
Perubahan seseorang bisa terjadi akibat cinta yang tulus dari seseorang yang menyayanginya. Kalimat itu sepertinya selalu didengar oleh cewe' ini. Dan kalimat itu pula menyindir dirinya. Dirinya memang sangat menyayangi kekasihnya. Tapi buktinya dia tidak bisa merubah sifat jelek yang dimiliki oleh kekasihnya. Suka membolos, tidak pernah mengerjakan PR, selalu menghindar jika berurusan dengan guru atau selalu datang terlambat. Itulah sifat yang dimiliki oleh kekasih cewe' ini. Entah berapa lama cewe ini duduk di bangku taman belakang sekolahnya dari bel istirahat berbunyi.
Dengan diiringi kicauan burung yang menari di atasnya dan suara keberisikan anak-anak yang sedang bergabung dan bercanda bersama teman-temannya, gadis ini selalu saja melamun. Entah apa yang dilamunkan. Hingga seseorang menyadarkannya dari alam khayalannya.
"Dorr...!" Teriak orang itu menepuk pelan bahu sang cewe'.
Cewe' ini sempat kaget tetapi setelah melihat siapa yang mengagetkannya cewe' ini bertambah marah.
"Ilham, apa deh. Nggak lucu. Kalau tadi gue jantungan gimana...?!" Sebal cewe' ini kepada orang itu yang ternyata Ilham.
"Ya habis elo ngelamun disini. Ngelamunin apa sih? Gue yah?" Goda Ilham.
"Siapa bilang gue ngelamunin elo?" Ucapan sang cewe' membuat Ilham menggerutu karena tidak terima dengan jawabannya.
"Hahaha...! Jelek banget muka elo tahu nggak. Lagian elo aneh-aneh aja. Habis darimana? Pasti tadi bolos lagi, ya kan?" Tanya sang cewe' memastikan.
"Hehehe...! Tadi pelajarannya Pak Djali. Males banget tahu nggak dengerin ceramahnya yang bisa bikin saru kelas tidur massal." Jawab Ilham dengan santainya.
"Lebih baik elo tidur di kelas dari pada absen pelajaran Pak Djali tahu nggak. Elo itu Ketua OSIS. Masa iya Ketua OSIS suka absen kalo pelajaran berlangsung. Elo harusnya bisa memberikan contoh yang baik dong buat yang lainnya!" Pesan sang cewe' yang ternyata Rosa yang mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.
"Sekarang jago ceramah ya. Belajar darimana? dari Pak Djali pasti." Tebak Ilham.
"Gue cuma ngingetin elo. Kenapa sih elo nggak pernah dengerin gue? Gue pengin lihat elo jadi anak yang rajin, mandiri dan disiplin. Elo itu juga harus bertanggung jawab sama jabatan elo." Jelas Rosa.
"Gue bertanggung jawab kok. Buktinya gue nggak pernah absen kalo OSIS ngadain rapat terus gue juga nggak pernah telat dateng latihan buat basket. itu bentuk pertanggung jawaban gue sesuai jabatan gue kan?" Bales Ilham dengan senyum penuh kemenangan.
"Tapi dengan elo berangkat telat, elo suka absen kalo pelajaran dan sering banget dapet surat peringatan dari guru karena ulah elo itu ngebuktiin kalo kenyataannya nggak bertanggung jawab." Balas Rosa kesal.
"Aduh Rosa. Dengerin gue sekarang. Elo lihat deh Made, Ali Mat Hasan sama Jhon juga begitu." Bela Ilham.
"Karena mereka itu sahabat elo. Makannya mereka ngelakuin hal yang sama kaya gitu. Kenapa sih nyangkal mulu dari tadi. Gue kan cuma ngingetin. Coba elo lihat yang lain apa mereka melakukan hal yang sama kaya elo? Kenapa sih elo bukan mencari contoh yang beneran malah yang sama kelakuannya kayak elo. Elo nggak malu apa ngelakuin hal yang jelek kaya gitu?" Ucap Rosa.
"Maksudnya elo? Perasaan cuma elo satu-satunya yang ngelihat perbuatan gue deh." Ucap Ilham disertai cengiran lebarnya.
"Ihhhh, sebel sendiri tahu nggak kalau lagi ngingetin elo. Terserah elo deh sekarang!" Balas Rosa kesal.
“He Cha, jangan panggil elo gue dong?! Panggil dengan sebutan sayang kek, honey kek. Kan lebih romantis." Lanjut Ilham mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
"Nggak mau. Kecuali …….!!!" Rosa memberhentikan kalimatnya dan melihat wajah sang kekasih yang penasaran dengan kelanjutan omongannya.
"Apa...?" Tanya Ilham penasaran.
"Elo mau jemput gue setiap pagi di asrama putri. Jam setengah 7 udah sampe di depan asrama gue. Mau?" Tawar Rosa.
"Kok gitu sih. Kan elo biasa berangkat sendiri ma Nelly. Tugas gue kan kalau pas dinas aja nganterin pulangnya. Masalahnya bukan suruh jemput elo nya. Tapi waktunya itu yang kepagian." Jelas Ilham.
"Jam setengah 7 elo bilang pagi? Buat gue itu udah siang banget tahu nggak. Mau nggak? Kalau nggak mau ya udah. Berarti gue bakalan manggil elo nggak pake sayang!" Ancam Rosa penuh kemenangan.
"Iya deh iya. Tapi berangkatnya jam 7 aja ya?" Pinta Ilham dengan wajah memelas.
"Jam setengah 7. Kalo nggak mau juga nggak apa-apa. Nggak ada ruginya buat gue." Ucap Rosa seraya beranjak dari duduknya.
"Eh iya iya. Jam setengah 7." Balas Ilham cepat.
"Ya udah. Jangan sampe telat. Kalau sampai lebih dari 5 menit gue bakalan bener-bener nggak pernah manggil sayang." Balas Rosa mengancam.
"Iya... Iya. Gue dateng tepat waktu besok pagi." Pasrah Ilham menuruti keinginan Rosa.
"Hmmm, Ok. Gue tunggu. Ya udah, gue ke kelas dulu. Jangan bolos lagi!" Pesan Rosa sebelum dirinya benar-benar meninggalkan sang kekasih di taman yang sedang menggerutu kesal karena ulahnya itu. Sebenarnya cewe' ini hanya ingin sang kekasih merubah kebiasaan buruknya itu.
"Kenapa muka loe Ham. Kusut gitu. setrika loe rusak yah. Atau jangan-jangan dicuri lagi sama loe De." Canda Jhob kepada sahabatnya yang bernama Made yang sedang asik memainkan sendok di kantin.
"Sialan loe." Bersamaan dengan ucapan Made yang itu, sebuah sendok meluncur tepat mengenai puncak kepala Jhon.
"Aw, sakit bego." Keluh Jhon seraya mengusap-usap kepalannya yang terkena lemparan sendok Made.
"Udah deh. Loe berdua kerjaannya berantem mulu. Nggak lihat loe, sahabat kita yang satu ini mukannya ditekuk 50 lipat gini!" Canda Ali Mat Hasan lebih santai dan mengarahkan dagunya kearah Ilham.
"Galau bro...!" Jawab Ilham singkat.
"Hmmm, temen sekelas kita yang satu itu emang selalu bikin loe galau Ham. Ngapain lagi dia? Jangan bilang kalau dia nyeramahin loe lagi. Emang yah dasar cewe', kerjaanya ceramah mulu. Lama-lama bukan cuma Pak Djali yang jago ceramah tapi semua kaum hawa kayaknya bakalan ngikutin jejak Pak Djali." Ucap Made panjang lebar.
"Loe lama-lama kayak cewe' yah De. Omongan loe itu jauh lebih panjang dari cewe' gue tahu nggak. Dan harus gue akuin kalo loe itu lebih cerewet daripada cewe' gue." Komentar Jhon santai.
"Iya Jhon, gue setuju sama loe. Hahaha...!" Ucap Ali Mat Hasan menyetujui perkataan sahabatnya yang menjadikan Made menggerutu kesal.
__ADS_1
"Udah udah. Back to the topic. Galau kenapa Ham?" Tanya Made pada Ilham yang sedari tadi cuma menggerutu kesal dan sama sekali tidak respon perbuatan sahabatnya barusan.
"Gue setuju sama omongan Made barusan. Kayaknya semua kaum hawa bakalan ngikutin jejak Pak Djali yang suka ceramah panjang lebar." Ucapan Hendry membuat Made tersenyum lebar.
"Akhirnya ada yang belain gue juga. Hahaha...!" Sambut Made dengan tertawa senang.
"Nggak penting banget deh loe De. Lama-lama loe kayaknya harus minum ramuannya dokter di rumah sakit jiwa deh. Supaya penyakit jiwa loe bisa sembuh." Ucap Jhon yang membuat kedua sahabatnya tertawa lebar dan Made menggerutu kesal melihat sahabatnya yang tidak setia kawan padanya.
"Kalian bertiga dari tadi sekongkol mulu buat ngeledekin gue. Sialan loe semua. Nggak setia kawan banget sih loe pada sama gue." Gerutu Made kesal.
"Hahaha...!" Bukannya simpati sama ucapan Made, sahabatnya malah tertawa semakin lebar mendengar penuturan Made.
"Makannya kalo ngomong tuh jangan asal nyeplos aja. Lihat situasi dan kondisi dong...!" Ucap Ali Mat Hasan.
"Dengerin tuh kata bang Ali Mat Hasan, De. Loe dari tadi paling ribut tahu nggak. Rusuh banget jadi orang...!" Ucap Ilham menambahkan. "Udah... udah, kasihan Made nya guys. Jangan diledekin mulu." Tambahnya.
"Tuh dengerin kata Ketua kita." Ucap Made.
"Siap ketua. Loe udah nggak galau lagi Ham?" Tanya Jhon.
"Masih lah. penderitaan gue belum berakhir guys. Loe bertiga harus tahu. Si Rosa bukan cuma nyeramahin gue tadi. Tapi dia nyuruh gue buat jemput dia besok pagi di asrama putri A. Dan kalian tahu jam berapa? Jam setengah 7 guys. Gila nggak tuh? Mana mungkin gue bisa bangun sepagi itu. Berangkat apel pagi aja biasannya gue terlambat, cuci muka langsung apel!" Keluh Ilham yang membuat ketiga sahabatnya tertawa lagi.
"Sialan loe. Nggak sependeritaan nggak sepenanggungan dan nggak setia kawan." Ucap Ilham lagi.
"Hahaha...! Jadi ceritannya loe mau tobat Ham buat nggak berangkat telat lagi?" Ucap Jhon.
"Ya kayaknya sih gitu. lebih baik gue nurutin kemauan Rosa dari pada harus dengerin dia setiap hari nyeramahin gue." Ucap Ilham.
"Jadi anceman dia cuma itu Ham. Kenapa nggak elo lawan aja?" Komentar Made.
"Masalahnya yang nyeramahin tuh Rosa. Yang notabane nya sebagai pacar gue sekarang. Kalo bukan pacar gue mah nggak apa-apa, masa bodo amat!. Tapi ini rosa, ntar dikira gue nggak sayang ma dia lagi."
"Hahaha...! Ya juga ya Ham. Ya udahlah loe berusaha jadi anak yang baik aja kalo gitu. loe mesti nurutin kemauan Zahra" Usul Ali Mat Hasan memberikan solusi untuk Ilham.
"Kayaknya emang mau nggak mau begitu guys. Nasib banget yah." Balas Ilham.
"Lagian loe juga yang aneh. Kalau gue ma cewe' gue nggak ada masalah. Cuma satu masalahnya cewe' gue itu ceramahnya jauh lebih panjang dari Pak Djali." Keluh Jhon.
__ADS_1
"Hahaha...! Sudahlah, Kenapa kita jadi ngelantur gini sih. Ke kelas aja yuk, bentar lagi bel." Ucap Ilham.
"Ya udah yuk." Ucap yang lain seraya beranjak dari duduknya dan keluar kantin menuju ke kelas mereka.