ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 52 : KEBENARAN


__ADS_3

"Oke anak-anak, sekarang letakkan buku pelajaran Kesehatan Lingkungan dalam Ilmu Keperawatan kalian di atas meja, nanti akan bapak periksa" perintah Pak Johan.


"Iya pak...!" seru anak-anak.


Pak Johan berkeliling untuk memeriksa buku catatan siswa siswinya.


"Ririn, Agnes kalian belum mencatat?!" tanya pak Johan.


"Sebenarnya pak...!" Jawab Agnes namun tidak sempat berlanjut.


"Sebenarnya kita lupa pak!" potong Ririn sambil menginjak kaki Agnes.


"Kalian berdua kedepan!" ucap pak Johan.


"Iya pak...!" ucap Ririn dan Agnes.


"Ada lagi yang belum mencatat?!" tanya pak Johan.


Lalu Ali Mat Hasan mengangkat tangannya tanpa berbicara.


"Kedepan!" ucap pak Johan dengan nada yang sedikit naik.


"Karena kalian sudah mengabaikan tugas dari saya, maka saya akan memberikan hukuman sama kalian" ucap pak Johan. "Sebagai hukumannya kalian tidak bisa mengikuti pelajaran saya dan kalian harus menyayikan lagu Indonesia Raya sambil terus hormat pada bendera!" sambung pak Johan.


"Aduh pak di luar kan panas, ntar kalo saya item gimana?!" keluh Ririn.


"Bule aja sengaja berjemur biar item, udah sekarang kalian lakukan hukuman dari bapak!" ucap pak Johan tegas.


Saat mereka bertiga akan keluar kelas untuk menjalani hukumannya, tiba-tiba Ilham menghentikan mereka.


"Tunggu pak!" teriak Ilham.


"Iya,kenapa Ilham?" tanya pak Johan.


"Kenapa bapak nggak memastikan buku yang mereka pegang adalah buku milik mereka" ucap Ilham.


"Maksud kamu?" pak Johan merasa kebingungan.


"Bapak kan hanya memerikasa isi bukunya aja, tanpa melihat cover bukunya. Siapa tau itu bukan buku mereka!" Ilham berusaha menjelaskan pada pak Johan.


"Kamu benar juga Ham, siapa tau ada yang mengerjai mereka!" ucap pak Johan sambil mulai berjalan ke arah meja Ririn dan Agnes.


Pak Johan sudah memegang buku Ririn. Saat pak Johan akan membaliknya.


"Itu buku saya kok pak!" ucap Ririn sambil berteriak untuk mencegah pak Johan. Tapi pak Johan sudah membalik buku itu.


"Ooooh, sekarang nama kamu udah ganti ya jadi Roni...!" tegas pak Johan.


"Aduh mampus deh kita!" bisik Roni pada Didik.

__ADS_1


"Dasar lu Ham! Liat aja pembalasan gua!" gumam batin Didik sambil menatap sinis ke arah Ilham.


"Didik Septanto...!" ucap pak Johan saat melihat nama pada buku Agnes. Didik Septanto adalah nama lengkap Didik.


"Saya pak!" sahut Didik.


"Ini juga bukan buku Ali Mat Hasan pak!, ini buku Junaidi putra" ucap salah satu siswa yang mejanya berdekatan dengan meja Ali Mat Hasan.


"Pantes aja dari tadi bapak heran kok tumben-tumbenan kalian ngerjain tugas! Ternyata ini! Untung aja Ilham nyuruh bapak buat meriksa buku mereka. Kalo nggak kasian mereka yang nggak salah apa-apa harus di hukum" ucap pak Johan.


Didik, Junaidi dan Roni hanya terdiam, mereka tidak tau harus berkata apa.


"Ya udah kalian bertiga duduk kembali" ucap pak Johan pada Ririn, Agnes dan Ali Mat Hasan. Mereka bertiga pun duduk ke kursinya masing masing.


"Dan kalian bertiga kedepan!" ucap pak Johan dengan nada tinggi.


"Iya, iya pak!" ucap Roni sambil terkaget-kaget.


Mereka pun berjalan ke depan. Saat berjalan ke depan, Didik dengan sengaja menyenggol buku Ilham yang ada di atas meja hingga terjatuh tapi Didik tidak meminta maaf sekalipun. Ilham menggambil bukunya yang di jatuhkan oleh Didik.


"Ok...! Sekarang kalian harus menjalankan hukuman yang tadi bapak sebutkan!" ucap pak Johan.


"Itu doang, gampang!" ucap Didik pelan.


"Oh jadi itu nggak seberapa buat kalian? Ok...! bapak akan tambah lagi hukuman kalian" ucap pak Johan.


"Apaan sih lo!" ucap Didim sambil menginjak kaki Junaidi.


"Didik kamu membersihkan toilet pria. Dan kalian berdua membersihkan toilet wanita" pak Johan menambah hukuman mereka.


"Ngga adil lah pak! Masa saya sendiri mereka berdua?" protes Didik.


"Klo ada yang protes lagi bapak tambah lagi hukuman nya!" ancam pak Johan.


"Udah... udah...! ayo ntar ditambah lagi hukuman nya" bisik Roni pada mereka sambil mendorong mereka keluar.


Mereka pun menjalankan hukuman itu dimulai dari membersihkan toilet dilanjut dengan menghormat bendera.


***


"Aduh panas banget Dik, kulit gua kebakar nih gara-gara disuruh hormat bendera jam segini" keluh Roni.


"Ya udah panas, cape lagi mesti bersihin toilet!" Junaidi pun mengeluh.


"Ni semua gara-gara si Ilham" ucap Didik.


"Bener Dik, tapi gua nggak mau kasih dia pelajaran lagi" ucap Roni.


"Gua juga, males banget ntar gua babak belur lagi" ucap Junaidi.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju kelas untuk mengambil tas mereka. Kebetulan Ilham baru saja akan keluar kelas.


Didik bergegas mengambil tas nya dan berlari untuk menyusul Ilham.


"Awas lu ya Ham!" teriak Didik sambil berlari menuju Ilham.


"Eh Dik, elu mau ngapain?" teriak Roni pada Didik.


Roni dan Junaidi pun berlari untuk menyusul Didik.


Dari depan terlihat Ilham berjalan di depan Didik. Didik sangat kesal pada Ilham sehingga ia memutuskan untuk mendorong Ilham dari belakang dengan sekuat tenaga hingga Ilham terjatuh.


Tapi saat Didik hendak melakukan rencananya itu, tiba-tiba Ilham menengok ke belakang dan menghindar. Sehingga Didik terpeleset dan "Aaaa...!" teriak Didik.


Tiba-tiba Aji menangkap Didik yang hendak terjatuh itu.


"Lu kenapa?" tanya Ilham.


Didik menarik kerah baju Ilham dan menyeretnya ke lorong dekat tangga kelas Bidan C.


"Apa apaan sih lu?!" ucap Ilham sambil melepaskan tangan Didik dari bajunya dan kemudian merapikan bajunya kembali.


"Gua heran sama elu, seneng banget elu ya ganggu kita!" ucap Didik.


"Ganggu apa? Perasaan bukannya lu sama temen-temen elu yang suka gangguin siswa siswi lain?!" ucap Ilham.


"Lu jangan ikut campur urusan kita deh! Mau so jadi pahlawan lu? Lu tau? Gara-gara lu kita jadi kena hukuman, ini pertama kalinya gua di permaluin kaya gini!, udah malu terus cape?" Balas Didik.


"Lu bilang lu malu, cape! Apa kabar sama siswa lain yang elu orang kerjain?! Mereka dihukum atas kesalahan yang mereka nggak perbuat!" Ilham berbicara sambil menatap tajam ke arah Didik.


Didik tidak bisa berkata apa-apa. Melihat Ilham yang berbicara begitu dekat dengannya dan membentak.


"Lu pasti tau kan yang lu lakuin itu salah?! Inget ya, gua bakal terus ngawasin lu dan temen-teman elu dan gua bakal hancurin semua rencana elu!" ancam Ilham pada Didik kemudian pergi.


Didik diam seribu bahasa, bahkan dia tidak bergerak sama sekali dari posisinya itu. Dia bak patung yang tidak bicara dan tidak bergerak.


Lalu Junaidi dan Roni menghampiri Didik dengan berlari karena cemas.


"Dik, lu nggak apa-apa kan?" hawatir Roni.


"Aahhhh.....!" teriak Didik sambil terjatuh ke lantai dan mengacak acak rambutnya karena merasa kesal.


"Dik lu kenapa?" tanya Junaidi kebungingan dengan tinggah Didik.


Didik pun pergi meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah kata pun.


Junaidi dan Roni berusahan mengejar Didik dan terus bertanya tentang keadaannya. Tapi Didik tidak merespon mereka dan langsung balik pulang ke asramanya.


"Udah Jun, mungkin dia lagi pengen sendiri" ucap Roni pada Junaidi.

__ADS_1


__ADS_2