
BRUK...!!!
Made menghempaskan tubuhnya di tempat tidur begitu ia sampai di kamar asrama. Sementara Toni duduk di kursi meja dan Nugroho duduk di atas karpet. Masing-masing dari mereka masih menyimpan kekesalan yang sama sekali tidak ringan terhadap Jhon. Bayangkan, baru kali ini laki-laki itu mengusir mereka bertiga dari lapangan. Benar-benar keterlaluan. Kalau saja mereka tak ingat dia adalah sahabat mereka, mungkin mereka sudah menghabisinya.
"Gue sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Jhon," kata Made sambil mengatur nafasnya yang lelah. "Siapa yang dulu berkata bahwa kita menjauh saja dari Ilham, katanya dia sudah berubah lah, sudah tak perduli pada kita? Sekarang dia bahkan sampai seperti itu pada kita." Lanjut Made kecewa.
"Jangan-jangan dari dulu dia memang sudah kesal pada kita." kata Toni.
"Kalau begini akhirnya, seharusnya ia tak perlu menyangkal waktu itu," kata Nugroho. "Bukankah dulu gue sudah bilang, kalau gue merasa tak enak hati menjauhi Ilham. Tapi, dia sendiri yang bilang kalau Ilham membutuhkan kita, dia yang akan kembali sendiri. Namun, sekarang? Ia termakan omongannya sendiri. Dia yang justru menghampiri Ilham."
"Kurasa Ilham sudah melakukan sesuatu saat kita menjauhinya. Pasti itu."
"Sekarang, dua orang dari kita sudah melanggar janji," kata Made sambil bangkit dari tidurnya dan duduk bersila di tempat tidur. "Padahal, dulu Ilham sendiri yang bilang kalau kita akan tetap jadi satu tim. Sampai kapan pun. Tapi, sekarang kita terpecah seperti ini." Lanjut Made.
"Guys, apa selamanya kita akan berpihak pada Dilan?" tanya Nugroho tiba-tiba.
"Kenyataannya dia memang benar, kan?" kata Toni menoleh ke arah Nugroho. "Kesibukan Ilham, sikap Ilham, semuanya telah membuktikan ucapan Dilan. Memangnya kau ragu, Nug?" Tanya Toni lagi.
"Gue bukan ragu, tapi kata-kata Pak Ridwan ada benarnya juga, Ton, De. Kita belum membicarakan ini dengan Ilham. Bukankah waktu itu kita juga berpikir kalau semua ini harus kita bicarakan dengan Ilham dulu baru bisa memutuskan Dilan benar atau tidak?" tanya Nugroho. "Gue tak ingin melawan pikiran kalian, tapi..."
"Nug, kalau elo ingin kembali pada Ilham, silahkan elo kembali sendiri. Karena kita berdua tak ingin dikhianati dua kali," kata Made. "Lagi pula, memikirkan strategi untuk menang di turnamen nanti lebih penting."
"Strategi kita biasanya ada di tangan Jhon atau Ilham, De." kata Toni.
"Tidak. Tidak untuk kali ini. Lebih baik kita buat strategi sendiri. Kalau Jhon berpihak pada Ilham, lebih baik dia diam dan ikut strategi kita bertiga. Karena dia tak punya hak untuk mengatur kita. Sama seperti Ilham."
Toni menghela nafas. "Baiklah, terserah elo."
"Memangnya elo punya rencana apa, De?" tanya Nugroho.
Made mengisyaratkan kedua temannya agar segera mendekat ke arahnya. Setelah itu, Made mulai menjelaskan rencananya untuk turnamen nanti. "Begini...!"
Selama beberapa menit Made, Toni dan Nugroho berembuk di tempat tidur. Setelah selesai, mereka langsung duduk tegak kembali di tempat masing-masing.
"Bagaimana? Setuju?" tanya Made sambil tersenyum.
"Elo yakin Pak Ridwan akan menerima strategi ini?" tanya Toni agak ragu.
"Tenang saja. Gue sudah memikirkan semuanya." Ucap Made lagi.
Toni dan Nugroho saling pandang sebelum akhirnya mereka menganggukkan kepala mereka tanda bahwa mereka setuju. Kemudian, mereka langsung beristirahat agar tidak kelelahan sebelum turnamen besok.
***
Gelanggang Olahraga Sukung Kelapa Tujuh Kotabumi Lampung Utara! Itulah dimana Ilham berada sekarang. Dengan penuh percaya diri, ia melangkah menuju ruang ganti dimana teman-temannya sudah menunggu. Ia berusaha untuk mengingat pesan-pesan keluarganya bahwa ia harus melakukan yang terbaik apapun yang terjadi. Yap, hari ini adalah hari H. Turnamen Se-Lampung akan dimulai hari ini dengan sekian banyak Sekolah Menengah Atas dan Sederajatnya yang akan bertanding.
Dan ini saatnya fokus!
"Ilham!" seru Jhon ketika melihat Ilham masuk ke dalam ruang ganti. Ia sudah siap dengan seragam basket Sekolah Perawat Kesehatan yang berwarna putih. Mungkin dia sedang menunggu yang lainnya selesai.
Ilham tersenyum. "Hai, Jhon...!"
"Akhirnya elo datang juga, cepat ganti baju. Tadi Pak Ridwan sudah memberikan pengarahan sebentar. Mengingatkan kita agar kita melakukan yang terbaik," kata Jhon. Ia mendekatkan diri ke arah Ikham dan berbisik. "Buang masalah elo jauh-jauh selama pertandingan."
Ilham tersenyum. Ia menepuk pundak Jhon pelan. "Thanks."
__ADS_1
Jhon mengangguk. "Itu gunanya sahabat, bukan?"
"Hei, jangan berbicara terus! Lebih baik cepat-cepat bersiap." tiba-tiba Nugroho menyahut.
Jhon menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Nugroho. Berbeda dengan Ilham yang hanya tertawa geli. Ia langsung cepat-cepat mengganti bajunya dengan seragam basket dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar perjuangannya selama tak sia-sia. Setelah itu, mereka berembuk sejenak, seperti biasanya jika mereka akan bertanding. Ilham, Jhon, Made, Toni dan Nugroho membentuk lingkaran dan menumpuk tangan mereka masing-masing.
"Guys, gue tahu, persahabatan kita sedang renggang. Tapi, bagaimanapun ini adalah mimpi kita bersama. Jadi, apapun yang terjadi, kita harus melakukan yang terbaik. Oke? Ayo, kita lakukan yel-yel kita." kata Jhon.
"White Team, Friends Till The End!" seru kelima laki-laki tersebut penuh semangat sambil merentangkan tangan mereka ke atas. Setelah itu, barulah mereka bersiap-siap untuk bertanding karena sebentar lagi turnamen akan dimulai. Para pemain cadangan juga.
Namun, pertandingan pertama berjalan tak seperti yang Ilham dan Jhon bayangkan. Ternyata, Ilham tidak diturunkan untuk bermain. Yang akan bermain pertama adalah Jhon, Made, Toni, Nugroho dan Dilan. Kata Pak Ridwan ini semua adalah strategi dari Made. Mereka semua ingin menyimpan Ilham untuk sementara agar Ilham dapat turun ke lapangan di saat yang tepat. Karena itu, kali ini Ilham hanya duduk di pinggir lapangan, menonton mereka dengan para pemain cadangan yang lain. Jhon yang mendengar strategi itu sampai heran. Ia tak pernah mendengar strategi seperti itu dari teman-temannya.
"Kenapa Ilham tidak masuk? Bukankah dia kaptennya?" kata Rosa.
"Mungkin itu strategi mereka. Sudahlah Cha, kita tonton saja." kata Vina.
Pertandingan pertama mereka terlihat cukup lancar di mata Ilham. Sekolah Menengah Atas Bangau Lima yang menjadi lawan mereka tampak tidak terlalu kuat. Teman-temannya tampak sering berhasil melakukan steal bola dengan mudah dari tangan lawan dan skor mereka juga terpaut jauh. Dalam dua kuarter, Sekolah Perawat Kesehatan bisa unggul telak dengan skor 30-12. Tapi walaupun begitu, Sekolah Menengah Atas Bangau Lima tampaknya cukup mahir dalam melakukan tembakan tiga angka. Mereka tak boleh lengah kalau tidak ingin kalah. Dan lagi, strategi mereka belum terlalu kelihatan.
"Defense!" teriak Pak Ridwan dari pinggir lapangan ketika melihat bola basketnya ada di tangan lawan. "Jangan lengah! Tetap waspada!"
Berkali-kali Ilham lihat teman-temannya itu merebut bola dan diakhiri dengan Dilan yang mencetak angka. Tidak salah, anak baru itu memang mahir sekali dalam hal menembak. Hampir sama seperti dirinya. Ya, setidaknya mereka dapat bermain dengan baik. Dengan bantuan arahan Pak Ridwan juga tentunya. Untungnya teman-temannya bisa menjaga konsistensi stamina dengan baik, karena ternyata di kuarter ketiga dan keempat, lawan mereka sepertinya mengeluarkan seluruh tenaga yang telah mereka simpan selama pertandingan. Ternyata, mereka sengaja lengah di awal agar membuat teman-teman Ilham menganggap bahwa mereka bukan lawan yang susah.
"De!" teriak Nugroho mengoper bolanya.
"HUP!"
Made menangkap bola tersebut dan mendribelnya hingga ia dekat dengan ring. Di sana sudah ada Jhon yang menjaga ring dan Dilan yang siap menembak. Ia langsung mengoper lagi. "Dilan!"
Dilan menangkap bola tersebut dan mendribel sejenak karena sebelum melakukan tembakan ia harus mendribel paling tidak beberapa kali. Kemudian, ia langsung menembak.
MASUK!
Skor berubah menjadi 52-45 untuk keunggulan Sekolah Perawat Kesehatan.
"Waktu tinggal tiga menit! Pertahankan!" seru Pak Ridwan nyaring.
Ilham tersenyum mendengar teriakan Pak Ridwan tersebut. Waktu tinggal sebentar lagi. Dan ia masih juga belum diturunkan. Sepertinya itu berarti dia tidak akan bermain di pertandingan ini. Sama sekali. Ia hanya dapat melihat mereka dari pinggir sambil mendengarkan sorakan-sorakan heboh dari penonton. Sudahlah, masih banyak kesempatan lain lagi. Tim Sekolah Perawat Kesehatan akhirnya dapat mengalahkan Sekolah Menengah Atas Bangau Lima dengan skor 62-50.
***
"Maaf ya, Ham," kata Jhon ketika seusai pertandingan. "Gue juga tak tahu kalau Made berniat untuk tidak menurunkan elo ke lapangan. Pada hal, gue sudah tak sabar ingin bermain dengan elo lagi." Ucap Jhon.
Ilham tersenyum. "Sudahlah, Jhon. Masih banyak kesempatan lain." Jawab Ilham pelan.
"Ya, sudahlah, Jhon. Untuk apa elo meminta maaf kepada kapten bodoh itu? Dia memang tak pantas bermain di lapangan." kata Toni yang sedang menghapuskan keringatnya yang sudah banjir.
"Diam elo, gue tahu kalian bertiga sengaja, kan?" kata Jhon selembut mungkin agar tak terjadi pertengkaran lagi. "Masih untung gue tak emosi dan memberimu bola. Elo, Made dan Nugroho itu tega ya membiarkan Ilham duduk di bangku cadangan. Dia itu kapten kita!" Ucap Jhon kecewa.
"Ah, elo itu selalu membela dia. Sebenarnya apa sih yang telah ia lakukan kepada elo?" tanya Made ikut menyahut. Ia mendekati Jhon dan Ilham. "Jangan-jangan Ilham membayar elo sampai elo begitu membelanya?" Lanjut Made sinis.
"Tutup mulut elo, Made. Elo pikir persahabatan kita hanya sebatas uang? Kalau elo marah pada gue karena gue kembali pada Ilham, tak usah libatkan dia. Balas dendam saja kepada gue." Ucap Jhon.
"Huh, sok pahlawan," kata Toni. "Elo lihat sendiri bukan, tim kita dengan Dilan bisa mencetak banyak angka. Kami menang telak dari mereka. Berbeda jika Ilham yang turun ke lapangan." Ucap Toni lagi.
"Terserah apa kata elo, kalian bertiga akan menyesal mengatai gue seperti itu karena justru kalian yang masih tersesat di jalan yang salah." kata Jhon.
__ADS_1
Ilham diam saja melihat pertengkaran yang terjadi di sana. Ah, lagi-lagi teman-temannya beradu mulut. Ilham tak pernah suka dengan suasana ini. Dimana ada aura kebencian yang menguasai mereka dan membuat rasa persahabatan mereka tenggelam sampai ke dasar. Tapi, memang harus diakui, mungkin teman-temannya memang sengaja tak membiarkannya bermain di lapangan. Bukan hanya di pertandingan pertama saja ia harus duduk di bangku cadangan, pertandingan kedua dan ketiga juga ia hampir sama sekali tidak main. Hanya bermain satu-dua menit, itupun karena paksaan Pak Ridwan. Teman-temannya sama sekali tidak menghendakinya bermain di lapangan. Hingga pada akhirnya Pak Ridwan juga sedikit demi sedikit curiga dengan strategi Made.
"Kalian itu sebenarnya ingin apa dari strategi kalian?" tanya Pak Ridwan setelah mereka menang di pertandingan ketiga, melawan Sekolah Menengah Atas Tanjung Aman. "Bapak sama sekali tidak bangga kalau kalian menang dengan cara seperti ini. Bukankah waktu itu Bapak sudah memberitahu kalian? Basket itu bukan olahraga individual! Jangan karena kalian benci pada satu orang, kalian menghancurkan semuanya!" Jelas Pak Ridwan.
"Pak! Kita itu sudah menang! Bahkan sebentar lagi masuk Final Four!" kata Made. "Saya sudah bilang kalau strategi saya itu justru karena saya tahu Ilham itu sangat berbakat dalam basket, makanya saya menyimpannya di akhir!" Alasan Made.
"Ya, tapi kau tidak menurunkan Ilham di kuarter akhir seperti yang kau bilang. Kenyataannya kau justru terlihat mengandalkan Dilan. Jika Dilan masih bisa lanjut, kau tidak akan perduli dengan Ilham. Bapak rasa kau masih dendam dengan Ilham, betul?" tanya Pak Ridwan.
Made diam saja mendengarnya.
"Made, Bapak bukannya ingin memaksamu agar Ilham bermain di lapangan. Tapi, sadarlah. Kalian sudah berteman sejak White Team terbentuk. Dan kalian juga tahu bahwa Ilham sangat cocok menjadi kapten kalian. Kau hanya terlalu dendam karena insiden perubahan Ilham." kata Pak Ridwan.
"Dendam? Saya tidak dendam! Saya hanya mengatur strategi sesuai kenyataan! Saya tidak butuh kapten yang egois dan suka bolos latihan seperti dia! Dia kira dia sudah hebat bisa bolos menjelang turnamen!" Jelas Made.
"Tuh kan? Kau membahas itu lagi," kata Pak Ridwan menggelengkan kepalanya. "Sudahlah, lebih baik kalian pulang. Beristirahat untuk pertandingan selanjutnya. Dan Made, Toni, Nugroho, Bapak minta kalian merenungkan kesalahan kalian." Ucap Pak Ridwan.
Setelah berkata begitu, Pak Ridwan langsung pergi meninggalkan mereka. Jhon langsung menoleh ke arah Ilham yang diam di tempat duduknya. Justru dia yang tampak serba salah. Ia langsung duduk di sampingnya dan menepuk pundaknya pelan. Ilham langsung menoleh begitu menyadari Jhon di sampingnya.
"Sabar, Ham. Elo tidak salah." kata Jhon prihatin.
Ilham hanya bisa tersenyum menanggapinya.
Jhon mengangguk. Kemudian, ia dan Ilham langsung meninggalkan ruang ganti tanpa pamit kepada anak-anak yang lain. Made, Toni dan Nugroho yang melihat mereka pergi hanya bisa mendengus kesal. Setelah itu, mereka kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.
***
Made, Toni dan Nugroho hari ini pulang bersama karena mereka ingin berkumpul lagi di kamar asrama milik Nugroho. Diceramahi Pak Ridwan belakangan ini menjadikan kepala mereka sangat pusing. Namun, tiba-tiba Nugroho merasa panik karena menyadari ada sesuatu yang hilang.
"Guys, kalian pergi duluan saja ke kamar asrama gue. Sepertinya ada barang yang ketinggalan di Gelanggang Olahraga tadi. Tunggu gue, oke?" kata Nugroho buru-buru. Tanpa menunggu jawaban Made dan Toni, ia langsung berbalik pergi.
"Barang sepenting apa sampai buru-buru begitu?" tanya Made heran.
"Entah," kata Toni mengangkat bahu. "Sudahlah, ayo pergi."
Made dan Toni lanjut berjalan ke kamar asrama milik Nugroho. Sementara itu, Nugroho berlari cepat hingga sampai di Gelanggang Olahraga dalam waktu yang sangat singkat. Keringat yang sudah ia hapus tadi seusai pertandingan menjadi banjir kembali karena ia berlari. Tapi, ia tak perduli, yang penting ia dapat mengambil kembali barang yang tertinggal di ruang ganti. Masalahnya, yang tertinggal itu jam tangan pemberian mamah saat ulang tahunnya.
Ia segera pergi menuju ruang ganti yang untungnya belum dikunci. Namun, sebelum ia sempat masuk, ia mendengar suara seseorang sedang berbicara di dalam. Dengan penuh hati-hati ia tetap berdiri di luar dan memasang telinga baik-baik. Ada dua orang laki-laki di sana. Satu orang dari mereka sudah pasti Dilan, ia sudah sangat mengenali fisik itu. Tapi, satu orang lagi, Nugroho tak sempat melihat dengan jelas karena ia harus cepat-cepat bersembunyi.
Mereka terdengar sedang berbicara sesuatu.
"Bagus juga elo. Bisa membuat Ilham tak bisa bermain di pertandingan," kata orang yang bersama Dilan itu. Kemudian, ia tertawa. "Sepertinya hasutan elo itu berguna sekali untuk bocah-bocah tak berguna itu."
"Tentu saja. Mereka itu bodoh, mau saja gue hasut. Padahal gue hanya membual soal kejelekan Ilham itu. Tak gue sangka, mereka justru memudahkan langkah gue untuk menyingkirkan Ilham," kata Dilan ikut tertawa. "Hei, Zi, bagaimana dengan pertandingan elo?"
Nugroho mengerutkan dahinya di balik pintu. Zi...? Panggilan itu terasa tidak asing di telinganya.
Sepertinya ada yang tidak beres. Apa maksudnya dengan hasutan dan bocah-bocah tak berguna?
Apa jangan-jangan selama ini Dilan hanya menghasut para anggota White Team agar Nugroho dan yang lain percaya kepadanya dan meninggalkan Ilham?
"Tentu saja menang. Sebentar lagi kita akan bertemu di lapangan, bro. Gue benar-benar lega elo datang ke Lampung di saat yang tepat," kata orang itu lagi. "Setidaknya kita bisa saling membantu. Elo tak akan dipandang buruk oleh keluarga gue. Dan gue tak akan dipandang buruk oleh Papah gue lagi."
"Ya, tentu saja. Gue senang bisa membalaskan dendam elo kepada White Team, Fauzi Rizal. Bersiap saja untuk melawan gue di pertarungan antar sepupu nanti." kata Dilan. Kemudian, mereka langsung melakukan high five.
"What?!" batin Nugroho kaget di balik pintu. Ia hanya bisa membekap mulutnya mendengar pembicaraan mereka. Seketika semuanya menjadi jelas. Jadi begitulah awal masalahnya! Pantas saja semua ini tak pernah bisa selesai. Ini bukan persoalan White Team dengan Dilan saja.
__ADS_1
Tapi ada pihak lain yang menjadi sumber dari segala masalah mereka.