ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 62 : MANTAN TEAM INTI


__ADS_3

Ilham mengangguk, kemudian langsung mencari Rosa sementara Made menjaga mejanya. Ia segera menuju ke kelas karena wujud seorang Rosa belum tampak di kantin. Begitu sampai di kelas, Ilham melihat Rosa masih sibuk membereskan barang-barangnya. Ia langsung tersenyum begitu mendapati kekasihnya datang. Dia dan teman-temannya langsung menghampiri Ilham di depan kelas.


"Ada apa, Ham?" tanya Rosa sambil mengacak rambutnya sejenak.


"Made mengundang kalian untuk bergabung," kata Ilham sambil tersenyum. "Sekarang mereka sudah di kantin, menjaga meja untuk semuanya." Lanjut Ilham.


"Ada apa memangnya?" tanya Vina heran.


"Nugroho kalah bertanding kemarin sore, taruhannya mi ayam. Kita diundang makan," kata Rosa. "Kalian tidak ada yang membawa bekal, kan? Ayo kita gabung saja dengan mereka." Lanjut Rosa pada Vina, Ranti, Ririn dan Ika.


"Baiklah." kata Ika. "Kapan lagi bisa dapat makan gratis! Benar tidak?" Lanjutnya.


Teman-temannya mengangguk setuju serempak. Mereka langsung pergi menuju kantin bersama. Begitu mereka sampai, ternyata makanan sudah datang. Nugroho segera memesankan lima porsi mi ayam lagi untuk para cewe'-cewe' itu. Pembagiannya adalah Toni, Nugroho, Ririn, Ika dan Ranti satu meja. Sementara yang lainnya bergabung dengan meja Ilham dan Made di sebelah. Setelah semua makanan datang, baru mereka menyantapnya bersama-sama.


"Terima kasih traktirannya, Nug. Katanya kau kalah bertanding? Melawan siapa?" tanya Ranti di tengah-tengah acara makan.


"Kak Made. Kekalahannya mengharuskan dia mentraktir teman-temannya. Kabarnya kalah tipis!" kata Jhon sambil tertawa.


"Kasihan. Tapi, sering-sering saja." kata Ranti sambil tertawa.


"Enak saja elo, Kak!" kata Nugroho melotot tajam ke arah kakak kelasnya di meja sebelah itu. Tapi, Ranti tertawa saja melihatnya.


"Omong-omong, Ton, apa nanti bisa menemani gue ke toko buku? Mungkin sekitar jam tiga," tanya Ika. "Elo tidak kemana-mana, kan?" Lanjut Ika.


"Gue mempunyai janji dengan orang lain, Kak." kata Toni.


"Siapa?" Tanya Ika.


"Gue tidak tahu namanya. Waktu itu dia menemui gue di depan sekolah. Dia meminta gue menemuinya di lapangan Asrama hari ini, jam tiga sore. Mungkin dia ingin mengajak gue bertanding." kata Toni.


"Lapangan Asrama? Cowo' yang nggak di kenal?" kata Ika. Wajahnya langsung berubah pucat.


Toni mengangguk. "Katanya dia anak basket." Ucap Toni lagi.


Suasana jam makan mereka menjadi hening seketika. Mereka tampak sibuk dengan pikiran masing-masing karena penasaran dengan anak yang ciri-cirinya disebutkan Toni tersebut. Jhon mengerutkan dahinya, merasakan sesuatu yang familiar dengan kalimat Toni, Made dan Ilham yang berbeda meja langsung bertatapan. Sam juga terlihat gelisah. Sementara Nugroho menatap satu-satu teman-temannya, merasa aneh. Tapi, Toni sendiri terlihat yakin dengan pikirannya.


***


Seorang cowo' tampak melirik jam tangannya di lapangan. Jam tiga lewat. Sepertinya dia terlambat. Benar-benar seperti dugaannya.


Dari pertama dia melihat anak basket baru di mantan sekolahnya itu, dia sudah yakin kalau dia hanyalah anak ingusan yang tak memiliki kemampuan hebat seperti dirinya. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak baru itu ternyata anak kelas satu! Benar-benar masih polos. Baru ditantang pribadi saja, dia sudah tak berani datang. Apalagi kalau disuruh memimpin tim basket menggantikan Ilham yang akan melawan banyak lawan dan tekanan berat. Dia yakin tim basket tersebut akan hancur.

__ADS_1


"Sudah gue duga. Dia tak pantas jadi team inti basket." katanya sambil tersenyum miring. Kemudian, ia langsung segera pergi meninggalkan lapangan. Hendak pulang. Namun, beberapa saat kemudian, langkahnya terhenti karena mendengar suara seseorang.


"Elo menunggu gue?" Sapa seorang cowo' ringan.


Cowo' yang semula hendak meninggalkan lapangan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Ia mendapati seseorang yang sudah ditunggunya dari tadi telah berdiri di hadapannya dengan baju santai. Sama sekali tidak tampak seperti orang yang sudah siap diajak bermain basket. Ia tersenyum sinis menatap orang tersebut. "Ternyata elo tidak kabur, Toni Adam." Lanjutnya.


Toni terdiam sejenak karena kaget mendengar namanya disebut. Padahal, mereka belum saling berkenalan. Namun, beberapa saat kemudian, dia kembali tersenyum mendengarnya. "Untuk apa gue kabur?" Tanya Toni.


"Karena elo memang tidak pantas jadi team inti basket Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi, apa lagi di gadang-gadang akan menggantikan Ilham sebagai Kapten Basket White Team!." katanya lagi. Ia berjalan mendekati orang tersebut dan menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Huh, elo bahkan tak memakai baju basket." Lanjut cowo' itu.


"Maaf, tapi gue hanya ingin menunda pertandingan." kata Toni.


"Hanya pecundang yang melakukan hal seperti itu terhadap suatu tantangan." kata cowo' itu. "Tapi, kurasa elo memang salah satu dari mereka. Pecundang." Lanjutnya.


Toni hanya tersenyum mendengar hinaannya. Semua orang juga tahu kalau kata-kata seperti itu hanya keluar dari mulut orang yang memiliki rasa dengki dan iri kepada orang lain. Dan Toni tidak pernah merasa kata-kata seperti itu perlu jawaban. Tanpa banyak bicara, ia langsung berbalik badan untuk segera meninggalkan lapangan.


"Toni Adam...!!!" Seru cowo' itu tiba-tiba dengan nyaring.


Toni hanya diam mendengar ucapan itu. Entah apa maksudnya dia mengucapkan kata-kata itu. Ia menoleh kembali ke arah laki-laki tersebut dan tersenyum sejenak. "Salam kenal." Ucap Toni.


Setelah itu, Toni benar-benar pergi dari lapangan itu untuk segera pulang. Sementara Fauzi Rizal, laki-laki itu, tetap berdiri di tempatnya menatap kepergian juniornya itu. Ia tersenyum sinis melihat punggungnya yang semakin menjauh.


***


Made menghela napasnya. "Elo memikirkan perkataan Toni, Ham?" Tanya Made kemudian.


Ilham menoleh ke arah Made. "Ya. Elo juga mengkhawatirkannya, bukan?" Balas Ilham.


Made mengangguk. Wajahnya menunjukkan raut wajah cemas. "Gue rasa dia benar-benar serius dengan ucapannya waktu itu. Pada hal, kejadian itu sudah berlalu cukup lama." Jelas Made.


"Ah, untuk orang seperti dia, seabad pun tidak cukup untuk menghapus dendamnya, De." kata Ilham. "Tapi, gue tidak habis pikir, dulu dia yang menyebabkan semuanya terjadi. Tapi, kita yang disalahkan!" Lanjut Ilham.


"Lalu, bagaimana dengan Tobi? Dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini." Balas Made.


Ilham diam. Ia menunduk. Benar, teman baru mereka tersebut benar-benar tidak tahu kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu. Ilham jelas tidak mau dia juga sampai terlibat karena dia telah menjadi bagian dari mereka.


"Ham?" panggil Made pelan.


Ilham mengangkat kepalanya kembali. "Gue yakin Toni bisa mengalahkan dia, De. Semoga saja tidak ada masalah lagi setelah ini. Atau semuanya akan berantakan." Ucap Ilham.


"Ya, elo ingat bukan, apa katanya waktu itu?" tanya Made.

__ADS_1


Ilham mengangguk. Pikirannya melayang menuju saat-saat mereka baru saja baru masuk Sekolah Perawat Kesehatan Kotabumi ini. Saat mereka baru saja pulang dari pertandingan di sekolah. Waktu itu, mereka adalah anggota basket yang pulang paling terakhir, sehingga sekolah sepi. Dan dia tiba-tiba muncul di depan sekolah.


***


"Well, well, ternyata kalian berdua juga masih ada di sini." Seseorang tiba-tiba menghampiri Ilham dan Made ketika mereka akan segera pulang ke asarama. Mereka berdua spontan berhenti begitu mendengar suara tersebut. Suara itu jelas tidak asing. Dan mereka tak menyangka dia akan datang lagi. Walau pun teman lama, tapi mereka jelas tidak ingin bertemu dengannya lagi setelah dia pindah sekolah.


"Elo…!" Ilham dan Made hampir bersamaan bergumam menatap cowo' yang tengah menghampiri mereka.


"Kenapa? Kaget?" tanya orang itu sambil tersenyum sinis. "Ilham Alfarizi dan Made. Ternyata, setelah gue pergi dari sekolah ini, kalian justru depresi karena tak memiliki pemain inti basket yang handal seperti gue!" Lanjut cowo' itu.


Ilham diam mendengar perkataannya. Ia berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sementara Made menatap orang itu dengan tajam. Ternyata, orang itu masih tetap menyebalkan seperti dulu.


"Apa mau elo?" kata Made dengan nada yang datar.


"Oh, tidak. Gue hanya ingin melihat pemain inti baru dalam White Team basket seperti apa yang mengisi tim basket kita." katanya lagi. "Gue yakin dia tidak memiliki kemampuan seperti gue." Ucap cowo' itu.


"Oh ya, memang. Pemain inti basket kita yang sekarang justru jauh lebih baik dari pada elo, manusia egois!" kata Made nyaring. Ia benar-benar emosi menghadapi manusia macam cowo' itu.


Cowo' itu tersenyum sinis. "Baik, kita lihat apakah ucapan elo benar nanti. Gue yakin tim basket kalian jelas akan kalah dari tim basket gue! Lihat saja! Hahaha…!" Ucap cowo' itu dengan angkuhnya.


Cowo' itu segera meninggalkan Ilham dan Made sambil tertawa meremehkan. Ilham yang berada di sampingnya langsung menepuk pundak Made pelan. "Sudahlah, De. Dia memang tidak pernah berubah. Ayo kita pulang ke asrama!" Ucap Ilham santai dan tenang.


Made mengangguk, kemudian mereka langsung meninggalkan kelas berjalan melalui koridor-kodidor di sepanjang jalan menuju ke asrama putra.


***


"Gue benar-benar kesal dengan ucapannya waktu itu." kata Made. Emosinya mulai naik lagi karena mengingat kejadian menyebalkan waktu itu.


"Ya, gue juga. Tapi, nggak ada gunanya kita emosi. Dia akan semakin senang melihat kita putus asa, terpancing dan terbawa dengan emosi." kata Ilham.


Made menghela nafasnya, berusaha tenang, kemudian mengangguk mengiyakan ucapan Ilham. "Ya, gue tahu elo benar...!" Ucap Made.


"Tapi, Ham, kita belum lama mengenal Toni dan Nugroho. Jangan-jangan selama ini mereka bermain basket tanpa persetujuan orang tua mereka!" Ucap Ilham.


"Ah, itu bukan urusan kita, Ham. Toni dan Nugroho pasti bisa mengatasinya sendiri," kata Made. "Gue justru lebih khawatir tentang mantan team basket kita itu." Ucap Made.


"Dia pasti mencari data tim basket dari web sekolah kita," kata Ilham. Ia segera menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Kurasa Jhon dan Sam juga harus tahu tentang hal ini. Dia pasti juga sudah tahu siapa yang mengajak Toni ke lapangan itu." Ucap Ilham.


Made diam, ia menghela nafasnya gelisah. "Entahlah, Ham. Gue nggak yakin...!" Kata Made.


Ilham menatap sahabatnya diam. Kemudian, dia langsung meraih tas sekolahnya untuk mengambil buku agenda sekolahnya. Beberapa saat kemudian, dia langsung mengambil beberapa buku dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja. "Lebih baik kita selesaikan tugas sekolah dulu. Ini lebih penting." Ucap Ilham.

__ADS_1


"Ah ya, benar juga. Bisa gawat kalau tidak selesai." Made langsung beranjak dari tempat tidurnya dan segera melakukan hal yang sama dengan Ilham. Dia menaruh buku-bukunya di meja dan mengerjakan tugas di samping Ilham.


__ADS_2