ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 56 : RENCANA ILHAM


__ADS_3

Kasih sayang yang diberikan oleh orang yang kita cintai memang tidak ada hargannya. Sesuatu yang paling special yang kita miliki. Kasih sayang yang diberikan secara berlebihan. Banyak sekali kaum adam dan kaum hawa yang ingin dicintai dan disayang dengan sepenuh hati. Tetapi yang memberikan kasih sayang tiada tara adalah kedua orang tua. Mereka dengan tulus menyayangi kita tanpa imbalan apapun. Tetapi jika kasih sayang yang diberikan mereka tiba-tiba sirna hanya karena suatu pekerjaan itu rasanya memang sangat menyakitkan.


Seperti yang terjadi pada Rosa. Cewe' manis nan cantik yang mempunyai rambut panjang yang lurus dan mempunyai tubuh yang ideal bak seorang artis. Cewe' ini memang kelihatan sempurna, akan tetapi dalam kesempurnaan itu cewe' ini memiki sejuta banyak keinginan. Salah satunya adalah ingin orang tuannya berada disampingnya sekarang, besok dan selamannya. Hanya itu keinginan gadis itu. Tetapi sepertinya bintang tidak pernah menyampaikan keinginannya kepada kedua orang tuanya. Buktinya orang tuanya tidak pernah tahu bahwa Rosa sangat merindukan mereka dan tidak betah dengan kehidupan di asrama walau pun mungkin buat sebagian orang berpendapat berbeda.


Entah bintang yang tidak pernah menyampaikan atau mereka lah yang tidak pernah perduli terhadap Rosa. Entah apa yang selama ini mereka pikirkan sehingga melupakan Rosa. Ingin rasanya cewe' ini menjerit keras supaya orang tuanya mendengarnya.


Tetapi cewe' ini bisa bertahan sejauh ini dan tidak merasa kesepiaan, karena ada sahabat-sahabatnya dan juga kekasihnya yang selalu ada disampingnya dan selalu menghiburnya. Cewe' ini sangat bersyukur, mungkin mereka ditakdirkan untuk menggantikan posisi orang tua Rosa untuk waktu yang sementara, seperti sekarang. Dirinya dan sahabat-sahabatnya serta kekasihnya sedang berkumpul di kantin untuk mengisi perut mereka diselingi dengan canda tawa yang mereka buat. Sungguh bahagia merasakannya...!!!


"Loe lihat nggak ekspresi Pak Djali pas selesai ceramahnya dan natap anak-anak yang tidur semua. Bhwahahaha jelek banget tahu nggak, bisa sampe bengong begitu. gila banget. Itu ekspresi palingi langka guys." Ucap Made memulai kekonyolannya bersama teman-temannya. Mendengar lelucon yang Made buat, teman-temannya pun ikut tertawa terbahak-bahak.


"Setuju gue sama loe De, ekspresinya bisa gitu banget yah. Bhwahahaha." Lanjut Jhon ngakak.


"Setuju gue sama loe berdua, yah lagian ceramah kok panjang banget gitu, bikin bosen aja." Ucap Ali Mat Hasan yang sependapat dengan kedua sahabatnya.


"Lagi pada ngomongin apaan sih!?" Tanya Nelly yang kebingungan dengan arah pembicaraan para pria di hadapannya.


"Gini loh Beb, tadi kan ada pelajaran pak Djali. Nah, pas dia lagi ceramah anak-anak tuh pada janjian gitu buat tidur massal. Nah pas ceramahnya selesai Pak Djalu malah bengong gitu nglihatin anak-anak pada tidur. Ekspresinya lucu banget Beb. Hahahaha...!" Jelas Jhon masih dengan tertawa lebarnya.


"Ckckckck, kapan berubahnya sih. Itu tuh guru." Omel Nelly.


"Bukannya ketawa malah di omelin. Dasar cewe', ketawa aja jaga image." Gumam Jhon kesal tapi masih di dengar Nelly.


"Heh, tadi elo bilang apa?" Marah Nelly pada Jhon.


"Eh nggak nfgak, nggak bilang apa-apa kok. Emang gue bilang apaan?" Sangkal Jhon.


"Lagian kaya gitu malah di ketawain. Bukan hal yang lucu tahu. Kan kasihan Pak Djali'nya. Merasa nggak di hargain sama kalian semua. Pasti nie ide kalian yah buat bikin tidur satu kelas." Celetuk Ranti ikut-ikutan mengomel.

__ADS_1


"Tepat banget. Hebat kan bisa bikin satu kelas tidur. Iya dong. Made gitu loh." Ujar Made PeDe.


"Apa...? Hebat. Hebat dari Hongkong. Itu nggak baik tau lo. Elo tuh udah durhaka sama guru. Pak Djali itu juga orang tua elo di sekolah." Omel Ririn lagi.


"Iya bener. Ali Mat Hasan lagi ikut-ikutan. Kenapa sih. Gue kan udah bilang jangan kaya gitu." Tambah Ranti menyetujui ucapan Ririn.


"Kan elo nyuruh gue buat nggak bolos pelajaran. Gue kan udah turutin dan udah dengerin omongan elo. Masa masih marah-marah aja." Sungut Ali Mat Hasan tidak terima pada sahabatnya itu.


"Bukan gitu caranya. Itu sama aja kaya elo bolos pelajaran. Nggak ada yang elo dapet kan dari pelajaran Pak Djali. Dengerin baik-baik ya Li, pahami, catet di kepala elo. Itu kan lebih baik!" Omel Ranti.


"Iyah iyah...!" Jawab Ali Mat Hasan pasrah. "Loe kenapa Ham, dari tadi diem mulu. Mana tuh minuman cuma di aduk-aduk aja lagi." Ucap Ali Mat Hasan kepada Ilham yang menyadari bahwa dari tadi Ilham hanya diam saja.


"Gue tadi habis ketemu sama Pak Ridwan guys." Jawab Ilham singkat.


"Terus terus terus. Mereka ngijinin kita buat tampil di pertandingan antar kota?" Tanya Made antusias mendengarkan penjelasan sahabatnya.


"Alasanya?" Tanya Ali Mat Hasan, Made, Jhon bersamaan.


"Simple. Cuma karena sebagian besar dari anak basket itu pengurus dan anggota OSIS." Balas Ilham.


"Just it? Mereka pikir kita nggak bisa bagi waktu apa? Gue bisa kok ngatur jadwal. Antara jadwal latihan basket sama kumpul OSIS." Ujar Jhon kesal.


"Gue juga udah ngomong kaya gitu guys. Tapi kata pak Ridwan kalau kita bikin jadwal malah tenaga kita bakal terkuras habis. Dan endingnya kita nggak bisa ngikutin pertandingan basket dengan baik dan nggak bisa ngelaksanain pengurus OSIS yang baru dengan baik." Terang Ilham.


"Tapi kita mesti ikut pertandingan itu Ham, loe tahu kan impian kita lebih tepatnya team basket kita. Kita pengin maju ke tingkat provinsi dan syaratnya harus menang dulu di pertandingan kota." Jelas Ali Mat Hasan masih dengan nada marah karena kesal.


"Loe pikir cuma loe doang apa yang kesel sama berita ini. Gue nie yang paling kesel diantara kalian. Dari dulu gue yang pengin team kita bisa maju ke tingkat provinsi. Tapi nyatanya gue juga yang gagalin rencana gue sendiri. Gue nggak bisa ngeyakinin pak Ridwan." Ucap Ilham kemudian. "Tapi tenang aja bro, gue pasti bantuin loe kok, gue bakal bikin pak Ridwan percaya sama kita. Sebagai pengurus OSIS yang baik gue bakal bikin sekolah kita sukses." Ucap Ilham bangkit dengan PeDe'nya.

__ADS_1


"Ada gitu ketua OSIS yang kerjaannya bolos, terlambat dateng ke sekolah dan suka dapet surat peringatan dari guru." Sindir Rosa lagi.


"Sekarang provesinya ganti yah. Jadi suka nyindir orang kayaknya." Cibir Ilham yang tidak terima kekasihnya tadi hanya menyindirnya.


"Itu kan emang fakta. Fakta kalau kamu emang begitu." Bales Rosa nggak kalah nyolot.


"Ihhh, sekarang gitu ya... Cha!" Ucapan Ilham di potong cepat oleh Ranti.


"Heh, udah... udah. Ngapain berantem aja sih dari tadi. Nggak malu apa di perhatiin sama anak-anak dari tadi. Ilham nggak mau ngalah lagi...!" Lanjut Ranti.


"Sekongkol yah loe Ti, malah belain Rosa lagi." Sungut Ilham kesal.


"Heh, siapa yang belain?" Balas Ranti.


"Malah kalian yang ribut, udah ah, gue cabut dulu. Cha, mau ikut nggak?" Ajak Ilham pada kekasihnya itu.


"Mau kemana?" Tanya Rosa sudah kembali bersikap lembut.


"Udah ayo ikut aja!" Ucap Ilham seraya menarik tangan Rosa menjauh "Guys gue duluan...!" Pamit Ilham sebelum dirinya benar-benar menghilang.


"Aneh banget tuh orang. Gue juga lama-lama kepikiran sama basket." Ucap Made.


"Iya bener De, terus kita mesti gimana?" Tanya Jhon.


"Gue punya ide." Pekik Ilham tiba-tiba berbalik tidak jadi pergi, meninggalkan mereka.


"Apa...?" Tanya Ali Mat Hasan dan Made bebarengan.

__ADS_1


"Lihat aja nanti." Jawab Ilham seraya menyeringai lebar.


__ADS_2