
Yang berawal dari katanya anak "emak", yang semua sudah terbiasa kalau terjadi apa-apa dan bagaimana pun serba "emak" dan saat sekarang dengan kehidupan asrama wajib berubah secara total tentu membuat kaget dan tidak menyangka kalau ini lah kehidupan dalam mencapai kemandirian yang di paksa harus terlaksana, sebuah kedewasaan yang di karbit dengan bingkai emas yang membuat sulit untuk mengharapkan sebuah perubahan dalam menjalaninya.
Semua sudah dibuat "kaget", gimana nggak namanya juga siswa baru belum tau tata tertib asrama, belum tahu tradisi dan kebiasaan asrama yang ternyata begitu menggoda, bertemu dengan kakak senior kadang bagai menelan pil pahit, di tegur salah nggak di tegur lebih salah lagi, terasa apa pun yang kita kerjakan seakan-akan seperti ada yang memperhatikan, terkadang dengan tatapan sinis bahkan sampai melotot tuh mata deh seperti orang yang punya salah dan ingin di telan mentah-mentah.
Lebih parah lagi junior dan senior berada di batas terendah dan tertinggi dalam kebiasaan sehari-harinya, kalau lewat jalan saat berpapasan dengan senior diwajibkan menunduk sambil bilang "Permisi Kak", " Numpang Lewat Kak", atau "Izin Kak". Coba deh hal ini kita bayangkan bersama... Iya kalau kebetulan bertemu kakak senior satu atau dua orang, lah kalau kebetulan ketemu kakak senior yang baru pada keluar jam pelajaran mereka, bergerombolan keluar kelas berpapasan dengannya sebanyak itu...! berapa banyak kata-kata "Permisi Kak", "Numpang Lewat Kak", atau "Izin Kak" yang harus terucapkan dari mulut yang cuma sebatang kara ini, hhmm...! apa di pikir nggak bakalan lelah sangat nih mulut dan rahang.
Ada lagi kisah di masanya waktu itu saat sepuluh hari Pengenalan Program Study (PPS) yang lumayan kalau di ingat-ingat buat gue bisa tersenyum kembali. Jujur saja sepuluh hari Pengenalan Program Study (PPS) itu buat kita sang pendatang baru dalam dunia Perasramaan serasa benar-benar sudah berada di sana satu tahun, terasa lama pake banget pokokke!. Jadi saat itu semua siswa baru masih sibuk fokus dengan materi dalam Pengenalan Program Study (PPS) jadi ya tidak ada pemikiran atau praduga apa pun dan kepada siapa pun yang akan terjadi setelahnya.
Setelah pemaparan materi dalam Pengenalan Program Study (PPS) usai semua siswa baru di berikan waktu dua puluh lima menit untuk mengerjakan Sholat Zuhur lalu di lanjutkan dengan makan siang yang kebetulan hari ini tidak di Ruang Makan seperti biasa, melainkan sudah di siapkan di kantin asrama yang keberadaannya bersebelahan dengan mushola.
Mendengar penjelasan tersebut, tentu saja siapa yang tidak ingin segera mengejar waktu yang telah di tentukan agar tidak terlambat masuk kelas setelahnya. Semua berbondong-bondong ke luar lewat pintu utama aula yang berada di depan dan tidak di perbolehkan lewat pintu samping atau belakang.
Sesampainya di pintu utama aula yang berada di depan semua siswa terdiam membisu seribu bahasa, saat masuk kelas sepatu memang harus di lepaskan jadi semua pada bingung sejenak, melihat apa yang terjadi... lalu "Buruan semakin kalian semua lambat, semakin habis waktu yang di sediakan untuk melaksanakan Sholat dan makan siang!" Ucap kakak kelas yang menjadi panitia pelaksana saat itu.
__ADS_1
Mendengar komando tersebut, semakin paniklah gue dan kawan-kawan siswa baru ya! Langsung berebutan mencari sepatu kepunyaan masing-masing satu demi satu karena apa? Ternyata dengan sengaja sepatu yang satu di ikat dengan sepatu pasangan lainnya, sehingga membuat kita berebutan mencari pasangannya. Di tambah lagi karena pikiran kita telah di buat menderits dengan memikirkan waktu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan dan keperluan yang akan di jalani sehingga membuat suasana semakin gaduh dan saling berebutan mencari pasangan sepatu masing-masing.
Yang sudah menemukan sepasang sepatunya langsung berlarian menuju mushola untuk sholat dan ada juga setelah menemukan sepasang sepatunya langsung berlari ke kantin untuk menyantap makan siang dengan menu lontong pecel lele plus sambel terasi lalap terong, suasana begitu ramai saat itu.
Sholat pun terasa kilat super khusus, biasanya kalau kita kirim surat kilat khusus minimal tiga hari baru sampai dan makan siang pun expressssss! Suap langsung telan! Masih mengunyah makanan belum habis suap lagi langsung telan. Ooooh Negeri ku Indonesia, apa kabar dengar kemerdekaan yang selalu di gaung-gaungkan tahun 1945 saat ini kami semua merasa terabaikan dengan hal tersebut.
"Ham, elo tadi sempet makan ke kantin nggak?!" Tanya Rosa.
"Kenapa emangnya Cha!" Balas Ilham.
"Iya, Terima Kasih ya Cha! Eeeh... Elo sendiri bagaimana?!' Tanya Ilham kemudian.
"Gue dari Aula tadi langsung ke kantin ama Nelly Ham, kebetulan kami berdua masih dapat dan belum boleh melakukan Sholat jadi ya sempat keburu dengan waktu yang di berikan panitia!" Jelas Rosa.
__ADS_1
"Ya mau gimana Cha, kalau gue habis Sholat terus ke kantin buat makan, nggak cukup waktunya buat tidak terlambat masuk kelas! Ntar telat kena hukuman lagi deh" Jelas Ilham.
"Ya udah, elo makan aja tuh roti, lumayan buat ganjel-ganjel perut!" Senyum Rosa membalas ucapan Ilham.
Begitulah keadaan yang sebenar-benarnya terjadi di kala itu tanpa tanda Hoaxs, antara satu dengan yang lain harus memiliki persahabatan yang saling peduli, jika tidak akan terasa semakin berat permasalahan yang akan di hadapi dalam menjalani hidup dalam lingkup asrama.
***
"Sosialisasi Pengenalan Program Study (PPS) di lanjutkan setelah Sholat Mag'rib dengan pakaian bebas tapi ingat, pakaian kebesaran kalian tetap tidak boleh di cuci dan dipakai besok pagi kembali...!".
Ini berita yang semua siswa baru dapatkan dan betapa hancur luluh hati mendengarkan pengumuman itu, yang seharusnya habis Sholat Mag'rib kami semua para siswa baru bisa istirahat namun hal itu sepertinya tidak mungkin di harapkan akan terjadi.
Dengan langsung kembali putar balik badan ke asrama putra buat yang merasa cowo' dan balik ke asrama putri buat yang merasa cewe', yang Alhamdulillah walau rada-rada banyak beban di kepala masing-masing, kami semua siswa baru masih ingat dengan aturan asrama tersebut dan tidak sampai salah asrama deh!.
__ADS_1
Sampai di asrama, salin baju kebesaran yang aromanya begitu menggoda untuk segera pergi menjauh dari asalnya masalah, langsung mengambil ember-ember yang berjumlah dua buah untuk segera melakukan ritual ambil dan antri air. Ini dua buah ember jatah buat satu kali mandi, sikat gigi, dan keperluan lainnya lo!.
Sebenarnya jika tidak mengandalkan air kran saja, bisa tidak terlalu lama mengantri untuk mendapatkan air sumber kehidupan itu karena tower tempat penampungan air penuh dan di buka setiap hari dengan batas waktu yang di tentukan dengan alasan si penunggu tower atau petugas pengendali air tidak mungkin menunggu satu per satu siswa untuk mengambil air di sana dan jika itu terjadi semua masih bisa tidak terlalu mengambil antrian yang terlalu lama dan panjang.