ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 83 : MENANG TIPIS


__ADS_3

"White Team, kalian harus lebih waspada lagi dengan serangan-serangan Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Sepertinya mereka masih tetap dengan strategi kasar. Sayang sekali tadi wasit tidak melihat kalau Fauzi Rizal menyikut lututmu, Ham," kata Pak Ridwan. "Pokoknya kalian harus terus berjuang sampai akhir. Di pertandingan ini Bapak menyerahkan semuanya pada kalian kecuali kalau kalian memang sudah lelah." Lanjut Pak Ridwan.


"Baik, Pak!" kata Jhon mantap.


"Tapi, Pak, mereka bisa mencelakai Ilham lagi kalau mereka tetap bermain kasar," kata Nugroho. "Bagaimana kalau cederanya kambuh lagi? Atau bahkan semakin parah?" Lanjutnya.


"Karena itu, Bapak butuh kerja sama dari kalian untuk menjaga ketat posisi Ilhan, jangan sampai kesalahan kalian di Sekolah Menengah Atas Dwi Warga waktu itu terulang kembali, kalian harus belajar dari pengalaman!" kata Pak Ridwan. 


Nugroho manggut-manggut mengerti. "Baik, Pak!"


Pak Ridwan menoleh ke arah Ilham. "Ham, kakimu baik-baik saja?"


Ilham menggeleng. 


"Oke, minum secukupnya. Kemudian, langsung kembali ke lapangan. Kita akan lihat akan ada pergantian pemain atau tidak. Yang pasti Bapak yakin kalau kalian bisa bermain berlima sampai akhir tanpa pergantian asal kalian fokus," kata Pak Ridwan. "Semangat, semangat!"


"Ya, semangat, White Team! Jangan mau kalah dengan tim pecundang itu!" kata Rosa yang langsung menghampiri tempat istirahat White Team begitu peluit dibunyikan tadi. "Skor kalian tidak tertinggal jauh. Tunjukkan kalau sportif selalu menang!" Lanjut Rosa memberikan semangat.


"Elo bisa mengandalkan gue dan teman-teman, Cha!" kata Jhon sambil mengacungkan jempolnya. Kemudian, ia langsung sibuk minum dari botol air mineralnya.


"Tentu saja. Tapi, tampaknya ada yang berbeda dengan formasi kalian hari ini. Kenapa?" tanya Rosa penasaran.


"Soal kapten maksud elo? Entahlah, kekasih elo itu meminta gue untuk menjadi kapten. Khusus pertandingan ini. Kupikir elo tahu soal ini." kata Jhon sambil menutup botol air mineralnya.


Rosa manggut-manggut saja walau pun ia tak begitu mengerti. Ia diam saja membiarkan Jhon dan yang lainnya kembali ke lapangan. Ilham itu memang selalu ada rencana sendiri. Entah apa yang direncanakannya hari ini dengan pergantian kapten secara tiba-tiba itu.


***


Fauzi Rizal diam saja selama istirahat. Ia tak berbaur dengan teman-temannya. Setelah meneguk sedikit dari air mineralnya, kedua matanya menatap tajam ke arah tempat White Team beristirahat. Setelah melewati dua kuarter yang sangat seru tadi, Fauzi Rizal masih belum puas untuk melampiaskan amarahnya. Ia salah. Bukan hanya satu anak baru saja yang harus ia waspadai. Ada dua. Ia baru sadar kalau yang harus ia singkirkan bukan hanya Ilham, namun juga salah satu dari temannya. 


Ia tersenyum sinis melihat salah satu anggota White Team yang sedang sibuk mengelap keringat di sana. "Bersenang-senanglah sekarang. Karena nanti kalian pasti akan kalah lagi dari tim gue."


Ia berbalik badan dan segera menghampiri teman-teman satu timnya. Dengan angkuhnya ia berbicara, "Guys, kita ubah strategi kita. Dan kalian harus tunduk pada strategi gue. Oke?! Jadi begini..."


***


Kini papan skor menunjukkan angka 50-45 untuk keunggulan Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Pertandingan hari ini benar-benar menguras banyak tenaga. Kuarter ketiga ini White Team tak bisa sedikitpun bersantai karena permainan tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga semakin lama semakin nekat mengejar Ilham. Mereka tak perduli pelatih mereka berteriak-teriak dari pinggir lapangan agar tidak menggunakan kekerasan di lapangan. Jhon, Made, Toni Adam dan Nugroho benar-benar panik harus menjaga Ilham dari mereka.


Sekarang bola ada pada Made. Dengan kelincahannya ia membawa bola sampai ia akhirnya dihadang oleh Fauzi Rizal. Made langsung mengoper bola tersebut dengan cepat ke arah Jhon yang berdiri di dekatnya. Karena posisi tidak terlalu aman untuk menembak, ia mendribel dan langsung mengoper lagi ke arah Nugroho yang ada di tengah lapangan.


"Shoot!!" teriak Jhon nyaring kepada Nugroho.


Nugroho menatap ring sejenak untuk membidik, kemudian langsung melempar bola dengan kuat dari garis tiga angka. Bola itu melambung tinggi hingga para pemain dari tim lawan tak bisa menjangkaunya. Dan... Gagal! Bola menyentuh bibir ring, mengelilinginya sejenak dan terjatuh lagi ke lapangan.


Nugroho mendengus kesal sejenak karena gagal mencetak angka, baru setelah itu ia kembali ke posisi, siap-siap untuk tantangan selanjutnya. Begitu juga dengan Ilham, Jhon, Toni Adam dan Made. Lagi pula, kuarter ketiga masih tersisa lima menit lagi. Masih banyak waktu untuk mengejar.


"Ilham!" teriak Jhon sambil melempar bola.


Ilham mendribel dengan cepat mendribel agar dapat mencetak angka untuk timnya. Jhon dan Nugroho langsung bersiap di sisi Ilham jika terjadi apa-apa. Namun, di tengah-tengah ia mendribel, tiba-tiba kakinya terasa sakit sebelah, sehingga membuat larinya semakin melambat. Dalam hatinya ia menyemangati diri sendiri agar tidak berhenti. Ring kesuksesan sudah di depan mata. Ia tak boleh menyerah.


Teman-teman Ilham yang melihat cara berlari Ilham jelas merasa heran juga takut. Kalau Ilham cedera lagi, kesulitan mereka bisa bertambah karena pemain bagus yang bisa beradu fisik dan psikis seperti Ilham tidak banyak di barisan bangku cadangan. Berbeda dengan tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga yang justru senang melihat kejadian itu. Fauzi Rizal yang memang sejak tadi berniat menghadang langsung memberi kode kepada teman-temannya.

__ADS_1


Jhon dan Nugroho yang menyadari rencana lawan langsung segera mendekati Ilham untuk menghadang mereka, namun pemain Sekolah Menengah Atas Dwi Warga yang lain justru menghadang mereka duluan. 


"Toni! made!" seru Jhon sambil mencoba menerobos lawan.


Ilham langsung mengoper bolanya begitu menyadari keberadaan Made. Kemudian, ia langsung berlari seadanya untuk teman-temannya. Biarlah ia mengalah kali ini, dari pada ia harus mencemaskan teman-temannya.


"Made!" teriak Toni Adam meminta bola.


Toni langsung melakukan tembakan setelah ia mendapatkan bola. HUP! Masuk! Dua angka untuk White Team!


Selanjutnya, suasana lapangan dibangun oleh tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Dimulai dari Fauzi Rizal yang membawa bola, dihadang oleh Jhon, kemudian Fauzi Rizal langsung mengoper ke arah temannya yang berdiri di dekat Ilham. Hal itu jelas membuat Ilham otomatis langsung mencoba menghadangnya, namun...


"Aduh!" tiba-tiba Ilhan meringis. Ia terduduk di lapangan karena sebelah kakinya sudah terasa luar biasa sakit. Pemain Sekolah Menengah Atas Dwi Warga lagi-lagi membuatnya celaka. Sepertinya mereka sengaja karena tahu persis dimana letak luka lama itu.


"Ilham!" teriak Nugroho kaget.


"CURANG!!"


Rosa yang duduk di bangku penonton juga reflek berdiri dan berteriak nyaring. Ia sangat kesal melihat mantan kapten Sekolah Perawat Kesehatan itu lagi-lagi mencelakai kekasihnya. 


"Seharusnya Fauzi Rizal dikeluarkan dari lapangan! Kenapa itu tidak foul?!" teriak Wisnu dan Sam dari bangku cadangan. Namun, wasit tetap saja cuek karena kejadian tadi tidak dilihat olehnya. Para pemain Sekolah Menengah Atas Dwi Warga menutupi adegan itu. 


Time-out untuk Sekolah Perawat Kesehatan!


Ilham langsung dipapah oleh teman-temannya ke ruang ganti pemain. Bukan hanya White Team, namun Pak Ridwan, Rosa, Bunda dan Ayah juga langsung pergi ke sana untuk memeriksa keadaannya. Rosa langsung mengurut kaki adiknya itu pelan-pelan. Kemudian, kakinya itu diberikan pelindung di bagian lututnya agar cepat sembuh. 


"Mereka itu benar-benar licik," kata Jhon sambil menghela nafas. "Mereka pasti sudah merencanakan ini dari awal makanya tadi Fauzi Rizal sengaja mengoper agar dapat mencelakai elo. Pemain yang lain juga menutupi adegan itu dari wasit."


"Sudahlah, anak-anak, kalian tak perlu menyesal. Kalian sudah menjaga Ilham dengan baik. Permainan kalian juga sudah cukup bagus. Kalian hanya perlu lebih fokus," kata Pak Ridwan. "Bapak tidak akan menyalahkan kalian."


"Tapi, kalau begini caranya, bagaimana Ilham bisa main? Masih ada satu kuarter lagi, Pak. Kurasa ia harus diganti untuk sementara." kata Nugroho.


Pak Ridwan menoleh ke arah Ilham. "Ham, lebih baik kau istirahat dulu ya?"


Ilham tersenyum. "Suruhlah Dilan masuk. Dia bisa menggantikanku sampai kuarter ketiga selesai. Kuarter terakhir aku akan masuk lagi."


Semuanya langsung kaget dengan perkataan Ilham. Mata mereka semua membesar karena tak percaya.


"Apa? Dilan?" kata Made ragu. "Ham, elo kan tahu Dilan itu..."


Ilham menggeleng. 


"Lalu bagaimana dengan kaki elo yang..." kata Nugroho terputus karena lagi-lagi Ilham menggelengkan kepalanya. Semuanya langsung mengunci mulutnya. Mungkin mereka sedang berpikir betapa gilanya pikiran Ilham saat ini.


"Tapi, Ham, kita tidak ingin terjadi apa-apa dengan elo!" kata Nugroho gusar.


"Gue tak apa-apa, Nug!" Balas Ilham.


Jhon melirik ke arah jam dinding sejenak, kemudian langsung menyahut. "Sudah! Kita tak punya banyak waktu! Kita turuti kata Ilham! Kita suruh Dilan masuk menggantikan dia sampai kuarter ini selesai! Hanya tiga menit, guys!"


"Oke!"

__ADS_1


Ilham, Jhon, Toni, Nugroho dan Madr langsung melakukan yel-yel mereka dengan cepat lalu mereka langsung keluar tanpa Ilham. Pak Ridwan dan Rosa juga ikut keluar untuk melihat pertandingan.


"Dilan, kau masuk! Gantikan Ilham sampai kuarter ketiga selesai!" Ucap Pak Ridwan.


Bisa diduga, para pemain cadangan dari Sekolah Perawat Kesehatan juga kaget ketika mendengar bahwa Dilan menggantikan Ilham. Mereka semua sangat mengenal bagaimana tabiat Dilan dalam bermain basket. Sama seperti di dalam ruang ganti pemain tadi, ada beberapa yang protes dan takut terjadi apa-apa jika Dilan masuk. Namun, begitu mendengar bahwa itu semua adalah amanat Ilham, semuanya langsung diam. Pasrah saja.


Dilan juga tak kalah kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang belakangan ini ia teror, ia serang atas permintaan sepupunya justru memberinya kesempatan untuk turun ke lapangan. Dari kesempatan ini Dilan mencoba untuk melunakkan hatinya.


"Jangan macam-macam kau!" pesan Nugroho sebelum Dilan masuk.


Dilan mengangguk. "Tenang saja!"


Fauzi Rizal hanya tersenyum miring ketika mengetahui sepupunya sendiri yang masuk untuk menggantikan musuhnya. Ia merasa pertandingan akan semakin seru dengan kehadiran Dilan. 


Namun, ternyata Fauzi Rizal salah. Dugaan bahwa Dilan akan menghancurkan segala permainan White Team tidak terbukti. Dilan justru membantu teman-teman White Team agar mereka dapat mencetak banyak angka. Dengan hadirnya Dilan di lapangan, White Team menjadi unggul banyak poin hingga akhir kuarter ketiga karena dia memang mahir soal mencetak tiga angka. Ketika peluit berbunyi keras, papan skor menunjukkan 55-68 untuk keunggulan White Team.


Ilham yang mengetahui bahwa timnya menjadi unggul hanya tersenyum. Ia sudah tahu bahwa teman-temannya itu pasti bisa mengatasinya walau pun ia tak bermain di lapangan. 


"Kau tetap ingin bermain di kuarter keempat?" tanya Ayah menepuk pundak anak bungsunya.


Ilham mengangguk mantap. "Aku tidak akan mengecewakan Ayah. Itu janjiku, bukan?"


***


Ketika kuarter keempat mulai, tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga lagi-lagi meluncurkan strategi yang berbeda. Mereka mencoba untuk melakukan defense sebanyak mungkin agar dapat membuat White Team kelelahan. Namun, tentu saja Ilham dan teman-temannya tidak terpancing untuk menuruti mereka. Mereka tetap sebisa mungkin terlihat semangat dan fokus pada tujuan mereka. Melakukan yang terbaik apapun yang terjadi.


"Semangat, semangat!" seru Pak Ridwan dari pinggir lapangan. Bukan hanya dia. Para pemain cadangan, Dilan dan juga para pendukung juga ikut berteriak-teriak keras agar White Team tetap semangat sampai akhir. Sepuluh menit terakhir pertandingan itu benar-benar menjadi penentuan siapa yang akan menang.


"Fast break!" teriak Jhon kepada teman-temannya. Itu adalah istilah serangan cepat. Bola yang sekarang berada di tangan Made langsung dioper ke Nugroho. Kemudian, Nugroho langsung mendribel mendekati teman-temannya yang lain dengan dibayangi pemain Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Kemudian, ia langsung mengoper lagi ke arah Ilham.


"Shoot!!"


HUP! Dengan cepat Ilham langsung melempar bola tersebut menuju ring dan...


MASUK! Tiga angka untuk White Team!


Kemudian, bola langsung dikuasai oleh tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Mereka juga mencetak beberapa angka agar dapat mensejajarkan skor. Namun, sampai lima menit berlalu, mereka masih tertinggal delapan angka. White Team masih unggul dengan skor 65-73.


"Zi!" Teman dari tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga mengoper ke arah Fauzi Rizal yang sudah siap di dekat ring. Dengan lincahnya Fauzi Rizal mendribel dan langsung cepat-cepat menembak dari jarak garis tiga angka sebelum White Team sempat menghalanginya. Masuk! Tiga angka untuk Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Skor berubah menjadi 68-73.


"Semangat! Masih dua menit untuk mempertahankan keunggulan!" seru Nugroho dengan semangatnya agar teman-temannya tidak lemas.


Selama kuarter empat berlangsung, sebenarnya Ilhamlah yang paling bekerja keras. Selain keringat yang sudah banjir membasahi rambut serta baju basketnya, kakinya juga masih terasa sakit. Larinya juga tidak secepat di kuarter pertama dan kedua karena lututnya dibalut dengan pelindung. Tapi, itu tidak masalah bagi Ilham. Ia tidak takut kelelahan maupun cedera parah. Yang terpenting adalah ia tak boleh mengecewakan siapa pun, seperti yang dikatakan Ayah. Ia harus bermain total di pertandingan ini.


"Ilhan!" seru Made.


Ilham langsung menangkap bola dan melakukan lay-up. Namun, sayang ia gagal mencetak angka dan bola langsung diambil alih kembali oleh Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Dua menit terakhir pertandingan tersebut benar-benar menegangkan. Banyak terjadi perebutan bola namun banyak juga tembakan yang gagal. Kedua tim saling menahan satu sama lain agar tidak mencetak angka. Hingga pada akhirnya...


PRIIIIIIIIIIIITT....!!!!


Peluit berbunyi keras menandakan pertandingan sudah selesai. Spontan para pendukung langsung berdiri dan memberikan standing applause kepada kedua tim yang sudah berusaha keras untuk memperjuangkan kemenangan pertandingan basket Se-Lampung ini.

__ADS_1


Ilham menoleh ke arah papan skor. Ia tersenyum ketika melihat angka 80 di bawah nama timnya. Sementara itu, tertera angka 79 di bawah nama tim Fauzi Rizal. Mereka menang tipis!


__ADS_2