
"Sadar diri coba! Elo itu menyusahkan kita! Kelompok elo sendiri! Sudah berapa kali elo telat gini dan kita selalu dikeluarkan! Gara-gara siapa? Elo!" Suara Made serak, jas laboratorium yang ia pakai tergumpal di lengannya, ia mengusap wajahnya.
"Maaf, gue nggak akan gini lagi. Beneran, De." Balas Ilham dengan perasaan yang tak menenentu.
"Sialan! Elo juga ngomong gitu kemarin. Buktinya apa? Nggak usah banyak alasan mentang-mentang sibuk organisasi. Praktikum ‘tuh diurusin!" Ucap Made lagi dengan keras.
"Heh sudah," Rina menengahi mereka, "Namanya kesiangan nggak ada yang tau kan De, lagian ini cuma praktikum. Jangan sampai kalian berantem cuma gara-gara hal kayak gini." Lanjut Rina lagi.
Ilham tau dia salah, ini sudah hampir hari kedua ia kesiangan karena bayang-bayang kegagalan Acara OSIS berskala nasional yang dia pegang beberapa saat lalu membuatnya takut. Acaranya dibatalkan dengan kerugian besar. Semua sudah berjalan sesuai rencana, tetapi tiba-tiba seperti air bah, segalanya hanyut dalam sekejap. Seluruh persiapan dan kerja kerasnya sirna. Sampai ia merasa raganya sebentar lagi juga bisa tiba-tiba menghilang.
Sekarang sudah enam bulan berlalu aktivitas kembali dilakukan dengan hati-hati, dan ilham diamanahi tanggung jawab baru, sebuah acara baru. Bayangan acara yang gagal terus menghantuinya, membuatnya tidak bisa tidur sampai dini hari. Bayang-bayang itu menakutkannya.
"Gue sudah capek." Made berbalik, menyampirkan tas di pundaknya lalu pergi.
"Jadi kita nggak praktikum lagi hari ini?" Martina bertanya sambil ragu-ragu melepas jas laboratoriumnya.
"Maaf," sahut ilham, "Maaf gara-gara gue kesiangan kita jadi nggak bisa praktikum lagi hari ini, gue janji besok akan bangun lebih awal. Maaf semuanya." Ilham menunduk.
"Nggak apa-apa, Ham. Santai aja. Besok kita kesini lagi buat minta jadwal praktikum yang baru. Kita setelah ini ada rapat terakhir, ‘kan? Untuk acara OSIS?" Ranti mengacungkan jempol ke wajahnya sambil tersenyum, "Sekarang aja gimana? Dari pada kita nganggur sekarang?" ia melihat ke teman-temannya dan mereka setuju.
Ilham tersenyum kecil dan menjawab, "Bisa, Ran. Terimakasih." Lanjut Ilham.
"Ranti, silahkan dilaporkan kemajuan kegiatan kita dari rapat pertama sampai rapat terakhir ini." Ilham menoleh ke cewe' berkacamata yang menjabat sebagai sekretaris acara.
Ranti membuka catatannya, "saya mulai dari laporan untuk divisi acara ya. Sejauh ini, acara dimulai dari jam 8 sampai jam 12 siang dengan susunan acara seperti tahun kemarin dan konsep acara kita bakal ada sesi sharing, sesi tanya jawab, dan sesi hiburan. Lalu untuk narasumber juga sudah mengundang alumni yang berhasil menerima beasiswa di luar negeri, Bang Armen Putra. Untuk tema yaitu 'Mengembangkan Ilmu Keperawatan dan Asuhan Keperawatan sebagai Persiapan Menghadapi Revolusi Mental' tema sudah diserahkan ke divisi publikasi dan dokumentasi, dan sudah dikabarkan ke panitia terkait untuk mengadakan geladi bersih sore nanti." Ia menarik nafas.
Ranti, ketua divisi acara, mengangguk setuju atas pernyataannya.
"Kemudian laporan dari divisi publikasi dan dokumentasi, desain poster dan pamflet sudah disebar ke media sosial himpunan semenjak rapat kedua, spanduk sudah selesai cetak dan bisa dipasang nanti sore saat dekorasi ruangan. Lalu kamera, tripod, dan handycam untuk dokumentasi acara sudah siap untuk besok. Kemudian...!"
__ADS_1
"Izin, masuk," Ika, ketua divisi publikasi dan dokumentasi, mengangkat tangan. Ranti berhenti sebentar dan memandang ke arahnya, "Ada yang kurang, untuk kamera kita sudah siap tiga unit. Selain itu semua barang-barang dekorasi tinggal diangkut dari gudang jadi butuh bantuan dari divisi peralatan. Terima kasih."
"Baik saya lanjutkan, dari divisi humas dan dana, semua undangan mulai dari undangan untuk alumni, bang Armen Putra dan untuk ketua jurusan sudah tersampaikan sekaligus sudah dikonfirmasi kembali. Dana yang terkumpul juga sudah menutupi pengeluaran dan sisanya kembali dimasukkan ke kas himpunan." Jhon menyipitkan matanya sebentar kemudian mengangguk setuju.
"Lanjut laporan dari divisi konsumsi...!"
Martina sesekali melihat ke arah Ilham yang serius mendengarkan laporan dari Ranti. Ia sama sekali terlihat tak terganggu. Seharusnya ia bisa melerai kedua temannya tadi pagi. Mereka berdua sama-sama punya alasan tersendiri untuk marah. Martina dengan kegagalan acara yang terus menghantuinya dan made dengan tuntutan lulus praktikum agar bisa mengambil mata pelajaran pilihan semester depan.
"Kemudian laporan dari divisi perlengkapan," Ranti melirik Martina sebentar lalu melanjutkan, "Sekedar info, Martina disini dari anggota divisi perlengkapan mewakili ketua divisi perlengkapan sementara dalam rapat ini, made, karena tidak bisa hadir. Saya lanjutkan kembali laporannya, untuk jumlah kursi peserta dan kursi pemateri...!!!"
Tapi rasanya ia masih belum ada kapasitas untuk menyadarkan Ilham dan Made kalau semuanya akan baik-baik saja. Terkadang ia masih dihantui rasa bersalah dan merasa kalau penyebab kegagalan Acara OSIS berskala nasional adalah karena ketidakbecusan dirinya dalam memenuhi tanggung jawab. Mungkin perasaan itu juga yang Ilham rasakan.
"Oke, sekian yang bisa saya laporkan dari rapat pertama sampai rapat terakhir ini. Terimakasih."
Jantung Ilham bergemuruh, dahinya berkeringat. Perasaan ini yang menghantuinya dulu. Perasaan sudah lega semuanya telah dijalankan. Lalu tiba-tiba lenyap. Semuanya pupus begitu saja. Rencana-rencananya hilang ditelan bumi.
"Ham?" panggil Martina membuyarkan lamunannya. Ilham menggelengkan kepalanya, "Ah ya, maaf. Kita tutup rapat untuk hari ini. Semoga besok acara kita diberi kemudahan dan kelancaran oleh Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin."
"Elo habis ini mau kemana, Tin?" Ilham berdiri selagi memasukan barang ke tasnya.
"Gue mau makan dulu. Oh iya, Ham, tentang Made tadi pagi, dia mungkin lagi sensi aja, paling besok baik lagi. Nggak usah terlalu dipikirkan." Ucap Martina kemudian.
"Iya, gue tau. Kalau dia masih nyuruh elo untuk ikut rapat sebenarnya dia masih peduli, Tin." Balas Ilham tersenyum.
"Benar juga," Martina tertawa, "Kalau elo habis ini kemana, Ham? Makan juga?" Tanya Martina.
"Enggak, deh. Aku ke mushala aja." Jawab Ilham. Mushala menjadi tujuannya untuk berbaring sejenak sebelum mengikuti mata pelajaran beberapa jam lagi dan geladi bersih acara setelahnya. Ia memandang langit-langit bermotif kayu coklat diatasnya kemudian memejamkan mata. Rasanya hanya tidur yang bisa membuatnya lupa tentang rasa takutnya saat ini.
"Ham! Elo mau pulang, ‘kah?" suara cempreng itu membuatnya berbalik badan. Rina melambaikan tangan ke arahnya. Ia berhenti sejenak dan menunggu Rina berjalan beriringan dengannya menuju koridor asrama menuju asrama masing-masing.
__ADS_1
"Mau ke bulan." Jawab Ilham singkat.
Rina tertawa, "Capek banget ya ngedekor ruangan sama geladi bersih hari ini. Aku masih deg-degan acara besok bakal gimana." Lanjut Rina menjelaskan.
"Biasa aja." Jawab Ilham singkat.
"Jangan bohong." Ilham diam dan membiarkan cewe' itu berbicara, "Pasti berat ya jadi ketua terus, Ham?" Tanya Rina tersenyum manis.
"Enggak." Balas Ilham, "Udah biasa kali Rin?!" Lanjutnya.
"Elo paling sibuk. Bantu setiap divisi. Kesana-sini, antar ini dan itu. Hebat banget sih. Gue kalau jadi elo pasti nggak kuat." kemudian nada suaranya berubah, "Walau pun semuanya masih kebayang tentang kegagalan acara kemarin, tapi semangat elo tetap kelihatan untuk pegang acara ini semaksimal mungkin yang kita bisa. Makasih ya udah buat semuanya semangat lagi, Ham. Gue tau itu nggak gampang. Tapi kita semua percaya sama elo. Apapun yang terjadi kita jalani sama-sama ya, Ham. Elo hebat!" tiba-tiba wajahnya memerah, "Bukan, bukan kita jalani berdua. Maksudku kita jalani sama seluruh panitia, Ham." Lanjut Rina membenarkan perkataannya.
Ilham mendongakan kepala dan melihat langit yang mulai gelap. Bulan sudah terlihat di kejauhan. Ia menghembuskan nafas perlahan, "Acara kemarin gagal karena gue terlalu percaya diri kalau semuanya bakal berjalan dengan lancar. Dan ternyata? Batal. Gue gagal menyiapkan rencana cadangan untuk mengadakan acara kemarin. Gue selalu kepikiran setiap malam. Gimana kalo acara ini bakal bernasib sama. Gimana kalau tiba-tiba ada hal-hal di luar nalar yang nfgak bisa kita duga. Dan elo bilang gue hebat? Gue nggak sehebat yang elo pikirkan, Rin." Tukas Ilham.
Ia merasa perlu menyadarkan Rina bahwa dirinya tidak sehebat itu. Cewe' ini selalu percaya padanya sejak pertama kali bekerja sama. Ia tidak ingin Rina kecewa lebih dalam lagi dalam ketidakbecusannya menangani acara. Di luar ekspektasinya, cewe' itu malah berhenti di hadapannya sambil berkacak pinggang.
"Gue tau. Tapi gue nggak peduli hal-hal nggak hebat elo, Ham." Ia mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah Ilham, "Kalau elo nganggep diri elo gagal dan ngerasa beban ini terlalu berat, masih ada kita semua, masih ada seluruh panitia yang siap ngebantu elo apa pun yang terjadi. Ini acara kita sama-sama, ingat? Kita semua hebat, Ham. Elo liat Martina? Dia optimis banget buat ngundang alumni. Jhon? Dia rela begadang cuma untuk desain ruangan. Ika rela jualan pagi-pagi untuk pemasukan kas kita, dan seluruh perjuangan panitia yang nfgak bisa gue sebutin satu-satu. Kamu hebat, Ham, dan rekan elo juga hebat. Jadi kalau kita jatuh, kita bakal jatuh sama-sama. Jangan menyalahkan diri elo sendiri atas kesalahan kemarin. Semua pasti pernah gagal, dan elo wajar sedih atas kegagalan itu. Tapi gue nggak mau ngebiarin elo terus-terusan terjebak di rasa bersalah yang sama. Percaya sama gue, besok kita pasti bisa bangkit lagi. Acara kita yang ini pasti sukses satu miliar persen!" Jelas Rina.
Ilham mematung. Selama ini ia selalu memikirkan dirinya yang terpuruk tanpa peduli bagaimana anggota lain mendorongnya. Mereka sama-sama jatuh, tapi yang lain tidak bergelut terlalu lama dalam bayang-bayang kegagalan. Mereka bangkit, dan Ilham terdorong dengan dukungan semuanya.
Beban yang selama ini menjuntai di dalam dadanya seperti terangkat. Ia menjadi bernafas lebih bebas dari biasanya. Rina benar. Mungkin ia tidak tahu rintangan berat apa yang akan menghalanginya besok. Tetapi apapun yang terjadi, semua panitia sudah bekerja keras. Mereka sudah berjuang semaksimal mungkin.
***
Suasana pagi masih sangat dingin dan berembun tidak menghalangi panitia dari kesekretariatan yang sudah sibuk melakukan tugasnya di meja registrasi. Ia menyapa singkat mereka kemudian memasuki ruangan acara. Ilham terkejut sekaligus heran saat melihat Made yang sudah tiba sepagi ini sedang mempersiapkan bagian operator sound system. Ia tidak menyangka kalau Made akan datang.
"De...!" Sapa Ilham dengan sedikit canggung menghampiri Made, "Untuk masalah kemarin...!!!"
"Gue yang seharusnya minta maaf, Ham. Maaf gue marah karena hal sepele gitu sampai nggak ikut rapat kemarin," Made tersenyum kecil, "Kekanakan banget," Ia menggelengkan kepalanya canggung sambil mengulur kabel mik, "Kita sama-sama egois. Gue tau. Tapi gue merasa bersalah. Gue juga ikut kepanitiaan acara kita yang kemarin, dan gue paham rasa kecewanya gimana. Gue malah memutuskan untuk nggak peduli," Made tertawa miris, "Maaf, Bro. Gue mungkin memang nggak pantes jadi ketua divisi perlengkapan, tapi gue berusaha sebisa mungkin menuntaskan tanggung jawab gue dengan maksimal supaya anggota gue dan panitia lain nggak kecewa." Lanjut Made.
__ADS_1
Ilham terdiam. Semua hal yang telah ia lakukan selama ini, semua hal yang telah ia persiapkan sejauh ini, juga dilakukan oleh orang-orang hebat. Yaitu rekan setimnya. Apa pun yang akan terjadi hari ini, ia siap menghadapinya.
Kita semua siap menghadapinya...!!!