
Aku mencoba membuka kedua mataku, rasanya sangat berat. Mungkin itu efek kurang tidur gara-gara semalam aku harus menyelesaikan laporan Asuhan Keperawatan yang sangat banyak. Walau terasa enggan, kupaksa tubuh berat ini untuk bangkit dari posisi tidur. Perlahan namun pasti kesadaranku mulai kembali dan kedua mataku menyipit melihat jam di dinding kamar.
"Hah?! Jam tujuh kurang lima belas menit?!!"
Rasa kantuk seketika itu langsung menghilang, aku masuk kelas pukul tujuh tepat sedangkan menyentuh handuk pun belum. Aku langsung turun dari tempat tidur tingkat dua dengan sangat terburu-buru nyaris terpeleset gara-gara syaraf motorik ku belum kembali tersadar sepenuhnya.
Aku menutupi kepalaku dengan handuk besar berwarna coklat tua, lalu berlari ke kamar mandi. Di lorong asrama hanya terdapat dua kamar mandi dan kamar mandi terdekat dengan asrama putra memiliki delapan bilik, dua di antaranya merupakan WC.
Ketika aku sampai di depan kamar mandi, bau tidak sedap langsung menyebar disana, perpaduan bau air limbah di selokan bercampur wewangian sabun dan sampo. Aku bergidik ketika melewati rambut-rambut yang rontok di sekitar bilik-bilik tersebut, namun ketika sampai di depan WC, tenggorokanku tercekat menahan jeritan.
Di lubang kloset ada yang mengambang dan mengeluarkan bau yang tidak sedap yang khas terasa menusuk hidung. Kehilangan selera mandi, aku langsung melarikan diri ke salah satu bilik yang paling bersih dan hanya cuci muka saja.
Aku kembali ke kamar tanpa sebelumnya mengganti pakaian tidur, aku langsung melapisinya dengan jaket hitam bergaris kuning terang dan memakai celana panjang hitam. Setelah memasukkan slide kuliah beserta laptop ke dalam tas, aku langsung berangkat menuju ruang kelas yang rencananya akan diadakan presentasi Asuhan Keperawatan hasil dari praktek kerja lapangan selama satu semester penuh yang di buat menjadi satu bahan dalam powerpoint dan akan diajukan serta dikumpulkan.
Matahari bersinar terik dan panasnya terasa seperti menusuk kulit terutama jika tidak terbiasa dengan iklim panas seperti di Lampung ini, khususnya Kotabumi, Lampung Utara. Aku berlari menerjang kerumunan anak-anak asrama putri yang sedang berjalan bergerombol-gerombol di depan pintu kelas yang kalau semua anak-anak asrama putri itu masuk sekaligus di pastikan pintunya tidak akan muat. Di kanan dan kiri trotoar asrama penuh dengan anak-anak yang sedang berbincang-bincang tentang pelajaran yang akan di mulai dan ada lagi mulutnya komat kamit tidak jelas seperti sedang membacakan mantra-mantra khusus untuk di hafalkan guna penyajian materi masing-masing disamakan dengan ruang dan tempat praktek sesuai dengan kelompoknya masing-masing menurut kriteria keilmuannya di praktek lapangan yang berbeda-beda.
"Ham, gimana powerpoint penyajian ruangan penyakit dalam, sudah kelar belum?" Tanya Wisnu Sukardi kepada ku.
"Udah tapi belum gue cek! Coba entar elo orang cek dulu sebentar sebelum di kumpulkan ya!" Jelas Ilham.
"Boleh, powerpoint nya masih di leptop apa sudah elo masukin di plasdisk Ham?!" Tanya Roni Sunarto.
"Masih di leptop belum sempat gue pindahin, ntar kalau kelompok kita yang kebagian presentasi pake aja leptop gue ngak pa-pa! Tugas elo orang cek materi ya sekarang kalau kira-kira dianggap kurang lengkap, elo orang tambahkan aja!. Gue pamit sebentar ke kantin, mau isi nih perut dari tadi rasanya cacingnya pada ngamuk karena gue belum sempat sarapan!" Jelas Ilham.
Aku langsung menuju ke kantin depan sebelah kanan ruang kantor yang jaraknya lumayan jauh pas di sebelah mushola. Dan sampainya di kantin aku melewati bau harum dari donat dan risol yang sangat menggugah selera makan pagi ini. Perutku tiba-tiba sakit mungkin ini yang disebut "Efek lapar yang tiba-tiba menyerang di karenakan melihat jajanan pagi yang hangat dan menggoda selera untuk segera menyantapnya". Namun, demi kuliah jam tujuh, aku tahan rasa lapar tersebut dan hanya memakan satu buah risol dan satu buah donat hanya sebagai untuk mengganjal perut buat sementara saja.
__ADS_1
Setelah melawan serangan terik sinar matahari pagi dan makanan-makanan ringan yang sangat-sangat menggugah selera, akhirnya aku tiba di ruang kelas. Bangunan megah yang baru beroperasi waktu angkatan ke tiga karena angkatan satu dan dua sementara dahulu masih menumpang di sekolah dasar dan baru setelah sampai angkatan ke tiga masuk, bangunan Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi sudah menempati tempatnya atau bangunannya sendiri. Ruang Kelas di sini berwarna hitam dan putih berbentuk persegi panjang memiliki ruang depan dan ruang belakang yang sangat mirip dengan atap menjulang tinggi berbentuk limas dengan bersegi lima dan ada taman kecil di tengah ruang kelas tersebut untuk melepas penat atau rasa bosan jika lelah pikiran serta mungkin juga terbawa perasaan dengan segala macam Asuhan Keperawatan segala state yang sangat banyak menumpuk.
Ketika aku sampai di kelas pintu sudah tertutup, lalu aku mendorong pintu perlahan, mengintip ke dalam untuk memastikan apakah guru bidang study sudah datang atau belum. Meja guru bidang study terlihat masih belum terisi, hanya ada siswa-siswi yang akan segera presentasi materi di kelas yang sedang mencoba latihan berbicara di mic.
Aku segera masuk ke kedalam ruang kelas, disambut oleh hembusan AC yang tidak seberapa dingin hanya bunyinya saja yang kuat dengan getarannya tapi hembusan anginnya nyaris tak terasa. Karena itulah ruang kelas terasa pengap dengan populasi 80 anak yang duduk berhimpitan, berdesakan dengan kursi digeser-geser agar lebih dekat dengan AC dan saling berebut oksigen, aku tidak heran lagi kalau AC di ruangan ini semakin menyerah kalah, pasrah tidak berdaya dalam keadaannya.
Aku duduk di bangku yang sudah di sisakan dan di sediakan oleh teman-temanku. Paling depan dengan menghadap papan tulis secara langsung. Sebenarnya tidak masalah duduk di paling depan kecuali kalau ada mengidap penyakit 'Tidur ketika guru bidang study mulai menjelaskan materi' ini baru masalah yang cukup bermasalah buat yang cari masalah sepertinya tidak usah mencoba mencari-cari masalah di karenakan tanpa di cari pun masalah tersebut akan datang dengan sendirinya.
Ku lihat kelompok sudah mengeluarkan slide powerpoint untuk tugas kelompok masing-masing, sambil mendengarkan moderator memberikan pengumuman di depan kelas. Tidak lama kemudian sang guru bidang study datang dan mulai menjelaskan materi kuliah dahulu sebelum berlanjut dengan tugas kelompok masing-masing.
LCD disambung ke laptop, layar diturunkan, slide powerpoint "Cara Membuat Asuhan Keperawatan Yang Baik Dan Benar" pun terpampang dengan jelas sekali di depan kelas. Beliau mengambil mic dan mulai memutar slide saru demi satu sambil menerangkan materi pembelajaran untuk hari ini. Para siswa dan siswi yang menyandang gelar 'tukang tidur' langsung terlelap di meja masing-masing alasannya simpel materinya laksana dongeng pengantar tidur jadi seakan-akan kita seperti di nina bobo kan dan membuat mata semakin nikmat buat di pejamkan. Beberapa masih ada juga yang bertahan walau pun dan meski pu dengan kelopak mata naik lalu turun tidak teratur berkesan kejar-kejaran.
Siswa maupun siswi yang rajin belajar agar pandai dengan mempunyai sifat dan sikap nan idealis mencatat rapi setiap penjelasan yang di terangkan oleh guru bidang study itu akan tetapi buat siswa dan siswi yang cuek bebek asyik mengobrol dengan serius melebihi keseriusan dalam mendengarkan kajian dari guru bidang study di pojok dan bagian belakang kelas. Kalau aku sejenis manusia yang bertarung melawan rasa kantuk dan tidak mencatat sama sekali, karena prinsipnya sebagian siswa mau pun siswi yang suka ngantuk di kelas, yang penting fotocopy catatan temen, simpel dan sempurna sekali akal pikiran mereka.
Ketika aku biasanya mengeluhkan betapa lamanya jam belajar satu pelajaran ternyata di hari ini jauh lebih lama. 105 menit terasa 10 tahun 5 bulan dan jarum jam yang panjang terlihat sekali bergerak lebih lambat dari sebelumnya. Kelopak mataku yang awalnya sekuat tenaga agar tetap dalam keadaan melotot sempurna, mulai meredup lalu menutup, seiring dengan suara guru bidang study menjelaskan pelajarannya seakan-akan perlahan tapi pasti menghilang dari pendengaran.
Selama kurang lebih lima menit dan suara seorang teman menyadarkanku.
"Ham, bangun! Udah selesai pelajarannya!"
Mantra ajaib obat yang super ampuh, karena ketika terbangun, tubuhku terasa sangat segar. Kantuk menghilang dan dengan wajah ceria aku keluar dari kelas.
Lorong kelas dan lobi penuh oleh para siswa dan siswi Perawat Kesehatan yang baru selesai pelajaran pagi. Sebagian ada yang langsung mengambil posisi bersandar di dinding, ada yang membuka laptop untuk bermain game atau ya hanya sekedar buka tutup saja biar terlihat sibuk dengan sendirinya. Ada yang membaca koran, berkumpul sambil mengejarkan tugas kelompok, atau sekedar mengobrol.
Aku berdiri di antara orang-orang yang berlalu lalang di koridor kelas. Keramaian dan suasana di tempat ini membuat kepala seakan memberat dan terasa nyeri lalu kupejamkan kedua mata, semua menjadi gelap. Dan aku segera kembali ke kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
Dihadapanku berjejer angkot-angkot berwarna biru plus mobil bis Sekolah yang berwarna biru pula. Karena setelah jam pelajaran berakhir artinya tibalah waktu untuk siswa dan siswi perawat kesehatan untuk kembali melanjutkan praktek lapangan ke rumah sakit, klinik mandiri atau pun buat yang libur kembali ke kamar untuk menuntaskan waktu tidur di kelas tadi berlanjut di kamar dengan kasur yang tidak empuk tapi cukup lumayan buat meluruskan pinggang.
"Ham elo dinas pagi nggak?" Tanya Wisnu Sukardi kepadaku.
"Nggak Nu, gue libur!" Jawab Ilham santai.
"Enak banget elo, bisa lanjut semedi di kamar dong!" Ucap Wisnu Sukardi lagi.
"Ya kebetulan aja Nu, semua mungkin tergantung amal ibadah masing-masing kan!" Canda Ilham.
"Kaga ada hubungannya kaleee, Ham!" Wisnu Sukardi menjawab sembari bergegas menuju salah satu mobil angkot yang masih terlihat kosong karena kalau hanya antar jemput menggunakan bis sekolah saja tidak akan cukup dengan jumlah yang akan berangkat untuk berbakti kepada nusa dan bangsa.
"Ham, nemenin gue yuk!" Tiba-tiba suara Rosa mengagetkanku.
"Hey... Cha! Elo mau kemana emangnya!" Tanya Ilham.
"Ke pasar terminal, cari buku yuk!" Jelas Rosa.
"Udah izin belum dengan petugas piket sekolah?!" Tanya Ilham lagi.
"Beres, nih udah dapat surat izinnya buat dua orang!" Jelas Rosa.
"Okey, tapi ntar elo traktir makan ya Cha, laper nih tadi hanya keisi satu risol ma satu donat aja, kayaknya perut gue masih perang tanding antara cacing ma sisa-sisa makanan tadi!" Canda Ilham.
"Beres kalau itu mah Ham, jangan khawatir!" Lanjut Rosa lagi.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Ilham dan Rosa sepasang mata melihat mereka berdua berjalan keluar asrama sekolah dengan canda dan tawa dari balik dinding Mushola yang tepat posisinya untuk melihat keluar jalan dari asrama ke tempat yang menjadi tujuan mereka.