
"Ngapain mau nemuin Made, Ham?" Tanya Rosa di tengah-tengah perjalanannya di koridor Asrama putri A menuju ke ruang kelas pembelajaran malam.
"Mmm, mau ngomongin basket...!" Jawab Ilham singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
"Basket mulu yang elo fikirin. Malem minggu aja masih sempet-sempetnya inget basket. heran deh." Balas Rosa.
"Nggak usah heran Cha, ini hobby gue. dan gue bakalan memperjuangkan White Team basket putra Sekolah Perawat Kesehatan." Balas Ilham.
"Terserah elo lah. tapi gue nggak mau ya, gara-gara tuh basket nilai elo malah turun Ham, gara-gara sering ngambil dispen buat latihan basket atau pun osis." Jelas Rosa lagi.
"Iya sayang. Tenang aja. Nilai gue bakalan lebih bagus setelah White Team Basket gue di perbolehin buat tanding antar kota. Justru sebaliknya, nilai gue bakalan menurun kalo White Team Basket gue nggak jadi tanding di pertandingan basket antar kota nanti." Jelas Ilham.
"Iya. Untuk sementara gue percaya, tetapi itu semua harus disertai bukti nantinya Ham!." Balas Rosa kemudian.
***
KRING!!!!
Suara bunyi bel masuk sekolah yang lantang itu seketika mampu membuat semua murid-murid Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi yang masih berada di luar segera masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Termasuk Nugroho, teman sekelas dan sebangku Toni. Ia langsung buru-buru menghampiri kursinya dan mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan karena lelah berlari.
Toni tersenyum kecil melihat sahabatnya yang terlihat begitu lelah. Pelipisnya berkeringat akibat berlari ke kelas. Entah darimana dia, pada hal tadi dia hanya bilang ingin ke kantin. Tapi, apa pun alasannya, Toni ingin memberinya sedikit keringanan. Ia mengambil satu botol minumnya dari dalam tas dan memberikannya kepada Nugroho.
Tanpa ragu-ragu, Nugroho langsung mengambil botol tersebut dan meneguk air di dalamnya hingga tersisa setengah botol.
"Terima kasih," kata Nugroho setelah ia selesai minum. Ia menepuk pundak Toni pelan sebagai balasannya. "Elo tidak tahu betapa lelahnya gue, Ton. Tadi setelah sarapan di kantin, gue pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Sialnya gue tidak bisa menemukan buku yang ingin kupinjam hingga bel berbunyi. Jarak dari perpustakaan ke kelas kita sungguh jauh!" Jelas Nugroho.
"Memangnya buku apa yang elo cari?" tanya Toni.
"Buku ensiklopedia Kesehatan. Aku senang membaca fakta-fakta unik di dunia Kesehatan untuk sekedar hiburan," kata Nugroho. "Tapi, omong-omong, apa pelajaran pertama kita hari ini?" Tanya Nugroho melanjutkan.
"Anatomi dan Fisiologi Manusia...!" Ucap Toni.
"Astaga, pagi-pagi buta seperti ini sudah harus bergaul dengan bagian-bagian tubuh manusia. Benar-benar menyebalkan. Otak gue bisa meledak!" keluh Nugroho. Ia langsung mengambil buku Anatomi dan Fisiologi Manusianya yang masih di dalam tas. Setelah itu, ia kembali tidur di atas meja sambil menunggu guru datang.
Toni hanya tertawa geli mendengarnya.
***
__ADS_1
Seorang guru tengah mengajar dengan semangat di kelas dua. Tanpa memperdulikan murid-muridnya yang sudah mengantuk karena bosan mendengar penjelasan tentang letak-letak syaraf di bagian tubuh manusia ini, ia terus berbicara. Walaupun tak ada murid yang niat menjawab setiap kali ia bertanya, amarahnya sama sekali tidak terpancing.
Tepat di tengah kelas tersebut, duduk seorang cewe' yang sedang sibuk mendengarkan. Mungkin hanya dialah satu-satunya yang sangat berniat untuk mencatat seluruh materi yang dijelaskan oleh gurunya itu. Lihat saja teman sebangkunya, wajahnya sudah jelas menunjukkan bahwa dia sudah setengah sadar mendengarkan guru yang mengajar di depan itu.
Cewe' itu menoleh ke arah teman sebangkunya setelah ia selesai mencatat. Dengan wajah protes ia berbisik, "Ka, setidaknya kau mencatat agar kau tidak mengantuk mendengarkannya." Ucap Rosa.
Ika, hanya mengangguk-angguk tidak jelas mendengarkan ucapannya. Ia mengucek-ngucek kedua matanya dan berusaha membukanya selebar mungkin. Tapi, semuanya sia-sia saja. Ia tetap saja mengantuk.
"Elo sudah sipit, tak perlu berusaha melebarkan mata." bisik Rosa lagi.
"Menyebalkan elo, Cha. Tapi serius, guru Pelajaran Syaraf kita sekarang itu benar-benar berbakat mendongeng. Gue terlalu mengantuk untuk menulis," balas Ika pelan. "Kalau gue harus diajarkan dia sampai semester depan, kurasa gue akan tidur siang berlebihan." Ucap Ika becanda.
"Ah, elo saja yang suka tidur larut malam, makanya elo mengantuk berlebihan di saat jam pelajaran," kata Rosa. "Lain kali tidurlah lebih awal supaya tidak seperti ini lagi." Lanjut Rosa.
"Ya, terserah elo," kata Ika malas meladeni temannya itu. Ia menidurkan kepalanya di meja. "Bagaimana kabar masalah kegiatan basket Ilham itu? Apa elo sudah membicarakannya dengan orang Vina tentang keinginan mereka untuk meminta bantuannya?" Tanya Ika mengingatkan.
"Vina akan membantu kita membicarakan semuanya kepada Ayah, Bapak Kepala Sekolah." kata Rosa. Ya, Ika memang sudah tahu permasalahan Rosa yang akan membantu Ilham untuk membantunya dengan dewan guru tentang pertandingan basket yang tidak disetujui oleh mereka.
"Elo tak punya pilihan lain. Itu yang membuat siasat elo menjadukan Vina sebuah jalan keluar buat team basket Ilham menjadi benar," kata Ika. "Lagi pula, Ayahnya Vina yang menjadi penentu keputusan terakhir untuk mereka. Apakah team basket bisa ikut pertandingan atau gagal sebelum pertandingankan!" Lanjut Ika.
"Bagaimana pun juga kita harus menunggu kabar dari Vina baik atau buruk kita harus menunggu, tahu!" Jelas Rosa.
Rosa menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu. Kemudian, ia memutuskan untuk mengabaikan Ika dan kembali serius mendengar ucapan guru Pelajaran Syaraf yang masih tetap berbicara di depan. Dua tahun ia berteman dengan Ika, sikapnya sama sekali tidak berubah. Tetap saja cuek dan tentu saja tukang tidur. Ia tidak akan menanggung jika tiba-tiba seseorang memergokinya sedang tidur dan… "IKAAAA!!!!"
Rosa langsung menepuk dahinya pelan mendengar suara menggelegar itu. Kali ini Ika sudah tidak selamat. Benar kan dugaannya? Selamat menjalani hukuman, Ika...!
***
Istirahat pertama di sekolah sudah tiba. Pada jam sembilan pagi itu, anak-anak di kelas jelas langsung berhamburan keluar kelas agar dapat memesan makanan sebelum kantin ramai dengan para siswa dari kelas lain. Masalahnya akan panjang jika mereka harus berdesak-desakan di kantin untuk mendapatkan sarapan yang mereka kehendaki hari ini.
Toni dan Nugroho berbeda sendiri. Tak seperti yang lainnya, mereka tetap tenang membereskan buku pelajaran dan barang-barang lain yang berantakan di meja mereka masing-masing. Percuma mereka pergi cepat-cepat, sekarang pun pasti mereka sudah berdesak-desakan berebut meja.
"Elo tahu, Ton, semenjak gue masuk ke sekolah ini, gue tak mengerti mengapa teman-teman sekelas kita begitu kilat pergi ke kantin saat istirahat. Macam orang tak makan lima tahun saja." kata Nugroho sambil mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang.
Toni hanya tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, gue akan membeli makanan ringan di kantin dan menemani elo makan di sini, bagaimana?" Ucap Nugroho.
Toni mengangguk setuju. "Terima kasih, Nug." Ucap Toni.
__ADS_1
"Ya, tak perlu sungkan. Gue tahu, gue sangat benci berdesak-desakan di kantin hanya untuk seporsi makanan. Apalagi meja kantin. Bagi gue itu hanyalah masalah konyol. Lebih baik makan di sini." kata Nugroho. Kemudian, dia langsung pamit kepada Toni untuk keluar kelas.
Sembari menunggu Nugroho, Toni mengambil pensil dan bukunya sambil mencoret-coret buku tersebut. Ia senang sekali menggambar apa yang terlintas di otaknya setiap kali ada waktu luang. Senyuman manis yang menghiasi wajahnya setelah selesai menggambar yang membuat kegiatan itu menjadi menyenangkan.
Sementara itu, Nugroho berjalan menuju kantin sambil bersenandung pelan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Matanya yang melihat ke arah kanan-kiri menangkap beberapa siswa yang sedang berbincang-bincang di tempat nongkrong mereka masing-masing dan ada juga beberapa yang sambil melahap makanan.
"Nug!" teriak seseorang membuat Nugroho menoleh ke arah depan kembali.
"Kak Ilham!" jawab Nugroho tersenyum. Tampak Ilham berjalan menghampirinya bersama keempat teman tim basketnya. "Kakak akan menuju kantin juga, Kak?" Tanya Nugroho.
"Ya. Elo juga, bukan? Oh ya, ini teman-teman dari tim inti basket putra. Elo akan mengenal mereka nanti. Guys, ini Nugroho. Salah satu anggota tim cadangan basket putra. Sekelas dengan Toni." kata Ilham mengenalkan Nugroho kepada teman-temannya. Teman-teman Ilham menganggukkan kepalanya melihat Nugroho.
"Omong-omong, dimana Toni? Elo tak bersamanya?" tanya Ikham melirik kanan-kiri mencari keberadaan adik kelasnya itu.
Nugroho menggeleng. "Toni sedang menunggu makanan di kelas. Gue hanya keluar untuk membeli makanan ringan. Setelah itu, gue kembali untuk menemaninya, Kak!" Jelas Nugroho.
Nugroho, Ilham dan teman-temannya langsung melangkahkan kaki mereka ke kantin bersama. Selama perjalanan, Nugroho berbincang-bincang dengan mereka berlima, terutama teman-teman Ilham itu. Di tengah jalan, mereka juga bertemu dengan Rosa dan Ika yang akhirnya bergabung juga dengan mereka. Sesekali mereka tertawa lepas di sela-sela pembicaraan mereka. Rasanya menyenangkan jika memiliki banyak teman yang memiliki hobi yang sama. Terutama saat mereka semua bisa saling mendukung. Bukan saling bersaing.
"Kerupuk udang empat bungkus, Mas!" seru Nugroho ketika dia sudah sampai di kantin, tepatnya di tempat penjual makanan ringan. Untung saja keadaan kantin sudah lumayan sepi, sehingga dia bisa leluasa memesan makanan.
"Nasi goreng enam porsi, Bu!" kata Made di sebelah penjual makanan ringan. Dia sudah menggabungkan uangnya dengan uang Ilham untuk memesan sekaligus. Made memesan makanannya, sementara Ilham dan teman-teman lainnya menjaga meja untuk mereka.
"Hei, Kak Made, gue ingin ke lapangan sepulang sekolah? Gue butuh latihan dan penjernihan otak. Betapa pusingnya gue menghadapi Pelajaran Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia pagi tadi." kata Nugroho.
Made tertawa. "Boleh saja. Bagaimana kalau kita bertanding, siapa yang kalah, harus mentraktir mie ayam besok. Paling tidak untuk kita berlima. Sanggup?" Ucap Made menantang.
"Oke!" Jawab Nugroho.
Nugroho segera mengambil pesanannya dan kembali ke kelas. Nugroho hanya tersenyum dengan Toni, ternyata lama juga dia meninggalkan sahabatnya itu di kelas sendirian. Ia langsung duduk di kursinya kembali dan membuka salah satu bungkusan kerupuk udang yang baru saja ia beli. "Maaf membuat elo menunggu lama, Ton!" Sapa Nugroho.
Toni menggeleng...!!!
"Ah, gue tahu elo bosan. Tak perlu disembunyikan," kata Nugroho. "Oh ya, Kak Made akan menemani gue di lapangan. Kau tahu? Kakak kelas kita itu berani menantang gue untuk bertanding nanti sore. Taruhannya makan gratis di kantin besok. Mungkin elo tak perlu membawa bekal." Ucap Nugroho.
"Elo tampaknya yakin akan menang." jawab Toni sambil tersenyum.
"Ya, tentu saja. Selama ini gue tak pernah kalah dalam hal tanding basket!" kata Ray. "Percayalah. Besok elo akan mendengar kabar baik dari gue, Ton!" Lanjut Nugroho.
__ADS_1
Toni tertawa geli. "Kalau begitu, selamat berjuang." Ucap Toni menyemangati sahabatnya itu.