
Ilham menoleh ke arah pintu ketika mendengar pintu kamar asramanya diketuk. Ia berjalan mendekati pintu dan segera membukanya pelan-pelan. Ia pikir mungkin temab-teman asrama lainnya yang ada di balik pintunya itu. Namun, dugaannya salah. Ternyata orang lain.
Ilham sampai kaget melihat kehadirannya.
"Jhon…" kata Ilham lirih melihat salah satu sahabatnya berdiri di depan pintu kamar asramanya sekarang. Pada hal sudah berapa minggu ini ia tak berkomunikasi dengannya. Ilham menunduk dan memalingkan wajahnya. Tak siap bertemu dengan sahabatnya itu.
"Gue ingin bicara dengan elo. Elo sedang sibuk?" tanya Jhon pelan.
Ilham diam.
Ia menggelengkan kepalanya dan memberi jalan Jhon agar ia dapat masuk ke dalam kamarnya yang kini agak berantakan karena tadi Ilham baru saja mengerjakan beberapa PR untuk minggu depan dan juga bermain-main dengan kasurnya karena ia merasa bosan.
Jhon segera menghampiri tempat tidur Ilham begitu ia masuk ke dalam. Entah sudah berapa lama ia tak berada di sana. Ia segera duduk dan mengatup kedua tangannya yang kemudian ia main-mainkan karena tak tahu harus bicara apa.
Ilham juga sama.
Ia duduk di kursi meja belajarnya, tepat di hadapan Jhon, namun ia juga tetap mengunci mulutnya. Tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan. Ia belum siap menjelaskan dan bertanya masalah persahabatan mereka belakangan ini. Karena sudah lama tak berbicara, keadaan semacam ini menjadi canggung bagi mereka berdua. Ilham yakin, kalau yang lain juga ikut datang ke rumahnya, mereka juga mengunci mulut mereka karena bingung.
Jhon menghela nafasnya. "Gue sudah mendengar semuanya dari Rosa."
Ilham reflek mengangkat kepalanya mendengar ucapan Jhon. Ah, ternyata kekasihnya telah memenuhi janjinya. Ia menceritakan semuanya pada Jhon. Pantas saja Jhon bisa berada di sini. Ilham tiba-tiba mengerti. Namun, yang tak ia mengerti sekarang, tujuan Jhon datang ke sini. Pada hal, ia sedang ujian.
"Maaf, Ham, gue baru tahu kalau elo belakangan ini mengkhawatirkan Ayah elo yang sakit. Gue sungguh-sungguh mengira elo sudah berubah. Apa lagi melihat elo sampai bolos latihan." kata Jhon menyesal.
Ilham tersenyum samar. "Gue yang salah, bukan elo Jhon."
Jhon mengangkat kepalanya menatap Ilham, meminta penjelasan.
Ilham menghela nafas. "Kalau saja waktu itu gue cerita pada kalian soal kesibukan itu, semuanya tidak akan seperti ini. Waktu itu, pertama kali gue buru-buru karena gue ada acara dengan Ayah, kemudian di acara itu Ayah tiba-tiba demam. Kemudian, masuk rumah sakit. Gue hanya ingin menjaganya seharian, mengganti seluruh kesalahan gue dulu. Dan soal sikap gue di lapangan itu, maaf, Jhon." Jelas Ilham.
"Sebenarnya ada apa lagi?" tanya Jhon ingin tahu.
"Ayah mengenalkan gue pada Om Fatoni, teman Ayah yang membuat Ayah takut anak-anaknya bermain basket. Waktu itu, Om Fatoni memberitahu gue banyak hal hingga membuat gue sadar, gue seharusnya tetap bekerja sama apa pun yang terjadi di lapangan. Gue ingin meminta maaf karena tak memberi elo bola waktu itu, tapi… kalian sudah keburu membenci gue." Jelas Ilham kembali.
"Maaf, Ham," kata Jhon sekali lagi. "Kami hanya kecewa."
Ilham diam saja mendengarnya.
"Sudahlah, tak perlu mengungkit-ungkit soal itu. Gue tak begitu kesal dengan hal itu, tapi waktu itu gue dan yang lainnya begitu diyakinkan bahwa elo benar-benar berubah," kata Jhon. Ia mengulurkan tangannya. "Yang penting, sekarang kita berbaikan, kan?"
Ilham tersenyum dan menerima uluran tangan Jhon. Kemudian, mereka berdua berpelukan seperti anak kecil. Rasa canggung yang mereka rasakan tadi seketika lenyap karena mereka sudah saling terbuka satu sama lain. Namun, Jhon tiba-tiba mendorong kedua bahu Ilham darinya. "Ham. Bukan muhrim...!"
Mereka berdua langsung melepaskan pelukan mereka. Kemudian, mereka tertawa bersama karena tingkah mereka yang konyol. Akhirnya, kesalahpahaman di antara Ilham dan sahabatnya berakhir juga. Walaupun baru dengan Jhon. Tapi, cepat atau lambat, Nugroho, Made dan Toni juga pasti akan tahu yang sebenarnya. Minimal dengan kembalinya Jhon, Ilham sudah lebih tenang.
"Ham, soal masalah ini, lebih baik kita tak perlu singgung dulu pada Nugroho, Made dan Toni ya? Gue tak ingin pertengkaran kita semakin buruk. Mereka pasti masih percaya bahwa elo sudah tak perduli pada mereka. Biar saja nanti mereka tahu sendiri," kata Jhon.
Ilham tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
***
Nugroho, Toni dan Made merasa heran ketika Jhon tiba-tiba akrab lagi dengan Ilham. Pada hal, tak sampai seminggu yang lalu dia masih merasa menjauhi Ilham adalah pilihan yang tepat. Tapi, sekarang saat latihan Nugroho, Toni dan Made sering memergokinya mengobrol dan tertawa-tawa bersama Ilham di pinggir lapangan. Rasanya ingin bertanya, namun mereka tak enak hati dengan Ilham. Bisa-bisa ia merasa mereka bertiga tak senang ia berteman lagi dengan Jhon. Namun, di sisi lain, mereka juga kecewa dengan Jhon. Pasalnya, selama ini dia yang ngotot menjauhi Ilham adalah jalan terbaik.
__ADS_1
"Hei, kalian melihat apa? Ayo latihan! Nanti keburu Pak Ridwan datang." tanya Dilan ketika memergoki ketiga temannya terdiam di tengah lapangan.
Mendengar ucapan keras Dilan, mereka langsung memalingkan wajah mereka dan kembali fokus dengan permainan mereka berempat. Sayang sekali, padahal kalau saja mereka lebih lama melihat ke pinggir lapangan, mereka akan tahu kalau sebenarnya Ilham sesekali melirik ke arah mereka di sela-sela tawanya.
"Hei, elo kenapa?" tanya Jhon. Ia tersenyum memergoki Ilham melirik ke arah lapangan. "Elo rindu dengan mereka? Tenang saja, nanti saat waktu yang tepat kita pasti bersama lagi." Jelas Jhon.
Ilham hanya tersenyum mendengar ucapan Jhon. Ya, memang. Ilham juga yakin kalau nanti mereka pasti bisa kembali bersama. Namun, Ilham tak enak hati dengan Jhon. Walau pun tak secara langsung Ilham melihat, tapi Ilham sedikit banyak merasakan kekesalan Nugroho, Toni dan Made karena Jhon berubah pikiran tentangnya.
Jhon segera menepuk pundak Ilham pelan.
"Sudahlah, elo tak perlu mengkhawatirkan gue. Yang perlu elo pikirkan sekarang adalah bagaimana kita bisa tetap berlima. Tetap berjuang bersama walau pun sekarang kita berada di jalan yang berbeda. Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi di tempat yang sama. Berdiri berdampingan. Bahu membahu untuk menggapai langit sampai kita..." Lanjut Jhon.
"Mencetak angka ke dalam ring kesuksesan." Ilham tiba-tiba melanjutkan.
Jhon kaget sekilas mendengar ucapan Ilham sebelum akhirnya ia tersenyum. Mereka tertawa bersama dan melakukan high five. Kalau bukan karena ring kesuksesan, mereka tak akan bekerja keras sampai saat ini. Hobi yang sama, mimpi yang sama, tujuan yang sama. Itu yang membuat mereka terus berjalan walaupun banyak rintangan yang harus dilalui.
***
"Dengar, anak-anak! Beberapa hari lagi hari turnamen Se-Lampung akan tiba. Jadi saya harap kalian menjaga kesehatan agar kalian dapat mengikuti turnamen sampai selesai. Mengerti? Jangan sia-siakan latihan kalian selama ini." kata Pak Ridwan usai ekskul basket hari itu.
"Mengerti, Pak!" seru tiga puluh anak perwakilan yang akan ikut turnamen.
"Baiklah, selain Nugroho, Toni, Made, Jhon dan Ilham, sekarang boleh bubar! Pulang dan istirahatlah!" kata Pak Ridwan. "Untuk nama yang Bapak sebutkan tadi, harap tunggu Bapak sebentar untuk rapat. Bapak akan mengembalikan bola ke gedung dulu."
Semuanya langsung berkemas dan bersiap-siap untuk pulang. Tak terkecuali Ilham, Jhon, Nugroho, Toni dan Made. Walau pun mereka di tahan, mereka juga ingin membereskan barang agar nanti bisa cepat pulang setelah rapat. Namun, sampai saat ini mereka masih belum saling bertegur sapa seperti biasanya. Tak ada keluhan lelah yang biasanya keluar dari mulut Nugroho. Tak ada ucapan-ucapan nasihat yang mengomeli Nugroho. Tak ada Made dan Toni yang selalu tertawa melihat Nugroho diomeli. Tak ada pembicaraan apa pun yang terjadi walau pun mereka duduk berdekatan.
Begitu selesai berkemas, Ilham langsung menyampirkan tasnya di sebelah pundak. Ia diam saja melihat teman-temannya yang masih sibuk dengan tas mereka masing-masing. Rasanya ingin berpamitan kepada mereka, tapi ia masih ragu. Nugroho, Toni, Made. Melihat kehadirannya di ekskul basket saja sudah membuat mereka mengunci mulut.
"Ham!" seru Jhon begitu melihat Ilham hampir keluar dari lapangan.
Ilham menoleh.
"Kau ingin kemana? Tak ikut rapat? Pak Ridwan sebentar lagi datang.” kata Jhon.
Ilham tersenyum samar. Kemudian, ia berbalik badan lagi, hendak pergi. Namun, kepergiannya tertunda karena ternyata Pak Ridwan telah kembali ke lapangan. Beliau heran melihat Ilham hampir saja pergi.
"Ilham?" tanyanya heran.
"Pak...!" kata Ilham tersenyum paksa.
"Ayo berkumpul sebentar. Ada yang ingin Bapak bicarakan dengan kalian berlima tentang turnamen nanti. Atau kau ada urusan?" tanya Pak Ridwan lagi.
Ilham diam saja. Ia melihat ke arah teman-temannya sejenak dengan gelisah. Kehadiran Pak Ridwan membuatnya menjadi sulit kabur dari sana. Masalahnya bukan ia buru-buru atau bagaimana. Tapi, ia masih belum terlalu nyaman berada di antara teman-temannya dengan keadaan seperti ini.
Keheningan menguasai mereka beberapa waktu. Semuanya menunggu Ilham angkat bicara duluan. Namun, Ilham tetap mengunci mulutnya. Laki-laki itu menghela nafasnya berat, membenarkan sampiran tasnya dan segera melangkah meninggalkan lapangan tanpa memperdulikan mereka. Ia benar-benar tak tahu harus berbicara apa kepada mereka. Kalau saja Ilham tahu bagaimana caranya saat itu juga mencairkan suasana, ia pasti akan melakukannya. Tapi, sayangnya ia sama sekali tak tahu bagaimana caranya.
Nugroho, Toni dan Made diam saja menyadari Ilham meninggalkan lapangan tanpa meninggalkan sepatah katapun untuk mereka. Mereka tak terlalu mengharapkan Ilham kembali seperti biasanya. Selama ekskul tadi ia tak berbicara kepada mereka. Di lapangan ia juga masih ragu-ragu saat memberikan bola kepada salah satu dari antara mereka.
Jhon menghela nafasnya melihat kepergian Ilham. "Sudahlah, Pak. Biarkan saja dia pulang. Dia hanya perlu waktu sendiri. Biar nanti aku yang menyampaikan rapat hari ini."
Pak Ridwan diam sejenak memandang Jhon. "Oh... baiklah kalau begitu."
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa, Pak Ridwan? Apa terjadi sesuatu?" tanya Made penasaran.
Pak Ridwan berjalan mendekati anak-anak didiknya dan duduk di antara mereka yang duduk melingkar. Ia menghela nafasnya sejenak sebelum mulai bicara. "Mungkin kalian tak sadar, tapi belakangan ini Bapak memperhatikan kalian berempat dengan Ilham berbeda dari biasanya. Bahkan kekompakan kalian juga berkurang. Terutama hari ini. Kenapa? Kalian bertengkar?"
Keempat laki-laki yang ada di antaranya terdiam.
"Jujur, saya agak kecewa dengan kalian karena kalian membawa-bawa masalah ke lapangan. Kalian harus tahu, pembasket profesional itu tak akan berbuat seperti itu. Basket itu olahraga tim, bukan individu. Kalau kalian tak ingin bekerja sama, untuk apa kalian masuk basket?" tanya Pak Ridwan. "Sebenarnya kalian kenapa? Apa karena Ilham bolos latihan minggu kemarin? Kalian bahkan lebih akrab dengan Dilan sekarang. Kemana White Team yang saya didik itu?"
"Sebenarnya, terjadi sedikit kesalahpahaman, Pak...!" Jhon akhirnya angkat bicara untuk meluruskan semuanya. Tak perduli dengan tatapan teman-temannya.
"Maksudmu?" Pak Ridwan beralih ke arah Jhon.
"Kalau harus jujur, sebenarnya saya juga tidak tahu kenapa, tapi semenjak Dilan masuk ke ekskul basket dan berlatih bersama kami, Dilan selalu bilang kalau Ilham itu tidak becus latihan. Dan dia itu bukan kapten yang baik. Dan didukung dengan sikap Ilham yang akhir-akhir ini berubah, kami pikir ucapan Dilan itu benar, Pak." Jelas Jhon.
"Lalu?" Tanya Pak Ridwan singkat.
"Kami... Kami menjauhinya, Pak." kata Jhon pelan.
"Dan kalian pikir itu adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah kalian?" tanya Pak Ridwan sambil menghela nafas. "Dengar ya, anak-anak. Semua masalah itu hanya akan selesai jika kalian membicarakannya langsung. Bukan perang dingin seperti itu. Pantas saja Ilham menjadi tidak nyaman. Kalian pasti tahu itu, kan?"
"Tapi, Ilham memang tidak becus, Pak. Dia bolos latihan dua kali. Dia juga berkali-kali bermain sendiri di lapangan. Bapak juga melihatnya sendiri setiap kali latihan, bukan?" kata Nugroho tak mau mendengarkan.
"Nugroho, semua yang dilakukan manusia itu ada alasannya. Begitu juga dengan Ilham. Kalian bahkan tidak membicarakan ini dengan Ilham, bukan?" Lanjut tanya Pak Ridwan.
"Kami sudah mengajaknya berbicara waktu itu, Pak. Tapi, dia bilang dia ada urusan. Tak bisa ikut ke rumah Jhon untuk membicarakan hal ini. Dia bukannya menjelaskan, malah lari dari kita semua." kata Made.
"Pikiran macam apa itu, Made?" kata Pak Ridwan langsung melotot ke arahnya sebal. "Kau itu sudah berapa lama bersahabat dekat dengan Ilham. Tapi, pikiranmu masih sedangkal itu?!. Kau tak bisa menyimpulkan Ilham lari dari masalah hanya karena dia tak bisa berkumpul dengan kalian satu kali." Lanjut Pak Ridwan.
"Lalu, kalau bukan lari dari masalah, apa namanya?" tanya Toni membela Made. Ia mendengus pelan. "Kalau tahu Bapak akan membahas hal ini, saya sudah pulang dari tadi. Saya malas membahas kapten bodoh itu." Ucap Toni Adam kesal.
"Toni! Jaga ucapanmu!" Pak Ridwan mulai tak sabar.
"Sudah, sudah! Kalian semua tak ada yang benar!" kata Jhon ikutan tak sabar. "Nugroho! Toni! Made! Kalian tak ingin membicarakan Ilham, bukan? Kalau begitu, lebih baik kalian pulang. Biar gue yang jelaskan semuanya pada Pak Ridwan." Ucap Jhon.
"Elo ingin menjelaskan apa? Menjauhi Ilham itu ide elo, Jhon!" kata Nugroho sebal.
"Banyak omong elo, Nug! Sudah sana pulang!" kata Jhon terkesan mengusir.
Nugroho, Toni dan Made menatap Jhon dengan darah yang sudah mendidih. Mereka benar-benar emosi dengan Jhon hari ini. Pikiran mereka tertuju kepada Ilham sekarang. Entah apa yang dilakukan laki-laki itu sampai Jhon begitu membelanya. Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung meninggalkan lapangan tanpa pamit. Jhon yang melihat tingkah mereka bertiga hanya menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya kau tak seperti itu, Jhon. Mereka teman-temanmu." kata Pak Ridwan.
"Ya, saya tahu, Pak," kata Jhon pelan. "Tapi, saya benar-benar butuh privasi untuk menceritakan semuanya. Hanya saya yang tahu apa yang sedang terjadi di antara kita berlima. Walau tidak semuanya." Lanjut Jhon.
"Sebelum itu, Bapak harap kau menyesal dengan idemu menjauhi Ilham." Ucap Pak Ridwan.
Jhon mengangguk pelan.
Pak Ridwan tersenyum. Ia menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. "Duduklah. Cerita pada Bapak. Bapak benar-benar khawatir dengan White Team sekarang, Jhon. Kalau kalian begini terus, bagaimana kalian bisa bertanding di turnamen besar Se-Lampung itu." Ucap Pak Ridwan.
Jhon menurut. Ia duduk di sebelah Pak Ridwan.
__ADS_1
"Sebenarnya begini, Pak...!!!"