Ayah Untuk Ayasya

Ayah Untuk Ayasya
Bab 100. Berdua bersama Aya


__ADS_3

“Nenek … aku pulang!”


Suara dan panggilan yang tak asing itu mengalihkan perhatian Bu Damira. Segera ia menoleh dan dilihatnya gadis kecil dengan bola mata bening sedang menatapnya.


Ayasya! serunya hanya bisa dari dalam hati, sebab lidahnya terasa kelu untuk berucap.


Owen bisa melihat jika tubuh Ibunya menegang. Ia sedikit khawatir, bagaimana jika Ibunya sangat terkejut dan itu akan mempengaruhi kondisi kesehatan jantungnya. Owen baru akan melangkah menghampiri Ibunya, saat Ayasya lebih dulu berlari.


Ayasya berlari ke arah Bu Damira dan tanpa aba-aba langsung memeluk wanita yang selama ini ia sayangi sebagai Neneknya. Meski hubungan keduanya tak terlalu dekat dan Ayasya dulu selalu bersikap takut-takut pada beliau, namun, gadis kecil itu tetap menyayangi Neneknya.


Bu Damira yang mendapatkan pelukan dari Ayasya tetap bergeming di tempatnya. Ia tak membalas, tak juga menolak pelukan Ayasya. Seandainya saja keadaannya masih sama seperti dulu, seandainya saja dia tak pernah mengusir gadis kecil itu, mungkin dia akan ikut merentangkan lebar kedua tangannya untuk menyambut pelukan Ayasya. Ingin sekali ia membalas pelukan gadis kecil itu, membelai puncak kepalanya turun ke surai bergelombangnya yang saat ini dibiarkan terurai.


Andai saja keadaannya masih sama seperti dulu, mungkin Bu Damira akan langsung mengomel sebab Ayasya mengenakan baju tanpa lengan yang sebenarnya sangat cantik dan pas digunakan gadis itu. Namun, Bu Damira saja yang sedari dulu tak pernah suka jika cucunya mengenakan baju tanpa lengan. “Bisa tersengat teriknya sinar matahari,” begitu alasannya dahulu.


Saat sosok Alfio muncul, Bu Damira menoleh ke arah pria itu. Lama ia mempertahankan tatapannya. Seperti sedang menunggu kemunculan seseorang lagi dari sana.


“Tessa enggak datang, Bu. Kondisi anak kami dalam kandungannya sangat lemah. Dia tak bisa bepergian jauh dulu,” ungkap Owen seolah bisa membaca pikiran sang Ibu.


Bu Damira segera memalingkan wajahnya saat nama Tessa terucap dari bibir Owen. Namun, tak bisa ia pungkiri jika ada perasaan bersalah pula dalam benaknya yang sengaja ia tutupi. Beliau masih enggan mengakui jika dirinya adalah penyebab semua ini terjadi.


Ada rasa iba yang seketika bersemayam dalam batinnya. Biar bagaimanapun, dirinya adalah seorang Ibu dan juga wanita. Ia tahu bagaimana rasanya di posisi Tessa. Wanita itu bersedia pergi demi kesehatannya. Agar ia bisa pulih dari sakit jantung yang ia derita. Sementara yang terjadi kini, kesehatan Tessa bahkan kesehatan janin dalam kandungannya yang memburuk. Namun, perasaan ego masih lebih besar dalam diri Bu Damira. Ego itu masih membangun tembok kokoh yang menutupi kebaikan hati seorang Bu Damira.


Melihat respon Ibunya, Owen menghela napas pelan. Ia pikir mungkin Ibunya tak percaya dengan ucapannya. “Aya kemari diantar oleh ayah kandungnya,” aku Owen.


Tak hanya Alfio, Bu Damira juga Aya terkejut dengan pengakuan Owen yang sesungguhnya tak pernah masuk dalam rencana. Owen menatap Alfio dan mengangguk, memberi kode jika tak ada yang salah dengan dirinya yang mengungkap fakta ini. Tugas mereka setelah ini adalah bagaimana menjelaskan makna ayah kandung pada Ayasya.


“Berani-beraninya pria yang merusak rumah tanggamu kamu izinkan menginjakkan kaki di rumahmu!” geram Bu Damira. Emosi yang hendak meluap-luap ia tahan sebab Aya masih duduk di sampingnya dan memeluk salah satu lengannya.


“Dia tak merusak rumah tanggaku, Bu. Rumah tanggaku baik-baik saja. Aku, Tessa, dan Aya tak keberatan dengan kehadiran Alfio. Kami tak bisa melarang dia mengambil bagian dalam kehidupan Aya, dia berhak dan dia pun memang bertanggungjawab,” jelas Owen.


“Alfio memang sudah seharusnya menjadi bagian dari kehidupan Ayasya, Bu. Kehadirannya hanya untuk Ayasya, putri kandungnya. Bukan untuk menghancurkan kehidupan rumah tanggaku bersama Tessa.”

__ADS_1


Mendengar pembelaan Owen padanya, Alfio merasa semakin tertampar. Ia semakin merasa malu juga bersalah secara bersamaan. Dulu, saat mengetahui keberadaan Tessa dan Ayasya, semua yang dituduhkan Bu Damira padanya benar adanya. Harusnya Owen pun tahu itu. Tapi, lihatlah pria itu … Owen dengan yakinnya tak membenarkan prasangka buruk yang dilayangkan padanya, pikir Alfio.


“Owen benar, Bibi. Keberadaanku di sini hanya karena putriku, Ayasya. Antara aku dan Tessa hanyalah sepenggal masa lalu yang bahkan terlalu singkat untuk bisa disebut sebagai sebuah kisah masa lalu,” ungkap Alfio.


“Bahkan, mengapa aku berada di sini saat ini, aku bersumpah tak memiliki niat buruk apa pun. Aku hanya ingin mengantarkan Ayasya pulang.”


“Mengantarkan putriku pulang ke rumah yang selama ini membuatnya bahagia,” lanjut Alfio.


Tak berselang lama, Qanita muncul dari dalam kamar tamu. Penampilan gadis itu sudah rapi seperti hendak pergi. Saat menyadari jika rumah kakaknya kedatangan tamu, dan orang itu adalah Aya- ponakan yang sangat ia rindukan, Qanita memekik kegirangan.


Tanpa izin, ia segera menggendong tubuh Ayasya. Memeluk bahkan menciumi hampir di seluruh wajah gadis itu. Qanita baru berhenti saat mendengar Aya memekik memanggil Ayahnya.


“Ayah!” seru Aya. Sementara Owen yang paham segera menegur Qanita.


“Dek, hentikan! Kamu enggak lihat apa Aya sampai sesak begitu kamu peluk,” tegurnya.


Bukannya merasa bersalah, Qanita malah tertawa. Ia menjawil puncak hidung Ayasya. “Siapa suruh gemesin gini!” jawabnya semakin menggoda ponakannya.


“Baiklah … Ibu dan Qanita, aku titip Aya ya. Aku ada pekerjaan di rumah sakit. Alfio juga ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di restorannya, benar begitu kan?”


Meski sedikit di luar rencana, tapi Alfio tetap mengangguk membenarkan ucapan Owen. Sudah beberapa kali Owen berimprovisasi tanpa memberi aba-aba lebih dulu padanya, pikir Alfio.


“Aya jangan nakal ya di rumah,” pesan Owen. “Ingat, Nenek masih belum sembuh benar, jadi Aya harus jadi anak pintar dan menjaga Nenek,” lanjutnya.


“Ciap, Ayah. Aya hebat kok menjaga orang cakit. Waktu Bunda cakit, kan Aya yang merawat,” ungkap Aya membanggakan dirinya.


“Benar kan, Paman?” Gadis kecil itu bahkan meminta pengakuan dan dukungan dari Alfio.


“Iya, benar. Memang Aya sangat hebat saat merawat Bunda yang sedang sakit,” sahut Alfio menambah kepercayaan diri Aya.


“Aunty percaya kok, Aya memang hebat. Siapa dulu Auntynya?” Celetuk Qanita sambil bertos ria dengan Ayasya.

__ADS_1


“Pergilah, Bang. Jangan khawatirkan Aya. Ada aku dan Ibu yang akan menjaganya.”


Setelah itu, Owen benar-benar pergi. Ia turut mengajak Alfio yang belum sepenuhnya rela meninggalkan Aya bersama Bu Damira. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan. Ia percaya Owen sudah memikirkan semuanya.


Kini tersisa Qanita, Bu Damira, juga Ayasya di rumah. Bu Damira masih terlihat canggung pada Ayasya.


Kening Bu Damira mengernyit saat melihat Qanita keluar dari kamar dengan membawa tas. “Mau ke mana kamu?”


“Pergi,” jawab Qanita singkat.


“Bukannya kamu sudah janji pada Owen akan menjaga Aya!” Bu Damira mengingatkan lagi ucapan Qanita.


“Iya, Bu. Aku memang janji. Tapi setelah pulang dari janji temuku bersama teman-temanku,” ucap Qanita.


“Aya, kamu di rumah bareng Nenek dulu, ya. Jika bosan, ajak saja Nenek main seperti biasa. Jika lelah, maka ajak Nenek untuk tidur di kamar. Bisa?”


“Bica dong, Bibi!” jawab Aya.


Qanita segera menggeleng mendengar jawaban Aya. “Eits … jangan lupa! Panggil Aunty, bukan Bibi. Oke?!” Pinta Qanita yang segera diangguki oleh Aya.


“Oke, Aunty!”


Qanita pun turut pergi, meninggalkan Bu Damira berdua bersama Ayasya di rumah. Dalam hati Bu Damira merutuki kedua anaknya, ia tahu jika Owen dan Qanita pasti sudah merencanakan ini.


Aku tak akan semudah itu luluh, batin Bu Damira.


“Nenek … Nenek … jadi sekarang yang mana dulu Nek? Mau bosan atau lelah?” tanya Ayasya membuat Bu Damira menghela napas.


Sepertinya hari ini aku akan sulit untuk istirahat, batinnya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2