ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 64 : WHITE TEAM, FRIENDS TILL THE END


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Ilham kemarin dan desakan Ilham belakangan ini, Made akhirnya menitipkan pesan kepada adik kelas untuk mengabari Jhon agar dia bisa menemui dan berkunjung ke asramanya Ilham hari ini. Selagi mereka tidak di asrama yang sama walaupun angkatan yang sama, mereka bisa berbicara baik-baik tentang hal yang sudah beberapa hari ini membebani pikiran mereka berdua. Untungnya, Jhon mempunyai pikiran yang sama, sehingga tanpa banyak basa-basi lagi, dia langsung berangkat menuju asrama di mana Ilham berada itu.


Sekarang mereka menikmati suasana hening di kamar Ilham dan mereka sedang berpikir solusi apa yang baik untuk masalah ini. Dan bagaimana caranya mereka menyelesaikan masalah ini tanpa harus menghancurkan persahabatan mereka. Bagaimanapun juga, White Team bisa dibilang tim andalan sekolah. Dan basket bukanlah permainan individual. Mereka harus mempertahankan kerja sama dan kepercayaan satu sama lain. Mereka tidak boleh sampai mengecewakan.


"Gue rasa dia sungguh-sungguh ingin menghancurkan kita, Ham." kata Jhon setelah mendengarkan cerita Ilham dan Made tentang pikiran yang membebani mereka. Sekarang dia sedang berbaring di tempat tidur Made. "Kalau tidak, untuk apa dia sampai mencari tahu tentang team inti baru kita. Mengajaknya tanding pula." Lanjut Jhon dengan pendapatnya.


Made yang duduk di kursi mengangguk setuju. "Gue penasaran bagaimana hasil pertandingan itu. Toni belum cerita soal pertemuannya dengan anak basket itu, kan?" Lanjut tanya Made.


"Ya. Mungkin kita bisa bertanya kepada besok dan gue yakin anak basket yang dimaksud Toni itu Fauzi Rizal." kata Ilham. "Kalau bukan dia, anak sekolah mana yang bisa keluar masuk komplek asrama Sekolah Perawat Kesehatan ini kalau belum pernah sekolah di sini dan siapa lagi yang berani menantang langsung Toni?" Jelas Ilham.


"Betul. Gue juga masih ingat apa yang terjadi dan apa katanya waktu dia masih satu sekolah dengan kita." kata Made. Ia menyandarkan  tubuhnya di kursi. "Tapi, gue nggak menyangka bahwa dia benar-benar akan melakukannya." Lanjut Made menghela nafas beratnya.


"Kalau begitu, bagaimana dengan Toni dan Nugroho? Apa kita harus beritahu mereka tentang dia?" tanya Ilham. Ia menoleh ke arah Jhon. "Bagaimana menurut elo?" Lanjut Ilham.


Jhon menggeleng. "Tidak, Ham. Cukup kita saja yang tahu. Masa lalu kita tidak ada urusannya dengan mereka. Walaupun sekarang kita satu team, kita harus menyimpan tentang Fauzi Rizal rapat-rapat. Kalau mereka memang harus tahu, baru kita cerita. Demi persahabatan kita." Jelas Jhon kemudian.


"Elo yakin mereka tidak akan marah dan timbul kesenjangan antara kita dan Sam pun belum tahu akan hal inikan?" Tanya Ilham.


"Ya. Seharusnya mereka mengerti, Ham. Kalau pun nanti semuanya tidak berjalan sesuai dugaan kita, aku yakin Toni, Nugroho dan Sam bisa mengatasinya." kata Jhon, kemudian segera bangkit untuk duduk.


"Kenapa elo begitu yakin?" tanya Made heran.


Jhon menoleh ke arah Made. "Entahlah. Yang jelas, semenjak gue mengenal Toni, Nugroho dan Sam sebagai temanku dan juga saudara dalam White Team, gue merasa bisa mempercayakan semuanya kepadanya." Ucap Jhon.


Ilham dan Made mengangguk. Kemudian, suasana kembali hening. Pikiran mereka kembali melayang kemana-mana. Sore itu benar-benar sore yang menggelisahkan bagi mereka. Tapi, yang dikatakan Jhon benar. Mereka jelas percaya kepada Nugroho, Sam, apa lagi Toni. Sikap tenang dan ramah Toni selama ini membuat mereka yakin bahwa dia masuk ke dalam sekolah mereka karena takdir untuk mengubah semuanya.


***


"Perhatian semuanya!" suara Pak Ridwan menggema ketika ekskul basket hampir selesai. Semua anak basket langsung berkumpul di hadapan Pak Ridwan. "Kalian tentu tahu, kita sudah melatih tim basket kita selama kurang lebih dua bulan. Dan selama itu juga, Bapak telah melihat potensi kalian masing-masing dalam basket. Bagaimana kalau kalian unjuk bakat di saat pertandingan di Sekolah Menengah Atas Dwi Warga nanti?" Ucap pak Ridwan lantang.


Semua anggota basket bersorak. Pertandingan di sekolah lain tentu saja selalu membuat mereka bersemangat. Tapi, tidak dengan anggota basket team inti. Mereka tampak terdiam mendengar pertanyaan Pak Ridwan. Pada hal, semangat merekalah yang terpenting dari semua anggota basket.


"Ilham, Toni, Made, Jhon, Sam, Nugroho dan Toni? Apa kalian siap?" tanya Pak Ridwan karena melihat kelima anak tersebut yang tergabung dalam team inti dan dua cadangan justru diam. "Lomba akan diadakan dua bulan ke depan. Kalian masih mempunyai banyak waktu untuk berlatih. Nanti kalian akan pergi bersama beberapa anggota basket cadangan tambahan pula." Lanjut pak Ridwan.


Ilham tersenyum. "Kalau semuanya mendukung, aku tidak memiliki alasan untuk tidak siap, Pak. Saya akan berjuang sekuat tenaga." ucap Ilham yakin.


"Elo yakin, Ham?” tanya Made ragu.

__ADS_1


Ilham tersenyum ke arah Made, kemudian mengangguk. Ia tatap satu per satu teman-teman basketnya untuk menyakinkan mereka. Tangannya terulur di antara tengah-tengah mereka. "Kita akan berjuang bersama, apa pun yang terjadi. Itu janji kita, bukan?" Ucap Ilham kemudian.


Toni menumpukkan tangannya di atas tangan Ilham. Namun, dari Made, Jhon maupun Sam tak ada yang bergeming untuk melakukan yang sama. Masih ada segumpal kekhawatiran di dalam diri mereka. Akhirnya, Toni mengambil alih tangan mereka satu per satu dan menumpukkannya di atas tangannya dan tangan Ilham. Kemudian, Ilham mengambil aba-aba untuk berseru, "White Team, Friends Till The End!"


Pak Ridwan mengangguk-angguk senang. Kemudian, ia menoleh ke arah anggota basket yang lain. "Untuk pemain cadangan, Bapak harap Wisnu dan teman-temannya bisa menemani White Team ke sana untuk mengawal Nugroho dan Toni. Kalian mungkin diperlukan." Lanjut pak Ridwan.


"Baik, Pak!" sahut Wisnu semangat.


"Baiklah, bubar semuanya!" kata Pak Ridwan membubarkan ekskul.


Semua anggota basket langsung pergi menuju pinggir lapangan dan membereskan tas mereka masing-masing. Sebagian besar dari mereka langsung meninggalkan lapangan, sebagian lainnya tetap di lapangan untuk beristirahat sebentar. Termasuk White Team dan tim cadangan basket putra. Latihan hari ini benar-benar melelahkan bagi mereka. Setelah mendengar pengumuman dari Pak Ridwan barusan, mereka baru mengerti mengapa Pak Ridwan membebaskan anggota basket lainnya demi memberikan tim inti latihan intensif hari ini.


"Made, air gue habis. Elo punya botol lebih? Gue sangat haus!" tanya Ilham sambil menaruh kembali botol minumnya ke dalam tas karena sudah kosong.


"Ambillah botol milik gue, Made hanya membawa botol lebih jika dia merasa butuh." kata Toni sambil melemparkan botol minumnya yang masih penuh. Ilham langsung menangkapnya dengan sigap dan langsung meneguknya.


"Terimakasih, Ton!" kata Ilham sambil tersenyum. Kemudian, ia segera duduk di sebelah Toni yang sedang menghapus peluh dengan handuknya. "Ah, akan sangat menyenangkan jika Toni mendapatkan makanan lagi detik ini juga. Gue benar-benar lelah!" Ucap Ilham.


"Otak elo selalu saja tentang makanan, Ham." kata Jhon sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau elo ingin makan, pulanglah ke asrama berangkat ke dapur. Eli bebas membongkar dapur." Canda Jhon.


"Ya, gue akan pulang duluan ya balik ke asrama!.” kata Ilham. Sampai jumpa besok, All White Team." kata Ilham sambil menepuk pundak temannya dengan pelan. Kemudian, langsung beranjak dari kursinya.


***


"Hah! Gue benar-benar pusing dengan istilah-istilah Patologi ini." kata Ilham sambil menyandarkan tubuhnya di kursi sehingga kepalanya menatap langit-langit kamar.


Made yang duduk di sampingnya berhenti menulis dan berkata kepadanya, "Tapi nilai kita tidak akan selamat jika kita tak terus berusaha menambah nilai. Elo juga tahu guru Patologi kita adalah guru killer." Ucap Made.


"Ya ya, gue tahu." kata Ilham malas. Ia kembali duduk tegak dan menoleh ke arah Made. "Tapi, gue masih memikirkan tentang pertandingan kita nanti, De. Sekolah Menengah Atas Dwi Warga, itu sekolah Fauzi Rizal, bukan?" Tanya Ilham.


Made mengangguk. "Ya. Dan dia pasti ikut ekskul basket di sana. Gue yakin dia menggunakan berbagai cara untuk bisa menjadi kapten. Benar-benar kasihan anggota tim basketnya harus dipimpin oleh orang seegois dia." Jelas Made.


Ilham mengangguk.


Made bertopang dagu. "Gue tak tahu siasat jahat apa lagi yang akan dia lakukan nanti di pertandingan. Dia pasti memiliki rencana untuk membuat timnya menang." Lanjut Made.


"Tentu saja, gue yakin tahun ajaran ini akan benar-benar suram untuk anggota tim basket Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Seperti kita dulu, tidak pernah ada satu pertandinganpun yang kita lewati dengan sportif saat Fauzi Rizal menjadi kapten basket sekolah kita.” kata Ilham.

__ADS_1


Made mengangguk setuju. "Elo sudah menjadi kapten yang luar biasa selama ini. Kita semua harus bisa melindungi elo dari ketidaksportifan Fauzi Rizal, Ham. Kita juga bisa meminta bantuan Wisnu dan teman-temannya." Jelas Made lagi.


Ilham dan Made mengangguk kompak.


"Ya sudah, lebih baik kita selesai PR kita sebelum jam tidur tiba." kata Made.


Ilham mengangguk setuju. Kemudian, kembali sibuk menulis jawaban soal-soal Patologi yang masih banyak. Yang terpenting adalah mereka bisa cepat menyelesaikan semua pekerjaan rumah mereka dan mendapatkan istirahat yang cukup. Apalagi sebentar lagi mereka akan bertanding, mereka harus menjaga kesehatan.


***


Kegiatan sekolah hari ini benar-benar melelahkan untuk Toni. Jam pelajaran hari ini benar-benar menguras otak. Dari pelajaran Perawatan Dasar yang mengerjakan banyak latihan soal, kemudian ada Etika Keperawatan yang bekerja kelompok untuk membuat drama dan masih banyak lagi yang lainnya sampai mereka berakhir di pelajaran terakhir... Pelajaran olahraga...!


"Gue benar-benar lelah!" keluh Nugroho setelah mereka menyelesaikan pemanasan mereka. Rambutnya sudah mulai basah dengan keringat.


Toni yang sedang menyegarkan badan dengan air minumnya hanya menatap Nugroho diam. Ia segera menelan air yang masih ada di dalam mulutnya dan menepuk pundak temannya tersebut. Kemudian, tanpa banyak bicara dia langsung menyodorkan sebuah botol minum yang masih penuh. Tentu saja botol itu adalah botol minum milik Nugroho.


"Terima kasih, Ton. Gue benar-benar butuh ini." kata Nugroho teman sekelas Toni sama-sama duduk di kelas satu semester dua sambil tersenyum.


Toni hanya tersenyum balik menanggapinya.


"Ah! Akhirnya gue segar kembali. Gue selalu lelah setelah Pak Ridwan menyuruh kita berlari dua kali keliling lapangan. Padahal kita sudah menguras otak dari jam pertama tadi. Benar-benar menyiksa." kata Nugroho sambil menutup botol minumnya setelah menghabiskan seperempat air dari botol minumnya. Ia menoleh ke arah Toni. Sambil mengatur nafasnya, ia bertanya. "Elo tidak lelah?" Tanya Nugroho.


"Sejak kecil gue sering lari pagi dan belajar setiap malam." Ucap Toni.


Nugroho manggut-manggut mengerti. "Beruntungnya elo. Gue ingin seperti itu. Tahan dengan segala kelelahan. Tapi, setiap kali gue mengeluh, Pak Ridwan selalu mengatakan kalau merasa lelah itu justru lebih bagus."


Toni tertawa mendengarnya. "Elo hanya belum terbiasa." Lanjut Toni.


"Elo pasti menyukai basket sejak elo benar-benar masih kecil ya?" Tanya Nugroho.


Toni mengangguk.


"Pantas saja, harusnya gue sudah menebak. Lari pagi sebelum bermain basket dan belajar setiap malam memang salah satu kegiatan rutin pembasket cerdas seperti elo. Benar?” tanya Nugroho sambil tertawa. "Gue ingin sekali menjadi pembasket yang handal. Setidaknya seperti elo!" Lanjut Nugroho.


"Sehebat itukah gue?" tanya Toni sambil menoleh ke arah Nugroho.


"Tentu saja!" Ucap Nugroho penuh kejujuran.

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama.


__ADS_2