
Pertandingan final antara Sekolah Perawat Kesehatan dan Sekolah Menengah Atas Dwi Warga beberapa saat lagi akan segera dimulai. Para anggota White Team, Ilham dan teman-temannya, yang sudah menyiapkan segalanya sejak setengah jam yang lalu segera merembuk dan melakukan yel-yel persahabatan mereka dengan semangat dan high five satu sama lain. Tak lupa mereka juga meminta dukungan kepada Bunda dan Ayah yang masih menemani mereka di ruang ganti.
"Aku pasti mendoakan yang terbaik untukmu, Ham," kata Bunda sambil menyalami anaknya. "Kau hanya perlu menunjukkan betapa hebatnya Ilham kepada semua orang. Jangan lupa, kau akan mengecewakan Ayah jika kau kalah."
Ilham tersenyum. Kemudian, ia beralih kepada Ayah.
"Ingat, Ham, basket itu bukan soal mahir atau tidak. Tapi, bagaimana kau bisa mengontrol kekompakan dan kerja sama dengan teman-temanmu," kata Ayah. "Kehebatanmu akan sia-sia jika kau bermain sendiri. Oke? Yang lain juga harus begitu. Saling percaya dan bermain bersama."
Jhon, Made, Toni dan Nugroho tersenyum dan mengangguk patuh kepada Ayah.
"Tenang saja, Om. Kami tidak akan mengecewakan Om." kata Jhon yakin.
Ilham menghadap ke arah teman-temannya. "Guys, selama ini kalian telah banyak membantu gue. Maaf ya jika belakangan gue mengecewakan kalian. Tapi... boleh gue minta satu permintaan dari kalian?"
"Ada apa, Ham?" tanya Nugroho penasaran.
"Gue ingin sekali pertandingan final ini menjadi pertandingan yang paling berkesan bagi gue. Karena itu, selain melakukan yang terbaik, gue ingin Jhon menjadi kapten tim White Team. Kau yang akan memimpin pertandingan ini, Jhon," kata Ilham sambil tersenyum. "Bolehkah?"
Semuanya langsung kaget mendengar ucapan Ilham. Mereka saling pandang-memandang, ragu untuk mengiyakan permintaannya. Pasalnya, dari dulu Ilham sudah menjadi kapten tim basket yang sangat baik. Mungkin terlalu baik. Lontaran tiba-tibanya sungguh membuat mereka bingung.
Jhon menoleh kembali ke arah Ilham. "Ham, gue tidak sehebat elo. Gue tak bisa menjadi kapten. Elo yang bisa. Bukankah sejak dulu kami sudah bilang pada elo, elolah kapten yang cocok untuk tim kita."
"Jhon, ini permintaan gue sekali seumur hidup. Setelah ini gue tak akan lagi meminta elo untuk menjadi kapten lagi," kata Ilham memohon. "Hanya sekali ini saja. Pertandingan ini saja. Oke?"
Jhon mengunci mulutnya ragu.
Nugroho menghela nafasnya. "Kalau elo memaksa, gue setuju saja."
"Nug!" kata Jhon kaget mendengar ucapannya. "Gue tak bisa!"
"Jhon, sudah tidak ada waktu lagi. Kita harus segera ke lapangan, pertandingan akan segera dimulai." Toni ikut bersuara.
Jhon menghela nafasnya. Ia menoleh ke arah Ilham. "Baiklah, Ham, kalau elo yakin dengan semua ini, gue akan turuti permintaan elo. Hanya sekali ini saja. Selanjutnya gue ingin elo menjadi kapten lagi."
Ilham tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita keluar. Siap menghadapi final, White Team?!" Ucap Jhon.
"Siap, kapten!" seru semuanya kompak.
Kemudian, mereka langsung keluar ke lapangan. Para pemain inti segera bersiap bertanding sementara yang lainnya duduk manis di bangku cadangan.
Termasuk Dilan tentunya...!!!
Setelah kejadian yang sebenarnya diketahui oleh Pak ridwan, beliau langsung memarahi Dilan habis-habisan dan melarangnya untuk bermain di lapangan kecuali memang terpaksa. Ia benar-benar ngamuk karena ternyata anak baru itu masuk ke dalam ekskul basket hanya untuk menghancurkan tim intinya. Dan kalau Dilan sampai melanggar kata-katanya, Dilan akan ia paksa keluar dari ekskul basket. Karena itu, terpaksa Dilan diam saja melihat rencananya untuk membalas dendam sepupunya itu gagal. Ekskul olahraga tersebut memang tidak membutuhkan anak-anak egois dan ingin menang sendiri seperti Dilan.
Fauzi Rizal juga sudah tahu tentang hal ini.
Kemarin begitu Pak Ridwan menceramahinya, Dilan langsung menemui sepupunya itu dan menceritakan semuanya. Dan tak disangka, fauzi Rizal justru marah karena menganggap Dilan tidak becus bekerja. Pada hal, mereka bisa baikan juga karena mereka berdua yang diam-diam mengobrol di Gelanggang Olahraga. Dan dari situ, hubungan Fauzi Rizal dan Dilan juga dalam status perang dingin sekarang. Mereka berdua sama-sama marah, karena faktanya Fauzi Rizal juga habis diceramahi Ayahnya agar tidak bermain curang di pertandingan final hari ini, mengingat ia pernah mencelakai Ilham dulu.
Awal pertandingan final antara White Team dengan tim basket Sekolah Menengah Atas Dwi Warga benar-benar membuat gelanggang Olahraga tersebut panas. Dua tim basket tersebut terus berusaha untuk membuat timnya unggul. Banyak defense yang dilakukan oleh mereka sehingga papan skor masih tetap dengan angka kecil sampai kuarter pertama selesai. Sepertinya kedua tim masih berupaya untuk membaca strategi lawan agar dapat mencari celah untuk menang. Sorakan-sorakan dari penonton juga tak dipungkiri sangat ramai. Masing-masing memiliki pendukung yang cukup banyak.
"15-10 untuk keunggulan mereka. Cukup bagus untuk permulaan," kata Pak Ridwan sambil tersenyum kepada anak-anaknya. "Jaga stamina dan jangan terpancing jika mereka mencoba menarik emosi kalian. Tetap bermain tenang, namun bersemangat." Lanjutnya.
"Siap, Pak!" kata White Team kompak.
"Made!" teriak Jhon mengoper bola.
Made langsung mendribel menuju ring basket milik timnya. Ada beberapa pemain Sekolah Menengah Atas Dwi Warga yang mencoba menghadang namun untungnya Toni dan Ilham langsung sigap membantunya.
"Nugroho!" teriak Made.
"Shoot!!"
Nugroho yang baru saja mendapatkan bola dari Made langsung melempar bola tersebut menuju ring dari jarak yang cukup jauh. Agak lebih jauh dari garis tembakan tiga angka. Dan... Masuk! Tiga angka untuk White Team. Suara penonton langsung bergemuruh ketika bola basket masuk dengan mulus.
Selanjutnya, Fauzi Rizal memegang yang bola basket. Dengan kelincahannya ia langsung mendribel bola melewati Ilham dan teman-temannya yang mencoba menghadang tanpa mengoper kepada siapa pun. Hanya mengoper sekali kepada temannya ketika ia sudah dekat dengan ring. Namun, sayangnya tembakannya gagal. Bola menyentuh bibir ring dan langsung mental dari sana.
"Ambil bolanya!" seru Jhon nyaring.
"HUP!" Toni Adam mengambil bola dan mendribel.
__ADS_1
"Defense!" seru Fauzi Rizal kencang-kencang. Kemudian, ia langsung berlari untuk mencoba merebut bola. Namun, Jhon langsung menghadangnya agar ia tak bisa mengejar.
"Minggir elo!" kata Fauzi Rizal sebal sambil mencoba melewati Jhon.
"Gue tak akan membiarkan elo memecah belah kita lagi!" balas Jhon.
"Huh, lihat saja nanti!" Fauzi Rizal langsung menerobos Jhon tanpa peduli apa pun. Jhon langsung ikut mengejarnya sambil memantau keadaan. Bola masih ada di tangan timnya. Made sedang berusaha mencoba menembak dari bawah ring namun gagal. Disusul dengan Ilham yang menangkap bola tersebut dan langsung menembak lagi. Gagal juga! Jhon langsung dengan sigap menangkap bola yang kebetulan selanjutnya mengarah ke arahnya dan menembak lagi.
Masuk! Dua angka untuk White Team. Sekarang kedudukan mereka seri dengan skor 15 sama. Waktu masih tersisa lima menit. Masih banyak waktu untuk bermain di kuarter dua.
"Zi!"
Laki-laki berambut pendek itu langsung menangkap bola dari temannya setelah bola dilempar ke dalam lapangan. Ia langsung berlari menuju ring diikuti oleh teman-temannya. Namun, rencananya untuk melakukan tembakan tiga angka harus tertahan ketika Nugroho langsung menghadang. Banyak teman-teman dari tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga yang mengangkat tangannya meminta bola. Namun, tak disangka Fauzi Rizal justru berkelit dan lolos dari hadangan White Team.
"Blok!" teriak Nugroho langsung mengejar Fauzi Rizal.
Made dan Ilham yang mendengar teriakan itu langsung siap untuk menghadang Fauzi Rizal dari melakukan tembakan. Dengan sedikit trik, Made juga langsung merebut bola dari tangan Fauzi Rizal dan langsung membawa bola tersebut menjauh dari ring lawan. Nugroho yang ada di tengah lapangan langsung meminta bola.
"Nug!" teriak Made langsung menuruti kodenya.
Sama seperti Made tadi, Nugroho juga membawa bola menuju ring dan mengopernya kepada Jhon yang sudah berdiri di sisi lapangan. Jhon ingin langsung menembak namun ternyata ia terlalu bersemangat sehingga tembakannya gagal. Bolanya melewati ring dan jatuh ke tangan lawan.
Sial! teriak Jhon dalam hati. Padahal, ia yakin sekali kalau dia dapat mencetak angka dari sana. Tapi, ternyata tidak. Ia terlalu banyak menaruh kekuatan pada lemparannya.
"Ilham! Defense!" teriak Nugroho sambil berlari.
Sekarang bola ada pada Fauzi Rizal. Kali ini Ilham yang mencoba menghadangnya dari mencetak angka maupun mengoper kepada siapa pun. Di belakangnya Nugroho dan Made juga sudah siap untuk menghadang. Namun, tak disangka Fauzi Rizal lagi-lagi tidak berpikir untuk mengoper. Ia langsung menerobos Ilham. Kakinya sekilas ia sikut ke lutut kanan Ilham, membuat Ilham agak kehilangan keseimbangan.
"Ilham!" kata Jhon panik melihat sahabatnya itu.
Namun, untungnya Ilham bisa mengembalikan keseimbangannya. Ia langsung tersenyum kepada Jhon, tanda bahwa ia tak apa-apa. Kemudian, ia langsung fokus kembali dengan pertandingan, walaupun sebenarnya lututnya terasa agak sakit.
HUP! Fauzi Rizal langsung melakukan lay-up dan masuk!
Waktu kuarter kedua masih terisa dua menit lagi. Pendukung White Team semakin lama semakin bersemangat untuk mendukung tim Sekolah Perawat Kesehatan agar terus bersemangat walaupun angka mereka terus terkejar. Para pemain basket di lapangan juga terus-terusan berusaha tanpa menyerah sedetik pun.
__ADS_1