ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 74 : HEI, KAPTEN!


__ADS_3

Latihan basket kali ini terasa berbeda dengan hadirnya anak baru itu sebagai salah satu anggota ekskul basket yang bisa dikatakan jago dalam hal kemampuan. Ya, anak berandalan yang bernama Dilan itu ternyata langsung bergabung dalam ekskul basket di hari pertamanya. Hampir semua anggota ekskul basket yang hadir saat itu terkesima dengan kelincahannya, tak terkecuali Ilham dan teman-temannya. Bahkan Pak Ridwan juga mengakui kehebatannya dalam bermain basket.


"Hebat juga kau." kata Pak Ridwan setelah Dilan menyelesaikan semua tes yang diberikan olehnya. Dari dribel bola, lay-up, dan kemampuannya dalam bertanding 1 on 1 melawan Made barusan juga sangat baik. 


Dilan hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Ridwan. Setelah Dilan menyelesaikan tesnya, ia terus dikerumuni banyak anak-anak basket yang mengaguminya. Mereka memuji kehebatan Dilan yang bahkan bisa menembak tiga angka dari jarak yang lumayan jauh. Tapi, Dilan tampak cuek-cuek saja dengan mereka. Bukannya sombong, tapi Dilan masuk ke dalam sekolah bukanlah untuk tebar pesona dengan mereka. Itu hanya buang-buang waktu untuknya.


"Kupikir kemampuan Ilham dan Toni sudah yang paling hebat." kata Nugroho. Made yang ada di sebelahnya langsung menepuk bahu Nugroho lumayan kencang. Yang ditepuk langsung melotot. "Untuk apa kau melakukan itu?"


"Jangan bicara sembarangan!" bisik Made. "Elo tak merasa jahat apa mengatakan itu? Ilham dan Toni berdiri di sebelah elo! Kalau mereka tersinggung elo mau tanggung jawab?" Ucap Made tegas.


Ilham tersenyum. "Tak apa-apa, Made." Sedangkan Toni mendengar ucapan Nugroho hanya terdiam membisu.


"Kurasa dia memiliki kemungkinan untuk terpilih, ikut dalam turnamen besar itu. Dia pasti akan menjadi salah satu pesaing terberat kita semua." kata Toni kemudian.


"Setuju, gue benar-benar tak tahu dari mana dia mendapatkan skill sehebat itu. Dan lagi, anak sehebat dia seharusnya sudah masuk turnamen internasional! Tapi, kenapa dia tak pernah kelihatan sebelumnya?" kata Made.


"Mungkin dia tak ikut dalam kegiatan basket sebelumnya?" tebak Nugroho.


"Ah, tidak mungkin! Dia pasti mengasah terus kemampuannya itu. Kalau tidak, bagaimana bisa dia menjadi seperti itu?" tanya Jhon. "Ah, sudahlah. Dari pada membicarakan dia, lebih baik kita latihan. Bukankah hari ini pemilihan wakil sekolah untuk turnamen tahun depan?" Lanjut Jhon mengingatkan.


Made mengangguk. "Kau benar... Jhon!"


***


Pertandingan pertama untuk menentukan siapa yang akan terpilih menjadi wakil sekolah dalam turnamen se-Lampung adalah White Team melawan tim Elang Supernya Wisnu. Namun, formasi kali ini White Team dibuat berbeda menjadi White Team minus Nugroho dan Sam karena Pak Ridwan ingin melihat lebih dalam lagi kemampuan Dilan. Dengan persetujuan Nugroho dan Sam, akhirnya posisi mereka digantikan Dilan untuk sementara. Hanya khusus pertandingan ini saja.


Sepuluh menit pertama pertandingan berlangsung seru. Semua anggota yang bertanding mengeluarkan seluruh tenaga mereka demi bisa mengikuti turnamen tersebut. Bahkan kesepakatan mereka untuk berhenti setelah salah satu tim mencapai tiga puluh angka sudah hampir terwujud. Dengan adanya Dilan di tim mereka, papan skor mereka lebih cepat naik. Kuarter pertama selesai dengan skor sementara 22-10 untuk keunggulan White Team.


"Hei, kapten!" seru Dilan ketika sedang beristirahat. "Kerja bagus tadi!"


Ilham yang sedang meneguk air mineralnya langsung menoleh dan tersenyum. Ia mengacungkan jempolnya kepada Dikan. Kemudian menjawab ketika ia sudah selesai minum. "Elo yang pantas dipuji, Dil."


Dilan tersenyum misterius. "Oh ya, gie memang pantas dipuji. Karena gue tetap bermain bersama tim. Tak seperti elo yang terlalu berambisi sendirian di lapangan." Balas Dilan.

__ADS_1


"Eh?" kata Ilham kaget, tak mengerti maksudnya.


"Hei, Ilham!" Tiba-tiba Pak Ridwan memanggil Ilham untuk menghampirinya.


Tanpa menghiraukan kata-kata Dilan tadi, ia langsung menyingkir dari tempatnya dan segera menghampiri Pak Ridwan. Setelah Ilham sudah lumayan jauh, Jhon langsung angkat bicara, "Hei, anak baru. Maksud elo apa mengatakan hal itu kepada Ilham? Kau merasa hebat?" Ucap Jhon kesal.


"Tentu tidak...!" kata Dilan datar.


"Lalu, kenapa kau mengatakan seolah-olah Ilham tidak baik? Dia sudah berusaha bermain sebaik mungkin!” kata Made ikut-ikut sebal.


"Kalau gue merasa hebat, gue tidak akan memberikan bola gue kepada kalian, bukan? Tapi, lihatlah Ilham. Di lapangan tadi dia selalu bermain sendiri. Begitu mendapatkan bola dia langsung membawa menuju ring sendiri tanpa melihat kita yang bisa membantunya." kata Dilan.


"Itu karena dia memang sudah ada di dekat ring kita. Memangnya salah langsung menembak? Elo ini benar-benar aneh." kata Toni. "Atau kau justru berencana untuk menyingkirkan dia sebagai kapten kita?" Lanjut Toni Adam kesal.


"Itu bukan urusan kalian. Yang jelas, gue tahu kalau Ilham pasti melakukan itu untuk terpilih. Dan dia tak akan perduli kalian masuk atau tidak. Dia itu bermain maksimal hanya untuk menunjukkan bahwa dia lebih hebat dari kalian semua." kata Dilan.


"Tahu apa kau soal Ilham? Kau anak baru, tak usah sok kenal dengan kapten kita! Baik atau buruk dia bermain, dia sudah pasti masuk tim inti, paham itu" kata Nugroho yang ikut mendengar. "Dia tak seperti yang elo pikirkan. Dia selalu bermain sebagai olahraga tim. Dia juga sangat perduli kepada kita." Lanjut Nugroho.


"Hah! Ternyata kalian mau saja ditipu anak seperti Ilham itu. Di depan kalian, dia memang baik. Tapi kalian tidak tahu bukan apa yang dilakukannya di belakang kalian? Mungkin saja dia benci bekerja sama dengan kalian. Buktinya dia hanya sekali-kali memberikan kalian bola bukan tadi? Pada gue saja tidak sekalipun." Lanjut Dilan.


"Terserah saja apa kata kalian. Coba saja kalian minta bantuannya di luar jam latihan. Apa dia mau membantu kalian? Kurasa tidak akan! Saat di sekolah mungkin dia akan bersikap manis, tapi di luar itu? Jangan harap." kata Dilan sambil tersenyum sinis. Kemudian, dia langsung pergi menuju lapangan karena peluit telah berbunyi keras, menandakan pertandingan akan segera dimulai lagi.


"Sudahlah, jangan dengarkan dia. Semangat!" kata Toni Adam menyemangati.


"Ya, terima kasih, Ton." kata Jhon sambil tersenyum. Kemudian, ia juga langsung kembali ke lapangan, diikuti oleh Made dan Nugroho karena Ilham juga tidak kembali lagi ke tempat istirahat.


Kuarter selanjutnya adalah kuarter terakhir untuk menentukan lima orang pertama yang akan terpilih untuk ikut turnamen. Dan semuanya kembali mengeluarkan tenaga mereka secara maksimal. 


"Ilham!" seru Jhon meminta bola ketika Ilham dihadang oleh lawan.


ilham melirik ke arah Jhon sejenak yang ada di kirinya. Kemudian ia melirik ke arah kanan. Setelah itu, ia bukannya melakukan operan kepada anggota timnya, ia justru berkelit, mengecoh lawan sehingga ia bisa bebas dan segera melakukan tembakan tiga angka. 


Masuk! Peluit segera berbunyi karena dengan masuknya tembakan tersebut, White Team memenangkan pertandingan. Semuanya langsung melakukan high five satu sama lain untuk pertandingan yang sangat bagus. Tapi tidak dengan Jhon, Made dan Toni. Mereka justru menatap Ilham yang dikerumuni banyak orang dari pinggir lapangan. 

__ADS_1


"Jhon." sahut Made membuyarkan lamunannya.


Jhon menoleh ke arah Made dan Toni Adam dalam diam, kemudian menatap Ilham lagi. "Dia memang tidak mengoper pada gue tadi, tapi gue yakin bukan karena ambisi pribadi alasannya."


"Ya, kita tahu, Jhon." kata Toni.


"Kita tidak boleh percaya kepada Dilan begitu saja." kata Made.


"Lebih baik kita berkumpul besok untuk membicarakan hal ini." Usul Jhon.


Jhon mengangguk. Kemudian, ia langsung mengajak keduanya untuk kembali ke pinggir lapangan karena anak-anak yang lain juga akan bertanding setelah ini. Tak lupa mereka juga mengajak Ilham juga untuk beristirahat. Dia juga pasti sangat lelah setelah pertandingan barusan. 


Selama hampir satu jam mereka menyaksikan pertandingan anak-anak yang lain. Dan White Team merupakan lima orang yang terdengar paling heboh di pinggir lapangan. Mereka benar-benar niat menyemangati pada anggota ekskul basket yang lain agar tetap melakukan yang terbaik. Anak-anak yang duduk di dekat mereka sampai menatap mereka sambil nyengir. Hingga akhirnya Pak Ridwan akan mengumumkan siapa-siapa saja yang akan mewakili sekolah.


"Baiklah! Setelah pertandingan-pertandingan yang sangat seru tadi, Bapak telah mendapatkan tiga puluh nama untuk ikut dalam turnamen se-Lampung. Dan nama-nama itu adalah....?!"


***


Sementara itu, Jhon, Made dan Toni sedang berkumpul. Nugroho tidak bisa ikut karena ada kegiatan lain. Dan itu membuat suasana kamar asrama Jhon dan Toni kali ini benar-benar sepi. Jhon yang duduk di kursi meja belajarnya hanya menopang dagunya dengan kedua lengan tangannya di atas kepala kursi. Toni juga menutup mulutnya di atas tempat tidur sambil bersandar di jendela kamarnya. Dan Made juga hanya tiduran di tempat tidur yang sama.


"Guys...!" kata Jhon sambil bangkit dari tidurnya, membuat Made dan Toni menoleh ke arahnya. "Kalian berdua pasti memikirkan kata-kata Dilan tadi. Gue benar, kan?" Tanya Jhon.


Made hanya menghela napasnya. "Terus terang, gue bukan ingin mencurigai Ilham, tapi di latihan ekskul basket hari ini dia memang terlihat berbeda dari biasanya. Dia lebih terlihat ambisius dan tak banyak bicara dengan kita. Ditambah dengan sikap buru-burunya tadi." Ucap Made.


"Elo percaya dengan apa yang dikatakan Dilan?" tanya Jhon lagi kepadanya.


"Tentu saja tidak, Jhon. Kita lebih mengenalnya dari pada anak baru itu. Tapi, kita juga tidak bisa mengelak ucapannya soal sikap Ilham yang katanya tidak sepolos dan sealim yang kita kira." Ucap Made.


"Tapi, dia sudah berteman dengan kita sejak dia masuk sekolah. Kita juga sudah mengetahui bagaimana dia di rumah dan kenal dengan keluarganya. Gue rasa itu sudah menjadi bukti bahwa Ilham tidak seperti apa yang Dilan pikirkan." kata Toni Adam. "Atau elo sudah mulai tidak percaya kepadanya, Jhon?" Lanjut Toni lagi.


"Tidak, bukan seperti itu, Ton." kata Made sambil menggeleng cepat. "Ah, entahlah. Gue nggak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Yang pasti dia terasa sedikit berbeda hari ini." Ucap Made lagi.


"Sudahlah, lebih baik kita bicarakan dengan orangnya langsung besok." kata Jhon. "Yang terpenting adalah bagaimana caranya kalian untuk mempertahankan persahabatan ini. Kalian kan tahu kalau kita semua sudah berjanji bahwa kita akan selalu bersama apapun yang terjadi, kan? Ilham tidak akan lupa dengan janji itu." Ucap Jhon lagi.

__ADS_1


Made dan Toni Adam mengangguk...!!!


__ADS_2