
Tujuh kurang satu menit...!!!
Berarti ia hanya punya waktu sisa satu menit untuk melintasi separuh asrama dan menyerbu ke dalam ruangan laboratorium. Soalnya, praktikum Farmakologi tidak pernah terlambat semenit pun!
"Nah, ini satu lagi terlambat!" sorak Robby kegirangan. Dia sedang bertengger dengan manis di depan pintu Kantin sambil melahap sepotong pisang goreng.
"Ayo Ham, tancap gas!" goda Kiki. Anak-anak sudah masuk sejak tadi!" Lanjutnya.
"Sialan, kesiangan bangun!" gerutu Ilham tanpa mengurangi kecepatan larinya. Di lemparkannya tasnya begitu saja ke perut Kiki. "Titip tas, Ki...!"
"Wah, seenak perutnya sendiri! Nggak mau, ah!" Terlambat. Tubuh Ilham telah lenyap di balik dinding ruangan praktek Anatomi dan Fisiologi lalu ruangan praktek kedaruratan non medis terus menuju ke laboratorium Farmakologi.
Tujuh lewat setengah menit...!
Dan teman-temannya telah mengeluarkan kertas. Celaka.
Kuis lagi...!!! Kuis lagi...!!! Kuis lagi...!!!
Tergesa-gesa Ilham memasuki Laboratorium sambil mengenakan lab-jasnya.
"Kenapa terlambat?" tegur Asisten Farmakologi di depan pintu.
"Ke WC, As. Sakit perut." Biasa. Siswa, apalagi yang macam Ilham, memang sudah terlatih berbohong.
"Masuk lekas." Ucap Asisten Farmakologi itu lagi.
Fiu, selamat...!!!
Bergegas Ilham mencari bangku kosong. Dan sudut matanya menangkap isyarat Made. Bagus...! Bangku di sebelahnya Made masih kosong. Barang kali khusus disediakan untuk Ilham. Tapi celaka! Salah seorang dari dosen-dosennya, minta ampun, yang paling galak lagi, sedang menuju ke mari!
"Duduk di sini, Ilham...!" katanya sambil melambaikan tangannya, menunjuk ke deretan bangku yang berada paling depan!
"Keganasan Kiamat Lokal," dengus Ilham hampir tak terdengar. Di seretnya kakinya melewati bangku teman-temannya. Benar-benar Kurang ajar dengan sengaja mereka semua sedang menutup mulut menahan tawa. Belum juga Ilham sempat duduk, asisten Farmakologi itu sudah mulai membacakan soal.
"Wah, tunggu dulu, As! Belum punya kertas!" Tanpa permisi lagi, Ilham menyambar kertas Ika, dan menyobeknya menjadi dua. Yang selembar dikembalikannya kepada pemiliknya yang sedang mendelik gusar. Yang selembar lagi lekas-lekas diberinya nama dan nomor.
"Nomor satu: Sebutkan gejala-gejala Intoksikasi Akut Farmakologi Obat."
Kosong.
"Nomor dua: Uraikan terapinya."
__ADS_1
Kosong lagi.
"Nomor tiga...."
Kosong lagi.
"Nomor empat...."
Kosong lagi.
"Nomor lima...."
Kosong semua.
Ilham melirik ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Knock out. Dosennya tidak mau pergi juga dari sana. Matanya beberapa kali bertemu dengan mata Ilham yang sedang repot berkeliaran mencari mangsa. Apa boleh buat, Isi saja sembarangan dari pada kosong. Salah? Salah tak boleh ikut praktikum hari ini.
"Ya, sekarang kumpulkan semua kertas ujian masing-masing di depan kelas. Dan kembali ke meja masing-masing." Tamat, keluh Ilham dalam hati.
Dengan lemas ia berjalan ke meja praktikumnya. Nih semua gara-gara Ririn yang Galau kemarin, masa bikin pesta ulang tahun di asrama sampai pukul dua belas malam. Masih untung Ilham tidak sampai ketiduran di ruang makan asrama putri C.
"Siapa yang jadi orang percobaan buat kali ini?" tanya Ilham sambil menguap lebar.
"Perduli amat" sembur Ilham uring-uringan. "Ayo, siapa orang percobaan kita hari ini?" Ucap Ilham kembali.
"Minggu lalu aku sudah!" sahut Ranti cepat-cepat.
"Aku juga sudah!"
"Aku juga!"
Nah, ini ni... biasa. Kalau giliran menjadi orang percobaan praktek mereka pasti ribut. Semua mengaku sudah semua.
"Bagaimana kalau Martina saja?" usul Made lunak.
Ini dia...!!! Semangat Ilham tiba-tiba terbangun kembali. Martina. Mengapa tidak? Martina siswi cantik, lembut dan pendiam. Senyumnya mengingatkan Ilham pada bintang Kartika Candrawati.
Tanpa membantah lagi, Martina akhirnya naik ke atas meja percobaan. Berbareng Ilham dan Made melepaskan lab-jas mereka dan menyerahkannya kepada Martina. Seolah-olah tidak melihat uluran lab-jas Made, Martina berpaling pada Ilham dan menerima lab-jasnya.
Ditebarkannya lab-jas itu ke atas pahanya. Menutupi kutub selatan dan kutub utara tubuhnya dari incaran nakal mata jelalatan siswa-siswa lain. Lekas-lekas Ilham mencari posisi, tempat yang paling strategis di ujung meja. Dari sana Ilham dapat berpura-pura menulis sambil menikmati betis Martina yang tak tertutup.
Aaah, seandainya lab-jas itu lebih pendek sedikit, sedikit lagi saja Wow!" Batin Ilham dalam hati tentunya.
__ADS_1
"Coba De, hitung lagi nadinya," kata Debby yang sedang repot sibuk mencatat. "Sudah setengah jam sejak dia makan obat tadi." Lanjutnya.
"Biar aku yang ukur," sambar Ilham segera. "Kau catat saja, De. Kau harus membuat laporan kan? Nah, catat saja yang rapi dan benar ya!" Ucap Ilham memberi komando.
Made tak sempat lagi mengutuk, Ilham telah mendorongnya agar segera pergi melaksanakan tugasnya. Ilham tersenyum lembut ke arah Martina dan langsung meletakkan ketiga jari tengah ke atas nadi di pergelangan tangan kiri gadis itu.
Martina lekas-lekas segera menunduk. Mata yang jenaka itu, yang selalu tersenyum, aaah, tak tahan ia menatapnya. Rasanya mata itu mampu membaca seluruh pikirannya, semudah sebuah buku yang terbuka dan halaman demi halamannya bisa terbaca dengan begitu saja.
Dan senyumnya! Oooo, senyum tak berdosa, senyum kebocahan di balik sederet gigi yang putih rata, tak mampu membantu Martina menenangkan debaran jantungnya.
"Seratus dua belas," kata Ilham tenang-tenang, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
"Hah?!" berbareng Made dan Debby melompat dari bangkunya. "Kenapa begitu cepat sekali, Ham?" Ucap serempak keluar dari mulut mereka berdua.
Ilham mengangkat bahu. "Kenapa tanya padaku? Tanya asisten, ya? Nah, itu dia sedang ke mari!" Balas Ilham.
"Jangan main-main, Ham!" ancam Made berang. "Dia sudah berbaring di sana tiga puluh menit, sudah minum obat lagi! Tak mungkin secepat itu. Coba ukur dalam satu menit, barangkali kau salah hitung!" Lanjut Made.
"Iya, Ham," Jhon menimpali. "Jangan hitung dalam seperempat menit, coba lagi dong. Nanti kami susah bikin laporannya!" Ucap Jhon kemudian.
Jangankan satu menit, sepuluh menit sampai satu jam pun Ilham mau. Apa yang lebih enak dari pada memegangi lengan lembut Martina saat ini? Tetapi soalnya jadi lain kalau asisten sedang berjalan menuju ke mari!
Bahaya!
"Mana lab-jasmu?" tegur asisten Farmakologi itu kepada Made.
Malas-malasan Made memperlihatkan lab-jasnya. "Ini, As." Jawab Made.
"Kenapa tidak dipakai?" Tanya asisten Farmakologi itu.
"Panas, As." Made senyum-senyum jeruk kecut.
"Pakai!" perintah asisten Farmakologi itu dengan tegas. Lalu pandangannya berpindah kepada Martina. "Dia harus diantar pulang nanti." Lanjut asisten Farmakologi itu.
"Biar saya yang akan antar nanti ke asrama, As!" potong Ilham secepat mungkin.
Takut keduluan...!!!
"Lekas bilang kalau terasa ada efek-efek tidak enak dari obat itu," kata Asisten Farmakologi itu lagi sebelum meninggalkan meja mereka.
"Pokoknya dia tidak bakal semaput." Ilham tersenyum setelah dirasanya asisten itu cukup jauh untuk mendengar kata-katanya. Lalu sambil menoleh kepada Martina dan matanya mulai berbicara bersama tebaran pesona tersenyum manis sekali.
__ADS_1