
Cahaya lampu-lampu jalanan memang tak cukup terang untuk menerangi tempat itu akan tetapi sudah cukup memberi kesempatan kepada mata Ilham yang berpengalaman untuk menikmati wajahnya.
Dia masih sangat muda, sedikit kurus dan lugu. Tetapi wajahnya yang basah kuyup itu, wajah yang polos tanpa make-up, menyembunyikan keayuan yang menawan. Semakin lama dilihat, semakin enak dipandang. Dan Ilham jadi betah memandanginya. Tanpa menyadari bahwa gadis itu justru semakin ketakutan dan salah tingkah di tatap secara demikian oleh seorang pemuda yang tidak dikenalnya, apalagi pemuda yang macam Ilham.
Tampangnya jelas bukan tampang anak sekolah yang pada pukul setengah delapan malam sudah duduk alim di rumahnya membuat pekerjaan rumah.
"Jalan yuk, Ham. Hujannya mulai reda." Tentu saja Vina sudah melihat gelagat jelek itu.
Beberapa kali pertanyaannya cuma dijawab "Ah, Uh" saja oleh Ilham. Vita Maharani tidak heran karena di sisinya ada perempuan ayu dan perhatiannya sudah hanya berfokus utuh ke perempuan ayu di sana.
Hujan terlihat sudah dan memang mulai mereda, walau pun sedikit segan untuk menghentikan tetes-tetesannya agar segera usai, Ilham sudah hampir beranjak pergi berjalan meninggalkan tempat itu bersama dengan Vita Maharani akan tetapi sesuatu hal menahannya kembali. Ada dua orang pemuda mendekatinya dan melihat sikap mereka, penilaian Ilham sudah negatip kalau mereka pasti bukan orang yang baik-baik.
"Tunggu seseorang, Dik?" tegur yang satu pemuda langsung kepada gadis itu.
"Ooooo, tidak. Hanya numpang berteduh." Gemetar suara gadis itu.
Pasti bukan hanya karena kedinginan saja. Pemuda-pemuda itu sudah semakin mendekati dan merapat padanya? ya...! Dan ia makin terdesak ke sudut.
"Sendirian aja?" tanya pemuda yang satu lagi. Ada seringai kelicikan bermain di bibirnya.
Gadis itu cuma mengangguk dan Ilham tak sampai hati melihat hentakan-hentakan ketakutan yang menggelepar-gelepar di dalam sorot mata si gadis itu. Aaah, mata yang polos itu! Mata suci seorang bayi! Di mana pernah dilihatnya mata yang demikian memikat?
Kombinasi antara kejujuran dan pesona yang sangat memukau tentunya! Dia takut. Tetapi tidak sudi untuk menyerah. Dia masih berjuang untuk mempertahankan tas ransel yang di bawa! ya, satu-satunya miliknya!
__ADS_1
Bagaimana mungkin Ilham tega meninggalkannya begitu saja? Dan dia sudah bergerak kembali menuju tempat yang baru segera akan di tinggalkannya dan ketika Vina Maharani juga tengah mencoba menahannya dengan memegang lengannya.
"Lanjutkan jalan pulang ke asrama saja, Ham," bisiknya serius. "Jangan cari gara-gara dengan mereka!" Lanjut Vita Maharani.
Ilham Alfarizi menoleh dengan marah. "Dan membiarkan mereka merampok gadis itu?" Ucap Ilham tegas.
"Apa perduli elo?" gerutu Vina jemu. "Jangan berlagak jadi pahlawan di sini. Sekarang kan bukan jamannya Captain America atau spiderman lagi." Balas Vina.
Sekarang tatapan Ilham berubah heran. "Elo sampai hati membiarkan gadis itu jadi korban mereka?" Balas Ilham.
"Bukan urusan kita!" geram Vina jengkel. "Kita juga kan bukan polisi!" Lanjut Vina.
"Tapi gue tak dapat membiarkannya, Vin!" protes Ilham tegas. "Gue harus mencoba untuk menolongnya!" Dengan yakin Ilham melanjutkan perkataannya dan di lepaskannya tangan Vina yang masih menggenggam lengannya kemudian Ilham pun berjalan perlahan dengan segala perhitungan menuju kembali ke tempat gadis itu berada sebelumnya.
Sekali lagi Ilham menoleh kepada Vina. Kali ini dengan tatapan yang lebih heran lagi. "Elo nggak kasihan kepadanya, Vin? Dia sama-sama perempuan. Seperti elo! Elo nggak ingin gue menolongnya?" Tanya Ilham.
"Tentu saja tidak!" geram Vina kesal. "Gadis mana yang rela membiarkan cowo' nya jadi pahlawan cewe' lain?" Balas Vina lagi.
Tetapi Ilham tak sempat berpikir lagi. Salah seorang dari mereka telah memegang tangan gadis itu dan mencoba merampas tas ranselnya. Gadis itu masih berjuang untuk mempertahankan miliknya akan tetapi pemuda yang satu lagi merangkul dan menahan laju gerak pinggangnya dari belakang.
"Diam-diam saja, manis! Kami cuma ingin menolongmu membawakan tas ransel ini!" Ucap salah seorang pria tak di kenal itu kemudian.
"Eh, tunggu dulu!" bentak Ilham sambil merenggutkan kemeja laki-laki itu. "Enak saja minta tas ransel orang!" Ucap Ilham. Melihat Ilham, serentak mereka segera melepaskan korbannya.
__ADS_1
"Kau mau apa?!" hardik pemuda yang lebih tegap sambil mencabut pisaunya. "Jangan berlagak menjadi jagoan dan turut campur urusan orang lain ya!" Lanjutnya.
"Membawa tas ransel kepunyaan orang harus seijin pemiliknya!" sahut Ilham sambil mencari-cari peluang.
Tentu saja Ilham dapat berkelahi akan tetapi melawan dua orang laki-laki yang berpisau tidak sama dengan berkelahi melawan teman-temannya satu sekolah dan mereka pasti sudah terlatih dalam berkelahi.
Mengalahkan mereka pasti tidak semudah menonton film kungfu. Salah...! salah, dia sendiri yang akan terkena tikam. Tetapi mereka rupanya tidak suka banyak bicara, kerja mereka, sikat dan sambar secepatnya. Maka sebelum Ilham selesai bicara, mereka sudah sama-sama menyerang. Terpaksa Ilham menanggalkan jaketnya untuk membungkus lengan kirinya dengan jaket itu dan menggunakannya sebagai perisai. Tetapi mereka benar-benar gesit. Ujung pisau itu telah berhasil merobek lengan Ilham sebelum ia mampu menendang pergelangan tangan yang berpisau itu. Dan dua pukulan yang cukup keras mendarat di mukanya. Ilham merasa cairan hangat mengalir dari celah-celah bibirnya yang pecah lalu kemudian merasa pusing. Dan sedang terhuyung mundur ketika tikaman pisau yang satu lagi hampir mampir di lambungnya. Lalu terjadilah sesuatu yang tidak di sangka-sangkanya.
Gadis itu mengayunkan tas ranselnya ke punggung laki-laki itu. Begitu kuatnya sampai seluruh tubuhnya yang kecil mungil itu ikut terdorong ke depan. Dia jatuh terjerembab bersama-sama tas ranselnya. Tetapi ia telah memberi peluang kepada Ilham untuk memperbaiki posisinya.
"Lari!" seru Ilham dengan napas terengah-engah. "Satu ronde lagi aku pasti knock out!"
Ilham masih mampu membuat kedua lawannya kewalahan untuk beberapa saat lagi sebelum satu jotosan yang sangat telak menghantam perutnya.
Ia terjajar ke belakang. Sempoyongan menahan tubuhnya. Dan ambruk ke tanah. Tetapi tidak sampai tertelentang karena ada sepasang tangan yang lembut menopangnya duduk. Mula-mula dikiranya Vina, tetapi ketika dari balik tirai darah yang menyelubungi wajahnya ia melihat paras gadis itu, kemarahannya meledak kembali.
"Lari!" geramnya sambil menyeringai kesakitan.
Ia merasa seluruh isi perutnya seakan-akan hendak tumpah ke luar. Tetapi masih dipaksakannya menolakkan gadis itu dengan sebelah tangan ke balik tubuhnya.
"Lari! Kau tunggu apa lagi?!"
Sebaliknya dari lari meninggalkannya, gadis itu malah mengeluarkan saputangannya dan menyusut darah yang melumuri wajah Ilham. Barulah pemuda itu dapat melihat lebih jelas.
__ADS_1
Ada beberapa orang yang sudah ramai dan berhenti di sana. Kedua bajingan itu telah tak tampak lagi dan juga Vita Maharani.