
Beberapa jam sebelumnya ….
“Aya yakin bisa pergi sendiri tanpa Bunda?” tanya Tessa pada putrinya.
Entah pertanyaan itu sudah yang keberapa kalinya ia tanyakan sejak semalam. Tak hanya pada Ayasya, namun pertanyaan itu juga ia tanyakan pada Mami Fhanie, Alfio, juga pada suaminya melalui sambungan telepon.
Tangan mungil nan lembut milik Aya mengusap pipi sang Bunda. “Aya cudah becar, Bunda. Bentar lagi juga punya Adik,” ucapnya meyakinkan Bundanya.
Jawaban putrinya pun masih sama seperti jawabannya semalam. Namun, entah mengapa Tessa masih sangat berat melepaskan Aya pergi jauh darinya. Padahal jika dipikirkan, Aya akan pergi bersama Ayah kandungnya. Tak mungkin bukan, jika Alfio berniat mencelakakan putri kandungnya sendiri.
“Tapi … Aya harus ingat ini, jika ingin sesuatu misalnya lapar, ingin ke kamar mandi, atau ngantuk dan lelah, jangan sungkan bilang pada Paman ya,” pesan Tessa. Meski tahu jika putrinya bukan tipe anak yang pemalu, namun tak ada salahnya jika ia mengingatkan lagi.
Tessa kembali memeluk tubuh Aya erat. Seandainya boleh, dia tak ingin Aya pergi. Tapi jika dia mengikuti keinginannya, sama saja dia telah bersikap egois. Ia ingat ucapan Owen semalam saat mereka bicara melalui sambungan panggilan video.
“Bun, kita jangan sampai memutus tali silaturahmi antara Aya dan Ayah juga keluarga Ayah kandungnya. Jangan sampai keegoisan kita menjadi dosa karena kita memutus silaturahmi,” ucap Owen semalam.
“Bun … cec-cak nih, Bun,” keluh Aya saat sang Bunda memeluknya sangat erat.
Mendengar itu, Tessa segera melerai pelukannya. Lama ia pandangi kedua netra bening gadis kecilnya. “Enggak usah pergi aja, ya?” bujuknya sekali lagi.
Semoga Aya luluh, pikirnya. Namun, sayang jurus andalannya tak membuahkan hasil sesuai harapan. Gadis kecilnya itu menggeleng.
“Boleh ya, Bun?” Aya malah menjawab dengan pertanyaan pula. Bahkan kedua mata mengerjap-ngerjap meruntuhkan pertahan Tessa.
Keadaan berbalik, Tessa yang akhirnya yang termakan jurus putrinya. Mana bisa menolak, batinnya. Dengan berat hati Tessa mengangguk. Memeluk Ayasya sekali lagi, lebih erat dan lebih lama dari yang sebelumnya.
Setelah drama berpamitan selesai, Tessa melepas kepergian Aya dan Alfio dengan lambaian tangan. Air matanya tak berhenti berlinang membasahi kedua pipinya yang mulai berisi. Mungkin juga karena hormon kehamilan, yang pasti kali ini Tessa kesulitan menghentikan tangisnya. Seandainya kondisi kandungannya tidak lemah, mana mungkin dia biarkan Aya pergi sendiri bersama Alfio.
Mobil milik Alfio sudah tak terlihat lagi, namun Tessa masih betah memandangi halaman rumah orang tuanya yang cukup luas. Ia berharap, mobil Alfio kembali dan Aya batal pergi. Sayangnya setelah menunggu beberapa menit, harapannya lagi-lagi tak menjadi kenyataan.
Tessa menghela napas panjang. Dia pasti akan merindukan Aya. Kata Alfio mereka akan pergi selama tiga hari. Saat Tessa masih meratapi kerinduan akan putrinya, tiba-tiba salah satu tangan Mami Fhanie merangkul pundaknya.
“Sudahlah, anakmu kan bukannya pergi berperang,” ucap Mami Fhanie. “Dia hanya pergi bersama Ayah Kandungnya. Percayalah, Alfio pasti bisa menjaga putrinya.”
__ADS_1
“Ta-tapi …”
“Tak ada tapi-tapi,” sela Mami Fhanie. “Tunggulah di kamarmu. Sebentar lagi seseorang akan datang untuk melakukan pijat dan spa untukmu. Ini saatnya Ibu hamil untuk relaks.”
Tak dapat membantah keinginan Ibundanya, dengan langkah yang lemah Tessa kembali ke kamarnya. “Semoga semua berjalan baik untuk Aya,” gumamnya.
...…...
Di Bandara Kota X.
“Ayah!” seru gadis kecil dengan bersemangat.
Owen yang sangat mengenal dan hapal suara itu segera mencari dari mana suara itu berasal. Senyumnya mengembang sempurna, melihat gadis kecil kesayangannya berlari kearahnya.
Owen bertumpu pada satu lututnya untuk mensejajarkan tingginya dengan putri kecilnya. Ia rentangkan kedua tangannya lebar-lebar guna menyambut putri kesayangannya itu dengan pelukan hangat yang telah lama ia rindukan.
“Kesayangan Ayah!” seru Owen seraya mendekap Ayasya.
“Aya … Ayah sangat merindukan Aya,” ungkap Owen.
“Aya juga kangen Ayah,” balas Aya.
Pasangan ayah dan anak yang sedang melepas kerinduan itu, tak luput dari pandangan Alfio. Jujur, ada sedikit kecemburuan dalam hatinya. Dia sangat berharap Aya bisa menyayanginya seperti Aya menyayangi Owen. Alfio yakin rasa sayang di antara keduanya sangat tulus tanpa ada syarat. Aya tampak sangat menyayangi Owen, begitu pun sebaliknya.
Setelah drama perjumpaan dan melepas rindu selesai antara Aya dan Owen, ketiganya bergegas pulang ke rumah Owen. Selama di perjalanan Alfio cukup gelisah. Bagaimana jika nanti Bu Damira tak menerima Aya dan bersikap kasar padanya. Sebagai Ayah kandung, tentu dia tak akan terima. Dia hanya berharap, saat itu terjadi semoga dia bisa mengontrol emosinya. Tak jauh berbeda dengan Alfio, kekhawatiran Owen pun sama. Namun, pria itu mencoba menutupinya dengan sikap sok yakinnya.
“Kau yakin masalah dengan Nawra sudah selesai?” tanya Alfio.
Owen mengangguk. “Ya, semuanya sudah selesai. Aku akan ceritakan detailnya nanti. Kau pasti tak akan percaya,” jawab Owen.
“Lalu, Ibumu? Apa kau yakin dia akan baik saja saat bertemu Ayasya?”
Owen diam cukup lama. Cukup sulit menjawab pertanyaan Alfio, sebab jawabannya pun bukan hal yang bisa dipastikan. “Aku tahu Ibuku sangat menyayangi Aya,” jawab Owen.
__ADS_1
“Aku yakin dia akan baik saja,” lanjutnya.
“Kau yakin?” tanya Alfio sekali lagi.
Owen mengangguk. “Walaupun sekarang keadaannya kacau begini, aku percaya jika dia masih tetap Ibuku yang dulu,” ucap Owen.
Setelah pembicaraan itu berakhir, perjalanan mereka berlanjut dalam keheningan. Owen dan Alfio mendadak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara Aya sedang tertidur di pangkuan Alfio.
Mobil Owen terus melaju hingga berhenti tepat di carport rumahnya. Dengan lembut Alfio membangunkan Aya. Gadis kecil itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya kedua netranya terbuka sempurna.
“Kita sudah sampai ya, Paman?” tanyanya saat tak melihat sosok Ayahnya yang sudah keluar dari mobil lebih dulu.
“Iya, Sayang. Kita sudah sampai,” jawab Alfio.
“Aya ingatkan apa pesan Paman? Jika Nenek atau Bibi Qanita bersikap kasar pada Aya, beritahu Ayah atau Paman. Aya tak boleh menyembunyikannya,” ucap Alfio mengingatkan.
“Iya, Paman. Aku ingat,” jawab Aya.
“Janji?” Dalam hati Alfio merutuki dirinya yang tiba-tiba saja ragu meninggalkan Aya di rumah ini.
Aya tersenyum dengan kedua netra yang berbinar. “Janji jari kelingking!” serunya seranya mengerak-gerakkan jari kelingkingnya yang mungil di hadapan wajah Alfio. Setelah keduanya melepas tautan jari kelingkingnya, barulah mereka keluar dari mobil.
Owen sudah menunggu di depan pintu rumah. “Aya sudah siap ketemu Nenek?” tanyanya tak kalah khawatirnya dengan Alfio.
“Cudah dong, Ayah!” jawab Ayasya bersemangat.
Ayasya berjalan masuk ke dalam rumah bersama Owen sementara Alfio berjalan di belakang mereka. Mendengar suara TV Owen menduga Ibunya ada di ruang tengah. Benar saja, Ibunya memang berada di sana.
Owen menatap Aya, ketika pandangan mereka bertemu ia mengangguk seolah memberi izin pada putrinya untuk menyapa Neneknya. Perlahan Aya melangkah mendekat pada Neneknya yang tatapannya terfokus pada TV.
“Nenek … aku pulang!”
...————————...
__ADS_1