
Jhon memukul kakinya kesal melihat skor lawan bertambah. Lagi-lagi timnya gagal mencetak angka. Fauzi Rizal benar-benar sudah merencanakan semuanya untuk mengalahkan White Team. Ia benar-benar tak habis pikir, hanya karena dendam masa lalu, ia sampai seperti ini.
Ilham yang lagi-lagi memegang kedua lututnya dan bernafas berat menoleh ke arah dimana durasi ditampilkan. Waktu tinggal tiga menit lagi. Ia dan teman-temannya tak memiliki banyak waktu lagi untuk mengejar skor dan membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak akan menyerah sebelum pertandingan benar-benar berakhir.
"Ilham, elo tidak apa-apa?" tanya Sam tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
Ilham menoleh. Ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Elo yakin?" tanya Sam lagi.
Ia berdiri tegak menatap temannya tersebut. Sambil masih bernafas ngos-ngosan, ia berkata. "Waktu tinggal tiga menit lagi. Gue tak ingin menyerah dan mengecewakan kalian begitu saja!" Balas Ilham Sang Kapten White Team.
Sam tersenyum...!!!
"Sam! Ilham! Defense!" tiba-tiba terdengar suara teriakan Jhon dari kejauhan.
Ilham dan Sam langsung spontan menoleh. Mereka langsung mengambil posisi siap menghadang begitu melihat beberapa lawan mereka tampak menyerbu. Sam menjaga sisi kanan sedangkan Ilham menjaga sisi kiri. Begitu mereka sudah dekat, Ilham langsung merebut bola dari tangan lawan dan langsung mendribelnya menuju ringnya. Dengan berbekal kaki kiri yang masih agak sakit, ia berlari sekencang-kencangnya membawa bola. Para lawan yang berlari di belakangnya tak bisa mengejar karena Sam dan Made segera menghadang jalan mereka. Ilham melempar bolanya ke arah Toni yang ada di dekat ring. Toni langsung segera melempar bola. Masuk! Dua angka untuk White Team. Skor menjadi 56-60, masih dengan keunggulan Sekolah Menengah Atas Dwi Warga.
Sayang sekali, kesempatan mereka berhasil mencetak angka hanya terjadi sekali itu saja, tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga lagi-lagi merebut bola mereka berkali-kali dan membuat skor mereka semakin tertinggal jauh. Waktu tinggal dua menit lagi, sementara White Team justru tertinggal dua belas poin. 56-72 untuk keunggulan tim lawan.
Ilham, Jhon, Made, Sam dan Toni berusaha sekuat mungkin untuk mengejar skor mereka dengan sisa waktu yang tersisa. Mereka jelas yakin kekompakkan dan kerja sama yang baik pasti akan selalu menang dibandingkan keegoisan dan cara curang yang dilakukan tim lawan. Dengan dukungan tambahan yang heboh dari para pendukung White Team, mereka jelas ingin bermain maksimal. Mereka tak ingin mengecewakan semuanya yang telah mendukung mereka.
Waktu tinggal satu menit lagi. Dan skor mereka sekarang adalah 65-72. Masih untuk keunggulan tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga, namun sudah lumayan terkejar. Dengan seluruh kekuatan mereka, Ilham dan teman-temannya terus-menerus berusaha menghalang semua anggota tim lawan agar tidak mencetak angka lagi. Sekarang bola ada di tangan Fauzi Rizal, dengan cepat Ilham segera merebut bola tersebut dan langsung mengopernya menuju Made.
"Shoot!" teriak Jhon nyaring. Dari jarak yang cukup jauh, Made segera melempar bola tersebut dengan sangat kuat.
Masuk! Tiga angka untuk White Team. Papan skor juga berubah menjadi 68-72. Waktu juga telah menunjukkan bahwa waktu mereka bertanding hanya tinggal empat puluh detik lagi. Sekarang bola ada pada tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Salah satu pemain mereka mendribel bola menuju ring mereka untuk mencetak angka terakhir sebelum pertandingan selesai. Namun, untungnya Sam menahannya dan segera langsung melempar bola menuju Ilham yang ada di tengah lapangan.
HUP...!!!
Ilham berhasil menangkapnya dan segera menoleh ke arah ring milik White Team. Di atas ring tersebut telah menunjukkan bahwa waktu tinggal tiga puluh detik lagi. Ia segera mendribel bolanya dengan cepat dan mencetak dua angka lagi untuk White Team. Skor menjadi 70-72! Hanya perlu satu kali lemparan lagi untuk memenangkan pertandingan tersebut.
"Jangan biarkan mereka mencetak angka lagi!" teriak Fauzi Rizal kesal sambil melempar bola basket dari pinggir lapangan. Teman-temannya pun lagsung menurutinya dan segera mengambil posisi untuk menjaga aman bola mereka. Sementara White Team jelas juga sudah siap untuk merebut bola mereka.
Pertandingan basket itu terasa semakin menegangkan bagi semua yang ada di sana. Waktu tinggal dua puluh detik lagi, Ilham dan teman-temannya segera cepat-cepat mengejar lawan mereka dan berusaha merebut bola. Tapi, mereka terus-terusan mengoper dan membawa bola basket menjauh dari Ilham dan teman-temannya. Hingga akhirnya waktu tinggal sepuluh detik lagi!
__ADS_1
"Defense!" teriak Made lagi dengan kencang.
"Cepat rebut bolanya!" Jhon juga ikut berteriak.
"Hup!" Dengan cepat Ilham langsung merebut bola dari mereka dan langsung berkelit agar mereka tidak bisa menggagalkan aksinya. Dengan kakinya yang sudah lelah luar biasa ia langsung berlari menuju tengah lapangan.
"Cepat three point, Ham!" teriak Sam panik melihat waktu. Lima detik lagi!
Ilham berhenti di tengah lapangan dan menatap sekelilingnya. Ada teman-temannya yang berharap-harap cemas mengamatinya. Juga ada Rosa kekasihnya dan yang paling penting adalah Ayahnya. Bahkan semangatnya masih tak setuju dengannya agar diam saja di sana.
"Cepat shoot, Ham!!" teriak Made semakin panik.
Tiga detik lagi...!!!
"Shoot!!" teriak Jhon, Made, Toni dan Sam hampir bersamaan.
Akhirnya, dengan kekuatan penuh, Ilham langsung melempar bola tersebut menuju ring mereka yang nan jauh di sana.
PRIIT...!!!
Dan ternyata...!
Bola masuk dengan mulus! Para anggota basket langsung menoleh ke arah wasit. Namun, wasit tampak menggelengkan kepalanya dan menyilangkan tangannya. Lemparan tersebut ternyata tidak terhitung masuk karena pertandingan sudah keburu dianggap selesai.
Ternyata, kalau bola basket terlepas dari tangan pemain bersamaan dengan selesainya pertandingan, maka tidak akan terhitung. Dan dengan itu, tim Sekolah Menengah Atas Dwi Warga dinyatakan menjadi pemenangnya!
Fauzi Rizal dan teman-temannya tampak bersorak puas karena dinyatakan menang. Mereka tampak tersenyum sinis kepada Ilham dan teman-temannya. Terutama Fauzi Rizal, ia benar-benar merasa dendamnya sudah terbalaskan. Dan baginya, pertandingan itu merupakan pembuktian bahwa tim basket mantan sekolahnya itu memang sama sekali merupakan tim yang tidak hebat.
Tapi, Fauzi Rizal tentu sangat-sangat salah besar...! Walaupun White Team kalah, para penonton justru memberikan standing applause kepada mereka. Mereka bersorak semangat kepada Ilham dan teman-temannya atas perjuangan panjang yang telah mereka tempuh selama pertandingan. Terlebih Ilham yang sudah benar-benar kehabisan tenaga. Begitu pertandingan selesai tadi, ia sudah tak mampu berdiri. Ia duduk di tengah lapangan dan sibuk mengatur nafasnya.
"White Team...! White Team...! White Team...!"
Terdengar suara penonton bersemangat menyebut-nyebut tim mereka. Fauzi Rizal yang melihat itu jelas tak terima. Sebaliknya Jhon, Made dan Toni tampak tersenyum puas melihat reaksi penonton.
"Apa-apaan ini? Mereka tidak menang! Untuk apa pada bersorak untuk mereka?" kata Fauzi Rizal sangat kesal.
__ADS_1
"Apa elo tidak sadar, Zi? Elo telah menang dengan cara curang! Elo mencelakai kaki Ilham! Elo tak akan mendapatkan penghargaan dari penonton dengan cara menjadi pemenang palsu!" kata Jhon sambil tersenyum puas.
"Kebaikan di mana pun keberadaannya pasti selalu menang dengan kejahatan!" tambah Made mencibir.
Fauzi Rizal melotot ke arah Jhon. Ia mendengus kesal melihat mereka. Kemudian, ia langsung pergi begitu saja dari lapangan.
Entah kemana...!!!
***
Sekolah Menengah Atas Dwi Warga sudah sepi karena semuanya sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Hanya tertinggal Pak Ridwan, Rosa, Rina, Vina beserta teman-teman lainnya dan White Team yang masih ada di depan gerbang sekolah.
Sementara Ayahnya Ilham katanya akan menunggu di mobil. Sebenarnya, Ilham sengaja mengumpulkan teman-temannya di sana sebelum pulang. Setelah berpikir matang-matang sendirian dan berkonsultasi kepada pelatih basketnya sendiri, ia memutuskan untuk mengumumkan langsung keputusan rahasianya tersebut hari ini kepada teman-temannya.
"Anak-anak, dengarkanlah Ilham. Dia perlu mengatakan sesuatu kepada kalian. Dan Bapak harap, kalian jangan ada yang memotong dulu sebelum ia selesai berbicara. Oke?" kata Pak Ridwan. Semuanya mengangguk setuju, kemudian seluruh mata menatap ke Ilham.
"Teman-teman." kata Ilham mulai bersuara. "Jujur, gue bangga kepada kalian, gue benar-benar senang melihat kalian bisa bekerja sama dengan kompak. Walaupun kita kalah, kalian telah banyak mengajarkan gue banyak hal hari ini. Setia Kawan hal itu yang membuat gue tersentuh." Ucap Ilham.
Jhon, Made, Nugroho, Sam, Toni dan Wisnu tersenyum mendengarnya.
"Gue juga bangga kalian bisa menjaga satu sama lain selama kuarter ketiga, saat gue cedera itu. Kalian bahkan begitu menjaga gue." kata Ilham. "Tapi, mungkin kalian perlu tahu, bahwa selama ini sebenarnya gue bermain basket masih atas larangan Ayah." Lanjut Ilham menjelaskan. "Gue tak pernah diizinkan bermain basket oleh Ayah. Gue tidak tahu alasannya apa. Tapi, walaupun sudah dilarang berkali-kali, gue terus melawannya dan terus bermain basket tanpa peduli Ayah kecewa pada gue, karena gue butuh basket dalam hidup gue." kata Ilham lagi. "Gue tidak akan pernah menemukan teman-teman yang baik seperti kalian di bidang apapun selain basket. Makanya, Ayah juga tak suka kalau gue berteman dengan anak-anak basket." Lanjutnya lagi. "Tapi, karena gue sudah mengetahui bahwa kalian sebenarnya sudah cukup kuat, gue memutuskan untuk menuruti kemauan Ayah." kata Ilham sambil tersenyum. "Gue sudah berdiskusi dengan Pak Ridwan beberapa waktu yang lalu. Dan gue sudah yakin. Gue sudah memutuskan setelah pertandingan dengan Fauzi Rizal selesai, gue... akan keluar dari White Team." Jelas Ikham dengan suara berat.
Keenam teman Ilham yang masih berada di lokasi itu langsung terlonjak kaget mendengar kalimat terakhir Ilham, hanya pak Ridwan yang hanya terdiam. Mata mereka membesar saking tak percayanya mereka atas kabar itu. Made dan Toni saling berpandangan cemas. Jhon dan Nugroho menggigit bawah bibirnya. Sedangkan Sam dan Wisnu membiarkan badannya mematung. Bahkan Rosa juga tak mengetahui rencana kekasihnya tersebut.
"Oke, bagaimana Nugroho, Toni, Jhon, Made, Sam dan Wisnu?" tanya Pak Ridwan. "Kalian tidak keberatan, bukan?" Tanyanya kemudian.
"Sebenarnya, kita juga sudah tahu masalah elo dengan Ayah elo, Ham." kata Nugroho tiba-tiba memecah keheningan, membuat Ilham agak kaget. Suaranya tampak sedih.
"Kalau elo benar-benar keluar dari tim inti, bagaimana dengan janji kita?" tanya Made. "Bukankah kita sudah berjanji apapun yang terjadi kita akan selalu menjadi satu tim?" Ucap Made kembali melemparkan pertanyaan pada Ilham.
"Kenapa elo tak pernah berkata kepada kami soal hal ini?" tanya Jhon.
Ilham menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah. "Maafkan gue, teman-teman. Gue hanya tak ingin membuat kalian khawatir. Tapi, sekarang gue tak ingin menyakiti Ayah lebih jauh lagi. Lagi pula, Jhon, elo sangat mahir dalam strategi dan mengatur yang lain dalam pertandingan. Elo bisa menjadi kapten, menggantikan gue. Karena mungkin setelah ini gue harus menjauh dari kalian." Ucap Ilham.
Semuanya kembali terdiam. Tak tahu lagi harus berkata apa untuk kabar mendadak itu. Suasana hening menguasai mereka hingga tiba-tiba keheningan tersebut pecah begitu saja karena terdengar suara seseorang.
__ADS_1
"Tidak...!"