
“Karena kau Ayahnya!”
Hening beberapa detik sebelum akhirnya pecah sudah tawa Ben. Pria itu mengamati sekali lagi alat tes kehamilan Nawra. Tak ada yang aneh, ia menyimpulkan jika alat tes kehamilan itu asli.
Melihat keraguan Ben, Nawra menjadi kesal. “Kamu pikir aku memalsukan alat tes kehamilan itu?” tanya Nawra.
Ben masih tergelak, kepalanya menggeleng seraya berdecak. “Ya, awalnya kupikir begitu. Rupanya alat tes kehamilan ini memang asli,” ucap Ben dengan intonasi suara yang ia buat layaknya seseorang yang sedang kecewa.
“Ya, memang itu asli. Untuk apa aku berbohong?!” Ben sukses membuat Nawra kesal.
“Aku tak bilang kamu berbohong.” Ben menghela napas panjang.
”Tapi apakah kau tahu, Ra … aku bahkan tak bisa lagi menghitung berapa banyak wanita yang datang dengan membawa alat tes kehamilan padaku,” ucap Ben.
“Dan mereka semua sama. Sama-sama pernah tidur denganku. Sama-sama mengaku mengandung anakku. Sama-sama punya mimpi untuk menjadi Nyonya Ben,” lanjutnya.
Ben beranjak dari kursi kebesarannya. Ia berdiri di depan jendela besar di ruangannya. Menatap indahnya langit berwarna jingga.
Kening Nawra mengernyit. Dalam hati ia mulai merasa getir setelah mendengar ucapan Ben. Namun, raut wajah Ben yang biasa-biasa saja membuatnya sedikit kesulitan menebak bagaimana suasana hari Ben saat ini.
Ia pun ikut mendekat pada Ben. Berdiri di samping pria itu, dan turut memandangi sang mentari yang perlahan-lahan kembali ke peraduannya.
“Kau juga begitu kan? Kau sama seperti mereka,” ucap Ben seraya menoleh sekilas pada Nawra.
“Tidak, aku tak sama. Aku ….”
“Sssttt ….” Ben meletakkan jemarinya di depan bibir Nawra, meminta wanita itu berhenti bicara.
Ben dekatkan wajahnya pada telinga Nawra. Sangat dekat hingga embusan napasnya dapat dirasakan oleh Nawra.
“Kau sama saja. Kalian semua sama. Sama-sama lupa, kalau j*lang seperti kalian tidak hanya tidur dengan satu pria!”
Nawra sontak mundur satu langkah. “Kau!” pekiknya.
“Apa?! Aku kenapa?” tantang Ben. Kini jelas sudah, ada kemarahan di raut wajah pria itu.
“Kau kira aku tak tahu kau siapa?! Apa kau lupa kita bahkan pernah bermain bertiga bersama Abraham, hah?! Dari situ saja aku sudah bisa tahu bagaimana dirimu, tanpa perlu kau katakan!”
“Ta-tapi setelah itu aku tak pernah melakukannya dengan orang lain selain kamu, Ben,” aku Nawra.
__ADS_1
“Lalu kau pikir aku percaya?!” Ben lagi-lagi tergelak. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya.
“Ini, ambil! Ketikkan di sini, berapa jumlah uang yang kau mau? Sebagai teman aku hanya bisa membantumu seperti itu. Terserah kau mau apakan uangnya. Mau kau gunakan untuk menggugurkan bayi itu juga terserah padamu. Bukan urusanku!”
Plak. Akhirnya tamparan yang sejak tadi ditahan Nawra, mendarat juga tepat di wajah tampan Ben.
“Kau! Berani-beraninya kau menghinaku?!” Bentak Nawra.
“Memang kau begitu. Kau memang wanita hina!” Balas Ben membentak Nawra.
“Kau wanita hina yang bermimpi ingin mendapatkan pria baik-baik seperti Owen,” lanjut Ben. “Hei … sadar dirilah!”
Nawra menghempaskan tangan Ben yang mencengkeram pergelagan tangannya. “Dan kau adalah pria bej*t yang ingin merebut istri temannu!”
Nawra tertawa. “Kau pikir Tessa itu wanita baik-baik, hah? Kau pikir dia wanita suci?”
“Kau salah Ben! Dia sama saja denganku. Owen menikahinya karena dijebak oleh Tessa yang telah hamil di luar nikah!” ungkap Nawra.
Ben yang tak terima Nawra menjelek-jelekkan Tessa, segera mencengkeram dagu Nawra. “Dengar baik-baik, ya! Jangan kira aku percaya dengan semua ucapan burukmu tentangnya. Tessa, jauh dan jauh lebih baik dari wanita kotor dan murahan sepertimu.”
“Jangan pernah samakan dirimu dengan Tessa,” ancam Ben.
“Sekarang pergi kau! Jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapanku. Jangan harap aku akan bertanggung jawab, karena itu tak akan mungkin.”
...…...
Setelah diusir oleh Ben, Nawra pergi dari perusahaan itu tanpa membawa apa-apa. Bukannya mendapatkan apa yang dia inginkan, dia malah mendapat penghinaan bertubi-tubi dari Ben.
Tak ada satupun rencananya yang berjalan mulus. Hal itu membuatnya Nawra kesal.
“Si*l! Si*l! Si*l!” pekiknya ketika ia telah masuk ke dalam mobilnya.
Kemudi di hadapannya tak luput menjadi tempat Nawra melampiaskan kekesalannya. Entah sudah berapa kali kemudi itu ia pukul dengan tangannya. Emosinya membuat wanita itu tak merasakan sakit sama sekali pada tangannya.
“Lagi-lagi wanita murah*n itu. Apa hebatnya sih dia?! Kenapa semua pria membelanya?! Apa bedanya denganku, dia kan dulu juga sudah hamil sebelum dinikahi Owen?!” gerutunya membanding-bandingkan dirinya dengan Tessa.
“Jika seperti ini, maka tak ada pilihan lain. Aku harus menjalankan rencana itu,” gumam Nawra dengan senyum licik di wajahnya.
Penolakan Ben ia jadikan sebagai penyemangat untuk perjalanannya kali ini. Cukup jauh jarak yang harus ia tempuh, namun, tak mengurungkan niat Nawra untuk terus melajukan mobilnya. Lebih dari satu jam waktu yang dihabiskan Nawra hingga ia tiba di sebuah desa yang tak asing baginya.
__ADS_1
Nawa mengingat-ingat letak rumah yang ia cari. Ada beberapa perubahan di sana yang membuatnya bingung. Setelah beberapa kali bertanya pada warga sekitar, tibalah dia di depan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas.
Terdengar helaan napas kecewa Nawra ketika mendapati pagar rumah terkunci. Pintu rumah pun tertutup rapat, tak ada tanda-tanda keberadaan orang di rumah itu.
“Benar enggak sih ini rumahnya?” gumam Nawra.
Ia sempat menunggu beberapa saat seraya terus memanggil-manggil si empunya rumah, namun sayang tak ada jawaban. Dengan membawa kekecewaannya, Nawra kembali ke mobilnya.
Di dalam mobil, Nawra coba menghubungi si pemilik rumah, namun panggilannya tidak di jawab. Baru saja ia hendak menyalakan kembali mesin mobilnya dan pergi dari rumah itu, kaca jendela mobilnya di ketuk dari luar.
“Astaga! Siapa itu?” Nawra segera menurunkan kaca jendela mobilnya ketika memastikan jika yang tadi mengetuk adalah seorang gadis.
“Kamu cari siapa?” tanya gadis itu. Keningnya mengernyit, dalam pikirannya ia sedang mengingat-ingat wajah wanita yang tak asing di hadapannya.
“Aku ingin bertemu pemilik rumah itu.” Nawra menunjuk ke rumah yang sebelumnya ia sambangi.
“Ah, aku ingat! Kamu Nawra kan?!” tanya gadis itu.
“Iya, aku Nawra. Aku ingin ber-“
Ucapan Nawra disela oleh gadis itu. “Aku Qanita, adinya Bang Owen. Kamu tahu kan?” selanya.
“Kenapa mencari Bang Owen di sini? Bukankah di kota kalian bertetangga?”
Nawra berdecak. Gadis di hadapannya ini banyak omong, menurutnya. “Aku ke sini memang bukan untuk bertemu Owen. Aku ingin bertemu Ibumu,” jawab Nawra ketus.
“Oh, ingin bertemu Ibu … jika seperti itu, kamu harus menunggu. Ibu sedang pergi.”
“Memangnya ada apa? Beritahu aku saja, nanti akan kusampaikan ke Ibu. Aku tak tahu Ibu akan pulang cepat atau tidak, kasihan jika kamu menunggu lama.” Qanita berusaha mencari tahu.
“Tak apa. Aku akan menunggu sampai Ibumu kembali. Ini hal yang sangat penting. Anak kecil sepertimu, tak perlu tahu!”
Qanita berdecak karena sebal disebut anak kecil, “Ck! Kalau begitu tunggu saja di situ!”
Ia pun berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Nawra yang masih berada di dalam mobilnya.
Tunggu saja di mobilmu! Jangan harap aku menawarkanmu menunggu di dalam rumah. Cih, dasar songong! batin Qanita.
...———————...
__ADS_1