
Ilham diam saja ketika melihat seseorang membuka pintu rumah teman Ayah. Setelah dipersilahkan masuk, Ilham dan Ayah mengikuti orang tersebut ke dalam rumah. Orang itu adalah seorang laki-laki yang berambut cepak dan berwajah ramah. Mungkin sebaya dengan Ayah. Ilham menjadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang membuat Ayah ngotot untuk membawa Ilham ke sini. Kenapa Ayah ingin sekali Ilham bertemu dengan temannya?
"Maaf ya, aku tidak tahu kau ingin datang. Keluargaku sedang pergi semua. Padahal, mereka pasti senang bertemu denganmu lagi." kata orang itu ketika mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sebentar di sini. Hanya ingin memperkenalkan anak bungsuku, Ilham." kata Ayah sambil menepuk pundak Ilham.
"Oh, ternyata ini anakmu? Pantas mirip," katanya sambil tersenyum kepada Ilham. "Hai. Saya teman Ayahmu. Namaku Fatoni. Senang bertemu denganmu."
Ilham tersenyum balik dan menganggukkan kepalanya sopan.
"Ilham, Fatoni adalah teman Ayah dari kecil. Kita berdua sudah bersahabat sejak Sekolah Dasar. Walaupun sempat terpisah karena berbeda universitas, tapi kita tetap menjaga komunikasi. Jadi, Ayah harap kau bisa akrab dengannya, ya?" kata Ayah sambil tersenyum.
Ilham mengangguk. "Baik, Ayah."
"Kau bisa datang pada Om kapan saja, Ilham. Kalau kau memiliki kesulitan, Om pasti akan membantu jika kau memerlukannya," kata Fatoni tersenyum. "Oh ya, sampai lupa, kalian ingin minum apa? Akan kusiapkan untuk kalian." Lanjut Fatoni kemudian.
"Ah, tak perlu repot-repot." kata Ayah tak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku merasa tidak sopan kalau membiarkan kalian haus." Ucap Fatoni lagi.
"Aku tidak terlalu haus, Om. Untuk Ayah saja cukup. Kasihan Ayah pasti masih lelah setelah pulang kerja." Akhirnya Ilham yang angkat suara, membuat Ayah menatap Ilham dengan raut wajah protes. Tapi, Ilham diam saja. Sementara Fatoni hanya tertawa.
"Anakmu baik sekali. Kalau begitu, biar aku ambilkan dulu." kata Fatoni seraya pergi menuju ruang dapurnya, meninggalkan Ayah dan Ilham berdua saja di ruang keluarga.
"Harusnya kau tak perlu berkata seperti itu." kata Ayah tersenyum masam.
"Aku hanya ingin Ayah sehat." Balas Ilham.
Ayah diam mendengarnya. Ia menghela nafas sejenak, kemudian mengatup kedua tangannya. Keheningan terjadi beberapa saat karena Ilham juga diam saja menunggu Fatoni kembali. Namun, tak lama kemudian, Ayah memecah keheningan tersebut dengan suara pelannya. "Ham, Ayah membawamu untuk bertemu dengan Fatoni, bukan tanpa alasan." Ucap ayahnya.
"Hm?" Ilham menoleh ke arah Ayah.
__ADS_1
"Ayah tidak tahu kenapa, kau itu sangat mirip dengan Fatoni. Kalian berdua memiliki ambisi yang besar dalam dunia basket. Kalian berdua sama-sama menemukan teman-teman yang baik dan juga kebahagiaan di sana," kata Ayah. Ia memutar posisi duduknya menghadap Ilham. "Dulu, Fatoni juga kapten basket sepertimu. Dia sangat diandalkan dalam tim. Namun, sayangnya semenjak Fatoni berumur delapan belas tahun, ia terpaksa menyerah dari dunia basket karena kakinya yang cedera." Jelas Ayah.
Ilham terdiam sejenak. "Kenapa, Yah?" Tanya Ilham kemudian.
"Waktu itu pertandingannya hampir mirip seperti pertandinganmu melawan Fauzi Rizal. Tim lawan bermain fisik hingga membuat kakinya keseleo dan lecet. Dan rasa sakit itu tidak sembuh begitu saja. Rasa sakit itu bisa kembali datang kapan saja jika dia bermain basket atau jatuh lagi. Makanya, dulu Ayah begitu keras padamu." Jelas Ayah.
"Oh. Begitu." kata Ilham pelan. Ia menundukkan kepalanya.
Ayah mengangguk.
"Hei, sedang berbicara apa? Sepertinya seru. Silahkan diminum." Tiba-tiba Fatoni datang dengan membawa dua gelas besar berisi air putih penuh. Kemudian, ia kembali duduk di hadapan Ayah dan Ilham.
"Oh, terima kasih, Ton. Aku hanya menceritakan hobi basketmu kepada Ilham. Anak bungsuku ini sangat suka bermain basket sepertimu. Dia akan mengikuti turnamen Se-Lampung beberapa bulan lagi." kata Ayah.
"Oh ya? Hebat sekali! Masa-masa waktu itu memang menyenangkan. Sayang sekali aku harus berhenti," kata Fatoni. Ia menatap ke arah Ilham. "Hei, Ilham, Om beritahu ya, dalam bermain basket itu tujuannya berbeda dari olahraga yang lain." Ucap Fatoni.
Ilham mengerutkan dahinya mendengar ucapan Fatoni.
Seketika kerutan dahi Ilham hilang, ia menatap Fatoni dalam diam. Meminta penjelasan lebih lanjut atas penuturannya tersebut. Tapi, Fatoni hanya tersenyum dan berkata, "Kau akan mengerti maksud Om, ketika kau ada di lapangan." Jelas Fatoni lagi.
Ilham menganggukkan kepalanya patuh. Semuanya diam, hingga tiba-tiba Ayah memegang kepalanya. Ia juga menutup matanya seperti orang sakit. Fatoni yang melihatnya langsung cemas. Ilhan juga langsung bertanya khawatir, "Ayah kenapa? Sakit kepala?"
"Tidak, Ayah tidak apa-apa." kata Ayah menyakinkan anaknya.
"Benarkah?" tanya Ilhan sambil memegang dahi Ayah. Ia terkejut ketika merasakan sebuah hawa yang cukup panas di sana. "Astaga, Ayah demam! Om, kalau begitu, aku dan Ayah permisi dulu! Ayah sedang tidak enak badan!" Pamit Ilham.
"Tunggu, Ham. Biar Om ambilkan obat demam dulu, supaya Ayahmu bisa menyetir sampai ke rumah. Kalau tidak, bisa berbahaya!" kata Fatoni panik. Ia langsung pergi meninggalkan mereka lagi untuk mencari obat. Ilham yang cemas langsung mengambil air putih yang telah tersedia di meja untuk Ayah minum.
"Sudah lebih baik?" tanya Ilham.
Ayah mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ini, makanlah dulu obatnya. Seharusnya kau tak perlu datang kemari jika kau sedang sakit. Aku jadi merasa tak enak membuatmu sakit seperti ini." kata Fatoni merasa bersalah. Ia menyodorkan sebuah obat kapsul.
Ilham segera mengambil gelas air miliknya dan mengambil obat tersebut untuk diberikan kepada Ayah. Setelah itu, Ilham dan Fatoni membiarkan Ayah beristirahat di sana. Mereka berdua pergi ke balkon. Terpaksa Ilham menunda kepulangannya sebentar agar demam Ayah tidak bertambah parah.
Ilham berdiri di belakang Fatoni yang duduk di balkon sambil melihat ke arah langit malam. Lagi-lagi keheningan menguasai mereka. Tak ada satu pun yang membuka mulut untuk sekedar memberikan suasana seru. Yang terdengar hanya helaan nafas masing-masing, juga angin yang berhembus pelan menari-narikan baju mereka.
Ilham sampai memeluk tubuhnya.
Fatoni tersenyum menatap Ilham. "Kau kedinginan?"
Ilham menoleh. Ia nyengir sejenak. "Tidak apa-apa, Om."
Fatoni mengangguk mengerti. "Baguslah kalau begitu."
Ilham tersenyum...!!!
Fatoni menghela nafasnya. Ia tersenyum menatap bintang-bintang yang bersinar di langit. "Melihatmu dan Ayahmu datang kemari, Om jadi ingat masa-masa sekolah dulu." Ucap Fatoni.
"Hm?"
"Om memiliki banyak teman dari basket. Bahkan Om bisa mendapatkan banyak pelajaran dari mereka. Juga dari pertandingan-pertandingan basket yang kita ikuti," kata Fatoni. "Waktu itu, kita berjuang mati-matian agar bisa sampai ke turnamen besar. Cita-cita kita adalah bermain sampai ke luar negeri." Lanjutnya. "Tapi, Om yang ceroboh. Kalau saja waktu itu, Om berhati-hati, kaki Om tidak akan cedera jangka panjang. Om terpukul waktu diberitahu kalau Om tidak boleh melanjutkan Turnamen Tingkat Nasional. Waktu itu, Om nekat tetap bertanding. Tapi, akhirnya kaki Om malah makin sakit. Akhirnya, kaki Om selalu sakit kalau diajak latihan. Teman-teman Om mungkin masih berkarir menjadi pebasket sekarang. Sesuai impian mereka." Ucap Fatoni.
"Bagaimana dengan Om?" Tanya Ilham.
Fatoni tertawa kecil. "Om jelas tak bisa lagi menjadi pebasket. Latihan saja sakit. Apalagi bertanding. Om hanya bisa duduk di kantor menatap layar komputer." Ucap Fatoni melanjutkan.
"Om tidak sedih menjalaninya?" Tanya Ilham.
"Kenapa harus sedih? Kadang-kadang kita memang harus bisa melepaskan keinginan kita. Yang terpenting sekarang, kami semua masih tetap bersahabat. Kadang-kadang kalau mereka sedang tidak sibuk, mereka sering mengunjungi Om." Jelas Fatoni.
Ilham diam mendengarnya.
__ADS_1