
"Bye...!" dan prak! Suara tangkai telpon diletakkan. Dini menoleh ke arah jam dinding dengan keheran-heranan.
"Cuma seperempat jam. Pasti bukan papah atau mamahnya." Batin Dina.
Ilham tidak menyahut, kembali berbalik badan sambil bersiul-siul dia memungut surat dari papah dan mamahnya.
"Dia cantik?" Tanya Dina Permata Sari.
"Hm? Siapa?" Balas Ilham.
"Gadis tadi. Yang menilponmu." Jawab Dina.
Ilham menoleh dan melihat Dina sedang merapikan surat-surat di atas meja. Tidak menoleh sekejap pun. Tetapi telinganya pasti dipasang baik-baik.
"Tidak tahu." Balas Ilham.
Sekarang Dina yang seketika berpaling dan mata mereka pun bertemu.
"Tidak tahu?" Ada tanda tanya di dalam matanya.
"Kau tidak tahu gadis yang menelponmu itu cantik atau jelek?" Saut Dina.
"Aku malah tak tahu siapa yang barusan menelpon. Tidak kenal." Balas Ilham santai.
"Tid...??" Dina tak sanggup lagi bicara karena merasa terherannya.
Ilham tersenyum geli. "Dia mau menyambung ke nomor lain. Tapi salah sambung ke nomorku." Jelas Ilham.
Untuk beberapa saat Dina hanya mampu mengawasinya dengan bingung.
"Kau tidak pernah berpikir untuk memeriksakan otakmu?" katanya akhirnya.
Ilham tertawa gelak-gelak.
"Barang kali kau benar. Aku memang tidak waras. Itu sebabnya panitia ujian EPTADA tak mau meluluskan aku. Orang sinting kan tidak boleh jadi Perawat Kesehatan!." Dibacanya surat papahnya dua baris. Lalu dilemparkannya jauh-jauh. "Papah dan mamah sudah mau datang ke mari." Ucap Ilham.
"Datang katamu? Bukan pulang?" Balas Dina.
Ilham menggeleng. "Rumahnya di sana. Ini rumahnya orang tua Vina." Jelas Ilham.
"Tapi sekarang menjadi rumah elo juga Ham!?" Ucap Vina tiba-tiba.
"Baru pulang? Dari mana saja Vin?" Balik Ilham bertanya.
"Dapat praktek lapangan dinas sore! Di ruang bedah lagi. Lelahnya sangat Ham!" Jawab Vina menjelaskan.
"Ya, seharusnya sudah biasa seperti itu. Toh tiap bulan memang selalu mutasi ruangankan!" Lanjut Ilham menjelaskan.
"Ya, kebetulan hari ini ada dua persiapan Oprasi nanti malam!" Jelas Vina.
"Operasi? Operasi apaan Vin!?" Tanya Dina ikut dalam pembicaraan itu.
"Hernia dan Apendik!" Jelas Vina.
Dina terlihat bingung! Ilham tersenyum menyaksikan kebingungan dengan arti kata yang di ucapkan Vina terhadap jawaban Dina.
"Hernia itu kalau kata orang awam 'Usus Turun' dan Apendik 'Usus Buntu' paham kan sekarang!?" Ilham akhirnya menjelaskan. "Oh ya Vin, papah, mamah, om dan tante rencananya kalau tidak ada halangan akan pulang!" Jelas Ilham.
"Secepat itu?" Jelas Vina.
"What? Sudah hampir dua bulan elo bilang secepat itu?" Ucap Ilham.
Vina hanya terdiam lalu tersenyum, awalnya benar Vina seakan tidak mau sama sekali serumah atau di temani oleh Ilham, tapi bersamaan waktu terus berjalan kedekatan yang awalnya terpaksa atau di paksa menjadi sebuah kedekatan penuh keikhlasan dan rasanya Vina tidak mau Ilham untuk pergi dari rumahnya ini.
"Gue mandi dulu ya Ham, keringet gede-gede jagung nih dan lumayan aromanya menggoda untuk menutup hidung!" Lanjut Vina tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun, dia beranjang pergi dan berjalan ke kamar mandi.
"Oh ya Upik, Ayo, ceritalah tentang keluargamu." Ilham menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk sini."
Tetapi Dina lebih suka duduk di seberang sana karena terasa lebih aman. Tentu saja ia belum lupa pengalamannya beberapa malam yang lalu.
"Keluargaku tinggal di kampung." Balas Dina.
"Keluargamu miskin tapi bahagia," potong Ilham seakan-akan dia tahu pasti.
Alis Dini terangkat sedikit.
"Siapa bilang? Ayahku orang kaya. Ia punya sawah, kerbau, rumah ...." Balas Dina terasa tidak senang dengan komentar Ilham.
"Dan membiarkan anak perempuannya kehabisan duit di kota!" Balas Ilham semakin mengejek.
__ADS_1
"Jangan menghina!" Balas Dina ketus.
"Oh, maaf!" Ilham menyusun telapak tangannya membentuk sembah. "Jadi ayahmu orang kaya. Kenapa mendadak jatuh miskin? Main judi?" Tanya Ilham.
"Semua gara-gara Rentenir itu." Balas Dina.
"Dia menipu ayahmu?" Tanya Ilham.
Dini menggeleng. "Dia menikah dengan kakakku." Lanjut Dina berkisah.
"Hah?" Ilham terbelalak. Kemudian ia tertawa geli.
"Apa yang lucu?" tanya Dina tersinggung.
"Kau!" Balas Ilham.
"Aku bukan badut!" Ucap Dina.
"Kalau kau mengejek terus, aku tak mau cerita apa-apa lagi!" Dina merajuk.
"Baiklah. Apa yang kemudian terjadi dengan Rentenir itu?" Tanya Ilham.
"Sudah kukatakan tadi." Jawab Dina.
"Oh, ia kawin dengan kakakmu. Lalu?" Ucap Ilham.
"Kakakku hamil. Ayah memaksanya menikah dengan Rentenir itu." Jawab Dina lagi.
"Hah?" Ilham tersentak kaget. "Jadi mereka belum menikah ketika ....". Tawanya hampir meledak lagi.
Tetapi buru-buru diralatnya ketika melihat air muka Dina sudah memerah. "Lalu?"
"Dia menolak kecuali jika kekayaan Ayah diserahkan kepadanya." Jelas Dina.
"Dan ayahmu menurut saja? Bodoh!" Timpal Ilham.
"Kakakku mengancam akan membunuh diri." Balas Dina.
"Ciii." Ilh tersenyum sinis. "Jadi kakakmu sekongkol...". Balas Ilham.
"Jangan menghina kakakku!" geram Dini marah. "Dia betul-betul tidak tahu apa-apa."
"Dengan harta ayahku, ia menjadi Rentenir yang paling kaya dan paling jahat di kampung kami." Lanjut Dina menjelaskan.
"Ciii, kasihan ..... " Tetapi tidak ada rasa kasihan dalam suaranya.
"Suatu hari datang seorang perempuan ke kampung kami. Mereka sudah kawin sebelum ia menikah dengan kakakku, jadi kakakku dimadu dan bahkan lebih dari itu. Mereka sudah punya anak." Lanjut Dina menjelaskan lebih panjang.
"Lengkap." Komentar Ilham singkat.
"Apanya?" Tanya Dina bingung.
"Seperti dalam film." Balas Ilham.
Dini menghela napas.
"Sudah selesai?" desak Ilham penasaran.
"Tergantung apakah kau mau mendengar kelanjutannya atau tidak." Ucap Dina.
"Aku selalu menonton film sampai tamat." Balas Ilham.
"Kalau begitu buka telingamu dan tutup mulut!" Lanjut Dina.
"Aduhai, galaknya!" Balas Ilham.
Dini menatap pemuda itu dengan berang. "Kau benar-benar tak punya perasaan." Lanjut Dina.
"Habis aku harus bagaimana? Menangis terisak-isak di depanrnu?" Tanya Ilham.
"Kalau begitu percuma aku cerita terus." Dina bangkit dan sudah melangkah pergi ketika Ilham menyambar lengannya.
"Jangan marah, Upik. Aku benar-benar terharu, katanya sambil menarik tampang sesedih mungkin.
Dina menatap Ilham sekejap. "Tidak... Dina!. Ilham berbohong dan dia sedang menyembunyikan tawanya di dalam hati. Lihat matanya, dia sedang menertawakan engkau." Batin Dina.
"Lanjutannya pasti akan membuatmu tertawa terpingkal-pingkal." Dengan kasar Dina mengibaskan lengannya lepas dari cekalan Ilham.
"Happy ending?" Tanya Ilham.
__ADS_1
"Kakakku ditemukan mati menggantung diri dalam kamar." Balas Dina.
Kali ini Ilham terhenyak kaku. Dini memandangnya dengan heran.
"Eh, kau tidak tertawa?" Tanya Dina.
"Barangkali Rentenir itu yang membunuhnya." Lanjut Ilham.
"Ayahku juga berpikir demikian. Mereka baru saja bertengkar. Pikiran itu membuat ayah mata gelap. Ia hendak membunuh Rentenir itu, tetapi meleset. Kena orang lain." Jelas Dina.
"Mati?" Ceplos Ilham.
Dini mengangguk lemah.
"Ayahku dihukum lima belas tahun lalu Ibu membunuh diri. Abangku di bawa Paman ke kota. Dan aku tinggal bersama Nenek." Dini menunduk, dan melanjutkan lebih perlahan. "Seandainya Nenek tidak tiba-tiba meninggal diserang TBC, aku tidak punya alasan untuk mencari mereka. Kupikir, aku lebih berbahagia hidup di kampung." Lanjut Dina terdengar lirih.
"Paman dan abangmu ..... " potong Ilham panas. "Mereka tak pernah mengunjungimu selama ini?"
Dina menggelengkan kepala dan tidak sengaja, tinju Ilham terkepal erat.
"Seharusnya mereka menjengukmu. Paling tidak mengirim kabar!" Balas Ilham.
Dina menatap Ilham dengan keheran-heranan. "Tak kusangka kau akan marah". Dina merasa debar yang aneh di jantungnya. Tetapi Ilham tidak memberinya kesempatan untuk berpikir lama-lama.
"Siapa nama mereka?" Tanya Ilham.
Dini mengerutkan dahi. "Pamanku? Joko Triono. Adik Ibu yang bungsu." Jawab Dina.
"Dan abangmu?" Tanya Ilham lagi.
"Arnan Jaya. Kenal?" Tanya Dina.
"Belum pernah dengar. Tapi aku punya akal. Kita coba pasang iklan di surat kabar. Kalau mereka baca, tapi tak mau mencarimu, kularang kau untuk mencari abangmu lagi!" Lanjut Ilham kesal.
***
"Apa artinya EBTADA?" tanya Dina ketika Ilham sedang makan malam. "Kata Vina, ia mau mentraktirku kalau kau lulus ujian EBTADA."
"Dina Permata Sari?" Ilham mengangkat mukanya. "Heran dia berani bicara dengan perempuan. Hm, kemajuan." Batin Ilham.
"Kau belum jawab pertanyaanku." Ucap Dina.
"Apa? EPTADA?" Ilham mencolek sambal dengan sepotong tempe. "Semacam ujian negara untuk menguji calon-calon Perawat Kesehatan. Puas?"
"Jadi sekolahmu belum diakui? Semacam sekolah gelap, begitu?" Tanya Dina tidak tahu.
Ilham tertawa. "Diakui sih sudah. Cuma belum disamakan. Artinya ijazah sekolahku belum dipercaya. Dan aku harus diuji lagi." Ilham menjelaskan.
"Ih, mengapa begitu sulit?" Tanya Dina.
"Mungkin karena salah intruksi untuk tindakan suntik dan salah perawatan bisa berarti maut." Balas Ilham.
"Uh, rasanya tidak enak menjadi Perawat. Membosankan. Tiap hari jumpa orang sakit. Mayat. Hhh, mengapa kau mau jadi Perawat?" Kata Dina.
"Keluargaku yang mau. Aku sih lebih suka jadi Rentenir. Seperti iparmu. Tiap hari goyang kaki, uang datang sendiri ke lumbung padinya." balas Ilham tersenyum bercanda.
"Kau mulai lagi!" potong Dina gemas.
"Eh, aku salah omong lagi!" Ilham menahan tawa.
"Maksudku, lebih enak jadi petani. Bukankah menurut statistik, umur rata-rata petani lebih panjang dari pekerja lainnya?" Tanya Ilham.
"Kalau aku" kata Dini jujur. "Lebih suka jadi bintang film. Enak..., !" Ucap Dina.
Ada nasi melompat dari mulut ke tenggorokan Ilham yang membuat Ilham terbatuk-batuk sampai keluar air mata. Dina menyodorkan segelas air tanpa berkata apa apa dan Ilham meneguknya sekali.
"Kau ..... " gumamnya dengan leher tercekik. "Kau mau jadi bintang film?" Tanya Ilham.
Dina membalas tatapan keheranan pemuda itu dengan tenang. "Apa salahnya?"
Ilham tertawa terkekeh-kekeh dan baru berhenti ketika dirasanya napasnya sesak.
"Untuk jadi bintang film, kau harus cantik dan punya bakat, Upik." Balas Ilham kemudian.
"Nenek bilang, aku cantik seperti Dewi Sinta," kata Dina tanpa malu-malu.
"Barangkali di mata nenekmu kau yang paling cantik, Upik. Tetapi di kota Lampung ini, nilaimu cuma empat setengah!" Komentar Ilham tertawa.
"Empat setengah?" Dini tersendat. "Empat....??"
__ADS_1