
Ada perasaan aneh menggelitiki hati Ilham ketika didapatinya gadis itu masih menunggu di luar. Gadis itu tidak mau meninggalkannya begitu saja. Tidak pada saat ia berkelahi tadi. Tidak juga pada saat dokter merawat luka-lukanya. Dia bahkan sudah mengeluarkan dompetnya untuk membayar ongkos perawatan ketika Ilham mencegahnya.
"Tidak usah. Dokternya guruku. Kalau dibayar, dia malah marah-marah." Ucap Ilham.
Gadis itu menatapnya sekejap. Seolah-olah hendak meyakinkan kebenaran kata-kata Ilham. Dan melihat mata itu, Ilham jadi tidak menyesal memperoleh tujuh jahitan di lengannya.
"Boleh kuantar pulang?" tanya Ilham sambil berusaha melupakan denyutan-denyutan nyeri di kepalannya.
Sebaliknya dari menjawab, gadis itu malah balas bertanya "Pulang? Pulang ke mana?"
"Pulang ke mana?" Ilham berbalik heran. "Tentu saja ke rumahmu!"
Gadis itu menggeleng lirih. "Rumahku jauh." Ucapnya.
"Berapa jauh? Lebih jauh dari Palestina?" Balas Ilham.
"Rumahku di Magelang." Ucap gadis itu.
"Jalan Magelang? Oke, kuantarkan kau ke sana. Tapi katakan dulu, di daerah mana jalan Magelang itu?" Lanjut Ilham.
"Di daerah mana?" Sekarang giliran gadis itu yang bengong. "Tentu saja di daerah Jawa Tengah. Dekat Jogja!" Jawabnya kemudian.
"Dekat Jog...!" Dan Ilham tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Jadi dia benar-benar bukan orang Lampung! Astaga! Tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut lebih nyeri.
"Kau ke mari sendirian?" Tanya Ilham.
"Aku mencari Abangku." Jawabnya.
"Kalau begini kuantarkan saja kau ke rumah Abangmu." Lanjut Ilham.
"Itupun tidak mungkin. Aku sendiri tidak tahu di mana rumah Abangku." Jawabnya lagi.
Boy ternganga bingung. "Kau ke mari seorang diri?" gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir kepusingan yang mulai menyerang.
"Kau mencari Abangmu. Tetapi tidak tahu di mana harus mencarinya! Aku heran bagaimana ayah ibumu merelakan anak sekecil kamu datang ke sini sendirian!" Lanjut Ilham.
"Ayahku di penjara." Gadis itu menggigit bibir bawahnya. "Ibuku telah meninggal. Ketika Nenek juga meninggal, aku tak tahu lagi siapa yang harus kucari kalau bukan abangku!" Jelas gadis itu.
"Tapi bagaimana kau bisa mencari abangmu kalau kau tidak tahu alamat rumahnya?" Tanya Ilham terlihat bingung.
"Tentu saja aku tahu alamatnya. Tetapi dia sudah pindah." Balas gadis itu.
"Dengar, Upik," kata Ilham akhirnya. "Kau tak mungkin mencari abangmu malam-malam begini!" Jelas Ilham lagi.
__ADS_1
Gadis itu menunduk sedih. Menyembunyikan air mata yang hampir menyembul dari matanya. "Bagiku sama saja," sahutnya getir. "Akupun tak mungkin pulang ke kampungku sekarang." Ucap Gadis itu.
"Kalau begitu ikutlah ke asrama mungkin guru-guru di sana bisa memberikan penginapan sementara dan sekaligus bisa memberikan solusinya dari permasalahan yang ada saat ini. Bagaimana pun, asrama pasti lebih aman dari pada di jalanan!" Jelas Ilham.
Lambat-lambat gadis itu mengangkat mukanya.
"Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu." Balas gadis itu lirih.
"Ah, tambah susah sedikit lagi tak apa-apa!" potong Ilham cepat. "Aku sudah terlanjur menolongmu. Aku malah hampir kehilangan tanganku gara-gara mempertahankan tas ranselmu. Masa kubiarkan saja tas ransel itu diambil orang lagi!" Terang Ilham.
***
Ilham merasa tak ada yang memberatkannya, Ilham langsung menemui Vita Maharani agar dapat menampung gadis itu untuk sementara di perumahannya kebetulan sekali agar Vita juga mempunyai teman di rumahnya.
Akhirnya setelah di jelaskan secara detail duduk persoalan dan segala macam bertimbangan untuk mendapatkan solusi yang benar-benar terbaik buat semua, Vita Maharani pun setuju walau sedikit masih terasa berat namun karena di kuatkan dengan permintaan Ilham yang tulus membiat Vita setuju untuk sementara gadis itu tinggal di rumahnya.
Gadis itu mendapat sebuah kamar untuk dirinya sendiri. Memperoleh makanan dan minuman secukupnya. Dan mendapat dua orang teman yang baik hati. Mang ucup dan Bibi Minah yang bekerja di rumah Vita dan sangat menyukainya. Dari merekalah gadis itu mengetahui segala sesuatu mengenai Ilham. Bahwa dia Sekolah Perawat Kesehatan ini.
"Upik" kata Ilham suatu malam, ketika Vita Maharani sedang mengganti pembalut lukanya Ilham dan gadis itu membantu Vina menyiapkan keperluan pengobatan tersebut. "Kau belum bosan juga mencari abangmu?" Lanjut Ilham.
"Namaku Dina Purnama Sari," sahut gadis itu tanpa mengangkat mukanya. Ia sedang sibuk membuat balutan baru di lengan Ilham setelah Vita menaburkan obat di lukanya.
"Tapi aku lebih suka memanggilmu Upik. Nama itu cocok untukmu. Kau kan masih kecil." Balas Ilham.
"Umurku enam belas." Jawab Dina Purnama Sari.
"Inilah!" Ilham tertawa renyah. "Jadi kau benar-benar anak kemarin sore!" Canda Ilham.
Tersinggung Dina menatapnya. "Di kampung ku gadis seumurku sudah punya anak dua!" Balas Dina Purnama Sari kesal.
"Itu di kampungmu! Di kota lain. Di sini, gadis sekecil kamu masih dianggap anak bawang! Nonton film yang ada cinta-cintaannya saja belum boleh!" Ejek Ilham.
Mula-mula Dina hendak membantah lagi. Tetapi melihat senyum Ilham, dibatalkannya saja. Percuma membantah pemuda itu. Apa boleh buat, pikirnya sambil menghela napas.
Upik ya Upik.
"Uangmu masih cukup, Upik?" tanya Vina tiba-tiba. "Jakarta tidak murah buat pendatang baru seperti kamu." Lanjut Vita.
"Aku punya ijazah SMP," sahut Dina sambil melanjutkan kerja masih membantu Vita membalut lukanya Ilham. "Besok aku akan mulai mencari pekerjaan." Lanjut Dina.
"Tidak mudah mencari pekerjaan di Lampung ini, Upik, jangankan lulusan SMP, Sarjana saja masih banyak yang nganggur!" Ucap Vita menimpali.
"Tapi aku tetap harus mencoba." Jawab Dina.
__ADS_1
"Nah, mengapa tidak mencoba padaku? Aku pun ya banyak pekerjaan untukmu." Balas Vina akhirnya, kisah Dina membukakan pintu hati sebagai sesama perempuan sekaligus membalas kesalahan yang dia perbuat kepada Ilham dan Dina saat malam kejadian di mana dia meninggalkan mereka.
"Kerja apa misalnya?" Tanya Dian pada Vina.
"Membantu bersih-bersih di rumah ini, menjadi kawan ngobrol dan lain sebagainya!" Jelas Vina. "Tampaknya kau cukup cakap untuk sebuah pekerjaan itu!" Lanjut Vina.
"Terima kasih. Tetapi aku tak mau digaji untuk pekerjaan ini." Jawab Dina lagi.
"Kau dapat membantu Bi Minah di dapur. Kau bias masak kan? Kata Bi Minah masakanmu enak." Lanjut Vina.
"Dan kata Bi Minah kau jarang makan di rumah ya?." Tanya Dian.
"Tentu saja. Karena masakannya tidak enak!" Jelas Vina kembali.
"Lalu bagaimana kalau masakanku tidak cocok dengan seleramu?" Tanya Dina.
"Kau bisa membantu Mang Ucup merawat bunga di halaman. Kau bisa membersihkan kamarku tiap pagi!" Jawab Ilham menimpali pembicaraan antara Dina dan Vina.
"Aku tidak mau menerima kebaikanmu lagi." Balas Dina.
Dina mengikatkan pembalut itu dengan rapi. "Aku sudah terlalu banyak berhutang padamu. Jadi jangan bicarakan lagi soal gaji." Balas Dina.
"Terserah padamu. Pokoknya aku tetap akan menggajimu." Balas Vina.
"Ham, Din, kalian gue tinggal dulu ya, ada tugas yang harus gue beresin bareng Agnes di kelas malam, kalau sudah selesai nanti kau bereskan semuanya ya Din, semua bekas-bekas perban dan alat-alat di rebus di panci terlebih dahulu biar steril kembali. Nanti Ilham yang akan menjelaskan caranya. Lalu Vina segera menuju kamarnya, sebentar kemudian keluar membawa beberapa buah buku dan berpamitan kepada mereka berdua untuk meninggalkan perumahan menuju ke kelas malam untuk melaksanakan tugas sekolahnya.
Sepeninggalan Vina, Dina membereskan sisa-sisa kain bekas pembalut yang berserakan di lantai dan mengumpulkannya dalam sebuah panci. Ketika ia sedang membungkuk, tidak sengaja mata Ilham menembak lekuk tipis di dadanya. Tidak merangsang memang. Sama sekali tidak.
Tipis dan sedikit kurus akan tetapi Ilham menyukai sesuatu yang baru, yang belum pernah dicobanya. Maka begitu Dina Permata Sari bangkit hendak meninggalkan tempat itu, Ilham segera menyergapnya. Dina memekik dengan kaget. Panci terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan suara keras. Tetapi Ilham tidak perduli, ditangkapnya pinggang gadis itu dan didorongnya sampai tubuh Dina tertelentang di atas sofa.
Terkejut, heran dan sakit memaksa Dina untuk membuka mulutnya, siap untuk menjerit lagi. Tetapi Ilham lebih cepat. Dibungkamnya teriakan gadis itu dengan suatu pagutan rapat di bibirnya. Dina merasa dadanya berdebar aneh ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir pemuda itu. Ada sensasi ganjil yang belum pernah dirasakannya, bahkan yang belum pernah dibayangkannya sama sekali, mengalir dari bibir pemuda itu ke bibirnya. Dan ketika perlahan-lahan perasaan aneh itu berubah menjadi kehangatan, perlawanan Dina mengendur dengan sendirinya.
Siip, pikir Ilham tatkala dirasakannya tubuh yang mula-mula mengejang kaku itu lambat-lambat melembut dalam dekapannya. Menurut pengalaman, kalau sudah sampai pada tahap ini, biasanya gadis-gadis yang pernah diciumnya akan membalas kecupannya dengan lebih mesra lagi. Tetapi kali ini dugaannya meleset. Bukan ciuman balasan yang di terimanya dari Dina, tetapi sebuah tamparan yang cukup keras di pipinya. Ilham tersentak kaget. Dan Dina menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan dirinya dari pelukan Ilham.
"Kau!" dampratnya terengah-engah. Sekujur parasnya menjadi merah padam. "Kau kurang ajar!" Balas Dina.
Sebaliknya dari marah, Ilham malah tertawa pahit.
"Aku cuma ingin kau mencicipinya, Upik" katanya sambil mengusap-usap pipinya. "Percaya padaku, kau akan ketagihan!" Balas Ilham.
Tentu saja bagi Ilham tak ada persoalan apa-apa. Dia sudah biasa mencium gadis-gadisnya. Sekali setiap hari. Tetapi kalau gadis yang diciumnya itu adalah Dina, persoalannya jadi lain.
Bagi Dina, inilah ciuman pertama yang diterimanya dari seorang laki-laki. Dan ciuman pertama itu, walaupun dalam bentuk ciuman curian, membekas begitu dalam di hatinya.
__ADS_1