ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 63 : MENERIMA KEKALAHAN


__ADS_3

"White Team! White Team! White Team!"


Suasana lapangan basket sekolah waktu itu sangat ramai dengan sorakan-sorakan para murid yang sedang menyaksikan White Team bertanding melawan beberapa anak basket yang dipilih langsung oleh pak Ridwan seorang guru muda dalam bidang olahraga dan sebagai pelatih langsung buat White Team. Jam istirahat yang biasanya ramai dengan anak-anak yang makan di kantin, kini berpindah ke lapangan karena rasa antusias mereka melihat aksi Ilham dan teman-temannya. Makanan yang telah mereka beli sampai mereka bawa ke sana.


"Berikan padaku, Sam!" Made berseru nyaring ketika melihat temannya sedang kesusahan melewati para lawan yang sedang menghadangnya. Dengan cepat Sam menuruti Made yang berdiri cukup jauh darinya.


"Bersiap, Ton!" seru Ilham kepada Toni yang masih di tengah lapangan. Sementara ia langsung mendekatkan posisinya dengan posisi Made agar posisi amannya tetap terjaga. Lawan mereka kali ini bukanlah lawan main-main, walaupun mereka bukan anggota tim inti, mereka juga mahir dalam merebut bola.


"Kalian tidak akan bisa merebut bolaku!" Made melakukan berbagai teknik mengecoh untuk menghindar lawan, kemudian melempar bola basketnya dengan cepat ke tangan Toni begitu lawan terakhir yang menghadang mencoba merebut bolanya. Made tersenyum dan berseru keras begitu Toni menangkap bolanya.


"Shoot...!!!"


"Hup!" Toni berlari dengan kencang menuju ring milik timnya dan melakukan slam dunk untuk mencetak angka. Semua murid yang menonton di sana langsung berteriak senang dan histeris. Begitu Toni melepaskan pegangannya dari ring, ia langsung diserbu oleh para anggota tim inti. Mereka saling toss sejenak, kemudian langsung konsentrasi kembali dengan pertandingan.


"Ayo White Team! Kejar skor lawan! Dua angka lagi!" Para siswa dan siswi yang ada di sana dengan semangatnya berseru, seakan-akan memberikan energi lebih untuk para anggota White Team untuk bertanding.


Ya, sejak tadi White Team sangat total mengeluarkan tenaga mereka untuk segera mengejar angka karena mereka sempat tertinggal sembilan poin karena mereka terlalu lengah dalam menjaga bola. Untungnya mereka dapat mengejar sedikit demi sedikit. Sesuai dengan teriakan para supporter tadi, hanya tinggal dua angka lagi yang harus dikejar. Papan skor masih menunjukkan 19-21 untuk keunggulan tim lawan.


"Dua puluh detik lagi!" seru Pak Ridwan sekeras-kerasnya dari pinggir lapangan.


Ilham yang mengetahui hal itu langsung memberi instruksi kepada teman-temannya. "Ton! Berikan pada Sam! Made harus shoot jarak jauh!"


"Tangkap, Sam!" Tanpa banyak bicara, Ilham langsung mengoper bola basketnya ke arah Sam dan langsung bersama Jhon menjaga lawan yang hendak menghadang jalan Sam menuju ring. Toni juga melakukan hal yang sama untuk menjaga posisi aman Made di tengah lapangan seiring Sam mendekat.


"De...!" seru Sam sambil memberikan bola basket kepada Made. Kemudian, Made langsung melakukan tembakan tiga angka. Bola basket itu tidak langsung masuk dengan mulus, ia justru sibuk mengelilingi ring untuk beberapa saat. Semua yang ada di sana langsung berharap-harap cemas. Sebagian besar anak-anak yang menonton mengatupkan tangannya seolah memohon kepada bola tersebut untuk masuk, bahkan ada juga menutup matanya dan berdoa.

__ADS_1


Penentuan menang dan kalah akan segera ditentukan oleh kemana bola itu akan berakhir. Mental dari ring atau justru masuk?


Made menelan ludahnya menatap bola basket yang ia lempar. Ia tidak banyak berharap kepada bola basket itu. Baginya tidak masalah jika kalah saat latihan, asal saat pertandingan yang sesungguhnya nanti, White Team bisa total. Tapi, tetap saja denyut jantungnya menjadi cepat dalam situasi tegang ini.


Ilham dan teman-temannya menghela nafas setelah bola basketnya memutuskan untuk menyingkir dari ring, bersamaan dengan terdengarnya sorakan-sorakan kembali dari anak-anak yang menonton. Namun, bukan sorakan bahagia. Mereka jelas tidak senang White Team harus menerima kekalahan.


"Dengan ini dinyatakan bahwa tim Elang Super memenangkan pertandingan hari ini!" seru Pak Ridwan dengan keras. "Terima kasih untuk para anak basket yang telah berjuang keras. Kalian yang kalah tidak perlu kecewa, tetap latihan terus!" Lanjut Pak Ridwan dengan suara keras.


Tim lawan langsung meloncat-loncat girang begitu mendengar mereka telah menang melawan White Team. Setelah itu, mereka langsung menghampiri Ilham dan teman-temannya yang masih tampak terdiam di tengah lapangan. Wisnu, salah satu dari tim lawan mengulurkan tangannya kepada mereka.


"Ada apa?" tanya Made menatap uluran tangan Wisnu.


"Kalian hebat. Gue benar-benar terkejut bisa menang. Padahal, kalian adalah anak-anak basket yang paling mahir di sekolah." kata Wisnu sambil tersenyum. "Kapan-kapan ayo kita bertanding bersama lagi." Ucap Wisnu melanjutkan.


"Ya, tentu saja, Nu." kata Made tersenyum.


"Gue beristirahat dulu. Kalian sebaiknya beristirahat juga. Kalian pasti lelah." kata Wisnu. Wisnu langsung berlari menghampiri teman-temannya. Sementara Ilham dan teman-temannya beristirahat di pinggir lapangan. Barang-barang penting mereka terkumpul di salah satu bangku panjang yang ada di sana.


Made dan Sam langsung menyambar botol minum mereka masing-masing dan meneguknya sampai setengah botol. Sementara Ilham dan Toni sibuk menghapus peluh yang sudah membasahi wajah mereka. Jhon hanya duduk sambil mengatur nafasnya, melepas kelelahan.


"Elo tahu, De, ide elo tentang pertandingan ini sungguh hebat." kata Jhon membuka pembicaraan. Benar, penggagas pertandingan saat jam istirahat hari ini adalah Made. Dia sepertinya ingin menebus rasa senang dan relanya kemarin saat menang dengan Nugroho dengan pertandingan hari ini. Makanya, Ilham dan teman-temannya meminta bantuan Pak Ridwan untuk memanggil anak-anak basket yang menurutnya mahir. Dan karena pemanggilan anak-anak basket tersebut sampai di telinga banyak orang, semuanya langsung ikut menonton mereka bertanding.


"Tak ada yang lebih hebat daripada latihan tambahan untuk anak-anak basket." kata Made setelah selesai minum. "Lagi pula, bagus juga untuk menghibur teman-teman kita, bukan?" Lanjut Made tersenyum senang.


"Gue hampir melongo ketika melihat sebagian besar anak-anak membawa makanan mereka demi menonton pertandingan." kata Sam menambahkan setelah menelan air yang menggumpal di mulutnya. "Kurasa kita akan cepat terkenal." Lanjut Sam dengan nada senang pula.

__ADS_1


"Ah, kita ini anak basket. Bukan artis. Yang harus kita harapkan adalah menjadi pembasket yang baik, bukan jadi terkenal." kata Ilham. "Bukankah kita hanya mengincar pertandingan kompetisi tingkat kota lalu provinsi?" Jelas Ilham akan ambisi White Team ke depannya.


Made tertawa. "Benar sekali, Ham."


Toni hanya tersenyum mendengar celotehan kakak-kakak kelasnya yang juga berada dalam satu timnya. Ia memasukkan kembali handuk kecilnya ke dalam tas dan segera meneguk air minum untuk menyegarkan tubuhnya. Ia benar-benar lelah setelah bertanding.


"Ilham…!"


Ilham menoleh ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Di belakangnya berdiri beberapa siswi yang membawa beberapa makanan ringan di tangan mereka.


Siswi-siswi itu langsung memberikan makanan ringan tersebut kepadanya. Salah satu dari mereka berseru, "Ini semua untuk elo. Elo pasti lelah dari pertandingan tadi. Makanlah." Ucap salah satu dari mereka.


"Walaupun kalian kalah, kami tetap mendukung White Team," yang lainnya ikut menambahkan. "Kalau kalian bertanding di sekolah lain, kami ingin menonton untuk mendukung kalian." Lanjut mereka semua bersemangat.


Ilham tersenyum ramah. Tangannya pelan-pelan mengambil satu per satu makanan yang diberikan mereka, kemudian menaruh semua makanan tersebut di sampingnya. "Terima kasih. Kami akan melakukan yang terbaik." Ucap Ilham sembari memberikan senyum yang manis.


Para siswi tersebut tampak senang mendengar ucapan ramah Ilham. Kemudian, mereka segera pamit untuk ke kelas.


Ilham tersenyum menatap kepergian mereka. Ia tatap makanan yang tadi diberikan mereka. Sebenarnya dia sudah makan sedikit sebelum bertanding tadi, tapi rasanya ia lapar lagi karena lelah. Ia ambil satu bungkus makanan tersebut dan segera melahap isinya. Keripik udang yang dibelikan mereka enak juga.


"Ehem…!" Made tiba-tiba berdehem di tengah acara makan Ilham.


Ilham menoleh, namun tetap sibuk mengunyah.


"Duh, yang baru diberikan makanan dari penggemar. Sampai lupa kalau teman-temannya ada di sini. Kita juga lapar, Ilham!” kata Made sambil nyengir menatap sahabatnya.

__ADS_1


Ilham tersenyum mendengar ucapan Made. "Mereka bukan penggemar gue. Mereka pendukung White Team. Jadi, makanan itu untuk kalian juga. Ambil saja kalau mau." Lanjut Ilham.


Begitu selesai berbicara, teman-teman Ilham langsung berebutan mengambil beberapa bungkus makanan yang ada di samping Ilham. Mereka terlihat seperti anak kecil. Ilham sampai tertawa geli melihat kelakuan teman-temannya.


__ADS_2