ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 58 : WHITE TEAM


__ADS_3

"Gimana caranya biar gue bisa tanding basket yah. Gue pengin banget tanding antar kota. Ck, itu kan syarat biar team basket gue bisa ke tingkat provinsi. Ahhh, rese nie guru-guru. Nggak sependapat banget." Ucap cowo' itu terlihat kesal.


Seorang cowo' sedang duduk di balkon kamar di asramanya seraya memandang bintang. Sepertinya hanya satu yang dipikirkan oleh cowo' ini. Yaitu pertandingan basket antar kota. Perbedaan pendapat antara dirinya dan para guru mengakibatkan dirinya dan teamnya tidak bisa mengikuti pertandingan basket antar kota. Padahal team basketnya ingin sekali menjadi perwakilan sekolah untuk ikut pertandingan itu.


"Lama-lama gue bisa gila kalo kaya gini terus. Parah... parah... parah...! Kenapa sih para guru nggak sependapat sama gue. Bukanya bangga kalo team gue bakalan ikut mewakili sekolah malah di larang dengan alasan yang nggak masuk akal. Mereka pikir anggota osis cuma anggota team basket gue aja apa." Gerutu cowo' ini seraya memberantakan rambutnya sendiri.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara dari arah pintu. Ternyata ada seseorang yang mengetuk pintunya itu. Kemudian dirinya bergegas menuju kea rah pintu dan membukanya. Terlihat seorang cewe' tengah berdiri di depan pintu.


"Elo ngapain kok malah ngelamun gitu Ham?" Tanya Rosa kepada Ilham.


"Gue tadi cuma lagi mikirin pertandingan basket. Temen-temen pada pasrah semua, mereka nggak mau berusaha buat yakinin guru kalo anak-anak basket bisa membagi waktu antara pertandingan Basket dan OSIS. Guenya kan jadi bingung. Masa iya gue berusaha sendirian." Jelas Ilham.


"Pengin banget yah ikut pertandingan itu." Tanya Rosa.


"Iyalah. Pertandingan itu penting banget buat gue dan biar team basket juga makin maju. Sebagai kapten gue nggak pengin kalo team gue cuma sampe di pertandingan antar sekolah aja. Biar bisa sampe ke provinsi kan harus ngelewatin pertandingan itu dulu Cha!" Jelas Ilham kembali.


"Ya udah. Nanti gue coba ngobrol dengan Vina siapa tahu aja dengan ada dia bersama gue dan sama temen-temen bakalan bantuin elo buat yakinin guru-guru. Sekalian biar Vina bicara dengan orang tuanya Bapak Kepala Sekolah Perawat Kesehatan ini!" Balas Rosa.


"Apa Vina mau membantu elo Cha? Sedangkan elo tahu sendiri bagaimana kisah antara gue ma dia! Tapi Serius ya Cha elo mau bantuin." Ucap Ilham memastikan.


"Iyalah. Serius banget malah. Nanti gue yanf bilang sama Vina dan yang lainnya. Biar bantuin elo juga." Ucap Rosa lagi.


"Makasih ya sayang, elo tu emang malaikat gue tahu nggak, selalu ada di saat gue butuhin. Elo tuh cewe' paling baik di seluruh dunia kedua setelah mamah gue." Ucap Ilham memuji Rosa.


"Makasih. ya udah. Kita balik yuk! Dah mau apel tuh! Ntar telat lagi!" Rosa mengingatkan.


"Iyah...!" Jawab Ilham seraya menggandeng tangan Rosa berjalan menuju ke tempat di mana apel malam akan di adakan di sana.


Kebahagiaan datangnya memang bisa dari siapa saja. Bukan cuma orang yang deket sama kita, tapi juga orang-orang yang menyayangi kita dengan tulus. Walaupun kita nggak melihat mereka, seenggaknya mereka menyayangi kita.


***


DUK.. DUK.. DUK..!!!


Suara pantulan tersebut terus menggema di dalam lapangan basket indoor sekolahnya. Siang itu merupakan ekstrakulikuler yang melelahkan. Masalahnya, Pak Ridwan yang mengajar ekstrakulikuler basket sekaligus guru olahraga mereka menambah jam ekskul demi melihat kemampuan masing-masing anak, terutama yang baru masuk ke dalam tim inti basket. Makanya, beliau memakai waktu hingga jam lima sore untuk pertandingan basket. Seperti biasa, tim inti basket sekolah maju untuk bertanding dengan beberapa siswa siswi lainnya yang berbakat dalam bidang olahraga basket. Pertandingan saat itu benar-benar heboh. Para murid yang tak ikut pertandingan menyemangati anak-anak basket yang berada di lapangan dengan semangat.

__ADS_1


Waktu yang tersisa untuk pertandingan mereka hanya tinggal tiga puluh detik lagi. Tim basket yang memiliki skor lebih sedikit tampak berusaha keras untuk mengejar angka.


“Ayo! Semangat, White Team! Semangat semuanya!”


White Team merupakan nama tim inti basket Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi. Anggota tim baru saja dipilih semenjak tahun ajaran dimulai karena banyak anggota tim inti basket yang lama sudah lulus atau pindah sekolah. Seleksi yang dilakukan mempertimbangkan kemampuan, pengetahuan dan juga niat. Para anggota tim inti harus memiliki niat yang sangat kuat dalam mendalami basket, kemampuan yang tinggi dan juga wawasan luas tentang basket. Dengan seleksi yang cukup ketat oleh ketua ekstrakulikuler basket, terpilihlah sekitar sepuluh orang. Lima anggota tim, lima orang lainnya sebagai cadangan.


Toni Adam merupakan salah satu anggota tim inti tersebut. Ia baru saja masuk tim dan langsung dinobatkan sebagai tim inti basket setelah lulus dua kali seleksi. Dari semua anak-anak basket, laki-laki berambut pendek tersebut merupakan anak yang memiliki bakat dan niat yang terdalam. Dan semua anak-anak basket beserta pelatih tim basket mereka berharap ia bisa menjadi contoh pemain yang baik untuk anak-anak basket lainnya.


Sekarang bola basket masih ada di tangan seorang laki-laki dari anggota White Team. Namun, posisinya benar-benar tidak aman. Anggota tim lawan benar-benar menghadangnya di segala arah. Matanya melirik kanan-kiri sambil mendribble bola basketnya terus menerus. Berusaha mencari cara agar ia bisa mengoper bolanya kepada teman satu timnya. Cowo' itu bertubuh tinggi dengan kulitnya yang hitam manis.


"Ilham! Berikan pada gue!" Toni Adam yang berdiri tidak jauh darinya berteriak sambil melambaikan kedua tangannya kepada Ilham.


Ilham mengangguk samar. Ia segera memutar badannya menuju arah yang berlawanan dengan hadangan lawan-lawannya. Ia melakukan gerakan freestyle sejenak untuk mengecoh lawan dan langsung cepat-cepat melempar bola tersebut ke arah Made.


"Toni!" sahutnya keras.


Setelah mendapatkan bola basketnya, Toni langsung membawa bola menjauhi lawan. Waktunya untuk mengimbangi skor tinggal sebentar lagi.


"Waktu tinggal sepuluh detik! Shoot, Ton!!" teriak anak lain yang berambut cepak ketika Toni baru sampai di tengah lapangan. Namanya Ali Mat Hasan. Ia sudah siap berdiri di dekat ring White Team. Setelah teriakannya selesai, Toni langsung menembak bola basket itu dari tempat jauh. Kalau bola itu masuk ke dalam ring, maka White Team akan mendapatkan tiga poin. Semua yang ada di sana langsung terdiam. Mereka sama-sama berharap bola oranye tersebut masuk ke dalam ring agar White Team bisa unggul dan menang. Tapi, begitu bola basket sampai di ring, ia justru berputar-putar di atas ring. Belum enggan untuk masuk. Semua anggota White Team yang berada di lapangan beserta para penonton langsung berdoa dalam hati masing-masing.


Semua penonton langsung berteriak girang begitu peluit dibunyikan dengan nyaring. Anggota White Team juga langsung berkumpul di tengah lapangan dan menyerbu Toni. Mereka melompat-lompat girang dan berteriak-teriak senang. "Skor terakhir 70-69!! Kita menang guys!!!"


Toni Adam yang berada di tengah kerumunan teman-temannya hanya tertawa senang mendengar ucapan mereka. Ini adalah kemenangan pertama untuk tim basketnya. Ia benar-benar bersyukur memiliki bakat dalam olahraga basket. Dengan begitu, dia bisa membahagiakan teman-temannya.


Singkat penjelasan, White Team terdiri dari lima orang. Sesuai dengan nama tim mereka, anggotanya terdiri dari Ilham, Toni Adam, Made, Jhon dan juga Sam. Toni yang baru masuk White Team merupakan adik kelas dari Ilham sang Kapten, Made, Jhon dan Sam. Namun, walaupun berbeda tingkat, mereka berlima bisa akrab dengan cepat setelah mengenal satu sama lain saat seleksi tim basket.


"Anak-anak! Segera ke ruang ganti dan tukar baju basket kalian dengan baju olahraga! Yang lainnya boleh pulang!" Suara Pak Ridwan, guru olahraga mereka, tiba-tiba menggema di lapangan tersebut.


Kegaduhan yang terjadi langsung pelan-pelan mereda setelah anak-anak satu per satu keluar dari lapangan indoor termasuk anak-anak basket yang bertanding tadi. Mereka langsung mengambil botol minum mereka masing-masing dan segera meninggalkan lapangan. Anak-anak yang tidak ikut bertanding segera turun ke bawah sementara anak-anak basket segera pergi menuju ruang ganti yang tepat berada di sebelah lapangan indoor. Ilham dan teman-teman satu timnya sibuk masing-masing.


"Hei, tembakan bagus, anak baru!" kata seseorang yang menyaksikan pertandingan tadi. Ia baru saja masuk ke dalam ruang ganti laki-laki karena mendapati White Team belum keluar. Dewa Angga, dia adalah kakak tingkat mereka semester terakhir di Sekolah Perawat Kesehatan dan mendalami seni musik. Dan dia merupakan penonton setia White Team di setiap pertandingannya.


"Hei, dia punya nama! Namanya Toni! Lagi pula, apa yang kau lakukan disini, Kak?" protes Ilham kepada Dewa. Ia jelas mengenal kakak kelasnya tersebut karena saat dia kelas satu dan Dewa kelas dua, Dewa juga sering sekali menontonnya bertanding.


Dewa hanya nyengir mendengar ucapan Ilham. Kemudian, ia menepuk-nepuk punggung Toni pelan. "Gue tahu namanya Toni. Bukankah sekali-kali menjahili adik sendiri itu menyenangkan?" Balas Dewa.

__ADS_1


"Ah, elo tak mengatakan kalau memiliki adik laki-laki...?" kata Ilham. Wajahnya memerah karena ternyata dia yang salah. Ia bahkan tidak tahu kalau Toni memiliki kakak.


Dewa tertawa...! Ia kembali menoleh ke arah Toni. "Hei, gue nggak menyangka elo memiliki bakat setinggi itu dalam basket. Pantas saja elo begitu menekuninya sejak kecil." Ucap Dewa.


Toni yang sedang duduk di bangku panjang membongkar tasnya menoleh dan tersenyum sekilas kepadanya. Kemudian, ia segera sibuk kembali dengan tasnya. Ia sedang mencari baju olahraganya beserta beberapa perlengkapan yang sempat ia lepas sebelum jam olahraga.


"Tak sebagus yang elo pikirkan, Kak." Ucap Toni.


"Ah, elo terlalu merendah diri, Toni. Tembakan elo merupakan tembakan paling hebat yang pernah gue lihat. Jarang sekali melihat anak basket yang mampu mencetak angka dari jarak sejauh itu!" kata Made yang sedang sibuk dengan loker di hadapan Toni.


"Ya, kurasa pilihan Pak Ridwan tidak salah menjadikanmu sebagai tim inti basket. Teknik elo dalam pertandingan benar-benar patut diacungkan jempol!" kata Jhon yang berada tak jauh dari mereka tiba-tiba datang dan duduk di samping Toni. Ia memegang sebuah handuk di tangannya untuk menghapus peluh yang sudah membasahi pelipisnya.


"Dia lebih baik dari pada Irfan sendiri." kata Sam juga tiba-tiba datang menghampiri teman-temannya.


Ilham dan Made mengangguk setuju dengan pendapat Sam.


"Siapa Irfan?" tanya Jhon heran. Namun, tak ada satu pun yang menjawab.


"Kalian itu mengoceh saja, gue balik ke asrama duluan ya kak!" tiba-tiba Toni bersuara. Ia segera memasukkan botol minumnya ke dalam tas. Ia segera berdiri dan hendak meninggalkan ruang ganti bersama kakaknya.


"Ya, sampai jumpa!" Keempat teman satu tim Toni melambaikan tangan mereka sejenak kemudian langsung sibuk kembali memakai baju olahraga sambil mengobrol.


***


Saat Ilham dan Jhon meninggalkan ruang ganti, ruang ganti perempuan yang tadinya berisik sekarang telah hening. Mereka semua pasti sudah pulang. Ilham dan Jhon langsung turun ke bawah untuk mencari kekasih mereka, Rosa dan Nelly. Ilham menoleh ke arah Jhon, "Mungkin mereka ada di kantin." Ucap Ilham.


Mereka berdua bergegas menuju kantin yang berada di lantai bawah di sebelah asrama putri A. Dan ternyata benar, Rosa sedang bersama teman-temannya di kantin. Mungkin mereka sudah keluar duluan sebelum Ilham sehingga mereka pergi menuju kantin sembari menunggunya. Ilham dan Jhon langsung menghampiri mereka.


"Cha!" seru Ilham sambil menepuk pundak kekasihnya yang berambut hitam kecokelatan itu. Rambut panjangnya diikat ekor kuda.


Rosa menoleh ke arahnya. "Hei, Ham! Ternyata elo sudah selesai." Ucap Rosa.


Ilham mengangguk.


"Ham! setelah melihat elo dan kawan-kawan White Team bertanding tadi di lapangan. Ternyata, Rosa tidak salah. Elo memang benar-benar pantas menjadi Kapten White Team Basket Putra. Kerjasama yang keren dengan Toni tadi mampu membuat White Team unggul!" kata Vina.

__ADS_1


__ADS_2