kegiatan rutin apel pagi. Karena walau pun hari ini libur dari praktek lapangan tidak dapat jadwal dinas tetap harus ikut apel pagi mau pun malam.

__ADS_1


Belum sampai perjalanan di asrama, masih berada di antara kantin dan asrama putri A dari atas terdengar candaan yang sengaja atau tidak terdengar jelas di telinga.


"Cowo' ganteng, godain kita dong!" Begitulah kata-kata yang gue dengar saat itu sambil di akhiri dengan ketawa bareng cewe'-cewe' yang cukup membuat gaduh suasana pagi itu.


Gue tahu dari mana asal suaranya dan kamar asal suara itu merupakan kamar adik-adik kelas cewe' tapi ya sudah lah, gue nggak menggubris hal tersebut, karena gue paham benar itu buah dari sebuah keisengan yang di lakukan tentu dengan sengaja, dan gue tetap berjalan sesuai dengan niat awal mula mandi dan mengikuti apel pagi dari pada mengurusi hal yang nggak penting menurut gue.


***


Siang hari sebelum waktu makan siang tiba, seorang adik kelas cowo' menemui gue di kelas saat masih sibuk mengerjakan tugas dari salah seorang guru keperawatan masyarakat yang harus di kerjakan segera tapi gurunya kabur entah di mana dan ke mana...!!!


"Kak Ilham ya?" Tanya adik kelas cowo' itu.


"Ya benar! Siapa ya?" Balas Ilham.


"Saya Sugihartono kak, saya di suruh kak Irfan untuk mengabari kalau kak Ilham di tunggu di ruang makan sekarang!" Jelas Sugihartono lagi.


"Hmmm... Sepertinya tidak ada kak, pesannya cuma itu saja!" Jelas Sugihartono.


"Ada apa di ruang makan?" Tanya Ilham.


"Kalau pastinya Sugi nggak tahu kak, tapi tadi saat Sugi di suruh menemui kak Ilham, sempat melihat kak Irfan lagi marah-marah di sana!" Jelas Sugihartono sesuai apa yang dia tahu dan apa yang dia lihat berkisah.


"Ada siapa saja di sana Gi?" Tanya Ilham lagi.


"Kurang jelas kalau itu kak, tapi ada sekitar sepuluhan orang di sana kak!" Jelas Sugihartono. "Sugi izin pamit ya kak Ilham, amanatnya yang di titipkan ke Sugi dah di sampaikan ke kakak semua kok!" Lanjut Sugihartono.


"Okey, lanjut Gi... Terima Kasih ya!" Jawab Ilham.

__ADS_1


"Ada apa Irfan sampai marah-marah di ruang makan? Masalah apa yang buat Irfan melakukan hal itu, tuh anak kalau nggak bener-bener penting kayaknya nggak wajar deh bersikap seperti itu, biasanya buat irfan mendingan dia makan dari pada gituan pake acara ngumpulin adik kelas segala lagi!" Batin Ilham, sembari membereskan tugasnya dan semua perlengkapan sekolah, lalu berjalan menuju ruang makan sesuai keterangan yang di berikan Sugihartono tadi.


Sesampainya di ruang makan, benar apa yang di katakan Sugihartono tadi dengan Ilham, terlihat dari kejahuan saat Ilham masih di koridor asrama antara asrama putri, dapur dan ruang makan terlihat Irfan, Rosa, Nelly dan Eva Damayanti sedang "menyidang" enam orang adik kelas cewe' (Di asrama Sekolah Perawat Kesehatan ini terkenal dengan kata "Sidang" atau "menyidang" untuk kegiatan mengumpulkan adik kelas, teman seangkatan atau pun kakak kelas jika ada perbuatan yang melanggar peraturan di asrama).


"Kalian tahu siapa yang sudah kalian coba godain!" Tanya Rosa bertanya pada ke enam orang adik kelas cewe' itu.


"Iya kak, kami tahu... kak Ilham!" Jawab Lina salah satu dari enam orang adik kelas cewe'.


"Artinya kalian sadar dengan perbuat kalian seperti begitu! Apa itu kalian anggap pantas di lakukan?!" Tanya Eva Damayanti keras dengan nada kesal. "Apa karena kalian anggap kak Ilham tidak akan menegur kalian, lalu seenaknya kalian berbuat seperti itu kepadanya?" Lanjut Eva.


"Apa kalian tidak berfikir panjang, walau pun itu kak Ilhamnya atau bukan, sebagai calon petugas kesehatan baik perawat atau bidan nantinya, apa kalian akan banggakan lagi seandainya kelakuan kalian seperti demikian!" Nelly menimpali.


Enam orang adik kelas cewe' tersebut hanya mampu berdiam seribu bahasa, sambil menunduk dengan rasa malu. Mereka paham kelakuan mereka yang awalnya iseng yang di sengaja membuat permasalahan baru, mereka tidak berpikir panjang hanya beranggapan Ilham pasti tidak akan menegur mereka namun bukan Ilham yang menjadikan mereka bermasalah akan tetapi sahabat seangkatan Ilham yang akan meluruskan apa pun tindakan yang teranggap salah, ini asrama bukan sekolah umum biasa, hal itu yang seharusnya mereka selalu ingat.


Dengan mendengar walau dari kejauhan akan permasalahan yang ada, Ilham masuk ke ruang makan dengan pura-pura tidak paham persoalannya pada mereka berenam orang adik kelas cewe' itu.


"Ada apaan ini?" Tanya Ilham santai. Dan Rosa dengan singkat, padat serta jelas memberikan informasi tentang permasalahan yang ada. "Jadi enam orang ini ya?" Tanya Ilham.


"Kakak nggak mau panjang lebar bicara di sini, yang pasti kalian berenam sudah mengganggu aktivitas kak Irfannya, kak Rosa, kak Nelly dan kak Eva jadi kakak mau setelah ini kalian minta ma'af kepada mereka semua, lalu kakak juga minta bukan sebagai hukuman ya, tetapi anggap ini sebuah keikhlasan, setelah ini sampai tiga hari ke depan ada tugas tambahan buat kalian berenam yaitu membersihkan mushola plus lingkungannya, gimana cukup berat atau masih kurang dan perlu di tambah lagi?" Ucap Ilham dan bertanya.


"Iya kak cukup! InsyaAllah akan kami jalani kak!" Ucap Lina salah satu dari enam adik kelas memberikan jawabannya.


Nah begitu lah sedikit gambaran dari asrama dan angkatan, kita terkadang anggap sesuatu itu biasa saja, tingkah laku seseorang kepada kita masih dalam batas-batas kewajaran.


Akan tetapi kita hidup di asrama bukan hanya satu jiwa yang harus diperhatikan, apa yang kita anggap "Ya sudah lah! Ya udah biarkan saja!" Mungkin bagi yang lain tidak seperti itu, sudah di luar batas kewajaranlah, tidak ada sopan santun lah, tidak ada etika sebagai calon perawat lah, dan masih banyak yang lainnya.


Jadi intinya hati-hati dalam mengeluarkan sebuah ekspresi diri di asrama, salah tempat, salah kondisi, salah orang bisa panjang urusannya.

__ADS_1


__ADS_2