ASRAMA TANPA WADAH

ASRAMA TANPA WADAH
BAB 66 : FOKUS! OKE?


__ADS_3

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Pekan ulangan semester yang sudah dimulai beberapa hari yang lalu membuat semua murid Sekolah Perawat Kesehatan sibuk belajar. Kantin yang biasanya selalu penuh menjadi agak sepi karena lebih banyak murid yang tinggal di kelas untuk menyicil pelajaran yang akan diujikan pada semester ini. Lapangan yang biasanya dipenuhi oleh para anak basket dan murid-murid yang menyoraki mereka juga tampak kosong semenjak pekan ulangan semester di mulai. Sama sekali tidak ada suara kegaduhan yang meramaikan area sekolah.


Namun, berbeda dengan Toni dan teman-temannya. Mereka tidak belajar di kelas masing-masing. Sesuai dengan rencana mereka waktu itu, mereka akan belajar bersama selama pekan ulangan. Dan atas ide tambahan dari Nugroho, mereka memanfaatkan jam istirahat untuk berkumpul di kantin. Jarang-jarang mereka bisa mendapatkan suasana damai seperti sekarang.


“Bagaimana dengan pekan ulangan semester kalian?” tanya Ilham ketika mereka sudah mengambil tempat duduk di kantin.


"Susah, kak!" keluh Nugroho. "gue benar-benar pusing mengerjakan soal Keperawatan dan Farmakologi nya. Mungkin untuk tiga mata pelajaran yang kemarin, gue akan mendapatkan nilai jelek!" Lanjut Nugroho.


"Apa lagi yang kelas dua." kata Made. "Walaupun sudah belajar keras, tapi tetap saja tidak bisa mengerjakan. Kau tak tahu sudah berapa kali gue dan Sam mencari-cari teman untuk contekan." Lanjutnya tertawa.


“Ya, untungnya teman-teman kita sangat baik, bukan begitu, Made?” tanya Ilham sambil tertawa. "Waktu ulangan Ilmu Keperawatan Luka" kemarin, semua sepakat membuat siasat agar pengawas ujian keluar kelas. Dan semua saling membantu."


"Ah, parah sekali kalian, De, Ham. Kalian akan dihukum jika ketahuan pengawas." kata Jhon sambil menggelengkan kepalanya. "Bagaimana denganmu, Toni? Apa pekan ulangan semesteranmu lancar?" Tanya Jhon pada Toni.


"Ah, Toni tak perlu ditanya. Di antara gue ma dia, dialah yang paling pintar. Setiap kali selesai ulangan, wajahnya selalu cerah. Dia pasti bisa mengerjakan semuanya. Benar kan, Ton?" kata Nugroho.


Toni hanya tersenyum mendengarnya. "Gue memiliki beberapa keraguan."


"Kalau begitu, mari kita bahas sekarang." kata Ilham. "Apa jadwal kalian besok?"


"Etika Keperawatan!" kata Nugroho.


"Perkesmas." kata Made dan Sam hampir bersamaan.


"Oke, untungnya gue hanya satu mata pelajaran besok, jadi gue bisa santai mengajari kalian. Sekarang mari kita belajar, kalau ada yang tidak mengerti, kalian bisa tanya padaku. Terutama kalian, Nugroho, Toni." kata Ilham.


Semuanya mengangguk...!!!


Masing-masing dari mereka membuka buku paket dan buku tulis mereka dan memulai belajar dengan seru. Suasana di kantin tiba-tiba berubah seperti suasana kelas tambahan. Ilham yang notabene yang sering juara kelas, plus ketua Osis dan kapten White Team Basket, sibuk mengajari dan membimbing semua sahabat-sahabatnya agar bisa mengerti materi yang sedang mereka pelajari. Sesekali Made dan Jhon juga Sam mengajari Nugroho dan Toni. Semua itu untuk membantu meningkatkan prestasi dan mempertahankan persahabatan mereka.


Dan Ilham merasa rencana mereka itu cukup efektif. Kesibukan Ilham belajar bersama dengan teman-temannya terbukti membuat nilainya meningkat. Beberapa ulangan yang dibagikan duluan di sela-sela pekan ulangannya cukup memuaskan. Paling tidak nilainya lebih tinggi sepuluh skor dari biasanya. Dari yang biasanya hanya tujuh puluhan, sekarang menjadi delapan puluhan. Yang biasanya delapan puluhan menjadi sembilan puluhan.


"Kak Ilham, gue benar-benar tidak percaya. Baru pertama kali gue mendapatkan angka sembilan puluh di atas kertas ulangan gue." kata Nugroho sambil memperlihatkan hasil ulangannya.


Ilham tersenyum, Ia mengacak rambut Nugroho sembarangan dan segera mengambil tasnya untuk meninggalkan kelas. Nugroho yang tak ingin ditinggal langsung buru-buru menyusul. Sambil merapikan rambutnya asal, ia berteriak. "Hei kak, tunggu! Aduh, pakai memberantakkan rambut gue lagi!”


Begitu Nugroho sampai di lapangan, ternyata semuanya sudah memulai latihan. White Team sedang berlari keliling lapangan, tim basket putri pun sibuk latihan bertanding di satu lapangan, sementara yang lain sibuk latihan shooting sendirian di lapangan lainnya. Namun, yang pasti adalah Nugroho sudah terlambat. Pak Ridwan yang memergokinya baru datang langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Dari mana saja kau? Teman-temanmu sudah datang dari tadi. Letakkan tasmu dan segera ikut berlari keliling lapangan dua kali. Hari ini kita akan uji coba pertandingan agar kalian bisa semangat di pertandingan Sekolah Menengah Atas Dwi Warga." kata Pak Ridwan.


"Baik, Pak!" kata Nugroho langsung buru-buru menaruh tasnya di pinggir lapangan dan segera berlari mengejar kelima temannya. Sementara Pak Ridwan kembali memberi semangat dan instruksi kepada anak-anak yang sedang latihan bertanding.


"Hei, Nug! Akhirnya elo datang juga! Dari mana?" kata Made ketika Nugroho sudah berlari di antara mereka.


"Ah, gue tidak dari mana-mana! Gue hanya sedang mengagumi nilai ulangan gue yang begitu tinggi. Tapi, kak Ilham meninggalkanku sendirian." kata Nugroho sambil menggembungkan pipinya.


"Dasar berlebihan. Ingat, kita memiliki pertandingan di Sekolah Menengah Atas Dwi Warga dua minggu lagi. Kau harus fokus pada latihan." kata Jhon sambil berlari.


"Ya, gue tahu, kak Jhon. Tapi, gue benar-benar merasa berterima kasih kepada elo, kak Made dan juga kak Ilham tentunya. Bantuan kalian sangat berguna di pekan ulangan. Kalau bukan karena kalian, gue tidak akan bisa mendapatkan nilai yang begitu memuaskan."


Jhon tertawa. "Bukankah itu gunanya teman?"


"Ya, tentu saja. Gue beruntung bisa memiliki teman-teman yang dapat diandalkan seperti kalian semua. Kalau begini, di asrama gue sudah tak perlu belajar mati-matian lagi." kata Nugroho.


"Enak saja! Elo tetap harus belajar sendiri di rumah. Paling tidak ulanglah apa yang telah kami ajarkan kepada elo agar elo lebih mengerti. Gue jamin itu akan membantu." kata Jhon. "Elo akan kesulitan di kelas dua kalau elo tak terbiasa belajar keras."


"Uh, elo cerewet sekali, kak Jhon!" Canda Nugroho.


Ilham, Made dan Sam tertawa hampir berbarengan mendengar ucapan Jhon. Made menyahut setelahnya, "Elo harus mengakui itu benar, Nug."


"Ya, ya. Terserah elo!" Ucap Nugroho.


"Hei, jangan berbicara sendiri! Cepat lari atau kalian akan kekurangan waktu untuk latihan basket! Kalian ingin menjadi yang terbaik tidak?!" teriak Pak Ridwan tiba-tiba membuat mereka kaget.


"Ma.. Maaf, Pak!" sahut mereka berenam segera mengunci mulut dan mempercepat lari mereka. Benar-benar sial. Bisa-bisanya Pak Ridwan sempat memperhatikan mereka selagi ia melatih anak-anak yang lain.


***


PRIIIIT....!!!


White Team segera kembali ke pinggir lapangan setelah peluit milik Pak Ridwan berbunyi keras. Mereka menghela nafas lega dan segera berkumpul di hadapan pelatihnya. Bunyi peluit tersebut menandakan bahwa latihan hari ini sudah selesai dan saatnya mengevaluasi apa yang sudah mereka tunjukkan.


"Baik, semuanya sudah berkumpul." kata Pak Ridwan. Ia memasukkan menaruh kedua tangannya di pinggang dan melanjutkan ucapannya. 


"Dari apa yang telah kita lakukan selama ini, Bapak sangat senang melihat kerja sama kalian yang sangat kompak. Dan dengan kemampuan kalian masing-masing, Bapak yakin kalian sudah cukup siap untuk pertandingan di Sekolah Menengah Atas Dwi Warga. Saran Bapak untuk kalian cuma satu. Di pertandingan nanti, kalian harus bekerja sama seperti tadi. Jangan pernah bermain sendiri karena basket bukan olahraga individual. Dan kalian harus saling percaya satu sama lain. Ingat, pertandingan tinggal dua minggu lagi. Kalaupun kalian memiliki masalah pribadi, jangan pernah sekali-kali masalah itu terbawa saat bermain basket. Fokus! Oke?"

__ADS_1


"Baik, Pak!" kata White Team serentak.


"Oke, sekarang kalian boleh pulang. Simpanlah stamina kalian sampai pertandingan. Tetap jaga jatah prioritas sekolah, basket dan istirahat. Jangan sampai kalian kurang tidur karena belajar sampai larut malam." kata Pak Ridwan yang langsung diangguki keenamnya. 


"Oke, kalau begitu, Bapak pulang duluan." Lanjut pak Ridwan lagi.


White Team segera berkemas dan bersiap-siap pulang. Jam sudah hampir menunjukkan angka lima. Hanya tertinggal mereka berenam dan tim basket putri saja di lapangan basket.


"Guys." tiba-tiba Nugroho bersuara. "Hari Senin gue ulangan semesteran Manajemen Keperawatan Dasar. Ada yang bisa mengajari gue tidak? Sabtu dan Minggu besok mungkin gue tidak memiliki banyak waktu untuk belajar, jadi kalau kalian bisa, ajari gue sekarang. Sekalian kita belajar bersama."


"Kau tidak lelah, Nug?" tanya Made.


"Terpaksa, kak." kata Nugroho. "Besok dan Minggu gue harus pergi seharian. Mungkin hanya cukup waktu untuk mengulang. Gue hanya sempat belajar hari ini. Tapi, kalau kalian tidak bisa, gue akan belajar sendiri."


"Hei, kalian, ada apa?" Tiba-tiba Rosa datang menghampiri mereka. Ia berdiri di samping Ikham kekasihnya yang sedang meneguk minumannya.


"Oh, yang lain sudah pulang, Cha?" tanya Jhon.


"Ya, baru saja. Jadi katakan pada gue, ada apa?" Ucap Rosa ingin tahu.


"Tidak ada. Nugroho mengajak belajar bersama sekarang, ia minta di ajari Manajemen Keperawatan Dasar untuk ulangan hari Senin. Dua hari besok sibuk katanya." kata Ilham. "Tapi, gue hanya takut mereka terlalu lelah karena latihan kita hari ini sangat menguras tenaga."


"Kalau begitu datanglah ke Ruang Makan Asrama Putri C. Tidak apa-apa jika hanya belajar ringan. Lagi pula, gue bisa menjelaskan lebih detail dari pada Ilham kok pasti kalian dapat semangat belajar." kata Rosa sambil tersenyum pada Ilham.


"Ide yang bagus!" kata Nugroho sambil tersenyum. Ia menoleh ke arah teman-temannya. "Bagaimana? Elo mau ikut Ton? Gue tidak memaksa jika elo ingin istirahat."


"Tentu saja ikut. Kita sudah berjanji akan belajar bersama selama pekan ulangan semesteran. Dan membiarkan elo kesusahan belajar sama saja dengan ingkar janji." kata Toni.


"Ya, gue setuju dengan Rosa, untuk hari ini kalian berdua belajar dulu dengan Rosa ya!." kata Ilham.


"Baiklah, kalau kalian merasa masih kuat, gue tunggu di Ruang Makan Asrama Putri C ya! Hari ini tanyakan semua yang kalian tidak mengerti. Materi yang sudah dikuasai bisa dipelajari besok di ulang kembali di asrama?" tawar Rosa.


"Okey, Terima Kasih ya Cha!" Ucap Ilham pada kekasihnya itu.


"Nggak masalah Ham, elo jangan lupa istirahat ya!" Balas Rosa kemudian.


Semuanya segera berkemas dan cepat-cepat meninggalkan lapangan basket karena hari sudah mulai menjelang sore.

__ADS_1


__ADS_2