ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 25 : CANTIK ITU RELATIF


__ADS_3

Dari sebuah jendela asrama putri A yang berlantai dua tingkat dengan menghadap ke arah kantor, mushola, kantin, aula dan lapangan upacara, Martina melihat jelas sebuah kisah cinta yang rumit, semua kejadian yang terjadi di bawah terekam di kepalanya.


Saat Ilham berjalan keluar dengan Rosa yang terlihat penuh canda dan tawa sampai muncul sesosok cewe' cantik di antara rimbunan pohon cemara yang berada di teras mushola yang tidak lain milik seorang cewe' yang bernama Dessy kekasih Ilham, yang memandang dengan jelas kedekatan kekasihnya itu dengan teman seangkatannya Rosa.


"Ham, gue sebenarnya suka juga ama elo, bukan saat ini tapi dari kita waktu Sekolah Menengah Pertama dahulu, orang tua kita sudah saling kenal akrab dan menjadi sebuah point penting buat bisa kita berjalan menempuh kehidupan bersama. Akan tetapi saat ini gue hanya bisa menatap semua peristiwa yang terjadi pada elo aja Ham, mau bicara terus terang itu hal mustahil buat gue, namun asa itu tidak akan pernah sirna. Kisah hati elo saat ini buat gue rumit Ham, dengan seorang kekasih dan seorang teman tapi dekat itu nyaris hampir sama. Mampukah elo membagi dan memberikan keputusan terbaik buat mereka berdua? Mampukah elo memberikan kesempatan hati gue buat mengisi hari-hari kebersamaan ma elo Ham? Mungkinkah kita bisa bersama kelak?" Segala pertanyaan berputar-putar di kepala Martina.


"Lagi apaan Tin, kok ngelamun?!" Tiba-tiba Ika Fernika menyapa Martina dengan lamunannya.


"Eeeh... Ika, nggak ada apa-apa kok!" Jawab Martina kikuk.


"Jelas-jelas elo ngelamun gitu kok Tin, masih bisa bilang nggak ada apa-apa?! Aneh...!" Lanjut Ika masih dengan rasa penasarannya.


"Serius kok Ka, nggak ada apa-apa?!" Segera Martina menepis sangkaan Ika.


"Masih memikirkan seorang Ilham lagi ya!" Tuding Ika mendadak seperti demikian.


"Ya begitulah Ka!" Jujur Martina.


"Sabar saja Tin, yakinlah semua sudah ada garisnya dan jika sudah di takdirkan buat bersama tidak akan ada satu tangan pun yang bisa menghalang-halanginya kok!" Jelas Ika menenangkan hati Martina.


"Terima Kasih ya Ka!" Ucap Martina.


"Ilham masih labil dengan masalah hatinya Tin, elo tahu sendiri dia sama sekali belum pernah mengenal pacaran kan!?" Ucap Ika lagi.


"Iya ka, dari saat masih Sekolah Menengah Pertama dulu, dia tidak mengerti masalah cinta. Dia hanya tahu nilai, prestasi, organisasi, dan persahabatan. Karena sesibuk itu sampai soal hati tidak terpikirkan olehnya!" Jelas Martina.


"Ya gue paham Tin, kalau Ilham dari dulu mengenal masalah cinta, mungkin elo ma dia bisa bersama dari dulu kan!" Jelas Ika.


Martina hanya mengangguk kecil dan kembali pikirannya menerawang jauh kembali kemasa dimana dia bisa bersama-sama dengan Ilham di setiap ada kesempatan untuk bersama.


***


Jam menunjukkan pukul sepuluh siang, jam istirahat pun datang. Martina langsung berlari menuju kantin sekolah yang berketepatan sekitar seratus meter dari kelasnya. Makanan favoritnya adalah nasi ayam krispi saja, karena itu bibi kantin langsung mengerti dan langsung membuatkan makanan kesukaan Martina tersebut tanpa harus di pesan terlebih dahulu.


"Eh, Tin. Makan apaan tuh? Saosnya banyak amat bakal habis segitu!?" Tanya Ranti teman satu asrama putri Martina seangkatan.


"Elo mau pa Ti?!" Tawar Martina. Sembari tetap melanjutkan makan dengan mengabaikan sekelilingnya.


"Oh ya Tin, tadi gue ketemu Ilham dan dia menitipkan pesan ini buat elo!" Ucap Ranti lagi sembari tangannya mengeluarkan selembar kertas putih dengan tulisan dari balik saku bajunya.


"Gue tunggu di kelas bidan C atas ya Tin, nanti sore, pukul tiga tepat."


Surat tersebut beratas namakan Ilham.


***


Pukul setengah tiga, Martina sudah rapi mengenakan pakaian modis yang teramat cantik, menurutnya. Bertemakan berani, Martina menggunakan warna dominan merah di setiap kenaannya.


Akhirnya Martina berangkat meninggalkan kamarnya berjalan mengitari kamar-kamar asrama putri A dengan berbagai pasang mata melihat penampilan Martina seperti itu menjadi bahan pertanyaan mereka.


"Hey Tin, mau kemana?" Ika yang berani berkomentar terlebih dahulu sebelum yang lain berkomentar.


"Ngak kemana-mana kok Ka, cuma mau jalan-jalan ke taman tengah asrama aja!" Jawab Martina mengedipkan satu matanya memberikan kode pada Ika.


"Mau di temenin nggak Tin?!" Tawar ika. "Sekalian gue juga mau ke kantin nih!" Lanjutnya.


"Boleh yuk kita berangkat!" Lanjut Martina.


"Wah... Pada janjian mau kemana nih?!" Tiba-tiba Rosa berkomentar saat dia bersama Nelly turun dari tangga asrama.


"Gue mau nyore dulu ya, sekalian mau cari-cari yayang beb, siapa tahu ada yang kecantol ma gue!" Jawab Ika sekenanya.


"Lanjut aja deh, oh ya kalau temu Ilham titip salam ya!" Lanjut Rosa kemudian.


Dek... Wajah Martina berubah warna, Ika segera sadar dan langsung menggenggam tangan Martina dengan kuat agar sahabatnya itu tidak gugup.


"Beres Cha! Berapa ikat salamnya!" Ucap Ika masa bodo dengan jawabannya.


"Berikat-ikat deh!" Jawab Rosa lagi.


Dan mereka berdua melanjutkan tujuan mereka di ikuti dengan tatapan mata Rosa dan Nelly masih dengan tanda tanya di hati mereka.


Sesampainya di kelas bidan C lantai dua dekat asrama putra, Martina masih di temani Ika langsung menuju titik temu yang telah di janjikan sesuai pesan Ilham di dalam secarik kertas putih yang di titipkannya pada Ranti. Mereka berdua tidak melihat siapapun, selain burung-burung gereja yang sedang kejar-kejaran di genting lantai atas tersebut.


Terlihat seorang lelaki berkaos putih dengan celana levis hitam memakai sendal jepit santai sedang berjalan di menaiki tangga atas yang berbeda dari sudut kedatangan Martina dan Ika.


"Ilham!" Ucap Martina.


"Hay Tin... He ada Ika, apa kabar Ka?!" Sapa Ilham sembari menanyakan kabar Ika yang dia lihat bersama Martina.


"Baik Ham, gue tinggalin sahabat gue ma elo Ya Ham, jangan sampai kenapa-kenapa. Gue mau ke kantin belakang!" Jelas Ika.

__ADS_1


"Siap Ka! Terima Kasih ya!" Balas Ilham sopan.


Ika berjalan menuju tangga ke bawah, menoleh sebentar ke Martina sambil tersenyum.


"Dah dari tadi pa Tin!" Tanya Ilham, menyodorkan sebuah kursi yang ada di sana kepada Martina.


"Baru kok Ham, tadi nggak enak ma kawan-kawan asrama kalau pergi sendirian, makanya gue ajak Ika buat nemenin biar mereka nggak curiga aja!" Jelas Martina.


Ilham tersenyum...!!!


Hati martina kacau balau melihat senyum Ilham yang sederhana tapi cukup menawan. Ilham menarik sebuah kursi lagi lalu duduk di sana.


"Hem... Cantik banget elo nih hari Tin!" Lanjut Ilham memuji.


"Jangan gombal Ham, ntar malam gue nggak bisa tidur ini dengerin pujian lo barusan!" Jawab Martina renyah.


"Haaaa... Baguslah kalau begitu! Artinya masih ada cewe' cantik yang peduli ma gue kan!" Balas Ilham kembali.


"Waaaw, nggak salah Ham! Bukankah sudah terlalu banyak cewe' yang peduli dengan seorang Ilham?!" Tanya balik Martina.


"Mungkin itu menurut elo kan Tin, kalau menurut gue nggak juga! Cuma elo yang peduli ma gue Tin!" Balas Ilham penuh keseriusan.


"Kenapa elo bisa bilang begitu Ham!?" Tanya Martina.


"Ya sesuai yang gue rasakan lah Tin!" Balas Ilham.


Belum sempat Ilham dan Martina melanjutkan percakapannya kembali...!!!


"Kak Ilham, ini makanan dan minumnya kak!" Seorang adik kelas memberikan kantong plastik yang di bawanya ke Ilham.


"Ooo... Kaisar, Terima kasih ya sudah bersedia nganterin ini!" Jawab Ilham.


"Ya kak Ilham, sama-sama. Kaisar pamit ya kak!" Jawab Kaisar lagi dan langsung meninggalkan tempat itu.


"Wah... Kayaknya sudah penuh persiapan nih!" Ucap Martina tersenyum, terasa di buat special oleh Ilham.


"Gue dah mengundang elo kemari Tin, masa iya ngobrolnya nggak ada yang di sambi makan, kaga seru tahu!" Jawab Ilham tertawa.


"Bagaimana dengan Dessy kan dia sebagai kekasih elo Ham, pasti sangat mengertilah tentang elo!" Lanjut Martina sembari memasukkan biskuit ke mulutnya.


"Ya, tapi antara peduli dengan rasa takut sebagai kakak kelasnya beda-beda tipis Tin! Kadang gue berpikir kedekatan gue ma dia apa karena sebuah kata 'Sebuah Perlindungan' dari kerasnya tradisi asrama ini yang elo tahu pastikan!" Jelas Ilham.


"Maksud elo, dia menerima elo sebagai ungkapan minta perlindungan dari kakak kelas angkatan kita gitu!?" Tanya Martina meminta kepastian.


"Gue rasa nggak sepenuhnya pendapat elo itu benar lo Ham, cinta itu masalah hati dan ingat dia juga mendapat imbas dari pernayataan cinta dari elo itu Ham. Semua sudah mengetahui kalau dia kekasih elo, ini yang membuat kebebasannya menjadi terbatas Ham!" Jelas Martina.


Ilham terdiam mendengarkan semua penjelasan dari Martina, pikirannya terbuka dengan segala alasan dan paparan tersebut.


"Ham, masalah hati susah untuk di prediksi. Mungkin awalnya bisa jadi sesuai dengan apa yang elo utarakan tapi kelanjutannya tidak lah demikian adanya!" Lanjut Martina.


"Okey Tin, emang gue ada perasaan ama Dessy tapi apa yang gue bayangin sebelumnya bahwa gue bisa berbagi cerita, berbagi mimpi dan semua yang gue rasain nggak bisa gue dapatkan ma dia, ini yang gue heran Tin?!" Jelas Ilham tentang masalah hatinya.


"Gue tanya ma elo ya Ham, apa yang elo mau dari kata pacaran sebelumnya?!" Tanya Martina.


"Seperti saat gue ma elo Tin!" Jawab Ilham santai tanpa beban.


Martina menjadi gugup, apa maksud dari perkataan Ilham? Mengapa pacaran di artikannya seperti gue ma dia saat ini? "Ma... Maksud lo Ham?!" martina pura-pura nggak paham.


"Gue ma elo nggak ada batas dengan tanda kutipbya Tin, jangan artikan yang aneh-aneh. Gue bisa jujur ama elo, bicara dari hati ke hati dan itu yang buat gue nyaman Tin!" Jelas Ilham kemudian.


"Itu artinya elo sama sekali belum mengerti artinya cinta Ham!" Jelas Martina.


"Emang elo udah paham ya artinya cinta Tin! Dah berapa cowo' yang jadi kekasih elo?!" Canda Ilham.


"Ng... Nggak gitu juga maksudnya kali Ham, gue bicara seperti ini baru sama elo aja tahu?!" Jawab Martina manja.


"Wah... Beruntung pastinya kalau ada cowo' yang jadi kekasih elo ya Tin!" Balas Ilham.


"Apa iya begitu Ham!" Tanya Martina.


"Mungkin!" Balas Ilham.


"Bagaimana hubungan elo ma Ocha Ham? Elo itu kebanyakan cewe' akhirnya rumit sendirikan!" Balas Martina.


"Hey... Hey... Elo kira gue dah jadi playboy asrama apa ya?!" Balas Ilham.


"Haaaaa...! Gue tahu elo itu belum pernah kenal tuh namanya cinta, gue sahabat elo dari Sekolah Menengah Pertama dan belum pernah gue denger sekali pun elo pacaran dulunya!" Jelas Martina.


"Haaa... Apa iya begitu, perasaan yang elo katakan sangat-sangat benar lo Tin!" Ilham tertawa renyah.


"Makanya kalau belum tahu cinta jangan berani memulainya!" Ejek Martina. "Wah jangan-jangan Dessy itu cinta pertama elo ya Ham?" Tanya Martina.

__ADS_1


"Cinta Pertama ya! Gue nggak tahu cinta pertama itu seperti apa Tin!" Balas Ilham. "Waktu Sekolah Menengah Pertama dulu gue pernah punya perasaan seneng jika bareng ma dia, dekat dia gue ngerasa betah banget dan gue semangat buat berangkat sekolah karena dia ada. Apa itu namanya cinta ya Tin?" Tanya Ilham lagi.


"Ya bisa jadi! Terus cewe' itu masih berhubungan atau bicara ama elo sampai saat ini?!" Tanya Martina pengen tahu.


"Ya, tapi jarang-jarang sih...!" Ucap Fakih. "Hee... Tin, bagaimana ama Rosa, apa menurut elo masih suka ma gue ya!" Ilham mengalihkan pembicaraannya.


"Kalau gue tahu masih sangat mengharapkan cinta seorang Ilham, playboy asrama kita ini!" Jawab Martina bercanda.


"Jangan becanda Tin!" Ucap Ilham sambil mengucek rambut Martina sebagai kebiasaan dia kalau sudah bertemu Martina tuh rambut pasti bisa acak-acakan.


"Ntar rambut gue berantakan kali Ham, kalau nggak cantik lagi apa elo mau tanggung jawab nanti!" Senyum Martina sambil bercanda tertawa mesra.


"Kalau cantik itu alami kali Tin, mau keadaan seperti apa ya tetep aja dasarnya cantik akan tetap cantik!" Jelas Ilham.


"Kalau elo cari cewe' cantik atau seperti apa Ham?!" Tanya Martina pengen tahu.


"Cantikkan relatif Tin, sesuai dengan yang melihat dan menilainya. Tapi kalau gue ngelihat cantik itu kalau di lihat dan di pandang nggak bosenin!" Jelas Ilham.


"Rosa ma Dessy masuk nggak cewe' yang elo katakan kriterinya tadi?!" Tanya Martina.


"Waduh, kok lari kesana ya Tin!" Ucap Ilham.


"Ya sebagai contoh aja lah, masa iya bandingin mereka ma gue!" Jawab Martina.


"Kenapa nggak!" Balas Ilham.


"Nggak berani gue Ham, pastinya bakal kalah gue ma mereka berdua di mata elo!" Balas Martina merendah penuh berharap Ilham bisa memberikan jawaban yang sebenar-benarnya.


"Maaf, mengganggu ngak nih gue!" Tiba-tiba Ika sudah berada di dekat mereka berdua memotong pernyataan Martina yang menanti kata-kata Ilham selanjutnya mengenai dirinya.


"Hey Ka, nggak kok kita sudah selesai kan Ham!" Jelas Martina terasa tidak nyaman.


"Heee... Iya Ka!" Jawab Ilham menyetujui perkataan Martina walau pun sebenarnya Martina masih terasa belum tercapai apa yang dia inginkan dari kejujuran Ilham.


"Kan apa gue bilang, elo ma Ilham cocok banget!" Balas Ika menimpali suasana.


"Apa iya begitu Ka?!" Tanya Ilham.


"Ya menurut pendapat gue, tapi sudahlah jangan di buat bahan Ham, cewe' elo tadi nitip salam!" Jawab Ika.


"Maksud lo siapa Ka?" Tanya Ilham.


"Rosa lah, salamnya sampai berikat-ikat Ham!" Ika tertawa mengulangi apa yang Rosa titip dengan dia sebelum berangkat tadi.


"Siapa bilang gue pacaran ma Rosa, ngosip nih!" Jawab Ilham.


"Ya setidaknya dia sudah mengutarakan isi hatinya ma elo Ham!" Timpal Martina langsung terdiam.


"Ya... Ya, salam balik aja deh Ka!" Balas Ilham.


"Ada yang mau di bicarakan lagi nggak nih, kalau nggak ada biar kita balik Ham. Mau antri air, kalau nggak ntar martina bisa-bisa puasa mandi nih malam, kaga cantik lagi dia!" Canda Ika pada Ilham.


Akhirnya mereka bertiga berpisah dan tidak tahu kapan akan bisa berbicara lepas seperti ini lagi khususnya Ilham dan Martina.


***


Sembari berbaring di atas kasur kapuk asrama, Martina merindukan sebuah senyum dari seorang cowo' yang diam-diam menjadi idamannya.


Sorot cahaya matahari yang dipantulkan melalui bulan masuk ke dalam kamar melewati sela-sela genting. Cahaya itu menjadi teman sejati Martina kala membayangkan sebuah bayang yang tak terbayangkan mampu membayang-bayangi.


Hanyutlah Martina dalam sayup, sepi dan menuju lelap.


***


Kemudian Martina terkagetkan oleh sorot cahaya yang begitu benderang, tepat di balik kelopak matanya. Tersentak kaget, terbeliak dan terduduk di atas ranjang.


"Lah, jam berapa ini?!! Jam 8?! Hooo, telat!!!" teriak Martina kaget.


Martina langsung mengganti bajunya tanpa membasuh tubuhnya terlebih dahulu. Secepat kilat ia berganti kostum dan langsung berlari keluar kamar...!


Sampai di luar kamar, dia perpapasan di tangga dengan Ika sahabat sekamarnya yang santai naik ke atas melalui tangga asrama.


"Nggak dinas pagi elo Ka?!" tanya Martina sembari ngos-ngosan.


"Eh, Tin...! Pagi-pagi udah mau kemana elo?!" Tanya Ika.


"Dinas pagi! Ayo buruan berangkat, udah telat banyak nih!" Jelas Martina.


"Haha, ini hari sabtu nyonya manis, apa ada jadwal dinas di hari ini, Nya?" tanya Ika dengan tawa.


"Eeeh, benarkah?" jawab Martina dengan muka bingung.

__ADS_1


Martina merasa menjadi manusia terbodoh karena lupa dengan hari.


Semenjak pertemuan kemarin dengan Ilham, entah kenapa Martina dan Ilham semakin dekat dan akrab.


__ADS_2