ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 76 : MASALAH BELUM SELESAI


__ADS_3

"Ilham! Jhon! Made! Toni! Nugroho! Dilan! Dan yang lainnya! Istirahat!" seru Pak Ridwan di lapangan, menyuruh para anggota ekskul basket yang terpilih menjadi perwakilan dalam turnamen Se-Lampung. Ya, mereka berhasil menjadi salah satu dari tiga puluh anak yang terpilih mewakili sekolah. Tentu saja dengan berita gembira tersebut, mereka menjadi sangat semangat dalam latihan. Tadi mereka baru saja melakukan pertandingan bergiliran. Namun, dengan tim andalan mereka, White Team yang beranggotakan Ilham dan teman-temannya. Beserta Dilan sebagai cadangan karena kemampuannya yang begitu menyakinkan sedangkan Sam masuk ke Elang Super Team dengan Wisnu sebagai kaptennya.


"Hei, nanti kita jadi berkumpul, kan?" tanya Nugroho setelah meneguk air mineralnya. 


"Ya, tentu saja jika semuanya lancar," kata Jhon. Ia menoleh ke arah Ilham yang sedang sibuk membersihkan peluh yang banjir di wajahnya. "Hei, Ham, setelah pulang nanti, kita ingin berkumpul di kamar asrama gue. Ada yang perlu kita bicarakan. Kau bisa ikut, bukan?" Lanjut Jhon bertanya.


Ilham diam saja mendengarnya. Ia menaruh handuknya ke dalam tas kembali dan menatap ke arah teman-temannya. "Maaf, teman-teman. Sore ini aku buru-buru. Ada urusan penting." Balasnya.


"Rasanya belakangan ini kau sering sekali buru-buru, Ilham Alfarizi. Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Made heran. "Apa kau sedang mengalami masalah? Ceritalah pada kami." Lanjutnya.


"Ya. Bahkan dalam pertandingan kau juga aneh. Sebenarnya ada apa?" tanya Toni ikut-ikutan bertanya.


Ilham hanya tersenyum mendengar pertanyaan mereka. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian langsung beranjak dari kursinya. Ia pergi menuju lapangan dan latihan mendribel bola sendirian. Sesekali ia juga melempar bolanya ke arah ring. Made, Toni, Nugroho dan Jhon sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat mereka itu. 


Tiba-tiba, Dilan bersuara. "Kalian lihat sendiri bukan? Bahkan dia tidak ingin berkumpul dengan kalian lagi. Apa kalian masih mau mengelak kalau Ilham itu memang tidak perduli kepada kalian?" Ucap Dilan.


Tak ada yang menyahut ucapan Dilan tersebut. Mereka berusaha membuang jauh-jauh pikiran mereka yang tidak-tidak dan kembali sibuk dengan urusan mereka masing-masing sebelum istirahat mereka selesai. Dilan hanya mendengus melihat respon mereka dan tersenyum misterius berjalan melewati mereka.

__ADS_1


Seperti kebiasaannya belakangan ini, Ilham langsung cepat-cepat meninggalkan lapangan setelah latihan usai. Made, Toni, Nugroho dan Jhon yang tadinya berencana untuk mengajak Ilham sekali lagi langsung hancur sudah ketika laki-laki itu berlari meninggalkan lapangan tanpa pamit pada mereka. Mereka hanya bisa menatap punggung Ilham yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk. Mereka tak mengerti mereka harus sedih, prihatin atau justru marah kepada kapten basket mereka itu. Ilham yang dulu mereka kenal sebagai anak yang polos dan bersemangat dalam tim basket mereka justru cenderung tertutup dan menghindar dari mereka.


"Hei, untuk apa kalian diam di sana? Ini sudah sore. Kalian tak ingin pulang?" tanya Pak Ridwan yang sudah siap-siap meninggalkan lapangan membuyarkan lamunan mereka.


"Maaf, Pak. Kami akan segera pulang." Nugroho angkat suara.


"Dilan, kau juga harus pulang. Istirahatlah agar kau dapat mempertahankan stamina dan konsentrasimu di bidang basket." kata Pak Ridwan lagi.


"Baik, Pak!" kata Dilan sambil mengangguk. Lalu, ia berjalan menuju Made, Toni, Nugroho dan Jhon. "Ayo guys, kita pulang saja. Kalian tak perlu mengkhawatirkan kapten basket kalian itu." Ucap Dilan.


"Ternyata elo datang juga," kata Dilan ketika ia sudah sampai di tempat yang dituju, lantai dua. Ia tersenyum sinis ketika mendapati seorang laki-laki tengah duduk di tanah sambil melihat ke arah langit sembari menunggunya.


Laki-laki itu menoleh dan segera berdiri. Ia tersenyum manis melihat Dilan.


"Oke, langsung saja. Gue tidak ingin berlama-lama dekat dengan elo. Yang harus elo tahu. Gue tak suka kau terpilih untuk mewakili sekolah. Kemampuan elo itu tidak pantas berada di turnamen besar!" kata Dilan sambil menunjuk-nunjuk laki-laki tersebut. Wajahnya memancarkan kekesalan yang dalam.


"Kenapa?" tanya laki-laki itu polos.

__ADS_1


"Ah, elo tak perlu tahu! Yang pasti mulai saat ini jangan harap gue ingin bekerja sama dengan elo, Ilham. Akan gue pastikan tak ada yang akan mendukung elo setelah ini! Elo itu hanya membawa masalah bagi keluarga gue, tahu!" kata Dilan sebal. Kemudian, ia langsung meninggalkan laki-laki tersebut di sana sendirian. 


Laki-laki tersebut yang tak lain adalah Ilham hanya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dilan. Tak mengerti maksudnya. Ia bahkan baru mengenal Dilan saat dia baru masuk ke sekolah ini. Namun, ia mengatakan hal itu seolah-olah Ilham sudah pernah membuatnya kecewa. Apa maksudnya dengan ia telah membawa masalah kepada keluarganya? Siapa yang dia maksud?


***


Masalah belum selesai bagi Ilham. Di samping masalah keluarganya, teman-temannya justru semakin lama semakin menjauh. Mereka sudah hampir tak pernah mengajaknya berbicara. Bahkan Made yang sehari-hari duduk di sampingnya juga mengunci mulutnya walau pun ia ajak berbicara. Entah apa lagi yang terjadi dengan mereka sehingga membuat persahabatan mereka renggang seperti ini. Padahal, sebentar lagi turnamen Se-Lampung akan tiba.


"Huh..." Ilham menghela nafasnya ketika istirahat tiba. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ia hanya makan sendirian di kelas. Tak ada satu pun orang yang mengajaknya ke kantin bersama. Makanan yang ia bawa dari dapur asrama menjadi terasa hambar tanpa kehadiran mereka. Tapi, mereka juga tak berbicara apa-apa jika Ilham bertanya mengapa mereka menjadi tertutup dengannya.


Berkali-kali Ilham melakukan lay up di lapangan, mencoba mencetak angka untuk dirinya sendiri. Namun, usahanya tak kunjung berhasil sampai setengah bajunya basah dengan keringat. Ia menangkap bolanya yang mental dan segera memantulkannya keras sembarangan. Kemudian, ia berjalan menuju bangku yang ada di pinggir lapangan untuk beristirahat. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan ia mengatur nafasnya terlebih dahulu.


Lapangan ini terasa sepi tanpa adanya keempat temannya. Sudah seminggu lamanya mereka menghindari Ilham. Bahkan saat ekskul basket Ilham juga hanya duduk bersandar sendirian di pinggir lapangan ketika ada beberapa menit istirahat. Teman-temannya malah bermain dengan Dilan dan anak-anak anggota basket yang lain. Ah, jangankan saat istirahat, saat latihan bertanding pun teman-temannya tak pernah memberi bola. Ilham hanya dapat memegang bola di saat bola tak sengaja terlepas menuju ke arahnya. Ilham benar-benar tak mengerti alasan apa yang ada di balik kebencian mereka. Padahal, dulu lapangan ini tempat bermain mereka berlima. 


Ilham mengangkat kepalanya lagi, menatap bola basketnya yang telah bergelinding jauh dari tempatnya memantulkan bola tersebut tadi. Membuat lapangan menjadi benar-benar kosong. Ilham menghela nafasnya dan beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil bola basketnya. Setelah itu, ia kembali menatap ke arah lapangan. Sejenak membayangkan teman-temannya ada di sana, memanggilnya agar kembali ke lapangan dan bermain bersama mereka. Tapi, tidak...! Itu tidak mungkin.


Kenyataannya, sekarang mereka hanya diam jika melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2