
“Udahan dong ngambeknya, Bun.” Owen berusaha membujuk Tessa saat keduanya berada di dalam mobil.
“Aku enggak ngambek,” aku Tessa.
“Enggak ngambek tapi kok dari tadi kamu diam terus sih.”
Tessa menarik napas dalam-dalam. Tangannya mengusap lembut perutnya yang masih rata. “Sebenarnya … aku sih maunya marah-marah, Bang. Tapi, sepertinya anak kita yang maunya aku diam saja,” ungkap Tessa.
Owen menahan tawanya mendengar alasan Tessa. Bisa-bisanya istrinya itu menjadikan kehamilan sebagai alasan. Satu tangan Owen pun tak bisa tahan untuk tak ikut mengusap lembut perut istrinya. Hal itu pun membuat Tessa sedikit terkejut. Pasalnya, ia masih belum terbiasa dengan sentuhan Owen yang tiba-tiba.
“Anak Ayah pintar, ya. Tapi, jangan ngambek terus dong. Ayahnya sedih didiamin gini,” bujuk Owen.
“Jangan dibujuk terus, entar anaknya jadi banyak mintanya loh,” jawab Tessa dengan candaan.
Tangan Owen yang sebelumnya berada di atas perut, sudah berpindah pada tangan Tessa. Menggenggam tangan istrinya dan memberi kecupan sesekali.
“Anak aku boleh minta apa saja. Aku akan berusaha untuk menjadi Ayah siaga. Berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginannya,” ucap Owen penuh tekad.
Untuk sesaat ia merasa bangga pada tekadnya. Namun, setelah melihat senyum di wajah istrinya, ia tahu jika kelak ucapannya itu akan menjadi boomerang baginya.
“Baiklah, kalau gitu sekarang kita ke Mall, ya. Ada restoran makanan Korea yang baru saja dibuka. Sepertinya, anak kita ingin cobain deh.”
Owen menoleh ke arah istrinya. Gagal sudah rencananya ingin mengajak istrinya menikmati hidangan olahan seafood.
“Kompaknya anak dan Bundanya sudah ketebak ini,” celetuk Owen. Meski lirih namun masih bisa didengar oleh Ibu hamil di sampingnya.
“Mana ada kompak?!” sanggah Tessa.
“Ini aku ngalah loh. Andai saja kami kompak, maka kami tak hanya minta ke restoran Korea. Tapi, akan minta ke restoran di Korea.”
Glek. Owen menelan salivanya seraya menggeleng mendengar ucapan istrinya. Tessa sampai menutup mulutnya menahan tawa saat melihat ekspresi lucu suaminya yang terkejut.
Ngidam ke restoran di Korea?! gumam Owen dalam hati. Entah bagaimana dia akan mewujudkan hal itu jika benar-benar Tessa mengidamkan hal itu.
__ADS_1
...…...
Setelah tiba di salah satu Mall di Kota X, sepasang suami istri itu berjalan bergandengan tangan menuju lantai paling atas bangunan tersebut. Lantai teratas bangunan itu adalah tempat berkumpulnya berbagai restoran juga tempat food court berada.
Kini keduanya berdiri di depan dua restoran yang saling berhadapan. Tessa melipat kedua tangannya di depan dada seraya berpikir keras di antara dua pilihan yang sangat sulit baginya saat ini.
“Bang, yang enak yang mana, ya?” tanyanya meminta pendapat Owen.
Pertanyaan sulit dan menjebak, batin Owen.
“Hem, aku tak tahu, Bun. Aku kan belum pernah coba,” jawab Owen jujur.
Tessa mencebik. Wajahnya berubah muram. Owen mulai panik saat satu tangan Tessa mulai melakukan gerakan Andalannya, mengelus perutnya yang masih rata.
“Bagaimana dong, Nak. Ayahmu juga enggak tahu yang enak yang mana,” ucap Tessa lirih. Ia seolah sedang bicara dengan janin yang ada di dalam perutnya.
Owen menghela napasnya perlahan. Memilih antara restoran masakan Korea dan restoran masakan Jepang, akan sangat sulit bagi Owen yang memang tak begitu tertarik dengan makanan dari kedua negara tersebut.
“Ya, memang aku enggak tahu, Bun. Kamu kan tahu aku enggak begitu suka dengan makanan-makanan itu,” ucap Owen jujur membuat Tessa semakin muram.
Tak dapat menghindar, itu yang ada di pikiran Owen. Sekarang pilihannya adalah dia memutuskan restoran mana yang sebaiknya ia pilih. Antara Korea dan Jepang, pilihannya tak boleh salah. Jangan sampai kembali menjadi boomerang baginya.
Owen akhirnya memutuskan untuk tetap memilih restoran Korea sebagai tempat mereka menikmati makan siang kali ini. Banyak pertimbangan di benak Owen sebelum ia akhirnya mengambil keputusan. Mengingat jika sebelumnya Tessa sempat berpikir untuk ke Korea, bukan tak mungkin jika setelah ia mencicipi hidangan di restoran Jepang, maka Tessa akhirnya punya pikiran untuk bertandang ke Negeri Sakura itu.
Tidak, tidak, itu jangan sampai terjadi. Bakal semakin panjang urusannya jika Tessa benar-benar ngidam untuk pergi ke Negara-Negara itu, batin Owen.
“Bun, kita kembali ke rencana awal saja, ya. Kita akan makan siang di restoran Korea, bagaimana? Kamu, eh maksudku anak kita mau kan?”
Tessa bungkam sejenak untuk berpikir kemudian ia mengangguk setuju. Wajah muramnya lenyap seketika berganti dengan senyum ceria, membuat Owen sampai terkagum dengan mood swing wanita yang sedang mengandung.
Di dalam restoran, Tessa membolak-balik buku menu yang diberikan oleh pelayan. Ia tampak begitu bersemangat memilih berbagai macam menu untuk ia nikmati bersama suaminya siang ini.
“Bun, kamu pesan makanannya banyak banget. Nanti dihabisin, ya,” ucap Owen setelah pelayan yang mencatat pesanan Tessa pergi.
__ADS_1
Tessa mengangguk dengan yakin. “Iya, Bang. Tenang saja, aku memang sangat lapar. Tadi pagi aku kurang sarapan karena mual.”
Seraya menanti makanan yang dipesan Tessa datang, keduanya membahas banyak hal. Tessa bertanya banyak hal seputar kehamilan pada suaminya. Sebagai dokter, Owen menjawab sepengetahuannya saja. Berhubung dirinya juga bukanlah dokter kandungan.
Hingga beberapa menit berlalu, makanan pesanan Tessa pun datang satu per satu. Kening Owen mengernyit, saat pelayan datang silih berganti. Hanya satu yang dipikirkan Owen, bagaimana menghabiskan semua makanan itu. Namun, terlepas dari itu semua, yang terpenting bagi Owen saat ini adalah kebahagiaan istrinya.
Tessa mulai mencicipi satu per satu hidangan. Hanya sesuap untuk masing-masing hidangan. Lalu dengan wajah polos ia menatap suaminya, “Bang, tahu enggak … dulu semua ini adalah makanan favoritku,” ungkapnya.
Owen mengangguk meski dari nada bicara Tessa, ia merasa akan ada yang tak beres. ”Syukurlah kalau kamu suka. Sekarang kamu makan, ya. Makan yang banyak,” suruh Owen.
Tessa menggeleng, dan gelengan kepala Tessa sukses membuat wajah Owen berubah pucat. “Apa artinya gelengan kepala itu?”
“Artinya aku enggak mau makan lagi, Bang,” jawab Tessa enteng.
“Mungkin karena hormon kehamilan. Tapi, kenapa aku tak suka lagi ya dengan semua makanan ini,” lanjut Tessa.
“Lalu?” Owen menatap Tessa lalu beralih menatap semua hidangan di meja makan.
“Semua makanan ini?”
Tessa tersenyum sangat manis pada suaminya. “Kamu saja yang habiskan, Bang. Kamu harus coba semuanya, entah kenapa aku yakin kamu pasti akan menyukai semua.”
Owen menghela napasnya. Benar kan dugaannya, batin Owen.
Di saat Owen perlahan-lahan menghabiskan satu per satu makanan di hadapannya, Tessa menatap suaminya dengan tatapan kagum. “Menatapku tak akan membuatmu kenyang. Ayolah, coba makan sedikit-sedikit,” bujuk Owen.
Tessa menggeleng. “Enggak, Bang. Aku nemenin kamu saja.”
“Tapi, biar adil setelah ini kamu nemenin aku makan di resto Jepang yang tadi, ya. Sepertinya anak kita ingin makan di sana.”
“Apa?!” pekik Owen.
Harusnya dari awal aku pilih saja resto Jepang itu, keluh Owen dalam hati.
__ADS_1
...———————————...